Takdir Purba

Demo

Dengan gerakan beringas, Pak Karsa menumpahkan isi jeriken itu ke aspal depan kantor. Air limbah yang kental itu mengalir, menyebarkan aroma busuk yang tajam. Campuran kotoran sapi yang membusuk dan sisa-sisa pencucian alat pemerah. Bau itu menyengat hidung setiap orang yang ada di sana, seolah-olah menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan atas kelalaian warga Cipari.

Massa mulai melempar telur-telur busuk ke arah papan nama kelurahan. Bunyi plak-plak saat telur menghantam kayu, diikuti bau amis yang menyengat, membuat suasana semakin kacau. Beberapa pemuda mulai menggoyang-goyang pagar besi kantor yang berderit memilukan. Polisi pamong praja yang berjaga di dalam tampak pucat, mereka terjepit antara kewajiban menjaga ketertiban dan rasa simpati pada tetangga mereka yang memang menderita.

"Bapak-bapak, tolong tenang! Kita bicarakan baik-baik!" suara Pak Lurah tenggelam dalam sorakan ejekan.

"Bicara apa lagi? Sudah puluhan kali kami lapor, tapi setiap hujan deras, kolam limbah di atas sana selalu meluap!" teriak salah satu orator dari atas mobil bak. "Para peternak itu hanya peduli pada setoran susu! Mereka tidak peduli kalau sumur-sumur kami sudah tidak bisa diminum!"

Bagja yang menonton dari kejauhan merasa dadanya sesak. Sebagai peternak dan pengusaha yogurt di Cipari, dia tahu sebagian besar limbah itu memang berasal dari peternakan di Cipari. Dia merasa seolah setiap makian warga Winduherang adalah batu yang dilemparkan langsung ke wajahnya.

Matahari tepat di zenit, membakar ubun-ubun siapa pun yang berani berdiri di bawahnya. Namun, panas dari langit itu tak sebanding dengan hawa permusuhan yang mendidih di depan Kantor Kelurahan Cipari. Debu jalanan naik setinggi lutut, dikocok oleh deru puluhan mesin motor yang sengaja ditarik gasnya hingga meraung kasar, sebuah bentuk intimidasi mekanis yang memekakkan telinga.

Bagja berdiri tersembunyi di balik batang beringin tua, hanya dua puluh langkah dari garis depan massa. Dari sini, dia bisa melihat butiran keringat yang mengalir di leher para demonstran Winduherang yang legam. Ia bisa mencium bau apek baju yang basah oleh peluh, bercampur dengan asap knalpot yang hitam dan pekat. Namun, ada satu aroma lagi yang jauh lebih mendominasi: bau busuk dari limbah yang mereka bawa sebagai barang bukti.

"Ke sini kamu, Lurah pengecut!" teriakan itu datang dari Andi.

Andi, yang dulu satu tim sepak bola dengan Bagja, kini tampak seperti orang asing yang dipenuhi kebencian. Dia berdiri di atas kap mobil bak terbuka, tangannya menggenggam botol kaca berisi cairan hitam kental. Andi melemparkan botol itu ke arah gerbang beton kelurahan.

Prang!

Pecahan kaca berserakan, dan isi botol itu menyiprat ke seragam petugas Pamong Praja yang berjaga. Cairan itu adalah sedimen kotoran sapi yang sudah membusuk di saluran irigasi. Bau amonia yang sangat tajam menyengat hidung, membuat beberapa orang di barisan depan terbatuk-batuk hingga mual.

"Lihat itu, hah?!" teriak Andi lagi, wajahnya merah padam. "Itu yang kami hirup setiap hari! Itu yang kami minum karena sumur kami sudah tercemar sampai ke akarnya! Cipari makin kaya, kami makin dekat dengan liang kubur!"

Massa mulai merangsek. Pagar besi kantor kelurahan yang biasanya kokoh, kini berderit memilukan saat didorong oleh puluhan pria yang kalap. Pak Karsa, sang sesepuh, maju dengan jeriken besar di tangannya. Ia tidak lagi bicara dengan sopan santun orang desa.

"Buka pagarnya! Buka!" Pak Karsa menghantamkan jerikennya ke arah kepala salah seorang petugas Pamong Praja yang mencoba menahan pagar.

Benturan plastik keras dengan helm petugas menimbulkan suara buk yang tumpul. Massa bersorak. Kawat berduri yang dipasang darurat mulai penyok dan tersangkut di baju-baju demonstran, tapi mereka tidak peduli. Mereka terus mendorong.

"Mundur! Semuanya mundur!" teriak komandan Pamong Praja, namun suaranya tenggelam oleh bunyi kaleng-kaleng kosong yang dipukul bertalu-talu.

Tiba-tiba, seorang pemuda dari Winduherang berhasil memanjat pagar. Dia menarik bendera di halaman kantor, lalu melemparnya ke bawah. Di bawah, massa menginjak-injak kain itu di atas aspal yang sudah becek oleh air limbah. Ini bukan lagi sekadar demo lingkungan; ini sudah menjadi pemberontakan martabat.

Bagja merasa jantungnya hampir melompat keluar. Dia melihat bagaimana noda kotoran sapi kini mengotori segalanya. Mulai dari seragam petugas, bendera kelurahan, hingga wajah para sahabat lamanya.

"Itu Bagja!" sebuah suara melengking di antara kerumunan.

Lelaki bertubuh gempal dengan kaus compang-camping menunjuk ke arah Bagja berdiri. "Itu dia! Bos Yogurt yang sapinya berak di sumur kita! Itu orangnya!"

Bagja terpaku. Kerumunan itu berputar arah seperti pusaran air yang menemukan lubang. Dalam hitungan detik, Bagja sudah terkepung. Dia tidak bisa lari. Ruang geraknya tertutup oleh dada-dada bidang yang panas dan bau matahari.

"Tunggu dulu, saudara-saudara..." Cicit Bagja, nyaris tak terdengar.

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Bukan dari tangan Andi, melainkan dari seorang ibu-ibu yang rambutnya acak-acakan. "Anakku masuk rumah sakit, Ja! Gatal-gatalnya sampai bernanah karena mandi pakai air irigasi yang kamu kotori! Mana yogurtmu? Mana uangmu? Bisa beli nyawa anakku?!"

Bagja tersungkur di aspal. Dia merasakan perih di pipinya, tapi yang lebih menyakitkan adalah rasa dingin dari air limbah yang menggenang di aspal yang kini membasahi celananya. Dia dihina di tanah kelahirannya sendiri. Andi maju, mencengkeram kerah jaket Bagja, mengangkatnya hingga ujung kaki Bagja berjinjit.

"Kamu mau bangun biogas? Kamu mau bangun IPAL?" Andi meludah tepat di depan wajah Bagja. "Kenapa baru sekarang setelah sumur kami jadi tong sampah? Kamu lebih peduli pada omset daripada nyawa tetanggamu sendiri!"

Andi sudah mengepalkan tinju. Siap menghantam wajah Bagja yang sudah pucat pasi. Massa berteriak, memprovokasi agar kekerasan itu tuntas.

"Hajar saja! Biar dia tahu rasanya jadi ikan mati di kolam!"

Di saat kritis itu, Pak Lurah akhirnya ke luar dari areal kantor dengan megaphone yang suaranya pecah-pecah. "Berhenti! Kalau kalian main hakim sendiri, saya tidak akan tanda tangani kesepakatan apa pun! Polisi sudah di jalan!"

Andi mendengus. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Bagja terjerembap kembali ke aspal. "Hari ini kamu selamat, Ja. Tapi ingat, kalau besok air sumur kami masih bau bangkai, kami tidak akan demo ke kelurahan. Kami akan bakar kandangmu!"

Massa perlahan mundur saat suara sirine polisi mulai terdengar dari kejauhan. Mereka membubarkan diri dengan membawa dendam yang lebih pekat daripada saat mereka datang. Mereka meninggalkan Kantor Kelurahan Cipari dalam keadaan hancur. Pagar yang roboh, aspal yang hitam oleh tumpahan limbah dan bekas ban terbakar, serta bau busuk yang seolah telah menyatu dengan udara desa.***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!