Takdir Purba

Bagaimana Kalau Kita Jodoh?

“Iya. Tapi kita tunda dulu ya obrolan tentang kotorannya. Aa ke sini mau melanjutkan pembicaraan di rumah tadi pagi. Tentang perjodohan kita. Itu juga kalau kamu nggak keberatan.”

“Apa yang harus dibahas, A?”

“Galuh, terus terang aja, Aa nggak keberatan dengan perjodohan ini. Tanpa ada omongan orang tua kita tentang perjodohan pun Aa akan berusaha untuk bisa menjadikan Galuh sebagai pendamping Aa. Galuh sendiri bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana A?”

“Bagaimana kalau Aa bertanya, Galuh mau nggak jadi istri Aa?”

“A Bagja serius? Ini bukan urusan sepele dan bukan untuk main-main loh A.”

“Aa serius. Selama ini, Aa nggak berani mendekati Galuh karena Aa dengar Galuh sudah punya pacar. Malah sudah tunangan. Aa nggak mau mengganggu. Tapi sekarang Aa berani karena tadi Galuh bilang sendiri kalau Galuh sedang tidak berhubungan dengan lelaki mana pun. Aa nggak salah dengar, kan?”

“Nggak salah dengar, kok. Aku memang sudah putus sama lelaki berengsek itu.”

“Berarti kamu nggak keberatan dong kalau kita bahas urusan perjodohan ini?”

“Aa yakin dengan perasaan Aa? Aku nggak mau Aa cuma menjalankan kewajiban. Aku nggak seterpuruk itu untuk dikasihani, A. Umurku juga rasanya belum layak kalau harus disebut perawan tua. Aa nggak usah memikirkan orang tua kita atau yang lainnya. Kalau Aa menolak perjodohan ini, aku nggak apa-apa banget A. Namanya jodoh kan urusan Allah. Kita nggak punya kuasa untuk mengaturnya.”

“Iya, Aa paham dengan kekhawatiran kamu. Tapi, percaya sama Aa, Aa nggak mungkin membahas ini kalau Aa nggak serius apalagi kalau nggak punya perasaan sama Galuh. Tadi kan Aa bilang, sudah dari dulu Aa punya perasaan lain sama Galuh. Sayangnya, Galuh nggak pernah ngasih kesempatan ke Aa. Malah tunangan segala dengan orang lain. Kamu dari dulu selalu menolak Aa, kan?”

“Bukan begitu, A. Jujur ya, aku tuh nggak nolak Aa. Tapi aku nggak suka dengan yang namanya perjodohan. Aku nggak mau kita menjalin hubungan karena Aa merasa nggak enak kalau menolak perjodohan ini. Aku juga nggak mau kalau hanya salah satu dari kita aja yang punya perasaan. Bukan kita berdua.”

“Oke, jadi gimana? Aa udah bilang tentang perasaan Aa. Nggak ada intervensi dari siapa pun, apalagi cuma karena keinginan orang tua menjodohkan kita.”

“Bisa nggak kalau kita jalani hubungan ini pelan-pelan? Aa nggak buru-buru ngajak aku buat nikah, kan?”

“Kalau kamu tanya Aa, jelas Aa mau secepatnya. Kalau bisa mah, besok juga Aa langsung ke Bogor ketemu orang tua kamu. Tapi balik lagi ke kesiapan Galuh. Nggak ada salahnya kita menuruti saran orang tua kalau untuk kebaikan.”

“Kasih aku waktu untuk memikirkannya ya, A. Aku nggak mau gagal lagi.”

“Iya. Sok pikirkan dengan kepala dingin. Aa juga nggak mau hubungan baik kita dan keluarga kita jadi terganggu hanya karena masalah ini. Paling nggak, Aa sudah dapat kejelasan dari Galuh. Terima kasih, ya.”

“Kenapa harus bilang terima kasih segala?”

“Terima kasih sudah mau mempertimbangkan. Kamu nggak langsung menolak Aa.”

“Mungkin karena aku nggak ada pilihan lagi. Hahaha.” Galuh tergelak.

“Atau mungkin karena sejak awal hati kamu sudah memilih Aa.”

“Ge-er.”

“Buka ge-er. Tapi percaya diri. Buktinya, semesta juga mendukung Aa. Hmmm, sudah mau Ashar, Aa pamit, ya. Harus siap-siap ke kandang. Bi Yoyoh mana?”

“Kayaknya di dapur. Mau aku panggilkan?”

“Nggak usah. Tolong sampaikan aja salam Aa buat Bi Yoyoh.”

***

Setelah Bagja berpamitan dengan senyum yang sulit disembunyikan, Galuh masih terpaku di kursi marmer bundar itu. Aroma kopi buatan Bi Yoyoh yang tertinggal di udara seolah bercampur dengan pengakuan jujur Bagja yang masih terngiang-ngiang, bahwa dia telah menyimpan perasaan itu sejak mereka masih anak-anak.

*** 

Malam perlahan mengetuk. Suara anak-anak yang sedang mengaji terdengar dari surau-surau yang ada di Cipari. Sudah menjadi kebiasaan di Cipari, anak-anak akan belajar mengaji selepas Magrib sambil menunggu waktu Isya tiba.

Sementara itu, di wilayah yang lebih rendah—Kelurahan Winduherang—suasana jauh dari kata tenang. Di salah satu pos ronda, warga Winduherang sedang berkumpul di bawah temaram lampu jalan. Mereka sedang membicarakan makar yang akan mereka lakukan akibat limbah kotoran hewan dari kandang-kandang besar di Cipari.

Masalah muncul setiap musim penghujan tiba, ketika aliran sungai membawa limpasan kotoran hewan. Bau menyengat yang tercium dari jarak 20 meter. Air yang tadinya jernih kini berubah warna menjadi keruh dan berbusa. Pada beberapa kasus, sudah tak terhitung berapa banyak ikan di kolam warga yang mati. Kalau debit air sedang tinggi, kontaminasi bisa sampai ke sumber mata air yang dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Pak Karsa dan Andi menjadi inisiator demo yang akan mereka lakukan besok. Sebagian warga Winduherang sudah teramat jengah dengan permasalahan kotoran hewan yang terus saja berlarut selama bertahun-tahun. Upaya pengolahan limbah yang dilakukan di Cipari tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah sapi yang terus saja meningkat.

Malam itu, lebih dari dua puluh orang sepakat mereka akan melakukan protes besar-besaran di Cipari esok hari.

***

Matahari baru beranjak naik saat gelombang kemarahan itu mencapai gerbang Kantor Kelurahan Cipari. Pagi yang biasanya tenang, kini koyak oleh raungan knalpot motor-motor tua dan bak terbuka yang mengangkut massa dari Kelurahan Winduherang.

Bagja dan beberapa peternak lainnya baru saja usai mengumpulkan susu yang mereka hasilkan pagi itu. Mereka sudah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing ketika terdengar bunyi tiang listrik yang dipukul bertalu-talu—sebagai tanda bahaya atau seruan kumpul—bersahutan dengan teriakan-teriakan parau yang terbawa angin. Dari arah kantor kelurahan terlihat debu jalanan yang membumbung, bercampur dengan asap knalpot yang hitam.

Bagja mengajak beberapa orang yang masih belum pulang untuk pergi ke kantor kelurahan. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sana.

"Tutup peternakan pembunuh!"

"Kami butuh air bersih, bukan tai sapi!"

Teriakan demi teriakan mulai terdengar. Di depan kantor kelurahan, suasana sudah seperti medan perang. Puluhan warga Winduherang, dengan wajah-wajah yang legam terbakar matahari dan pakaian yang masih menyisakan bekas keringat, merangsek maju. Mereka membawa poster-poster dari kardus bekas dengan tulisan yang digoreskan terburu-buru menggunakan cat semprot merah: “Cipari Kaya, Winduherang Merana” dan “Limbahmu, Penyakit Kami.”

Seorang lelaki tua, Pak Karsa, yang dikenal Bagja sebagai sesepuh di Winduherang maju ke depan barisan. Pak Karsa mengacungkan sebuah jeriken plastik berisi air berwarna cokelat pekat, nyaris hitam, ke arah jendela kantor kelurahan. 

"Lihat ini, Pak Lurah!" teriak Pak Karsa, suaranya bergetar antara amarah dan tangis. "Ikan-ikan di kolam kami mengambang putih semua! Bau amonia dari atas sini sudah seperti bau bangkai yang tidak dikubur! Anak-anak kami gatal-gatal setiap kali mandi. Apakah susu sapi kalian lebih berharga daripada nyawa warga kami?"***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!