SIMPANGAN RASA
Anugerah Putra Angkasa
Biiiii....” Rayu merintih memegangi perutnya. Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. Ayam saja belum berani berkokok.
Bi Atikah tergopoh-gopoh lalu setengah berlari menuju kamar Rayu. Pikirannya sudah menebak-nebak mungkin ini saatnya Rayu melahirkan. Jika mengikuti jadwal yang diperkirakan dokter, hari ini memang kemungkinan besar kelahiran putra Rayu.
“Neng kenapa Neng? Mana yang sakit? Neng Rayu tenang dulu. Ayo tarik nafas yang teratur.” Bi Atikah membenarkan posisi Rayu yang setengah berbaring.
“Perut Rayu sakit Bi. Mules banget. Tapi ini udah agak enak. Tadi mulesnya parah.” Rayu menjawab lirih. Mukanya terlihat pucat.
“Kita ke rumah sakit ya.” Bi Atikah membelai tangan Rayu.
“Nggak usah Bi. Rayu masih tahan kok.”
“Tapi Bibi takut Neng Rayu kenapa-kenapa.” Nada khawatir terdengar jelas dari suara Bi Atikah.
“Rayu tahan sebentar lagi ya Bi. Kita ke rumah sakitnya pagi aja. Ini masih malem Bi.”
“Ya sudah sekarang Neng tidur lagi aja. Bibi buatkan teh manis dulu ya. Nanti kalau sudah pagi kita ke rumah sakit ya.”
Rayu hanya mengangguk sebagai jawaban. Kali ini rasa sakit yang tadi dia rasakan memang sudah mereda.
Bi Atikah keluar dari kamar Rayu. Namun tidak segera ke dapur untuk membuat teh manis. Bi Atikah menuju kamarnya dan mengambil handphone. Lalu menghubungi nomor yang sudah disimpannya dengan baik. Tinggal pencet angka 1, panggilan pun langsung terhubung.
“Ada apa Bi?” Terdengar jawaban dari penerima telepon.
“Neng Rayu sepertinya akan melahirkan.” Bi Atikah berbisik. Takut terdengar oleh Rayu.
“Sekarang Rayu di mana Bi? Sudah ke rumah sakit?”
“Neng Rayu belum mau ke rumah sakit. Sekarang sudah tidur lagi di kamarnya. Kata Neng Rayu, ke rumah sakitnya pagi aja.”
“Oke. Bibi tenang, lalu siapkan semua kebutuhan Rayu untuk melahirkan. Jangan sampai ada yang ketinggalan. Sebentar lagi saya ke sana. Tapi jangan bilang ke Rayu ya Bi. Biarkan dia istirahat.”
Telepon pun diputus. Bi Atikah menyiapkan teh manis untuk Rayu. Selesai mengantarkan teh manis ke kamar Rayu, Bi Atikah bergegas menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan oleh Rayu di rumah sakit. Tidak lupa Bi Atikah kembali mengecek perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Rayu.
Pukul lima pagi. Bi Atikah yang sedang memasak air dan menyiapkan sarapan dikejutkan suara handphonenya.
“Halo Assalamualaikum...”
“Bi, saya sudah di depan rumah. Buka pintunya ya Bi.”
“Oh iya Mas. Sebentar Bibi matikan kompor dulu.”
Setelah mematikan kompor, Bi Atikah keluar membukakan gerbang. Mobil berwarna hitam itu pun memasuki pekarangan.
“Rayu sudah bangun Bi?” Tanya lelaki yang datang ke rumah Rayu.
“Belum Mas. Tadi Bibi lihat masih tidur. Masuk Mas.”
“Iya Bi. Saya tunggu di ruang tamu aja Bi. Jangan bilang apapun ke Rayu.”
Bi Atikah mengangguk tanda setuju. Lalu meneruskan kegiatannya memasak.
Sementara di kamar, Rayu terbangun dan kembali meringis merasakan sakit yang luar biasa. Perutnya seperti dipelintir. Sekuat tenaga Rayu menahan sakitnya dan memaksa untuk berdiri. Menurut dokter, menjelang lahiran ini dia memang harus lebih banyak bergerak meski sekedar jalan kaki. Rayu melawan rasa sakit yang dia rasa dan memilih mondar mandir di dalam kamarnya.
Rayu melirik jam di dinding kamar. Sudah hampir setengah enam pagi. Dia harus segera bergegas mandi dan sarapan. Rayu menebak hari inilah anaknya akan lahir.
“Bi, Bibi di mana?” Rayu keluar dari kamar dan mencari Bi Atikah.
“Di dapur Neng. Loh Neng Rayu ngapain keluar? Ati-ati Neng.” Bi Atikah langsung menggamit lengan Rayu.
“Rayu mau mandi Bi. Kan kita mau ke rumah sakit. Rayu sepertinya mau melahirkan Bi. Perut Rayu semakin hebat mulesnya.”
“Iya Neng. Sabar ya. Semoga semuanya dilancarkan.”
Rayu mandi secepat yang dia bisa. Bi Atikah menyiapkan sarapan untuk Rayu dan tamu yang datang. Sengaja Bi Atikah tidak mengatakan apapun kepada Rayu tentang tamunya. Sarapan pun diantarkan ke ruang tamu. Sedangkan Rayu memilih sarapan di kamar setelah selesai mandi.
“Bi, telepon sopir yang biasa ya.”
“Nggak perlu Neng. Sudah ada yang siap mengantar Neng Rayu.”
“Loh siapa Bi? Kok Rayu nggak tahu?”
“Neng jangan marah sama Bibi ya. Ini untuk kebaikan Neng juga. Yang mau antar Neng sudah ada di ruang tamu. Bibi minta maaf. Sekali lagi Neng jangan marah sama Bibi.”
Rayu tidak menjawab ucapan Bi Atikah. Langkahnya bergegas menuju ruang tamu. Posisi ruang tamu ini memang tidak terlihat dari kamar Rayu.
“Kamu...” Rayu mematung. Kakinya mendadak lemas sedangkan tubuhnya tiba-tiba saja kaku. Rayu sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Bagas akan kembali hadir di depannya. Datang ke rumahnya tepat di saat dia akan melahirkan.
“Iya. Ini Aku. Bagas.” Bagas berdiri sambil tersenyum. Lalu menghampiri Rayu dan memapah perempuan itu untuk duduk di sofa.
“Kenapa kamu bisa di sini? Siapa yang memberi kabar? Aduh...” Ucapan Rayu terhenti ketika perutnya kembali kontraksi. Keringat mulai mengucur dari dahinya.
Bagas segera tanggap. Dia membopong tubuh Rayu untuk masuk ke dalam mobil. Untunglah ketika dia datang tadi, Bi Atikah langsung memasukkan barang-barang yang akan di bawa ke rumah sakit ke dalam mobilnya.
“Bi...” Bagas setengah berteriak. “Ayo kita berangkat.”
Bi Atikah tak kalah panik ketika melihat Rayu yang kesakitan. Setelah mematikan kompor dan beberapa lampu, Bi Atikah gegas mengunci pintu dan masuk ke dalam mobil Bagas. Menemani Rayu yang duduk di kursi belakang.
“Gas, kenapa kamu bisa di sini?” Rayu memaksa untuk bertanya.
“Simpan dulu pertanyaan kamu. Fokus saja kepada bayimu. Kita bahas itu nanti saja.” Bagas menjawab tenang namun tegas. Rayu tidak tahu betapa paniknya Bagas melihat muka Rayu yang pucat dan kesakitan.
Tidak sampai satu jam mereka sudah tiba di rumah sakit. Rayu segera masuk ke ruang bersalin. Ternyata sudah pembukaan 7. Dokter Herman sebagai dokter kandungan yang sudah siaga langsung menangani Rayu.
“Gas, aku takut.” Rayu menggenggam tangan Bagas. Bagaimanapun, saat ini Rayu sangat membutuhkan seseorang yang mampu memberinya kekuatan. Sakit yang kian memuncak membuatnya tidak bisa berpikir jernih bahwa Bagas adalah suami orang lain. Genggaman tangan Bagas seakan memberi energi lebih kepada Rayu untuk berjuang melahirkan secara normal.
“Aku di sini Ray. Kamu tenang ya. Kamu dan bayi kamu akan baik-baik saja. Aku nggak akan pergi ninggalin kamu.”
“Wah, akhirnya saya bisa melihat suami Ibu Rayu. Saya senang loh suaminya Ibu Rayu bisa menemani Ibu Rayu lahiran. Ayo semangat Bu.”
Baik Bagas maupun Rayu tidak membantah ucapan dokter Herman. Biarlah dokter itu dengan pikirannya sendiri. Rayu dan Bagas malas menjelaskan lebih jauh tentang status mereka.
Hampir dua jam Rayu berjuang di antara hidup dan mati. Selama itu pula Bagas tetap berada di sisi Rayu. Akhirnya Rayu melahirkan bayi laki-laki secara normal.
“Silahkan Pak, bayinya diadzani.” Seorang perawat menyerahkan bayi mungil nan lucu itu kepada Bagas.
Sejenak Bagas tertegun. Perasaannya campur aduk melihat mata polos tanpa dosa dihadapannya. Lalu Bagas pun menerima bayi Rayu dan melakukan adzan di telinganya. Dadanya terasa sesak. Penuh oleh perasaan bahagia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Setelah adzan, Bagas mendekatkan bayi tersebut ke sisi Rayu.
“Anakmu luar biasa.” Bisik Bagas.
Rayu tersenyum meski matanya berlinang air mata. Tentu saja air mata bahagia. Tiba-tiba saja Rayu merasakan kehadiran Bintang.
“Siapa namanya?” Bagas bertanya.
“Anugerah Putra Angkasa. Itu nama yang sudah diberikan oleh Bintang.” Rayu menjawab terisak. Hatinya begitu perih membayangkan Bintang yang tidak pernah bisa melihat anak mereka.
“Nama yang luar biasa.” Bagas bergumam.
“Gas, kamu berhutang banyak penjelasan kepadaku.” Rayu menatap Bagas tajam.
“Bukan saat yang tepat. Kamu baru saja melahirkan. Masih banyak waktu kalau mau mendengar penjelasanku. Sekarang kamu nggak usah banyak pikiran. Cepat pulih. Ada jagoan kecil yang menunggu kamu.” Aku juga menunggumu. Lanjut Bagas dalam hati.
***