SIMPANGAN RASA

Tuhan, Bahagiakan Dia

Bagas tampak mondar mandir gelisah. Sejak kepulangannya tiga hari yang lalu, di sama sekali tidak bisa menghubungi Rayu dan Bintang. Kemarin nomor handphone Rayu dan Bintang malah tidak bisa dihubungi. Padahal besok adalah hari pernikahan Bagas.

Bagi Bagas, tidak masalah jika memang Rayu dan Bintang tidak bisa hadir. Tapi ketika nomor telepon keduanya sama sekali tidak bisa dihubungi, pasti terjadi sesuatu. Bagas terus saja gelisah.

“Mas Ferdi. Ya Mas Ferdi pasti tahu apa yang terjadi. Ah kenapa tidak terpikirkan olehku untuk hubungi Mas Ferdi.” Bagas merutuki kebodohan dirinya sendiri.

Segera saja dia mengambil kunci dan melaju menuju kantor Ferdian. Bagas yang sangat penasaran, tidak mau menghubungi Ferdian lewat telepon. Dia harus bicara langsung.

Tidak sampai satu jam, Bagas tiba di kantor Ferdian. Setelah menghubungi resepsionis yang mengatakan Ferdian sedang ada di ruangannya, langsung saja Bagas berjalan cepat menuju lift yang membawanya ke ruangan Ferdian.

“Hai Mas.” Bagas menyapa setelah dipersilahkan masuk oleh sekretaris Ferdian.

“Hai Gas. Apa kabar? Tumben kamu ke sini nggak kasih kabar sama Mas.” Ferdi berdiri lalu menghampiri Bagas dan merangkulnya hangat.

“Sengaja Mas. Biar jadi kejutan. Mas Ferdi sedang sibuk nggak? Aku takur ganggu kerjaan Mas Ferdi.” Bagas tidak enak hati sendiri saat melihat berkas yang menumpuk di meja Ferdian.

“Kamu telat kalau nanya begitu. Harusnya sebelum kamu tadi ke sini, kamu telepon dulu tanya aku sibuk apa nggak. Sekarang aja pas udah ada di depanku kamu baru nanya. Terus kalau Mas jawab Mas sedang sibuk, memangnya kamu mau pulang lagi?” Ferdian menggoda Bagas.

“Bukan begitu Mas. Aku tadi buru-buru ke sini. Jadi nggak kepikiran buat nanya Mas Ferdian sibuk atau nggak.”

“Sudahlah. Toh kamu sekarang kan sudah di sini. Ayo duduk. Mau minum apa? Ambil sendiri di kulkas itu ya.” Ferdian menunjuk kulkas kecil yang ada di salah satu sudut ruangannya.

“Iya Mas. Santai aja.” Bagas menuju kulkas dan mengambil satu botol minuman dingin.

“Kapan kamu datang ke sini? Sengaja pulang atau bagaimana?” Tanya Ferdian penasaran.

“Iya Mas. Aku sengaja pulang. Rencananya besok aku mau nikah Mas. Ini sekalian aku kasih kabar ke Mas Ferdi. Maaf Mas, aku lupa kirim undangan.” Bagas nyengir merasa bersalah karena tidak memasukkan nama Ferdian ke dalam list undangannya.

“Wah selamat Gas. Mas ikut bahagia mendengarnya. Semoga besok lancar ya. Mas usahakan besok datang ke pernikahanmu.”

“Mas, aku ke sini sebetulnya mau menanyakan keadaan Bintang dan Rayu. Sejak tiga hari lalu aku tidak bisa menghubungi mereka. Padahal sebelumnya komunikasi kami tidak masalah. Tapi sekarang nomor telepon keduanya malah sama sekali tidak aktif. Ada apa ya Mas?”

Ferdian menghela nafas mendengar pertanyaan Bagas. Haruskah dia mengatakan yang sebenarnya? Jika dia berterus terang, apakah keputusan Bagas untuk menikah akan terpengaruh? Ferdian tahu, Bagas masih mencintai Rayu. Jawaban yang dia berikan pasti akan mempengaruhi pikiran Bagas.

Tadinya sempat terbersit di pikiran Ferdian untuk menyatukan kembali Bagas dan Rayu. Berharap Bagas bisa menjaga dan membahagiakan Rayu selepas kepergian Bintang. Namun ucapan Bagas yang mengatakan kalau dia akan menikah besok memupus harapan Ferdian. Bagas pun layak bahagia setelah perpisahannya dengan Rayu. Pasti berat dan menyakitkan bagi Bagas melewati semuanya.

“Mas.” Bagas menatap Ferdian yang malah diam tidak menjawab pertanyaannya.

“Oh, eh, iya mereka baik-baik saja kok.” Ferdian menjawab gugup.

“Oke. Aku lega mendengarnya. Kalau begitu, boleh aku minta alamat rumah mereka Mas?” Bagas memohon.

“Mereka tidak di sini Gas. Seminggu lalu mereka pindah ke Kuningan. Rayu ingin melahirkan dengan tenang di sana.” Bagas tidak sepenuhnya berbohong. Rayu memang sudah berada di Kuningan sejak minggu lalu.

“Memang kenapa kalau di Bogor atau Jakarta Mas? Kok aku merasa ada yang aneh ya?” Bagas bergumam lirih.

“Yah mungkin mereka ingin menikmati suasanan alam yang lebih sejuk aja Gas. Jauh dari keramaian ibukota. Biar mereka bisa tenang berdua sepertinya.” Ferdian mulai mencari alasan.

Bagas terdiam. Dia tidak bodoh. Dia juga tidak sepolos yang Ferdian pikir. Bagas tahu ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ferdian. Raut muka Ferdia tidak pandai menutupi kebohongannya. Tapi Bagas juga tidak bisa memaksa Ferdian untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Ya sudah kalau begitu Mas. Aku hanya takut terjadi apa-apa sama mereka. Aku lega kalau mereka baik-baik saja. Sudah siang Mas. Aku pulang dulu ya. Takut tambah mengganggu kesibukan Mas Ferdian.” Bagas pamitan lalu berdiri untuk pulang.

“Sama-sama Gas. Sekali lagi selamat ya atas pernikahannya. Aku usahakan datang di hari bahagia kamu.” Ferdian menepuk lengan Bagas.

Bagas tidak langsung pulang. Dia menjalankan mobilnya menuju rumah orang tua Rayu. Bagas yakin kalau Ferdian berbohong. Namun Bagas tidak tahu alasan Ferdian berbohong.

Sampai di rumah Rayu Bagas hanya disambut oleh asisten rumah tangga di sana. Ayah Rayu masih di kantor sedangkan Bunda sedang pergi arisan bersama teman-temannya. Padi sudah kembali ke Yogya.

“Eh, ada Den Bagas. Apa kabar Den?” Bi Isah menyapa ramah.

“Baik bi.” Bagas lalu duduk di ruang tamu.

“Bibi bikin minum dulu ya Den.” Bi Isah hendak kembali menuju dapur namun Bagas mencegahnya.

“Tidak usah Bi. Saya hanya sebentar kok. Saya ke sini mau menanyakan kabar Rayu bi. Sudah tiga hari saya tidak bisa hubungi Rayu. Nomor Bintang juga tidak aktif.”

“Loh memangnya Den Bagas belum mendengar kabar tentang Mas Bintang?” Bi Isah terkejut mendapat pertanyaan dari Bagas.

“Bintang kenapa ya Bi?” Tanya Bagas penasaran.

“Mas Bintang meninggal hampir sebulan yang lalu Den.”

Penjelasan Bi Isah mampu membuat tubuh Bagas membeku. Bintang meninggal? Hampir sebulan lalu? Kenapa Ferdian tidak mengatakan apa-apa? Tentu saja kabar yang dia terima itu melumpuhkan semua pikiran Bagas.

“Lalu Rayu sekarang di mana Bi?” Setelah beberapa menit Bagas baru menyadari kondisi Rayu.

“Mbak Rayu sekarang tinggal di Kuningan Den. Katanya kalau tinggal di sini dia sedih. Ingat Mas Bintang terus.”

“Rayu di sana sama siapa Bi?”

“Sama Bi Atikah Den. Pembantu di rumah Mas Bintang dulu. Habisnya kalau tinggal sendirian, nggak di kasih izin sama keluarga.” Bi Isah terus saja bercerita tanpa menghiraukan perasaan Bagas saat ini.

“Ya sudah Bi kalau begitu saya pamit dulu ya. Masih ada yang harus saya urus. Salam untuk Ayah sama Bunda ya Bi.”

“Loh Den Bintang nggak nunggu mereka pulang dulu?”

“Nggak usah Bi. Saya sedang buru-buru.”

Bagas bergegas menuju mobil dan menghidupkan mesinnya. Dia tidak ingin Bi Isah melihat betapa hancur hatinya. Sampai di ujung komplek rumah Rayu, Bagas menghentikan mobil lalu menumpahkan tangis yang dia tahan sejak tadi. Kenapa takdirnya dan Rayu harus seperti ini?

“Tuhan, tolong bahagiakan Rayu. Di manapun dia berada sekarang.” Doa Bagas lirih.   

***

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!