Squad Star Girls Story
Dia Terlalu Baik Buat Gue
"Makasih yah Jen, untung lo datang tepat waktu," ujar Jihyo saat makan bersama dengan Jennie.
Pagi ini Jennie hanya masak Nasi goreng dan najma Ramyun (Mie favorit orang korea) yang menjadi menu makan hari ini, Jihyo pun sudah mandi dengan memakai baju Jennie karena dia tidak membawa pakaian lainnya.
Jennie dan Jihyo sama-sama memakai kaos putih agak longgar dengan celana pendek, seperti anak kembar saja meski beda orangtua wajah mereka cukup mirip memang lebih tepatnya sama-sama cantik.
Hanya saja Jihyo mempunyai rambut berwarna biru dengan panjang sebahu berbeda dengan Jennie yang memiliki rambut agak kecoklatan dan panjang.
"Sudah makan dulu aja nanti gue mau nanya sesuatu sama Lo," sahut Jennie setelah menyelesaikan kunyahanya.
Saat ini perut Jennie memang lapar sekali dia ingat terakhir kali dia makan nasi padang waktu di sekolah bersama teman-temannya, tidak baik juga jika makan sambil berbicara.
Jihyo terlihat diam sambil memegang kepalanya, sedangkan tangannya terus menggerakkan ke mulutnya mengantarkan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah kosong sebab waktu dia mandi semua isi dalam perutnya keluar dari mulut begitu saja, rasa mual sangat menyiksa dirinya kepalanya pun terasa pusing memikirkan nasib dirinya ada di tangan Bangtan semalam.
"Om Suho sama Tante Irene, mana Jen? Kok gue gak lihat mereka?" ujar Jihyo matanya mengitari sekitarnya mencari keberadaannya.
"Mereka pergi ke Singapura jadi gue sendirian di rumah," sahut Jennie dengan santai.
Jihyo kaget mendengar berita kepergian kedua orangtua Jennie, "Lah Lo gak ikut mereka?"
Jennie hanya menggelengkan kepalanya, "Gue sekolah mau ujian juga."
Mendengar jawaban Jennie membuat Jihyo mengangkat kedua kedua alisnya. "Tumben gak nangis Lo, udah gede nih saudari gue." Tangan menggelitik pinggang Jennie membuat cewek itu terkekeh mau.
"Udah deh gak usah ngejekin gue terus, gue lagi belajar mandiri kalau Lo mau tinggal aja di sini temenin gue." Jennie mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum imut di depan Jihyo.
"Boleh, lagian juga Lo udah bilang ke Mamah kalau gue ada di sini kan?"
Jennie menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Jihyo.
Hampir satu jam Jennie dan Jihyo menghabiskan makanannya lalu membereskan kembali di dapur.
"Gara-gara lo semalam gue gagal nonton Drakor," celetuk Jennie sambil mencuci piring bekas makan tadi.
Jihyo duduk di belakang Jennie sambil membuat minuman, "Ya maaf gue ngerepotin Lo tapi ini terakhir kok gue gak akan ulangi lagi, karena gue menyesal udah mau pergi ke sana."
"Bagaimana kalau teman-teman Lo ngajakin ke sana lagi?" ujar Jennie dia tahu Jihyo pasti tidak akan pernah bisa nolak jika diajak oleh teman-temannya itu.
Tangan Jihyo sibuk mengaduk, pikirannya berputar mengingat kejadian semalam. "Ya gue nolak," sahutnya ragu-ragu.
"Jihyo, Lo ingat siapa cowok yang terakhir kali Lo temui itu?" Jennie penasaran dengan cowok yang sempat dibahas Eun woo dan Sanha.
Jihyo menoleh menatap Jennie yang sedang menata piring-piring, "Dia Bangtan, pacarnya Nayeon gue gak percaya kalau dia mencoba mengkhianati Nayeon dengan menyukai gue."
"Dia udah ngasih Lo obat tidur Jihyo, Lo harus hati-hati sama dia semalam Sanha dan Eun woo ada di sana buat menyelamatkan Lo bahkan mereka juga sempat berkelahi karena Bangtan tidak mau melepaskan Lo."
Jennie mulai bercerita tentang kebenaran yang terjadi semalam kepada Jihyo, cewek itu harus tahu bagaimana pengorbanan Sanha demi melindunginya.
Jihyo terkejut dia baru tahu jika semalam Sanha menemuinya bahkan berantem dengan Bangtan, yang dia ketahui Jennie yang sudah menjemput dirinya ternyata ada banyak kejadian yang tidak ketahui.
Kini Jennie mengajak Jihyo untuk duduk di ruang tv sambil bercerita tentang kejadian semalam kepada Jihyo.
"Jadi semalam Sanha yang udah bawa gue pulang bukan Lo, Jen?" pekik Jihyo dengan sangat terkejut nada suaranya naik dua oktaf lebih keras dari biasanya sampai Jennie menutup telinganya.
"Syutt, jangan keras-keras dong kalau ngomong kan gue gak jauh," gerutu Jennie suara Jihyo hampir membuat bangunan rumahnya runtuh saking kerasnya.
Jihyo mengacak-acak rambutnya yang halus, wajahnya seketika murung mengetahui jika Sanha lah yang sudah menjemputnya, sungguh Jihyo merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Waktu lo telpon gue minta jemput gue gak tahu jika lokasinya di pretty diskotik, jauh lah dari sini jadi gue khawatir sama lo akhirnya gue telpon Sanha karena cuma dia yang bisa bantu gue selamatkan lo," ujar Jennie dengan serius.
Jihyo meringkuk sambil memeluk bantal kecil yang dibangku, "Ya ampun Jen, gue malu banget bagaimana nanti kalau ketemu Sanha?"
"Semalam Sanha juga membawa Eun woo," lanjut Jennie dia juga tidak pernah menduga sebelumnya jika Sanha akan datang bersama Eun woo.
"Mereka berdua berkelahi dengan cowok yang Lo sebut Bangtan itu, karena pada saat Eun woo dan Sanha datang dia melihat Lo mau dibawa Bangtan ke mobilnya, untung saja mereka tepat waktu kalau tidak Lo udah pasti hamil Jihyo," pekik Jennie sambil menatap lekat-lekat Jihyo yang bergidik ketakutan mendengar ucapan dirinya.
Jihyo sangat berhutang budi kepada Sanha dia berpikir untuk menemui cowok itu dan bilang terima kasih tapi dia sangat malu untuk melihat Sanha.
"Jennie sayang, terima kasih banyak yah kamu udah jadi penyelamat aku," ujar Jihyo sambil menarik tubuh Jennie ke dalam pelukannya dengan erat. Lalu dia kembali mendongak melihat Jennie, "Menurut lo bagaimana caranya gue bilang terima kasih kepada Sanha?"
"Ya Lo telpon aja dia suruh datang ke sini, sekalian ajak makan kalau mau pergi ke suatu tempat silahkan btw Sanha doang?"
"Iya iya sama Eun woo juga kok, sensi amat sih pacarnya!" Jihyo mencolek dagu Jennie dengan jail menggoda saudarinya.
"Apaan sih pacar-pacar? Kalau Lo ngomong kaya gitu di depan banyak orang gue yakin setelah itu gue bakal dilabrak sama pacarnya, jadi jangan asal bicara Jihyo," tegas Jennie takut mulut Jihyo akan terpeleset mengatakan itu di depan umum.
"Iya gak akan kok, emang Eun woo udah punya pacar yah siapa? Gue kira dia anti pacaran meski sering deketin cewek." Seperti orang yang dekat dengan Eun woo Jihyo sampai tahu karakter cowok itu seperti apa.
"Ya gue juga gak tahu tapi kan dia punya banyak fansnya di sekolah ya otomatis kalau Lo ngomong gue pacarnya pasti akan menyebar ke telinga semua orang dan salah satu dari mereka bakal labrak gue gara-gara udah rebut Eun woo dari mereka." Entah kenapa Jennie bisa berpikir seperti itu, dari banyaknya cewek yang dekatin Eun woo dan bahkan ada yang mengatakan cintanya terang-terangan, Jennie memilih bungkam dan menyimpan perasaannya diam-diam.
"Apa yang mau mereka lakukan? Orang Lo pacarnya Eun woo? Lagi pula yang ada mereka takut buat nyakitin lo karena pacarnya Eun woo," tukas Jihyo memberikan pendapatnya.
"Jihyo, menurut Lo semalam Eun woo kenapa ikut yah? Apa emang Sanha yang ngajak? Gue masih mikirin itu loh," lirih Jennie pelan dia sangat malu untuk bertanya hal ini kepada Jihyo namun pertanyaannya ini selalu menghantui pikirannya.
Jihyo tersenyum sambil menyeruput jus strawberry miliknya. "Menurut gue sih ya karena dia tahu ada lo dia khawatir Lo kenapa-kenapa jadi ikut sama Sanha, udah nyoba tanya ke Sanhanya?"
Jennie menggelengkan kepalanya, "Nanti gue tanya deh sama Sanha," katanya sambil melipat bibirnya ke dalam.
"Berarti sekarang gue telpon Sanha dulu aja yah?" tanya Jihyo kepada Jennie.
Jennie menganggukkan kepalanya mengiyakan, seketika Jennie ingat akan kerjasama dengan Sanha. "Jihyo, kemarin Sanha nyariin lo dia telpon gue katanya kangen sama lo, pesan dia gak dibalas-balas kenapa?"
Jihyo pun jadi ingat jika sedang mengindari Sanha, "Awalnya gue merasa gak pantas buat Sanha Jen, dia terlalu baik buat gue yang Lo tau sendiri bagaimana gue, akhirnya gue mencoba menghindar dari dia dan gak pernah balas atau angkat telpon dari Sanha," curhat Jihyo sadar jika dirinya tidak pantas untuk bersama Sanha.
"Tapi takdir berkata lain Jihyo, disaat Lo dalam bahaya Sanha datang dengan tepat waktu itu sudah jelas kalau semesta mentakdirkan kalian," ujar Jennie membuka kembali pikiran Jihyo. "Tidak seperti dirinya yang bergantung dengan ketidakpastian, andai Eun woo juga suka sama gue, pasti dia juga akan mengatakan perasaannya ke gue tapi nyatanya Eun woo hanya sebatas teman yang gak mungkin untuk bersama," gumam batin Jennie dengan nelangsa.