Takdir Purba
Pasca Longsor
“Rumah-rumah mah pasti nambah, A. Itu tanah yang di atas rumahnya Wa Saud aja udah dibeli sama Pak Apudin.” Dudung menunjuk rumah Wa Saud yang saat ini letaknya paling tinggi.
“Bahaya atuh kalau begitu mah. Bisa-bisa Munjul nantinya malah gundul. Nggak ada pohon sama sekali,” keluh Bagja.
“Pusing A mikirin itu mah. Otak saya nggak sanggup.” Dudung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tapi kalau sudah longsor begini kan lebih pusing lagi, Dung,” Bagja memberikan argumen.
Pak Lurah yang kebetulan sejak tadi mendengarkan obrolan itu, berjalan mendekat. “Bagja betul. Kalau sudah ada bencana seperti ini, kita juga yang terkena imbasnya. Baru kemarin kita didemo sama orang Winduherang, sekarang kita harus menghadapi longsor. Masalah Cisumur yang kering dan Hulu Cai Cipari yang sudah mulai keruh juga belum selesai. Zaman saya kecil dulu, tidak pernah terbayang kalau Munjul Nini akan dibuka seperti ini. Coba saja kalian tanya ke Abah Yusman, hampir tidak ada tanaman yang bisa hidup di bagian atas Munjul Nini.”
“Itu kenapa Pak Lurah?” tanya Maman.
“Karena dipantang sama leluhur,” jawab Pak Lurah singkat.
“Jangan-jangan longsor itu karena kita melanggar pantangan leluhur,” celetuk Kusman.
“Mungkin iya begitu, Pak Lurah,” sahut Ono.
“Kamu ingat nggak masalah orang-orang yang nambang batu terus ketahuan Pak Gubernur? Pasti leluhur marah karena mereka bikin galian.” Kusman bicara pada Ono.
“Sudah, nggak usah dibahas. Ayo, segera selesaikan sisa pekerjaan kalian. Sebentar lagi Magrib,” pungkas Pak Lurah.
Bagja mendengar pembicaraan singkat itu. Mata Bagja memandangi areal Munjul Nini yang kini berselimut lumpur. Bagja ingat, beberapa bulan lalu, ramai pemberitaan kalau terjadi penambangan batu secara ilegal di Munjul. Bahkan Pak Gubernur turun langsung untuk sidak. Otak Bagja mulai bekerja, larangan orang tua untuk tidak membuka Munjul justru untuk menyelamatkan Cipari. Ketika Munjul sudah dibuka dan pantangan dilanggar, para penambang mulai mengeruk batu tanpa memikirkan dampaknya.
Bagja termenung. Kerusakan lingkungan yang terjadi di Cipari ternyata begitu masif. Dari hulu hingga hilir, sudah terkena dampak. Kotoran sapi hanya salah satu pemicu. Dalam satu obrolan, Bagja pernah mendengar Abah Yusman berkata, Cipari sudah kehilangan identitasnya ketika boboko dan ceceting yang terbuat dari bambu diganti oleh bahan plastik. Ucapan Abah Yusman nyata. Sejak itu, para pengrajin anyaman mulai kehilangan pasar dan akhirnya banyak yang gulung tikar. Rumpun bambu sedikit demi sedikit menghilang. Berubah menjadi rumah warga atau kandang sapi.
“A, kenapa melamun?” Pak Dadang yang ikut gotong royong mengibaskan tangannya di depan wajah Bagja.
“Eh, nggak Pak. Nggak melamun, kok.” Bagja menjawab gugup.
“Sudah jelas, A Bagja teh pasti mikirin Neng Galuh. Saya mah yakin. Benar kan A?”
“Aduh Pak Dadang suka ada-ada aja. Kenapa malah gosipin saya sama Galuh?” Bagja tersenyum kecut.
“Sok atuh dijadikan beneran A. Jangan cuma gosip. Saya setuju pisan kalau A Bagja sama Neng Galuh. Kasep jeung geulis, terus nyakola oge. Panteslah pokokna mah. Kalau kata anak sekarang itu apa namanya? Setara, ya?” Pak Dadang terus saja menggoda Bagja.
“Saya juga setuju Pak, kalau si A Bagja sama Teh Galuh mah. Memang cocok.” Dudung mengacungkan jempolnya.
“Saya juga ikut setuju. Biar A Bagja sama Teh Galuh aja. Jadi si Anah nggak ngelirik A Bagja terus.” Ono ikut memberikan komentar.
“Loh, memang kenapa si Anah harus melirik saya?” Bagja mengerutkan keningnya.
“Duh Gusti, begini nih kalau orang cakep nggak sadar dirinya cakep. A Bagja nu kasep, coba di survei, siapa perempuan di Cipari yang nggak suka sama Aa? Kalau perempuan normal mah pasti pada mau dijadikan istri sama Aa,” jelas Ono.
“Kamu suka sama Anah?” tanya Bagja pada Ono.
“Iya. Tapi si Anah sukanya sama A Bagja. Saya patah hati.” Ono memasang wajah memelas.
“Ya kamu berjuang dong. Kejar itu si Anah.” Bagja memberikan saran.
“Saya juga sudah berjuang A. Tapi susah kalau Aa belum punya calon mah. Makanya A, cepetan cari calon biar kami nggak ada saingan. Itu Teh Galuh jangan sampai lepas A. Kurang apa lagi coba? Kata si Dudung juga cocok. Ya nggak Dung?” Ono melirik Dudung.
“Iya pake banget.” Dudung setengah berteriak.
“Sudah, sudah, malah jadi ngomongin saya. Sudah selesai belum kerjanya? Sudah jam setengah lima nih. Sebentar lagi Magrib. Ayo, selesaikan pekerjaan kita. Jangan ngobrol aja.” Bagja kembali mengambil cangkul dan berjalan ke bagian yang masih belum rata.
Puluhan warga bekerja dalam diam. Tak berapa lama, areal jalan yang tadi tertutup lumpur kini sudah bisa dilewati. Pohon-pohon yang tumbang sudah disingkirkan dan ditumpuk di sisi jalan.
***
Cipari sudah sepenuhnya sepi. Lampu-lampu di dalam rumah warga sudah banyak yang padam pertanda si penghuni mungkin sedang bersiap memasuki mimpi. Galuh duduk di teras, menikmati teh hangat buatan Bi Yoyoh ketika sebuah mobil masuk ke halaman. Galuh memicingkan mata karena merasa tak asing dengan mobil yang dilihatnya. Benar saja, mobil itu memang dikenalnya. Sukma Atmaja dan Sekar Taji—orang tua Galuh—turun dari dalam mobil. Setengah berlari, Ibu menghampiri Galuh dan memeluknya.
“Bapak sama Ibu ngapain ke sini?” Galuh menghampiri kedua orang tuanya lalu mencium punggung tangan mereka bergantian.
“Kamu pikir, Ibu sama Bapak bisa diam di rumah saat mendengar ada longsor dan anak kami lagi ada di tempat longsor itu? Kalau Sundari nggak nelepon, Ibu nggak akan tahu kamu ada di sana saat longsor. Mana yang luka?” Ibu memutar tubuh Galuh sambil menelisik sampai memicingkan mata.
“Nggak ada yang luka, Bu. Aku nggak apa-apa.” Galuh meyakinkan Ibu.
“Jangan bohong. Ini apa?” Ibu menunjuk bagian betis Galuh. Ada luka memanjang dari bawah lutut menuju telapak kaki.
Galuh nyengir, “Ya ampun, Bu. Itu luka kecil doang. Cuma memang lebar, sih, hehehe.”
“Sudah. Kalian ini kalau bertemu selalu saja ribut. Kalau pisah malah kangen. Ayo masuk. Nggak enak ngobrol di teras begini. Mana Bibi kamu?” Bapak menggandeng tangan Galuh dan Ibu agar keduanya ikut masuk.
“Tadi sih Bi Yoyoh udah masuk kamar. Nggak tahu udah tidur apa belum. Sebentar, aku cek dulu.” Galuh melepaskan genggaman tangan Bapak, lalu mempercepat langkahnya menuju kamar Bi Yoyoh.
Bi Yoyoh dan Mang Ono keluar dari kamar bersamaan. Setelah bersalaman dan menanyakan kabar masing-masing, kini mereka duduk melingkar di ruang tengah. Sebelumnya, Mang Ono sudah menawarkan supaya mereka istirahat saja, tapi Bapak bersikeras untuk ngobrol.
“Ini gimana awalnya, kok bisa longsor di Munjul?” Bapak bertanya dengan tatapan mata yang ditujukan ke Mang Ono.***