Squad Star Girls Story
Semobil Dengan Eunwoo
Di dalam mobil Jennie sangat merasa canggung sekali padahal sebelumnya dia pernah naik motor berdua, Jennie melirik Eun woo yang fokus mengendarai mobilnya, entah mobil siapa ini namun Sanha bilang jika ini mobil Eun woo dan Jennie baru mengetahui kalau Eun woo memiliki mobil.
"Lo gak apa-apa Jen?" Eun woo melirik ke arah Jennie sekilas melihat wajah tegang cewek itu.
Tentu saja cewek itu kaget karena baru saja dia melamun memikirkan Eun woo. "Hah?"
"Lo kenapa bengong, lo baik-baik saja kan?" ujar Eun woo mengulang pertanyaannya.
"Gue baik-baik saja kok," sahut Jennie menggigit bibirnya ke bawah. Ada yang aneh mengapa Eun woo malah menanyakan dirinya padahal cowok itu terluka karena perkelahian tadi.
"Eun woo," panggil Jennie pelan sambil menoleh memandang cowok itu.
"Hemm??"
"Makasih banyak ya, Lo udah nolongin Jihyo kalau gak ada Lo sama Sanha mungkin saat ini dia sudah dibawa oleh cowok itu," lirih Jennie. Air bening mengalir di kedua pipinya dia sedih jika hal itu sampai terjadi sudah pasti kehidupan Jihyo akan hancur begitu pun masa depan cewek itu yang hendak menjadi model.
Eun woo kembali melirik ke arah Jennie, "Gak usah terima kasih, gue sama Sanha yang sudah berkorban bantuin Jihyo, lagian gue heran sebenarnya apa sih yang terjadi sama dia kenapa bisa ada di sana?" Kedua alis Eun woo mengkerut berusaha berpikir keras.
"Gue juga tau, waktu dengar dia minta jemput di pinggir jalan sambil nangis gue udah khawatir dan panik, apalagi pas gue lihat ternyata titik lokasi di google maps ada di dekat pretty diskotik." Jennie mengungkapkan perasaan cemasnya kepada Eun woo seraya menyerka air matanya.
"Lo harus hati-hati Jen, jangan mau kalau diajak kesana apalagi minum-minuman, senakal-nakalnya gue sama teman-teman tidak pernah minum-minuman," ujar Eun woo memberi saran sambil sesekali melirik ke arah lawan bicaranya.
Jujur saja saat ini hati Jennie merasa tenang bersama Eun woo bahkan diberi nasehat dari cowok yang dia kagumi.
"Ya Tuhan, perasaan apa ini mengapa hatiku selalu meminta agar Eun woo menjadi milikku? Mengapa debaran jantung ini selalu berdetak kencang saat bersamanya? Apakah ini yang namanya cinta?" gumam Jennie dalam hatinya bertanya-tanya kepada sang pemilik hati. "Jika Eun woo adalah orang yang tepat untukku maka dekatkanlah namun sebaliknya jika Eun woo bukan orang yang tepat yang engkau takdirkan maka jauhkanlah! Aku ikhlas."
"Kamu tidak mengantuk Jen?" tanya Eun woo baru saja dia melirik jam sudah pukul 00:02 WIB.
Jennie menggelengkan kepalanya, lalu kembali menatap jalanan dari kaca jendelanya. Dia lupa meninggalkan ponselnya di dalam mobil membuatnya tenggelam dalam pikiran saat ini.
Sesampainya di pintu gerbang Jennie turun dari mobil Eun woo untuk membukakannya. Dia ingat betul jika gerbangnya tidak dikunci saat dia pergi tadi.
Mobil Sanha dan Eun woo langsung masuk ke dalam halaman rumah Jennie, mereka pun turun seletah memarkirkan mobilnya.
"Jen, kok Lo buka gerbang sendiri sih? Saptam di rumah Lo mana?" tanya Sanha pertanyaan yang sejak tadi menganggu pikirannya dia heran mengapa sahabatnya ini membuka gerbang sendiri? Sebelumnya dia sudah pernah ke rumah Jennie dan bertemu dengan saptam.
Jennie menarik nafasnya perlahan sebelum menjawab, "Saptamnya lagi ambil cuti jadi gue lagi mandiri, ayo langsung bawa masuk aja Jihyo ke dalam."
Jennie mempersilahkan kedua teman cowoknya untuk masuk ke dalam setelah membukakan pintu rumahnya, setelah itu dia beranjak pergi untuk membuatkan minuman yang segar.
"Lo harus tau jika Bokapnya Jennie itu galak kalau lihat cowok datang ke rumahnya, jadi Lo harus hati-hati!" ujar Sanha setelah meletakkan tubuh Jihyo di bangku panjang.
Eun woo tersenyum, "Gue gak takut orang Bokapnya Jennie kelihatan suka banget sama gue hehe," sahutnya dengan bangga.
Sanha duduk mendekati Eun woo, "Lo udah pernah bertemu?" tanyanya dengan menatap tajam sahabatnya
Eun woo menganggukan kepalanya penuh percaya diri, tangannya tiba-tiba menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih.
"Demi apa Lo? Kok gak pernah bilang sih kalau Lo pernah ke rumah Jennie parah loh yah, ternyata semua orang tua bisa Lo taklukkan yah hebat banget brother gue ini," seru Sanha seraya menepuk-nepuk punggung Eun woo sambil tersenyum bangga.
"Gue juga nekad sih dapat alamat rumah Jennie dari Jisso waktu itu, dan pas awal gue buka pintu Tante Reva yang muncul akhirnya gue diajak masuk ke dalam dan ngobrol sama Bokapnya Jennie, deg-degan sih sumpah tatapan matanya itu San, kaya mau bunuh gue." Eun woo menceritakan kejadian saat bertemu dengan orangtua Jennie.
"Ngomong-ngomong Lo ngapain ke rumah Jennie?" tanya Sanha masih penasaran.
"Jemput dia buat ikut rapat OSIS gak lebih kok, Lo khepo banget sih udah ah ke mana Jennie kok ngehilang?" Eun woo menoleh mencari keberadaan cewek itu kemudian matanya tertuju pada Jihyo yang masih tertidur pulas. "Lihatlah Jihyo! Gue yakin dia dijebak sama cowok itu deh menurut Lo gimana?"
Sanha memandang Jihyo lekat-lekat cewek itu terlihat imut cantik dan menggemaskan meskipun sedang tertidur. "Gue gak tahu tapi yang pasti cowok itu begitu menginginkan Jennie," ujarnya, di dalam hatinya dia berjanji untuk selalu melindungi Jihyo.
Tiba-tiba Jennie datang sembari membawa nampan berisi Jus alvucado dan P3K
"Ayo diminum dulu nih gue tahu kalian pasti haus kan?" seru Jennie sambil tersenyum dia terkejut melihat Jihyo yang sedang berbaring di bangku. "Astaga Lo gak bawa Jihyo ke kamar aja nanti gue kerepotan bawa dia," pekiknya.
"Ya udah biarin aja tidur di situ sampe pagi," celetuk Eun woo tangannya sudah meraih jus alpukat.
Mendengar perkataan Eun woo, Jennie langsung menyipitkan matanya sinis. Yang benar saja dia meninggalkan Jihyo di ruang tamu sedangkan kamar tidurnya saja dilantai dua.
"Jen, kok rumah Lo sepi sih? Bokap sama Nyokap Lo mana? Udah pada tidur yah." Sanha berseru dia masih penasaran dengan suasana rumah Jennie yang tampak sepi.
"Mereka baru saja pergi ke Singapura, Bokap gue ada urusan bisnis dan gue sendirian di rumah," jawab Jennie dengan bibir yang naik ke atas.
Eun woo dan Sanha kaget mendengarnya, bagaimanapun Jennie adalah anak gadis yang harus dijaga dengan baik, bagaimana jika ada maling, Jennie pasti ketakutan.
"Lo seriusan berani sendirian?" Eun woo memajukan wajahnya menatap bola mata hazel milik Jennie.
"Syutt gak usah banyak tanya mending kalian habisi nih jus dan pulang gue mau istirahat," ujar Jennie mencegah agar kedua teman cowoknya tidak membahas kesendirian Jennie di rumah, jika harus jujur Jennie memang takut tapi dia harus terbiasa sendiri.
"Oke oke." Sanha mengambil jus miliknya lalu meminumnya hingga setengah.
"Oh ya, gue bawa bitadin nih buat kalian berdua pelipis Lo berdarah Sanha dan sudut bibir Eun woo juga terluka tuh." Jennie menatap satu persatu kedua teman cowoknya yang sudah menjadi pahlawan untuk Jihyo malam ini.
"Ini mah luka kecil gue gak apa-apa," sahut Eun woo dengan santai, dia membuka ponselnya untuk melihat luka pada bibirnya yang memang terasa perih.
"Gak usah ngeyel kalau dibilangin, buruan tuh kasih obat!" Sanha menepuk pundak Eun woo sambil menunjuk P3K yang berada di depan Eun woo.
Akhirnya Eun woo dan Sanha sudah meneteskan bitadin dan handsaplas pada luka mereka masing-masing.
"Tadi pas gue sama Eun woo datang kita lihat Jihyo dibawa sama laki-laki entah itu siapa yang pasti punya niat jahat sama Jihyo, akhirnya kita lawan kan karena dia tidak mau melepaskan Jihyo, gue yakin pasti Jihyo tau siapa laki-laki itu sayangnya dia tertidur pulas oleh pengaruh obat tidur yang diberikan laki-laki itu agar Jihyo tidak berontak saat dibawanya itulah info yang gue tahu Jen," jelas Sanha panjang lebar dia ingin Jennie tahu apa yang telah terjadi.
"Mungkin Lo pernah lihat atau kenal cowok tadi Jen?" ujar Eun woo seraya menatap Jennie.
Jennie terdiam memikirkan laki-laki yang diceritakan oleh kedua temannya itu. "Gue gak tau kalau Jihyo punya teman cowok ada juga dia punya dua orang sahabat cewek."
Obrolan mereka berlanjut hingga pukul 01:20 WIB, setelah jus alpukat yang diberikan Jennie habis Eun woo dan Sanha pamit pulang.
"Lo jaga diri baik-baik di rumah ya Jen, kalau ada apa-apa telpon gue aja!" pinta Eun woo seraya mengangkat tangannya yang sudah membentuk telepon genggam.
"Genit banget sih mas nya," celetuk Sanha terkekeh melihat kelakuan sahabatnya yang playboy.
"Iya siap, sekali lagi terima kasih banyak yah." Jennie tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah cowok yang sudah masuk ke dalam mobil.
Kali ini Sanha yang membawa mobilnya sedangkan Eun woo duduk di sampingnya, gerbang kembali ditutup dan dikunci dengan rapat oleh si pemilik rumah gedung ini, untung saja Jennie berasal dari keluarga sederhana yang tidak pernah pamer atau sombong dengan harta benda yang melimpah.
Jennie kembali masuk ke dalam rumahnya lalu pergi ke kamar tamu untuk mengambil selimut dan diberikannnya kepada Jihyo.
"Maafin gue yah Jihyo sayang, karena gue gak kuat angkat Lo ke kamar, gue jadi terpaksa harus ninggalin Lo disini, gak apa-apa kan? Selamat istirahat sayangku." Jennie menutupi tubuh setengah telanjang Jihyo dengan selimut, pakaian Jihyo malam ini sungguh memalukan lebih parah darinya ternyata, batin Jennie berucap membandingkan kenakalan dirinya dan Jihyo.