Takdir Purba

Galuh dalam Bahaya

Jantung Bagja berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Ia berlari sekuat tenaga, tersandung akar, dan jatuh terjerembap ke dalam lumpur busuk itu. Namun ia tidak peduli. Ia bangkit lagi, merangkak menuju gundukan tanah di dekat sebuah pohon beringin tua yang akarnya masih mencengkeram bumi dengan sisa-sisa kekuatannya.

Di sana, Galuh terduduk lemas. Sebagian kakinya tertutup lumpur, namun dia selamat. Tangannya masih mendekap erat kameranya, melindunginya seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. Matanya terbuka lebar, namun tatapannya kosong, terpaku pada robekan besar di puncak Munjul Nini.

"Galuh... Ya Allah, Galuh!" Bagja jatuh berlutut di sampingnya. Dia segera memeriksa kondisi Galuh. Tidak ada luka terbuka yang fatal, hanya goresan-goresan kecil di lengan dan wajahnya.

Galuh perlahan memalingkan wajah. Saat matanya bertemu dengan mata Bagja yang berkaca-kaca, kesadaran mulai kembali ke wajahnya. Bibirnya yang pucat bergetar.

"A... Bagja?" bisiknya lirih.

Bagja mengembuskan napas lega yang begitu panjang hingga pundaknya merosot. Tanpa sadar, ia menarik Galuh ke dalam pelukannya. Ia tidak peduli dengan lumpur yang kini berpindah ke bajunya, atau aroma kimia yang menyesakkan. Ia hanya ingin memastikan bahwa perempuan yang terikat takdir purba dengannya ini masih ada di sana.

"Kamu gila, Galuh. Kamu benar-benar gila," gumam Bagja di sela isaknya yang tertahan.

Galuh tidak membalas pelukan itu dengan tangan, karena tangannya masih kaku memegang kamera. Namun ia menyandarkan kepalanya di bahu Bagja. Getaran hebat mulai menjalar di tubuhnya. Reaksi lambat dari trauma yang baru saja ia alami.

"Longsornya... longsornya berhenti, A," ucap Galuh terbata-bata. "Waktu lumpur itu mau sampai ke tempatku berdiri, rasanya seperti ada... ada dinding yang nggak kelihatan. Lumpur itu belok, A. Dia menghindari pohon beringin ini."

Bagja melepaskan pelukannya dan menatap pohon beringin besar di belakang mereka. Benar saja, aliran lumpur terbelah tepat di depan pohon itu, menciptakan pulau kecil yang selamat dari kehancuran. Di bawah akar beringin itu, Bagja melihat sebuah batu tegak kecil yang hampir tertutup tanah.

"Ayo, kita harus pergi dari sini. Kemungkinan masih ada potensi longsor susulan," ajak Bagja sambil membantu Galuh berdiri.

Meskipun lemas, Galuh berhasil berdiri dengan tumpuan tangan Bagja. Dia melihat ke arah pemukiman warga di kejauhan. Sirene mulai terdengar bersahutan. Orang-orang mulai berlarian menuju area terdampak.

"Ada korban, A?" tanya Galuh dengan nada cemas yang mendalam.

Bagja menyapu pandangannya ke jalur longsoran. Jalur itu melewati area kosong. Tidak ada rumah warga yang hancur. Longsor itu seolah-olah memiliki presisi bedah yang hanya membuang bagian-bagian yang "sakit" dari tanah Cipari.

"Sepertinya tidak ada, Galuh. Longsor ini cuma sebentar. Dan arahnya tidak ke arah rumah-rumah warga," jawab Bagja sambil menuntun Galuh menuju motornya.

"A," panggil Galuh saat mereka sampai di motor. "Aku sempat memotretnya. Detik-detik sebelum tanah itu pecah. Ada cahaya merah dari dasar Munjul Nini, persis seperti yang Aa ceritakan tentang Menhir di situs."

Bagja terdiam sejenak, lalu menghidupkan mesin motornya. "Kita bicarakan itu di rumah. Sekarang, yang penting kamu selamat."

Saat motor Bagja mulai menjauh dari lereng Munjul Nini, matahari akhirnya berhasil menembus kabut debu. Cahayanya jatuh tepat di atas puncak gunung Ciremai yang berdiri kokoh.

*** 

Biasanya, tiap hari Kamis ba’da Ashar, ibu-ibu akan berduyun-duyun ke Masjid Al-Hidayah untuk mengikuti pengajian yang biasa mereka namakan Kemisan. Namun, sore ini berbeda. Pengajian diliburkan sesuai woro-woro yang terdengar sebelum azan Ashar berkumandang. Warga diminta gotong royong membersihkan Jalan Cipari - Gunung Keling di bawah Munjul Nini yang tertutup material longsor ringan dan sisa-sisa lumpur hitam yang berbau menyengat. Akses dari Cigugur menuju Gunung Keling via Cipari lumpuh total.

Bagja berdiri di teras rumahnya, menatap ke arah lereng yang kini tampak seperti luka menganga di tubuh perbukitan. Meskipun longsor itu tidak menghantam pemukiman secara langsung, aroma busuk yang menguar dari tanah yang baru terbuka itu terasa jauh lebih pekat daripada limbah yang biasa dipermasalahkan warga. Seolah-olah bumi sedang memuntahkan sesuatu yang selama ini ia telan dengan terpaksa.

"Aa, kopi," suara Mamah memecah lamunan Bagja. Beliau menyodorkan segelas kopi hangat, tetapi matanya tetap menatap cemas ke arah Gunung Ciremai yang puncaknya masih tertutup kabut debu sisa longsoran.

"Hatur nuhun, Mah," jawab Bagja pelan. Ia menerima gelas itu, merasakan kehangatannya merambat ke telapak tangan yang masih sedikit gemetar. Pikirannya masih tertambat pada kejadian tadi siang, saat ia menarik Galuh dari bibir bukit yang runtuh. Kecepatan reaksi tubuhnya tadi pagi terasa tidak alami, seolah-olah ada insting purba yang menuntunnya untuk melindungi "pasangannya".

“Kalau mau ke Munjul, hati-hati, Ja. Galuh biar saja di sini sama Mamah. Biar dia istirahat juga.”

Di halaman, Dudung tampak sibuk menyiapkan peralatan. Pemuda itu mengenakan sepatu bot karet yang sudah dekil.

"A, warga sudah mulai kumpul di bawah. Pak Lurah bilang kita harus segera bertindak sebelum hujan turun," seru Dudung.

Bagja mengangguk. “Ayo, Dung. Kamu bawa motor saya aja. Motor kamu simpan di sini.” Bagja menyerahkan kunci motornya ke Dudung.

Tiba di Munjul Nini, Bagja dan Dudung bergabung dengan warga Cipari yang lain. Para lelaki Cipari tengah berjibaku dengan sisa-sisa amukan bumi. Suasana gotong royong itu terasa sangat kontras dengan ketegangan yang terjadi di kantor kelurahan kemarin. Tidak ada lagi perdebatan soal limbah atau bau kotoran sapi; yang ada hanyalah denting cangkul yang beradu dengan batu dan pekikan aba-aba saat warga menarik batang pohon yang tumbang.

“Kenapa ya sudah dua kali ini ada longsor di Munjul? Padahal kata Abah saya, Munjul ini dulu yang menjaga Cipari waktu Gunung Ciremai meletus,” Maman bergumam di sela-sela aktivitasnya menginjak-nginjak lumpur agak menjadi padat.

“Iya, benar Kang. Cipari itu kayak yang terus-terusan ditimpa musibah,” timpal Ono.

“Jangan suka mikir macam-macam. Memang sekarang lagi musim hujan. Wajar kalau longsor.” Sahut Fajar.

“Kalau menurut A Bagja kumaha, A?” Maman bertanya pada Bagja.

“Saya juga nggak tahu. Tapi kalau menurut saya, longsor ini karena ulah kita sendiri. Coba lihat, Munjul Nini sekarang sudah penuh oleh rumah warga. Padahal dulu di sini kan hutan. Sekarang pohon-pohon besar sudah nggak ada. Otomatis nggak ada yang menjadi penahan air saat hujan.” Bagja mencoba menjelaskan.

“Bagaimana lagi atuh, A. Kalau nggak di Munjul, mau bangun rumah di mana? Cipari sekarang udah penuh,” sela Fajar. 

“Itu maksud saya, Jar. Sudah jadi risiko kita yang membuka Munjul Nini untuk pemukiman. Memang serbasalah. Sekarang mau nggak mau kita harus terima risiko kalau di sini jadi daerah rawan longsor. Semoga rumah di sini tidak bertambah lagi,” harap Bagja.***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!