Takdir Purba
Akhirnya Menikah 2
"Bapak hanya ingin yang terbaik untukmu," bisik Ibu, kalimat itu terdengar seperti mantra yang diulang-ulang untuk meyakinkan diri sendiri. "Mungkin sekarang kamu belum mengerti, Galuh. Tapi darah yang mengalir di tubuhmu itu bukan darah sembarangan. Ada tanggung jawab yang harus dipikul, dan Bagja adalah satu-satunya orang yang memiliki resonansi yang sama untuk berjalan di sampingmu."
Galuh menatap mata Ibunya melalui pantulan cermin. "Tanggung jawab atau tumbal, Bu? Kenapa semuanya harus dilakukan penuh rahasia? Kenapa seolah-olah kita sedang dikejar oleh sesuatu yang tidak kelihatan?"
Tangan Ibu terhenti sejenak di kancing terakhir. Ia menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh melampaui dinding kamar, menatap ke arah situs Menhir yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan belakang rumah. "Ada hal-hal yang jika dibicarakan terlalu keras, akan mengundang telinga yang tak seharusnya mendengar. Sekarang, diamlah. Hari ini kamu harus terlihat sebagai pengantin yang terhormat, bukan sebagai tawanan."
Di ruang tamu, suasana terasa lebih mirip seperti ruang tunggu sidang daripada sebuah pesta pernikahan. Bagja duduk di kursi rotan dengan punggung tegak, mengenakan batik motif Mega Mendung berwarna gelap yang nampak masih kaku karena baru saja disetrika. Rambutnya disisir rapi ke belakang dengan minyak rambut beraroma hutan pinus. Meski nampak tenang, Galuh—yang baru saja keluar dari kamar didampingi Ibu—bisa melihat bagaimana jemari Bagja bertaut erat di pangkuannya. Bagja nampak seperti seorang prajurit yang sedang menunggu perintah untuk maju ke medan perang.
Mamah Sundari duduk di samping Bagja, terus-menerus meremas sapu tangan putihnya yang sudah basah oleh keringat. Matanya sembab, namun ada binar kelegaan yang luar biasa di sana.
Semalam, Sundari sempat berkata pada Sekar Taji, “Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan manusia, melainkan pelunasan utang sejarah yang telah membebani garis keturunanku selama bertahun-tahun. Aku harap, dengan pernikahan mereka, utang ini akan lunas dan kehidupan menjadi lebih baik.”
"Sudah siap?" tanya Bapak sambil berdiri dari kursinya. Beliau mengenakan jas hitam tua. Tatapannya tertuju pada Bagja dan Galuh bergantian, tajam dan penuh penekanan seolah-olah sedang menginspeksi kesiapan dua tumbal yang akan dipersembahkan.
Tidak ada jawaban kata-kata yang keluar. Hanya anggukan pelan dari Bagja dan Galuh sebagai tanda mereka sudah siap. Atau mungkin lebih tepat jika disebut mereka harus siap.
Rombongan kecil itu berangkat menuju KUA menggunakan dua mobil. Perjalanan berlangsung dalam sunyi yang khidmat. Tidak ada gelak tawa atau candaan yang biasa menyertai rombongan pengantin. Galuh menatap ke luar jendela, melihat rumah-rumah baru yang dibangun di Munjul Nini. Pohon-pohon besar di puncak munjul tampak seperti barisan raksasa yang sedang memberikan penghakiman, seolah mereka tahu bahwa apa yang sedang terjadi bukanlah sekadar urusan administrasi negara.
***
Bagi Bagja, tiga hari menuju pernikahan ini bukanlah sebuah penantian, melainkan sebuah persiapan perang yang tidak melibatkan senjata tajam. Sejak Galuh menginjakkan kakinya kembali di Cipari, Bagja bisa merasakan dunianya berputar dengan sangat cepat.
Pagi itu, Bagja berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Ia menatap kemeja batik Mega Mendung yang dipilihkan Ibunya. Pola awan itu seolah bergerak di matanya, mengingatkannya pada ramalan Bapak bahwa badai besar akan datang tepat saat "dua darah" bersatu.
Apakah aku siap? tanyanya pada pantulannya sendiri.
Ia tahu Galuh belum bisa sepenuhnya menerima. Atau lebih tepatnya, Galuh membenci proses pernikahan mereka yang serba dadakan.
"Bagja, tenangkan pikiran kamu," suara Mamah Sundari menginterupsi lamunannya. "Ingat, Nak. Pernikahan ini bukan hanya perintah. Kamu bukan hanya menjadi suami Galuh, tapi kamu menjadi jangkar bagi jiwanya. Kalau kamu goyah, bagaimana kalian akan memantapkan langkah?"
Bagja mengangguk pelan. "Aku tahu, Mah. Tapi dia... Galuh masih belum bisa menerima."
"Maka, buat supaya dia bisa menerima."
“Tidak semudah itu, Mah.”
“Tidak mustahil juga kan? Anggap saja kalian sedang menjalani masa pendekatan, hanya saja pendekatan kalian ini sah secara agama dan negara. Buat cinta itu tumbuh.”
“Tapi…” ucapan Bagja menggantung.
“Tapi apa? Apalagi yang membebani pikiranmu? Kamu sudah punya pekerjaan, biaya untuk kedua adikmu sudah kamu siapkan lebih dari cukup, mungkin kalau kamu itu pegawai negeri, sekarang kamu sudah jadi lurah di sini. Umur kamu sudah tua untuk ukuran orang Cipari. Sudah waktunya kamu melangkah menuju babak baru dalam hidup kamu. Membangun keluarga kecilmu sendiri.”
Bagja diam. Menutup mata sambil membayangkan wajah Duriyat yang sedang tersenyum.
***
Sesampainya di kantor KUA, mereka memasuki sebuah ruangan bercat hijau. Aroma buku tua, debu, dan tinta stempel menyambut mereka. Petugas KUA, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap berkas-berkas di depannya dengan dahi berkerut. Dia berkali-kali mencocokkan foto di KTP dengan wajah Galuh dan Bagja.
"Semuanya sudah lengkap," ujar petugas itu pelan, suaranya memecah kesunyian yang mencekam. "Bisa kita mulai sekarang? Wali nikah sudah siap?"
Bapak mengangguk mantap, wajahnya tanpa ekspresi seperti pahatan batu. Bagja bergeser mendekat ke arah meja kayu panjang tanpa taplak, permukaan meja sudah mulai terkelupas. Galuh duduk di sampingnya, merasakan panas tubuh laki-laki itu yang menjalar ke lengannya. Ada getaran aneh yang dia rasakan.
Sukma dan Bagja berjabat tangan dan saling menggenggam. "Saudara Bagja Guna Munggaran bin Duriyat Adrafi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Galuh Endah Wulandari dengan mas kawin perhiasan emas sepuluh gram, dibayar tunai!" suara Sukma mantap, tanpa getaran sedikit pun.
Galuh memejamkan mata. Dia merasa dunia di sekitarnya perlahan memudar. Suara penghulu terdengar menjauh, berganti dengan suara desis angin yang aneh, mirip suara yang dia dengar saat tersesat di tempat Batara Giri. Di kegelapan kelopak matanya, dia seolah melihat bayangan Menhir yang menjulang tinggi, bersinar dengan cahaya kebiruan yang redup, seakan batu itu sedang menyaksikan prosesi ini dari kejauhan.
Bagja menarik napas dalam-dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Galuh Endah Wulandari binti Sukma Atmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah!" jawab dua orang saksi serempak.
Seketika itu juga, sebuah dentuman tak terdengar, terasa di ulu hati Galuh. Galuh merasa seolah-olah sebuah kunci telah diputar di dalam sel otaknya, mengunci takdirnya dengan Bagja selamanya. Dia bukan lagi Galuh yang bebas; dia kini adalah bagian dari instrumen purba Cipari. Saat dia meraih tangan Bagja untuk mencium punggung tangannya, dia merasakan kulit Bagja yang dingin. Ada aliran energi yang asing namun familiar berpindah di antara mereka. Sebuah energi yang dampaknya terasa melampaui kertas administrasi di depan mereka.***