Takdir Purba
KARIR BAGJA
“Sejak Bapak meninggal, A Bagja langsung pulang. Ngurusin sapi sama keluarga. Sekarang lagi coba-coba bikin usaha yogurt.”
“Wow keren itu, A.”
“Bukan keren. Memang harusnya begitu. Kita orang Cipari, nggak kenal dengan istilah malas-malasan. Apa pun yang bisa dikerjakan, ya kerjakan. Apalagi A Bagja punya tiga adik yang masih butuh biaya. Omong-omong, kamu belum menjawab pertanyaan Aa tadi. Ada acara apa sampai Galuh pulang?”
“Memangnya aku nggak boleh pulang, A?”
“Siapa yang bilang nggak boleh?”
“Aku juga nggak tahu, A. Tiba-tiba aja pengin ke sini.”
“Pasti kamu belum ke makam Abah.”
Galuh mengangguk pelan.
“Sudah lihat bekas rumah Abah yang sekarang jadi tanah kosong?”
Lagi-lagi Galuh hanya mengangguk.
“Mungkin kamu kangen sama Abah. Atau mungkin Abah yang kangen sama kamu.”
“A Bagja percaya nggak, kalau aku bilang aku mimpi didatangi Abah terus Abah bilang kangen sama aku.”
“Percaya.”
“Kenapa bisa percaya?”
“Satu-satunya koneksi yang menghubungkan Aa dengan Bapak itu hanya di mimpi.”
“Gitu ya. Bisa jadi, Abah memang kangen sama aku. Terus, sekarang A Bagja fokus ngurusin sapi sama bikin usaha yogurt doang? Bukannya dulu A Bagja pernah bilang mau jadi arsitek, ya?”
“Mimpi jadi arsiteknya ditunda dulu. Ada yang lebih penting di depan mata.”
“A Bagja sudah menikah?”
“Kamu sudah pernah mendengar Aa menikah?”
“Kayaknya belum, sih. Tapi kenapa A Bagja belum nikah? Kan udah tua.”
“Hei, umur kita cuma beda tiga tahun. A Bagja belum setua itu. Terus, kalau pertanyaannya dibalik gimana? Kenapa kamu juga belum nikah?”
“Kata siapa aku belum nikah?”
“Galuh Endah Wulandari, orang tua kamu itu pituin Cipari. Kamu anak tunggal. Kalau kamu nikah, besar kemungkinan nikahnya akan di sini. Minimal seluruh keluarga besar Bapak Ibu kamu pasti akan diundang. Mana ada rahasia kalau di Cipari.
“Hehehe. Iya juga A. Tapi masalahnya, memang belum ada yang ngajakin aku nikah, A. Aku masih nunggu pangeran berkuda putih.”
“Kuda putihnya udah jadi hitam. Jadi jangan mimpi lagi. Masih hobi motret?”
“Motret sih bukan hobi, A. Tapi panggilan hati. Aku mau keliling dulu ya, A. Udah lama banget nggak keliling lihat-lihat isi situs.”
Bagja mengangguk.
Galuh beranjak dan berjalan pelan mengitari areal situs sambil sibuk memotret.
Bagja menatap perempuan yang dikenalnya sejak kanak-kanak itu. Dulu, Galuh selalu mencari-cari alasan untuk mengganggu dan merepotkan Bagja. Galuh kecil bukan perempuan cengeng, justru dia tukang berantem dengan teman-temannya yang laki-laki. Hanya Bagja yang bisa membuat Galuh menghentikan keisengannya. Mungkin Galuh menganggap Bagja sebagai kakak yang siap melindunginya.
Rumah orang tua Bagja dan rumah Abah Galuh hanya terhalang lima rumah. Teriak pun, suara Galuh akan terdengar.
Dari tempatnya duduk, Bagja melihat Galuh kembali ke tempat Menhir. Galuh berdiri memandangi Menhir seperti yang tadi Bagja lihat. Sebuah pikiran melintas di kepala Bagja. Dengan langkah terburu-buru, Bagja menghampiri Galuh.
Bagja meraih jemari Galuh dan setengah menyeretnya mendekati Menhir.
“A, ada apa ini?”
“Ikuti saja.”
Galuh pun diam.
Bagja mengangkat tangan Galuh yang masih ada dalam genggamannya. Telapak tangan Galuh dan telapak tangan Bagja bertumpuk lalu Bagja membawa telapak tangan mereka untuk menyentuh permukaan Menhir bagian atas. Dan semuanya tiba-tiba saja berubah.
Jemari Galuh dan Bagja masih bertaut ketika oksigen mendadak menjadi lebih segar untuk dihirup. Bayangan Menhir yang memanjang di tanah tampak lebih gelap.
Getaran datang merambat melalui telapak kaki mereka. Lalu tanah terasa seperti berdenyut. Bukan gempa. Tidak ada suara retakan. Tidak ada benda jatuh.
Udara terasa lebih dingin. Bau tanah menjadi tajam, seperti tanah yang baru saja digali dalam-dalam. Burung-burung yang tadi bertengger di pepohonan sekitar situs tiba-tiba terbang menjauh serempak.
“A Bagja,” ucap Galuh pelan.
Bagja menoleh tanpa melepaskan genggaman tangannya di jemari Galuh.
Dan saat itulah keadaan di sekitar mereka berubah. Selarik cahaya muncul seperti tirai tipis yang perlahan ditarik. Pagar besi pembatas situs lenyap. Suara kendaraan di kejauhan padam. Langit yang tadi berwarna biru pucat berubah menjadi biru tua yang lebih dalam.
Ketika semuanya kembali jelas, Galuh dan Bagja tidak lagi berada di waktu yang sama. Hutan lebat kini mengelilingi mereka. Tanah yang dipijak berwarna merah dan belum terinjak jalur wisata. Tidak ada papan informasi. Tidak ada jejak peradaban modern.
Bagja mengedarkan pandangannya perlahan. “Kita tidak sedang halusinasi.”
Galuh mengangguk tanpa kata.
Suara pertama yang terdengar adalah ketukan berulang. Batu dipukul batu, teratur dan konsisten. Bukan satu orang. Banyak.
Bagja dan Galuh berjalan perlahan menuju sumber suara itu.
Lapangan terbuka muncul di balik hutan. Sekitar sepuluh orang terlihat bekerja mengangkat sebuah batu besar yang hampir setinggi dua kali tubuh manusia dewasa. Batu itu ditopang kayu-kayu besar. Tali dari serat tumbuhan melilitnya. Beberapa lelaki menarik dari satu sisi, yang lain mendorong dari belakang.
Di sisi lain, beberapa perempuan duduk melingkar sambil menyanyikan nada rendah tanpa kata. Irama itu sederhana tetapi berulang, seperti mantra.
Galuh merasakan dadanya ikut bergetar mengikuti ritme tersebut.
Bagja dan Galuh menyaksikan sebuah prosesi sakral yang tidak pernah terbayangkan selain sebagai bab dalam buku sejarah atau rekonstruksi museum. Namun, prosesi itu kini tampak di depan mata.
Seorang lelaki tua berdiri sedikit terpisah dari kerumunan. Rambutnya panjang memutih. Tubuhnya kurus tegap. Di lehernya tergantung kalung dari tulang kecil dan batu. Matanya tertutup. Tangannya terangkat, telapak menghadap batu. Tak lama, batu besar itu terbelah. Para pekerja bersorak. Lelaki tua itu membuka mata. Sejurus kemudian, tatapannya jatuh ke arah Bagja dan Galuh.
Orang-orang lain tidak bereaksi. Tidak satu pun menoleh. Seolah-olah hanya lelaki tua itu yang menyadari keberadaan mereka.
Lelaki tua itu melangkah perlahan mendekati Bagja dan Galuh. Tangan kanan lelaki tua itu terulur mengusap wajah Bagja. Hal yang sama dia lakukan juga pada Galuh. Sementara, Bagja dan Galuh hanya bisa diam mematung.
“Kini kalian bisa mengerti bahasa kami. Waktu membuka pintu. Dan kalian melangkah masuk,” kata lelaki tua itu dengan suara berat namun menenangkan.
Bagja menelan ludah. “Anda bisa melihat kami?”
“Tidak semua yang datang dari waktu lain terlihat,” jawabnya. “Hanya mereka yang dipanggil.”
Galuh merasakan tenggorokannya kering. “Dipanggil untuk apa?”
“Untuk mendengar.”
“Apa yang harus kami dengar?”
“Ingatan.”
“Aku adalah Batara Giri. Penjaga sekaligus pemimpin kelompok ini. Sebaiknya kalian pulang. Belum waktunya kalian ke sini.”
“Jadi, kami memang harus ke sini?” Bagja makin penasaran.
“Ya. Tapi belum waktunya. Sekarang pulanglah. Saat purnama penuh, panggilan itu akan kalian rasakan sendiri.”
***