SIMPANGAN RASA

Aku Akan Berjuang Untukmu

 Hari ketiga setelah melahirkan, Rayu pun diizinkan untuk pulang. Semangat Rayu yang luar biasa, sangat membantu dalam proses pemulihannya. Nugi kecil juga seakan mengerti kondisi ibunya. Bayi mungil itu bahkan tidak mengalami kesulitan saat harus mulai membiasakan minum ASI.

Bagas pun seakan menjelma jadi suami siaga. Dia selalu berada di sisi Rayu. Tingkahnya ini kerapkali membuat Rayu jengah. Bagaimana tidak, Rayu harus menyusui Nugi sedangkan Bagas sepertinya tidak peka kalau Rayu malu.

Semua barang Rayu sudah siap. Bagas dan Bi Atikah kembali memeriksa sebelum keluar dari ruangan yang telah mereka tempati selama tiga hari ini.

“Sepertinya sudah semua. Aku yakin tidak ada yang ketinggalan.” Ujar Bagas sambil membawa tas tangan Rayu. Barang-barang lainnya sudah Bagas masukkan terlebih dahulu ke dalam mobilnya.

“Sini Neng, Bibi yang gendong si kecil. Neng Rayu pakai kursi roda aja. Tadi Mas Bagas sudah membawa kursi rodanya ke sini.” Bi Atikah lalu mengambil Nugi dari gendongan Rayu.

Kali ini Rayu tidak membantah saat Bagas merangkul pinggangnya dan memapahnya menuju kursi roda. Walaupun dokter mengatakan dia sangat baik-baik saja, tapi Rayu masih merasakan lemas pada tubuhnya. Kursi roda memang menjadi pilihan terbaik untuk saat ini. Jadi dia membiarkan saja Bagas memperlakukan dirinya seakan Rayu adalah istrinya.

***

“Gas, kamu masih berhutang banyak penjelasan. Aku pikir sekarang saatnya untuk kamu menceritakan semuanya. Aku sudah sangat siap mendengar semua ceritamu.” Pertanyaan itu meluncur begitu saja saat mereka tiba di rumah. Rayu menatap Bagas sambil menuntut jawaban. Nugi yang langsungg tertidur pulas membuat Rayu lebih leluasa untuk bicara dengan Bagas.

“Jujur, aku berat untuk berbagi cerita denganmu. Aku masih ingin menikmati kita yang seperti sekarang. Aku bahagia. Rasanya impian untuk memiliki keluarga kecil yang bahagia sudah terwujud di depan mata. Aku benar-benar merasa bahagia saat ini.” Bagas duduk di sofa yang berseberangan dengan Rayu. Matanya tak lepas dari wajah Rayu. Bagas merasa Rayu semakin cantik setelah melahirkan.

“Jadi, apa yang akan kamu ceritakan sekarang? Aku pikir kamu sudah paham isi kepalaku. Jadi aku tidak perlu bertanya secara detail.” Tatapan Rayu kini menghunjam Bagas. Ada sedikit kemarahan di sana.

“Aku akan menceraikan Rena.” Jawab Bagas singkat.

“Bagaaaassssss...” Rayu seketika berteriak. “Kamu sadar apa yang kamu katakan saat ini?”

“Sadar. Tentu saja aku sangat sadar. Semua sudah aku pikirkan matang-matang.”

“Atas dasar apa? Cinta? Ayolah Gas, kamu bukan anak kemarin sore yang masih sangat menjungjung apa itu cinta. Kamu bisa belajar mencintai Rena secara perlahan. Beri dia kesempatan Gas. Buka hati kamu dan mulailah menerima dia.”

“Tidak semudah itu. Awalnya aku berpikir sama denganmu. Bahkan aku sudah menancapkan namanya di hatiku. Berjanji akan menerima dia walaupun belum bisa mencintainya. Tapi yang kudapatkan malam itu sungguh sangat di luar dugaanku.”

“Malam itu? Maksud kamu?”

“Ya, malam ketika kami akan bercinta, dia malah menyebut nama Dion. Mantan kekasihnya.”

“Kamu tidak bisa menerimanya gara-gara itu?”

“Ya. Bagiku, itu adalah prinsip. Aku jauh lebih menghormati Rena andai dia mau jujur sejak awal. Sejauh mana dia pernah berhubungan dengan mantan pacarnya. Meskipun aku bukan penganut seks bebas, tapi aku juga bukan orang yang berpikiran sempit dengan tidak bisa menerima masa lalu orang. Kamu ingat Yu, selama kita menjalin hubungan, aku sangat menjaga dan menghormatimu. Aku menyayangimu dan tentu saja tidak akan merusak kehormatanmu. Sebelumnya, Rena tidak pernah bercerita sedikit pun bagaimana masa lalunya. Namun, malam itu jelas sekali kalau dia menyebut nama Dion. Kamu bisa membayangkan perasaanku kan Yu?”

Rayu bungkam. Tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. Dia sangat memahami perasaan Bagas.

“Awalnya, aku memberikan waktu kepada Rena selama setahun untuk saling mengenal. Aku mengajaknya ikut bersamaku ke Lampung. Kita mulai semuanya dari sana. Aku berharap cinta di antara kami akan tumbuh jika kami menghabiskan waktu berdua dan jauh dari berbagai gangguan. Aku hanya fokus kepada Rena, pun sebaliknya. Jadi kami bisa lebih mengenal satu sama lain.”

“Rena tidak mau?” Tebak Rayu.

“Tepat sekali. Dia keberatan ikut denganku. Meski kecewa, aku tetap menerima alasannya. Tapi kejadian malam itu, benar-benar menghancurkan seluruh harga diriku Yu. Aku terluka.” Bulir air mata tiba-tiba saja menggenang di sudut mata Bagas.

Rayu langsung menghampiri Bagas lalu memeluknya. Hati Rayu ikut terluka melihat air mata Bagas. Bukan satu atau dua tahun Rayu mengenal Bagas.

“Maafkan aku, Gas. Aku nggak tahu masalah kamu seberat ini.” Rayu mengusap kepala Bagas. Tindakan yang selalu Rayu lakukan ketika dulu Bintang sedang dalam kondisi bimbang.

Beberapa menit Bagas larut dalam belaian tangan Rayu. Terasa sangat menenangkan. Kalau saja bisa, ingin sekali Bagas menghentikan waktu di detik ini. Ketika semua beban terasa jauh lebih ringan.

“Bukan salah kamu.” Bagas terisak dalam dekapan Rayu.

Rayu melepaskan dekapannya ketika dirasa Bagas sudah mulai tenang kembali. Rayu baru menyadari, wajah tampan di depannya itu kini jauh lebih kuyu. Mata yang dulu sering Rayu kagumi, mulai meredup seakan kehilangan sumber cahayanya.

“Apa rencanamu selanjutnya, Gas?”

“Kalau aku bilang, aku mau melamar kamu, gimana?”

“Gas, aku serius. Nggak usah ngaco deh.”

“Aku juga serius. Kapan aku pernah bercanda tentang kita?”

“Jangan bikin aku ada di posisi sulit Gas. Kamu udah nikah. Ada Rena yang sekarang jadi kewajiban kamu. Dia itu istri kamu Gas. Kita sudah berakhir. Aku bahagia kita bisa tetap menjadi sahabat dan saudara seperti ini. Tapi jangan melewati batas.”

“Maaf. Aku juga nggak tahu kenapa sampai hari ini aku masih berpikir kita akan punya waktu membesarkan Anugerah bersama. Sebagai orang tua. Aku tak peduli kamu setuju atau nggak, tapi aku mohon tunggu aku menyelesaikan semuanya. Aku akan berjuang untukmu. Jangan membantah. Saat ini aku nggak mau berdebat. Cukup kamu dengarkan aja Ray.”

Rayu bungkam. Bahkan sampai akhirnya Bagas berpamitan pulang, pembicaraan mereka seakan terbentur di persimpangan. Andai tidak ada Rena, mungkin segalanya akan menjadi mudah bagi Rayu dan Bagas. Tapi bisakah mereka bermain-main dengan takdir? Ketika Rayu sendiri tidak pernah menduga bahwa dia sendiri malah menikah dengan Bintang.

Suara tangisan Nugi membuyarkan lamunan Rayu. Mengembalikan kesadarannya akan kenyataan kini sudah ada jiwa lain yang sangat membutuhkan kehadiran Rayu. Gegas Rayu menghampiri Nugi di kamarnya. Rayu tidak bisa menahan kepergian Bintang, tapi Rayu berjanji akan berada di sisi Nugi selamanya. Jika Bagas adalah masa depan mereka, Rayu hanya berharap semua akan baik-baik saja. 

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!