Squad Star Girls Story
Persiapan Acara
Sepanjang perjalanan Eun woo merasa khawatir dengan keselamatan Jennie, dalam hati dia kagum melihat tindakan Jennie saat melerainya sampai dia mengorbankan dirinya demi melindungi Eun woo Rasa bersalah kembali menghantui pikirannya.
"Astaga, siapa yang kamu bawa ini?" tanya Seulgi kaget sebab melihat wajah babak belur Eun woo ditambah cowok itu menggendong orang pingsan.
"Tolong buka pintunya!!" pinta Eun woo tangannya terasa pegal menggendong Jennie dari Aula sampai ruang UKS.
Dengan sigap Seulgi membuka pintu UKS dan mempersilakan Eun woo masuk.
"Ya ampun Jennie?" Seulgi terkejut melihat ternyata dibawa Eun woo adalah teman curhatnya. "Kenapa dia Eun woo kok bisa pingsan sih? Terus muka Lo juga itu kenapa?"
"Panjang ceritanya, gue minta minyak kayu putih ada kan? biar Jennie cepat sadar," ujar Eun woo sambil memegang sudut bibirnya yang terasa perih.
Terlihat jidat Jennie yang memar mungkin itu bekas pukulan Baekhyun tadi, gumam Eun woo dalam hati.
"Nih Eun woo." Seulgi mengulurkan minyak kayu putih kepada Eun woo.
"Oh iya mending Lo juga minum obat deh biar meredakan rasa nyeri itu kayaknya Lo habis berantem mukanya babak belur gitu," tebak Seulgi penuh simpati.
"Makasih Seulgi," kata Eun woo dengan senyum tipisnya.
"Yaudah gue mau pergi dulu ada urusan soalnya jadi gak bisa lama-lama di sini, nanti kalau butuh apa-apa ada Irene tuh di samping panggil saja oke." Seulgi memang petugas UKS di sekolah dia juga masuk jurusan IPA kelas 12 akhir-akhir ini sibuk di ruang perawat untuk praktek. "Semoga Jennie cepet sembuh yah, dia sepertinya shock karena kena pukulan jadi pingsan sebentar lagi juga pasti bangun kok dan jangan lupa kasih obat nyeri juga untuknya," pesan Seulgi sebelum pergi.
"Siap Ibu dokter," sahut Eun woo sambil memberi hormat kepada Seulgi, perkataan cewek itu sudah seperti dokter sungguhan.
Seulgi tersenyum hangat, banyak sekali teman-temannya yang mendukung impiannya untuk menjadi seorang dokter membuatnya yakin untuk mengambil jurusan kedokteran ketika masuk perguruan tinggi nanti.
Eun woo mencoba memberikan minyak kayu putih di pelipis dan hidung Jennie, dia juga menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Cantik," gumam Eun woo dalam hati saat memandang wajah Jennie yang sedang tertidur pulas.
Begitu Seulgi keluar dia berpapasan dengan Lisa yang hendak masuk.
"Eh Lisa," sapa Seulgi sambil menunjukkan gigi ratanya.
"Tadi Eun woo bawa Jennie ke sini kan?" tanya Lisa memastikan.
Seulgi melipat kedua bibirnya ke dalam lalu menoleh ke arah Eun woo yang sedang menunggu Jennie sadarkan diri, "Ada tuh di dalam."
"Yaudah makasih yah," ujar Lisa yang hendak melangkah masuk ke dalam UKS.
"Sebentar deh Lis," cegah Seulgi mencekal pergelangan tangan Lisa.
Kedua alis Lisa naik ke atas mengetahui dia ditahan untuk masuk ke dalam.
"Menurut gue mending Lo gak usah masuk dulu deh, kasih kesempatan buat mereka berdua, Lo pasti tau kan perasaan Jennie gimana?" ujar Seulgi mencoba memberikan pengertian.
Lisa diam, mengenai perasaan Jennie dia tidak tau sahabatnya itu suka sama siapa karena selama ini dia tidak pernah cerita cowok kepadanya ada juga gosip mereka berdua ada hubungan karena mereka sering dipasangkan oleh para Guru.
"Lo gak tau?" Melihat raut wajah Lisa yang kebingungan sepertinya Jennie memang tidak cerita kepada sahabatnya. "Yaudah gue gak tau jelas kejadiannya tapi yang sepertinya Jennie pingsan sebab kena pukulan orang kan? Eun woo berantem dengan siapa? Sampai Jennie pasang diri buat ngejagain Eun woo, gak mungkin kan kalau dia gak punya perasaan sampai segitunya," pikir Seulgi mencoba memberi pemahaman kepada Lisa.
Mendengar penjelasan Seulgi membuat Lisa berpikir jika apa yang dikatakan Seulgi benar, yang lain saja tidak berani merelai perkelahian itu.
"Terus gue gak perlu masuk buat lihat keadaan Jennie nih?" ucap Lisa yang dibalas dengan anggukan kepala Seulgi.
"Lo gak usah khawatir Jennie baik-baik saja kok," pekik Seulgi sambil menepuk-nepuk pundak Lisa. "Oh ya gue duluan ya ada urusan penting."
"Yaudah makasih Seulgi," ujar Lisa yang memilih duduk di kursi depan.
Eun woo mencoba membangunkan Jennie sambil terus memberikan minyak kayu putih, "Kasihan banget Jennie pasti sakit banget kena pukulan Baekhyun tadi sampai pingsan kaya gini."
Kemudian Eun woo bangkit dari duduknya dan menghampiri Irene, "Iren, apa ada es batu untuk mengompres? Gue juga minta minta kotak p3k yah," pintanya.
"Oh iya Eun woo sebentar gue ambilkan ya," ujar Irene sedikit terkejut melihat kemunculan cowok itu di depannya.
Selagi Irene mencari barang yang dimintanya Eun woo kembali menghampiri Jennie yang masih belum sadarkan diri.
Eun woo mengeluarkan ponselnya lalu mengetik nama seseorang di sana, "Hello Xiumin, Lo ada di mana sekarang?"
"Gue ada di apartemen nih lagi kumpul sama anak-anak yang lain juga, ada apa?" sahutnya dari seberang sana.
Eun woo pun menceritakan kejadian tadi dan meminta Xiumin untuk datang ke sekolah.
"Yaudah gue tunggu!" Setelah mengatakan itu Eun woo memutuskan sambungannya dan meletakkan kembali ponselnya.
"Nih es batu dan kotak p3k nya apa mau gue bantu ngobatin Jennie?" tanya Irene takut Eun woo butuh bantuannya.
"Boleh minta tolong kompres jidatnya yang memar itu ya," pinta Eun woo.
Setelah selesai di kompres selama 3 menitan, Eun woo memberikan betadin dan memberikan handsaplas di jidat Jennie.
Lisa merasa jenuh menunggu Eun woo keluar dari ruang UKS, akhirnya dia memutuskan untuk masuk saja.
"Gimana udah sadar dia?" tanya Lisa begitu masuk dan mendapati Eun woo dan Irene di sana.
"Belum, gue khawatir kok dari tadi Jennie belum sadar juga ya," ujar Eun woo bingung harus bagaimana lagi.
"Lo sih segala berantem di sekolah kan jadinya begini, kasihan juga anak-anak yang lain beresin semuanya pada berantakan," omel Lisa merasa kesal dengan cowok di depannya kini.
Eun woo membuang muka begitu mendapat omelan dari Lisa, "Kok Lo nyalahin gue ya? seharusnya salahin tuh cowok Lo yang datang-datang malah ngajak ribut, pakai ngatain gue gak becus jadi ketua pelaksana segala."
'cowok lo' kata itu membuat Lisa tambah kesal mendengarnya, padahal dia tidak punya hubungan apa-apa tapi semua orang menganggapnya berbeda.
"Lo tau Baekhyun orangnya begitu, seharusnya gak usah diladenin buang-buang tenaga kan jadinya," sahut Lisa merasa sengit dengan kejadian perkelahian tadi. Jika dia ada di sana sudah pasti tidak akan terjadi perkelahian hanya saja dia telat datang ketika Jennie sudah pingsan untuk membela Eun woo.
"Sudah-sudah kalian gak usah ribut di ruang UKS!" pinta Irene sambil memegangi kepalanya merasa pusing mendengar perdebatan diantara keduanya.
"Gue mau pergi kalau Jennie sudah sadar kabarin gue ya!" kata Eun woo berlalu meninggalkan ruang UKS.
"Gue heran sama Eun woo, udah gede tapi masih aja berantem." Lisa berdecak pinggang.
"Kagum sih sama Eun woo yang alim ternyata serem juga ya kalau berantem sampe babak belur kaya gitu, sayangnya gue gak lihat langsung." Irene malah memuji kemampuan berkelahi Eun woo membuat Lisa memutarkan bola matanya.
"Lisa!" panggil Jennie dengan kedua matanya yang sudah terbuka. "Gue dimana ini?" lanjutnya.
Lisa membantu Jennie untuk bangun dan memberikannya air putih.
"Pikir aja sendiri tingkah bodoh apa yang udah Lo lakukan tadi?" sahut Lisa dengan jutek.
Jujur saja Lisa sebenarnya tidak suka dengan tindakan sahabatnya yang sok pasang badan untuk melindungi Eun woo dari serangan Baekhyun, jika bukan karena sahabatnya itu punya perasaan kepada Eun woo.
Kepala Jennie terasa pusing, ruangan yang dilihatnya juga terlihat muter dan bergerak perlahan dia pejamkan matanya mencoba mengingat kejadian apa yang sudah terjadi kepadanya.
Begitu semuanya teringat, "Astaghfirullah, gimana keadaan Eun woo Lis? Apa mereka masih bertengkar?" ujar Jennie masih menanyakannya kondisi cowok itu.
"Sudah tidak perlu khawatir Jen, mereka sudah tidak berantem kok Lo gimana keadaannya masih pusing? Nih jangan lupa minum obat yah! Gue masih ada kerjaan lain jadi gue tinggal yah," ujar Irene berlalu pergi meninggalkan kedua sahabat itu.
"Alhamdulillah, Lisa Lo gak tau kan gimana tadi mereka bertengkar? Kalau Lo tau gue yakin Lo juga pasti bakal ngelakuin apa yang gue lakukan, semua berantakan mereka bertengkar bukannya diluar malah di dalam untung saja tidak ada Bu Shin atau guru lain yang melihat bisa-bisa mereka kena SP 1," tukas Jennie mencoba menjelaskan apa yang dia pikirkan sehingga melakukan hal bodoh seperti Lisa katakan kepadanya.