Squad Star Girls Story

Falling In Love

"Jennie, Lo tadi berangkat bareng Eun woo?" tanya Lisa ketika rapat telah ditutup.

Jennie hanya menganggukan kepala saja, sedangkan Rose tiba-tiba terlihat cemberut seperti tidak menyukai kedekatan Jennie dengan Eun woo.

 

"Rose, kamu kenapa? Kok cemberut gitu?" Jennie mendekati Rose dia ingin tahu apakah sahabatnya ini sedang ada masalah atau tidak. 

 

"Tidak apa-apa kok, kamu pulangnya hati-hati yah!" kata Rose sambil menepuk bahu Jennie sembari tersenyum lebar. 

Motor Lisa pun sudah dinyalakan, "Kita pulang dulu yah Jennie Lo hati-hati, Eun woo!" teriaknya begitu melihat kedatangan cowok itu bersama Mj.

 

Eun woo langsung menoleh ke arah Lisa, "Ada apa?" tanyanya bingung.

"Gue titip sahabat gue anterin dia sampai rumah dengan selamat jangan coba-coba bawa dia ke mana-mana," ancam Lisa dia memang salah satu sahabat yang mendukung kedekatan Jennie dengan Eun woo namun bukan berarti dia membiarkan Jennie disakiti oleh cowok itu, Lisa adalah orang pertama yang siap melindungi sahabat-sahabatnya.

 

"Ya ampun Lis, emangnya gue barang Lo titipin ke Eun woo?" keluh Jennie mendengar kata 'titip', jika motor sahabatnya pas dia juga pasti akan pulang bersama mereka nyatanya tidak. 

 

"Hahahaha sudah lah gue pulang duluan yah, my mom waiting me," sahut Lisa yang sudah duduk di kursi motor. 

"Be careful on the way Lis!!" teriak Rose kepada Lisa. 

 

Awalnya Rose mau mengajak Eun woo untuk pulang bersama karena rumah mereka satu arah namun mengetahui jika Eun woo akan pulang bersama Jennie dia akhirnya memutuskan untuk pulang duluan. Entahlah dia merasa cemburu dengan Eun woo yang selalu memperhatikan Jennie. 

"Mj, gue duluan yah mau anterin tuh cewek," seru Eun woo. 

 

"Bro, lo sebenarnya suka sama siapa sih? Jennie apa Jisso?" Mj menatap Eun woo sinis, baru kali ini dia nemu cowok kaya Eun woo yang begitu pandai membolak-balikan perasaan wanita. 

 

"Syutt, gue mah gak pernah main-main sama cewek kok kalau udah milih satu mah pasti bakal satu," sahut Eun woo dan langsung pergi meninggalkan temannya yang masih terpaku di belakang. 

 

Diam-diam Jennie mendengar apa yang Eun woo katakan, 'dia gak pernah main-main kalau udah milih satu pasti bakal satu' apa jangan-jangan Eun woo memang sedang menyukai cewek, siapa? 

"Yuk Jen, kita pulang," ajak Eun woo begitu melewati dirinya. 

 

Sesampainya di parkiran Eun woo mempertanyakan soal tawarannya untuk makan pecel lele setelah pulang rapat. "Bagaimana jadi kan mau makan pecel lele?" tanyanya sambil memakai helm.

 

Jennie tidak bisa menolak kali ini dia juga sedang ingin selalu ada di dekat Eun woo, "Jadi dong yuk buru gue udah laper," katanya dengan semangat. 

"Nih pakai dulu!" Eun woo menyerahkan helm kepada Jennie.

 

"Duh kepala gue berat tau pakai helm ujung-ujungnya pusing," ungkap Jennie penuh keluh kesah. 

"Mau ditilang polisi atau pakai helm?" Eun woo malah memberikan pertanyaan.

Jennie akhirnya menurut daripada dia harus ditilang polisi dan ditanya-tanya nantinya lebih baik patuh dengan peraturan saja. 

 

Setelah Eun woo mengeluarkan motor dari parkiran kini giliran Jennie menaiki motor sambil dibantu pegangi oleh Eun woo sebab hampir saja Jennie gagal naik karena motor Eun woo yang tinggi. 

 

"Baik banget kamu Eun woo," ucap batin Jennie sambil tersenyum senang. 

Baginya Eun woo itu adalah bulan sedangkan dia adalah salah satu dari ribuan bintang yang ingin bisa berdekatan dengan bulan, sangat sulit sekali baginya untuk ada di dekat bulan.

"Jennie, kira-kira dana untuk acaranya cukup gak yah?" Diam-diam ternyata Eun woo masih memikirkan dana acara Diesnatalis sekolah yang masih kurang banyak.

"Bismillah aja Eun woo semoga cukup," pekik Jennie mencoba memberikan ketenangan pada pikiran Eun woo. 

 

Jujur saja dia juga sebenarnya bingung semua orang meminta uang kepadanya untuk memberi alat-alat, konsumsi dan lain-lain sedangkan uangnya saja belum ada. 

Obrolan mereka terhenti sampai situ saja, selebihnya hanya deru angin dan suara bising kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, Eun woo tampak sibuk mengendarai dengan sesuatu yang mungkin sedang dipikirkan begitu pula dengan Jennie dia tampak menikmati perjalanan ini menikmati angin yang berhembus kencang menerpa kulit wajahnya dan matanya selalu fokus memandang pemandangan dilewatinya.

 

Eun woo membawa Jennie ke tukang pecel lele yang mangkal di jalanan. Jennie langsung turun begitu motor sudah terparkir di pinggir jalan. 

 

"Yuk!" Eun woo kembali mengajak Jennie untuk masuk dan memesan makanan. 

"Bang, pecel lele nya dua yah makan disini." Eun woo duduk menghampiri Jennie yang sudah memilih bangku. 

"Siap dek," sahut si Abang. 

 

Canggung, Jennie jadi merasa bingung harus bagaimana ingin sekali dia bertanya tentang wanita yang Eun woo sukai namun rasanya malu sekali takut jika malah terasa aneh. 

 

"Oh ya Jen, Lo tau gak kemarin si Sanha minta disalamin sama saudara cewek Lo yang katanya udah kuliah," ujar Eun woo memulai pembicaraan dan berhasil mencairkan suasana canggung diantara mereka. 

 

Seketika Jennie tertawa mendengar jika Sanha jatuh cinta kepada Giselle, "Hahaha … seriusan??" 

 

"Iya gue serius, Sanha cerita dia ke rumah Lo terus ketemu saudara Lo itu terus kata dia she is beautiful," ungkap Eun woo sambil terkekeh mengingat wajah Sanha saat menceritakan hal tersebut kepada dirinya. 

 

"Ya ampun asal Lo tau saudara gue itu emang jomblo tapi dia orangnya pemilih loh, kok Sanha gak cerita sama gue ya?" Kedua alis Jennie bertaut dia bingung dengan Sanha. 

"Hahaha … Sanha tuh emang playboy siapa aja dia sukai," tutur Eun woo yang tau betul sikap Sanha. 

 

Sanha emang cowok yang gak bisa jomblo jika diputuskan oleh pacarnya dia tidak akan sedih kehilangan karena dia meyakini akan ada cewek yang lebih baik daripada sebelumnya yang datang ke dalam hidupnya dan mewarnai hari-harinya, mati satu tumbuh seribu.

 

Kedua mata Jennie mendelik, "Emangnya Lo sama Sanha gak jauh berbeda, gue kenal gimana lo dan Sanha." 

Mendengar ucapan Jennie Eun woo memajukan wajahnya membuat cewek yang ada di depannya gugup, "Masa sih??" 

 

"I-ya," jawab Jennie dengan terbata-bata, jantungnya kembali berdebar-debar mendapat tingkah Eun woo yang genit, namun baru kali ini dia bisa memandang wajah Eun woo dengan sangat dekat. Ah rasanya dia menyentuh wajah cowok di depannya kini. 

 

"Lo belum sepenuhnya tau gue Jen, jangan pandang seseorang dari luarnya saja gue punya sisi buruk yang tidak lo ketahui termasuk gue," tukas Eun woo tampak serius lalu dia kembali memundurkan tubuhnya. 

 

Jennie terdiam, apa yang cowok itu katakan adalah benar dia belum sepenuhnya tahu tentang Eun woo meski kini dia sudah mengetahui seberapa nakalnya dan baiknya Eun woo dimata dirinya, sebelum itu sahabat-sahabatnya juga sangat melarang dirinya untuk dekat dengan Eun woo karena apa? karena cowok itu seperti ular yang bisa membisa dan mematikan hati seseorang. 

 

"Gue tau setiap orang pasti memiliki sisi buruknya masing-masing," ujar Jennie pelan dia juga ingin berkata kepada Eun woo jika dia tidak peduli dengan hal jelek yang dia miliki. Fakta jika cinta itu buta adalah benar adanya.

 

Kemudian si Abang pun datang dengan membawa pesanan mereka. "Mau minum apa Mas?" tanyanya. 

Eun woo memandang Jennie memberi kode untuknya memilih minuman. 

"Teh Sosro mau?" Jennie bertanya apakah Eun woo suka teh Sosro atau tidak.

"Boleh, teh Sosronya dua yah Bang." 

 

Rasanya senang sekali bisa makan berdua dengan Eun woo ini rasanya seperti mimpi. 

"Eun woo coba deh cubit tanganku," ucap Jennie dia takut semua yang dia alami ini hanya mimpinya saja.

 

Eun woo menatap Jennie dengan bingung, "Kenapa harus dicubit?" 

"Gue takut ini hanya mimpi," sahut Jennie dengan jujur pasalnya akhir-akhir ini dia selalu mimpi indah bersama dengan Eun woo. 

 

Senyum Eun woo terbit mendengar ucapan Jennie yang menggemaskan. 

"Lo gak mimpi Jen, ini nyata." Tangan Eun woo menyentuh kepala Jennie dengan lembut dia kini tau apa yang cewek di depannya kini rasakan. 

 

Deg, jantung Jennie kembali berdebar dibuatnya dia pastikan kini pipinya sudah memerah. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!