Squad Star Girls Story
Title Cowok Playboy Tidak Akan Hilang
"Biasalah masih baru soalnya, tapi gila sih ini gue gak nyangka gitu kalau Hanbin bisa sosweet itu." Jennie tersenyum mengingat video Rose dalam statusnya yang menampilkan foto-foto mesra Rose dan Hanbin saat sedang di caffe.
"Iya juga yah?" Lisa mengiyakan apa yang Jennie pikirkan, "Gue kira Hanbin cuek gitu eh ternyata bucin banget gue sampe ikut senyum-senyum sendiri lihatnya," ungkap Lisa dengan mata yang berbinar-binar dalam hati dia juga pengen merasakan jatuh cinta lagi seperti yang lain namun hatinya masih kosong sampai saat ini belum ada yang berhasil mengetuk pintu hatinya.
"Oh jadi Rose pacaran sama Hanbin?" pekik Eun woo yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua cewek itu.
"Kita sih gak tahu mereka udah jadian apa belum yang pasti mereka sepertinya sudah saling jatuh cinta deh," sahut Jennie memberitahu.
"Kalau benar iya gue mau minta pajak jadian sama Hanbin, soalnya kan dia itu jarang banget deket sama cewek dibanding teman-temannya yang lain," tukas Eun woo menjelaskan sifat Hanbin.
"Termasuk Lo?" sergah Lisa dengan cepat, "Ya jelas lah Hanbin bukan cowok playboy yang mau nempel dengan semua cewek, orang dia cuek kok calm lagi anaknya."
"Kayaknya sih cuma Hanbin ya?" timpal Jennie mencari sosok yang seperti Hanbin diantara teman-temannya.
Eun woo merasa tersudutkan, "Cowok playboy itu wajar dia sedang memilih cewek mana yang baik untuknya, lagian kalau kita sudah nemu cewek yang cocok, kita bakal tobat kok contohnya kayak Baekhyun dia tergila-gila kan sama Lisa karena dia merasa Lisa itu cewek yang berbeda dari yang pernah dia dekati sebelumnya makanya dia sampe berjuang banget buat dapatin cinta Lo kan?" Eun woo menjelaskan panjang lebar.
"Kok jadi ke gue-gue sih?" gerutu Lisa sambil menepuk bahu Eun woo dengan kesal.
"Lah, kalian dari tadi ngomongin gue yang playboy makanya gue jelasin dan kasih contohnya," sahut Eun woo tidak mau kalah berdebat dengan cewek.
"Ish menyebalkan," sungut Lisa dia membaringkan tubuhnya di punggung bangku.
Jennie melihat Lisa yang sudah ngambek sebab ucapan Eun woo yang membawa-bawa nama Baekhyun.
"Jadi cowok tuh harus ngalah sama cewek, lagian gue heran sama Lo deh, kalau enggak playboy kenapa semua cewek yang suka sama Lo malah dibuat baper terus dengan cara Lo ngasih harapan ke mereka, itu membuat mereka merasa kalau Lo itu ada rasa ke mereka loh, si Winter juga pernah katanya digombalin sama lo, jadi kan dia ngerasa Lo itu suka sama dia," jelas Jennie dia tidak mengerti apa yang Eun woo pikirkan.
"Ngasih harapan gimana sih? Gue heran deh sama cewek-cewek tuh, merekanya aja yang salah kenapa jadi orang baperan banget," cetus Eun woo tanpa cowok itu sadari Jennie merasa tersindir oleh ucapannya.
"Oh jadi dia mulai nyalahin cewek, oke Jennie Lo gak boleh baperan lagi sama Eun woo yang emang sikapnya seperti itu kepada semua cewek," batin Jennie berbicara.
Terlihat Jisso yang sedang menunggu di bangku taman bawah pohon rindang, Eun woo langsung menghentikan mobilnya tepat di depan Jisso berada.
Jennie membuka jendela mobilnya, "Hey Jisso!" teriaknya dengan kencang.
Melihat mobil yang berhenti di depannya pun Jisso sudah menebak ternyata benar tebakannya, itu mereka Jennie dan Eun woo.
Jisso membuka pintu belakang dan masuk dengan canggung, aroma parfum Eun woo langsung menyergap hidungnya membuat jantungnya berdegup tak karuan. Eun woo sekilas menatapnya lewat kaca spion, lalu kembali fokus menyetir.
Suasana mobil mendadak hening, hanya diisi suara musik pelan dari radio. Lisa melirik Jisso yang terlihat kikuk, lalu tersenyum tipis. Jennie menyadari perubahan itu dan memilih diam. Dalam hati, Jisso bertanya-tanya mengapa mereka bisa dalam satu mobil, membuatnya gugup berhadapan dengan Eunwoo, orang yang sangat dia kagumi.
"Eh, kok ada ka Eun woo juga sih? Kalau gitu ngapain ka Jennie minta sherlock tadi, apa ka Eun woo lupa jalannya," gumam Jisso yang terdiam memikirkan hal itu sampai lamunannya dikagetkan oleh suara Jennie yang kembali berteriak.
"Jisso, ayo buruan masuk tadi disuruh cepat-cepat jemput sekarang malah bengong disitu," ujar Jennie menatap Jisso dengan kedua alisnya yang mengkerut.
Akhirnya Jisso menghampiri mobil tersebut matanya sempat bertemu dengan Eun woo yang juga sedang melihatnya. Ada rasa hangat sekaligus gugup yang tak bisa ia jelaskan, seolah ada sesuatu yang perlahan mulai bergerak di dadanya.
Jisso duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya berlarian ke mana-mana. Eun woo yang menyetir tampak tenang, satu tangannya di setir, satu lagi sesekali menggeser persneling. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, seolah keberadaan Jisso di kursi belakang tidak mengubah apa pun. Namun justru sikap itulah yang membuat Jisso semakin gugup.
Jennie melirik dari sudut matanya lewat kaca spion. Ia menangkap wajah Jisso yang sedikit tegang dan Eun woo yang terlalu fokus pada jalan. Ada suasana aneh yang tak bisa dijelaskan, seperti udara di dalam mobil tiba-tiba menjadi lebih padat. “Kita makan dulu gak sih?” celetuk Jennie akhirnya, mencoba mencairkan suasana.
“Boleh,” jawab Lisa cepat, “gue laper banget dari tadi.” Lisa melirik Eun woo, berharap cowok itu ikut menanggapi.
“Terserah kalian,” sahut Eun woo singkat. Jawabannya datar, tapi entah kenapa Jisso justru merasa ia sedang berusaha menjaga jarak.
Mobil melaju pelan melewati deretan toko yang mulai ramai. Lampu sore memantul di kaca jendela, membuat bayangan wajah mereka samar. Jisso menelan ludah, lalu memberanikan diri membuka suara. “Kita mau ke mana?” tanyanya pelan.
“Ke café depan kampus,” jawab Jennie, tersenyum ke arahnya. “Yang biasa.”
“Oh,” Jisso mengangguk kecil. Lagi-lagi hening. Jisso menyesali dirinya sendiri karena terlalu kaku, padahal ia sudah sering pergi bersama Jennie. Hanya saja, keberadaan Eun woo membuat segalanya terasa berbeda. Ia teringat rumor-rumor tentang Eun woo tentang sikapnya yang ramah pada semua cewek, tentang caranya bicara yang bisa membuat siapa pun merasa spesial. Jisso merasa jika ka Jennie juga tertarik dengan Eunwoo.
Eun woo melirik kaca spion sekali lagi. Tatapan mereka bertemu sekilas. Jisso refleks mengalihkan pandangan, pipinya terasa hangat. Eun woo mengernyit samar, lalu tersenyum tipis tanpa suara. Senyum itu singkat, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat jantung Jisso berdetak lebih cepat.
“Jisso, sekolah Lo hari ini gimana?” tanya Lisa tiba-tiba, sengaja mengajak Jisso bicara.
“Lumayan capek,” jawab Jisso jujur. “Tugas numpuk.”
“Jurusan Lo emang kejam,” Jennie terkekeh. “Makanya sering gue ajak jalan biar gak stres.”
“Iya, tapi kadang malah makin capek,” balas Jisso sambil tersenyum kecil.
Eun woo tertawa pelan. “Capek tapi tetep dijalanin, kan?”
Jisso terkejut mendengar suaranya ditujukan langsung kepadanya. “Iya,” jawabnya pelan. “Soalnya mau gimana lagi.”
“Itu yang bikin Lo kelihatan kuat,” ujar Eun woo ringan, seolah sekadar komentar biasa.
Kalimat itu sederhana, tapi Jisso terdiam. Tidak banyak orang yang menyadari usahanya selama ini. Ia ingin menanggapi, tapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Lisa dan Jennie saling berpandangan, menyadari perubahan kecil dalam dinamika percakapan.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan café yang dimaksud. Eun woo memarkirkan mobil, lalu turun lebih dulu. Jennie dan Lisa ikut turun sambil bercanda, meninggalkan Jisso sesaat sendirian di dalam mobil. Jisso menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Saat ia turun, Eun woo sudah berdiri di samping mobil. “Hati-hati,” ucapnya refleks ketika Jisso hampir tersandung trotoar. Tangannya sigap menahan lengan Jisso sebentar saja, tapi sentuhan singkat itu membuat Jisso terpaku.
“Makasih,” katanya cepat, menarik lengannya kembali.
Eun woo mengangguk, seolah tak terjadi apa-apa. Namun saat mereka berjalan menuju café, Jisso menyadari langkah Eun woo melambat, memastikan ia berjalan di sampingnya, bukan tertinggal di belakang. Jisso menunduk, berusaha menenangkan dirinya sendiri.