Takdir Purba
Darah Seperti Air
“Kalau longsor mah, udah yang kedua kali, Kang. Yang pertama itu sekitar tiga tahun lalu. Nggak terlalu besar. Cuma longsor di bagian jalan cagak arah yang mau ke Cigugur. Mungkin karena sekarang di Munjul udah banyak rumah, Kang. Ada yang menggali batu juga. Pertambangan ilegal. Akang pasti dengar waktu ada sidak Pak Gubernur.” Mang Ono menjeda penjelasannya untuk mengambil sebatang rokok yang ada di meja.
“Cipari makin padat, Kang,” lanjut Mang Ono. “Kebutuhan lahan untuk rumah sudah makin mendesak. Areal yang paling memungkinkan untuk dijadikan permukiman salah satunya ya di Munjul. Mau melarangnya juga susah.”
Bapak mengembuskan napas, “Akang paham, kita nggak bisa melarang mereka. Tapi, ya begini dampaknya. Akang dengar, orang Winduherang juga demo ya?”
“Iya, Kang. Kotoran hewan juga jadi masalah yang nggak selesai-selesai. Jumlah sapi di Cipari hampir sama dengan jumlah kepala keluarga di sini. Lahan untuk permukiman rebutan dengan lahan untuk kandang, Kang.”
“Aku juga lihat, Pak,” timpal Galuh. “Secara ekonomi, Cipari maju pesat. Tapi secara ekologi sepertinya mengalami kemunduran.”
“Cipari sudah banyak berubah. Sudah maju pisan. Sekolah aja udah lengkap. Dari TK sampai perguruan tinggi ada semua,” ujar Bi Yoyoh.
Mang Ono mengangguk tanda setuju. Lalu melanjutkan, “Kalau diingat-ingat, sepertinya tanda-tanda bencana itu sudah lama, Kang. Mungkin dalam sepuluh tahun ini. Apalagi sejak dua pohon beringin di Cisumur ditebang. Air di Cisumur pernah kering beberapa bulan. Hulu Cai Cipari juga sekarang mah sudah terkontaminasi kotoran hewan, Kang. Longsor di Munjul sudah dua kali.”
“Apa warga di sini nggak tahu pentingnya pohon beringin di Cisumur?” tanya Galuh.
“Secara fungsi, mungkin nggak tahu. Mereka hanya tahu kalau pohon beringin itu keramat. Ada penunggunya. Tapi ya tetap saja ditebang.”
“Pohon beringin itu sebetulnya indikator kalau di situ ada mata air. Leluhur kita zaman dulu belum mengenal pompa air, jadi mereka memanfaatkan pohon beringin sebagai pompa air alami. Galuh,” Sukma melirik ke arah Galuh. “Sebagai sarjana kehutanan, seharusnya kamu tahu kalau pohon beringin bekerja sebagai pompa air melalui mekanisme evapotranspirasi dan tekanan hidrostatik. Secara ilmiah, sistem perakaran lateral yang luas dan akar tunggang yang dalam berfungsi sebagai infiltrator yang menyerap air hujan ke dalam akuifer tanah (proses infiltrasi). Air yang terkumpul menciptakan jenuh air di zona perakaran. Melalui gaya kapilaritas dan tekanan akar, pohon menjaga stabilitas hidrologi, sementara tajuk yang rapat meminimalkan penguapan di permukaan (evaporasi), sehingga memicu keluarnya air tanah ke permukaan sebagai mata air.”
“Aku paham kok. Pohon beringin menjadi keramat mungkin leluhur kita memiliki tujuan agar kita tetap menjaga keberadaan pohon beringin itu. Aku sih melihatnya begitu. Kalau dua pohon beringin yang ada di Cisumur sudah ditebang, wajar saja air di sana mengalami kekeringan.” Galuh menyimpulkan.
Bapak mengangguk-anggukan kepala. “Pendapatmu masuk akal,” ucap Bapak.
“Mamang juga setuju dengan pendapat kamu.” Mang Ono menimpali.
“Terus, apa saja upaya yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu?” Ibu bertanya pada Mang Ono.
“Kalau untuk penanganan kotoran hewan sih sudah dimulai sejak lama, Teh. Kotoran diolah jadi biogas. Tapi memang belum bisa menyelesaikan masalah. Produksi belum maksimal. Selain itu, pasar juga belum bagus.”
“Mang, jangan lupa bau tai sapi. Aku sampai pusing mencium baunya,” keluh Galuh.
“Iya, untuk kita memang baunya luar biasa mengganggu,” Mang Ono membenarkan. “Tapi bagi orang Cipari yang punya sapi, bau tai sapi itu nggak jadi masalah. Mereka malah bilang nggak ada yang mati gara-gara bau tai sapi. Hasil yang diperoleh dari susu lebih penting daripada bau.”
“Ternyata masalahnya memang sepelik itu, ya?” gumam Bapak.
“Iya, Kang. Terus masalah warga yang mulai ramai membangun rumah di kawasan Munjul belum ada solusi harus bagaimana. Apalagi itu lahan mereka. Begitu juga masalah air yang terkontaminasi. Belum bisa diselesaikan.”
Pandangan Bapak beralih menatap Galuh. “Galuh, Bapak yakin, sudah saatnya kamu dan Bagja berbuat sesuatu.”
“Kenapa jadi aku? Apa hubungannya aku dengan masalah ini?” protes Galuh.
“Bapak tahu kamu bingung,” lanjut Bapak. “Sama. Kami para orang tua juga sebenarnya menghadapi kebingungan yang tidak kamu ketahui.”
“Dulu, sebelum kamu lahir, kami sudah diberi tahu kalau keluarga Bapak dan keluarga Duriyat terikat sumpah yang diucapkan para leluhur. Sumpah itu menyebutkan bahwa dua darah keluarga ini akan menyatu dan menjaga keseimbangan Cipari melalui anak, cucu, buyut, atau keturunan mereka berikutnya. Selama ratusan tahun, sumpah itu tidak bisa dipenuhi. Dalam garis keturunan leluhur kami, orang yang sudah dipilih tersebut tidak bisa melaksanakan kewajibannya. Entah karena menikah dengan orang luar Cipari, ataupun karena sama-sama laki-laki dan sama-sama perempuan.”
“Sampailah kemudian pada Bapak dan Duriyat. Kami sama-sama terpilih, tetapi tidak bisa menyatu melalui ikatan perkawinan. Maka, saat kamu lahir, Bapak dan Duriyat sepakat bahwa kamu dan Bagja adalah orang yang dimaksud oleh leluhur. Kemurnian garis keturunan kalian terjaga hingga lima generasi di atas kami.”
Galuh merasakan tenggorokannya kering. Penjelasan Bapak tentang "kemurnian garis keturunan" terdengar seperti teori genetika yang dipaksakan masuk ke dalam kerangka klenik. Lima generasi. Itu berarti ratusan tahun sejarah keluarga mereka telah dikurasi oleh takdir, atau mungkin oleh ambisi para leluhur yang tak tenang di alam sana.
“Kenapa aku sama A Bagja harus dijodohkan?” Galuh makin penasaran.
Bapak menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh menembus dinding kamar, seolah dia bisa melihat melampaui waktu.
“Karena darah itu seperti air, Galuh. Kadang dia keruh karena nafsu, kadang dia meluap karena kesombongan. Selama empat generasi sebelum kalian, selalu ada saja aral melintang. Eyang buyutmu dulu, dia terpilih, tapi dia malah lari ke tanah seberang karena jatuh cinta pada perempuan lain. Akibatnya? Cipari dilanda gempa yang menyebabkan peradaban terkubur. Lalu di generasi Bapak ….” Bapak terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan guratan penyesalan yang samar. “Bapak dan Duriyat lahir sebagai laki-laki. Sumpah itu menuntut penyatuan dua kutub, maskulin dan feminin. Kami gagal memenuhi syarat itu secara lahiriah.”
Bapak meraih tangan Galuh, menggenggamnya dengan jemari yang kasar namun terasa hangat. "Maka, ketika Bagja lahir, dan beberapa tahun kemudian kamu lahir, Bapak dan Duriyat tahu, alam seperti mengirimkan pesan yang sangat terang. Kalian adalah jawaban dari penantian panjang ini. Kamu adalah kutub feminin yang membawa kearifan tanah, dan Bagja adalah kutub maskulin yang menjaga kekokohan batu."
"Tapi Pak, ini zaman modern," protes Galuh, "Aku bukan 'kutub' apa pun. Aku Galuh, seorang perempuan yang ingin membangun mimpinya sendiri, bukan sekadar rahim untuk meneruskan sumpah yang bahkan aku tidak tahu bunyinya seperti apa!"***