SIMPANGAN RASA
Jangan Paksa Aku Mencintaimu
Bagas melangkah gontai menuju mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Rayu. Bahkan letih karena perjalanan jauh belum juga hilang dari tubuh Bagas. Rayu sama sekali tidak menawarkan Bagas untuk istirahat di rumahnya. Meski Bagas paham kalau Rayu sedang menjaga kehormatannya, namun tetap saja perih itu terasa di hati Bagas.
Pertemuannya dengan Rayu sungguh sangat di luar ekspektasi Bagas. Inginnya Bagas, dia bisa memeluk Rayu. Mengurangi semua lara yang sedang merundung perempuan cantik itu. Mengatakan kepada Rayu bahwa Bagas akan selalu ada di sisinya meski harus meminjam nama sebagai seorang sahabat.
Sikap Rayu yang mengusirnya secara terang-terangan membuat Bagas sadar jurang di antara mereka bukan hanya semakin dalam, namun juga semakin lebar. Entah dengan cara apa Bagas mampu mengikisnya.
Lelah yang begitu mendera, memaksa Bagas untuk mencari hotel. Tubuhnya benar-benar menuntut untuk segera beristirahat. Bagas sadar, sejak kemarin lusa dia hanya tidur beberapa jam saja. Proses akad dan resepsi pernikahan sangat menguras energi Bagas.
Selama perjalanan menuju Cipari tadi pagi, Bagas sedikit heran karena tidak ada satu pun keluarga yang menghubungi dia. Bagas jadi berpikir, apa yang disampaikan oleh Rena kepada orang tuanya sampai mereka sama sekali tidak mencari keberadaan Bagas. Padahal Bagas meninggalkan hotel sejak pagi dan sekarang sudah menjelang sore.
Bagas menghentikan mobilnya di Grage Sangkan Hotel. Tubuh letihnya sudah sangat tidak bisa diajak berpikir lagi. Harusnya dia bersyukur karena tidak perlu repot untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada orang tuanya. Biarlah besok dia akan berpikir lagi bagaimana harus menghadapi mereka.
Rasanya Bagas baru saja memejamkan mata saat terdengar suara gawainya terus saja berbunyi. Bagas mengulurkan tangan meraih gawai yang tersimpan di meja samping tempat tidurnya. Matanya masih terpejam dan Bagas enggan untuk membukanya. Kantuk terasa benar-benar berat.
“Halo...” Bagas mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Gas, kamu ada di mana?” Suara Rena terdengar di seberang.
“Bisakah kamu telepon aku lagi nanti? Aku ngantuk.” Bagas mematikan telepon begitu saja. Saat ini Bagas hanya ingin tidur tanpa diganggu oleh siapapun.
***
Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Bagas sudah bersiap untuk sholat subuh. Tidurnya semalam cukup nyenyak hingga kini tubuhnya terasa segar kembali. Bagas sengaja tidak menghidupkan handphonenya karena masih ingin menikmati waktu sendiri.
Setelah sarapan, Bagas bersiap untuk pulang ke rumah. Bagaimanapun juga, ada masalah yang harus segera dia selesaikan bersama Rena. Bagas sadar, dia tidak bisa menunda masalah tersebut. Cepat atau lambat semua akan diketahui oleh keluarganya.
Matahari sedang terik-teriknya ketika Bagas memasuki halaman hotel tempatnya meninggalkan Rena disaat seharusnya mereka menikmati malam pertama sebagai pengantin baru.
Diperjalanan, Bagas sempat membaca pesan Rena yang mengatakan istrinya itu masih di hotel. Bagas tidak bertanya lebih jauh. Bahkan sekedar basa basi kenapa Rena belum pergi dari hotel pun tidak Bagas lakukan. Bagi Bagas, apapun keputusan yang Rena ambil, tidak ada urusan dengannya. Rena bisa berbuat sesuka hatinya tanpa harus meminta izin atau memberi tahu Bagas.
Kamar 401. Bagas perlahan mengetuk pintu kamar tersebut. Tak butuh waktu lama, Rena sudah membukakan pintu. Bagas masuk dan langsung duduk di sofa. Sekilas Bagas melihat penampilan Rena. Cukup seksi. Namun tidak ada getaran apapun di hati Bagas. berbeda sekali dengan yang dialami Bagas saat bertemu Rayu. Jantungnya berdebar tanpa kendali.
“Kamu kemana saja?” Suara Rena terdengar begitu mengintimidasi.
“Aku pikir ini bukan urusanmu Ren.”
“Menjadi urusanku karena kita sudah menikah dan kamu adalah suamiku Gas.” Rena memberikan penekanan kepada kata suamiku.
“Ren, maafkan aku. Sejak awal aku tidak pernah menyetujui pernikahan ini. Kamu sendiri tahu bahwa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk mengenalmu atau untuk memulihkan hatiku terlebih dahulu.” Bagas mencoba menjelaskan. Sulit sekali memilih kata-kata yang tidak akan menyinggung Rena.
“Faktanya, kita sudah sah sebagai suami istri Gas.”
“Memang. Tapi kamu juga tahu bahwa aku tidak mencintaimu sama sekali.” Bagas menjawab tegas.
“Gas, tapi aku istrimu. Aku minta maaf atas kejadian di malam pertama kita. Aku khilaf Gas. Aku dan Dion sudah tidak ada hubungan apa-apa.” Air mata mulai menganak sungai di mata Rena.
“Tidak semudah itu Ren. Bagiku, kehormatan seorang perempuan bisa dilihat dari bagaimana cara dia menjaga dirinya. Ketika Mama mengatakan kamu baru pulang dari luar negeri dan berniat menjodohkanku denganmu, aku masih berharap kalau kamu berbeda dari perempuan-perempuan lain yang menganut seks bebas. Andaipun kamu memang melakukannya, aku masih mencoba meyakinkan diriku bahwa kamu akan jujur dan kamu sudah tidak lagi mengingat lelaki yang pernah bersamamu. Tapi apa yang aku dapatkan Ren? Kamu dengan sangat jelas menyebut nama lelaki lain di depanku. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku?” Bagas meremas kuat rambut ikalnya.
“Gas, hanya untuk satu kesalahan itu kamu sampai marah dan ingin meninggalkan aku? Aku sudah minta maaf. Harus dengan cara bagaimana supaya kamu bisa menerimaku?”
“Apa Ren? Kamu bilang hanya? Kamu menganggap remeh apa yang kamu lakukan sebelumnya?
“Bukan Gas. Maksud aku bukan begitu.” Rena mulai terlihat panik.
“Ren, tanpa insiden itu aja aku masih belum bisa mencintai dan menerima kamu sebagai istriku sepenuhnya. Kamu pikir, setelah kejadian itu aku bisa merubah hatiku? Jangan harap Ren.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Aku sudah bilang, aku akan memberikan waktu satu tahun untuk pernikahan kita. Aku pikir, itu sudah cukup untuk sekedar menjaga nama baik kamu dan keluargamu. Selama setahun ke depan, kamu bebas mau melakukan apapun. Kamu tidak punya kewajiban meminta ijinku. Jalani hidupmu seperti sebelum kita menikah.”
“Apakah kita akan tinggal bersama?”
“Semuanya terserah kamu Ren. Minggu depan aku kembali ke Lampung. Aku tidak memintamu untuk ikut denganku. Aku malah berharap kamu tetap di sini dan tidak mengganggu kehidupanku.”
“Tapi Gas, bisakah kamu memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi istri yang sesungguhnya?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan istri sesungguhnya? Apa yang kamu harapkan dariku?” Bagas mengernyitkan dahinya.
“Maksudku, apakah kita bisa tetap tinggal satu rumah dan mencoba membangun hubungan sebagai suami istri?”
“Sekali lagi maafkan aku Ren. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Jangan sia-siakan waktumu hanya untuk menunggu hatiku berubah. Itu tidak mungkin.”
“Lalu, bagaimana dengan biaya hidupku?”
Bagas terbelalak dan mendengus kesal mendengar pertanyaan Rena. “Aku tetap akan bertanggung jawab untuk itu. Kamu tenang saja. Setiap bulan aku akan mentransfer uang ke rekeningmu. Gunakan itu untuk kebutuhan sehari-hari. Aku pikir pembicaraan kita sudah selesai. Kamu bisa tinggal di sini kalau kamu mau. Nanti aku bayar biayanya.”
“Kamu mau pergi lagi Gas?”
“Iya.”
“Kemana?”
“Kamu jangan melewati batas dengan selalu bertanya apa yang ingin aku lakukan. Ingat, jangan paksa aku untuk mencintai kamu. Hentikan mimpi itu.”
“Gas, apakah kamu tidak bisa tinggal menemani aku di sini?”
“Pembicaraan kita sudah selesai. Sekali lagi, jangan paksa aku mencintaimu. Jangan ikut campur juga dengan semua urusanku.”
Bagas mengambil jaket dan kopernya. Dia belum tahu akan kemana setelah pergi dari hotel ini. Bagas hanya punya satu tujuan, meninggalkan Rena secepat yang dia bisa. Bagas takut khilaf dan berbuat kasar jika terus berada dekat Rena.
***