SIMPANGAN RASA
Mengapa Sehampa Ini?
Rayu duduk di hadapan Ferdian dan Ratu. Tekadnya sudah bulat. Pindah ke Kuningan dan memulai lagi lembaran hidup baru di sana. Berdua dengan calon akan yang akan dia lahirkan.
“Kenapa tidak di sini saja? Setidaknya Mas bisa lebih mudah memantau kamu.” Ferdian menatap dalam mata Rayu.
“Terlalu menyakitkan Mas. Walaupun Rayu dan Bintang hanya beberapa bulan saja hidup bersama, tapi kami selalu memghabiskan hampir seluruh waktu kami berdua tanpa pernah berpisah lebih dari dua jam. Rayu nggak sanggup Mas. Setiap sudut rumah selalu mengingatkan Rayu kepada Bintang.”
“Atau kamu tinggal di rumah orangtuamu saja. Kan tidak terlalu jauh. Kalau ada apa-apa juga mudah. Kami khawatir kalau kamu jauh. Apalagi kamu di sana sendirian.” Ratu mencoba meluluhkan hati Rayu.
“Rayu sudah yakin Mbak. Ayah sama Bunda juga sudah memberikan izin. Di sana banyak teman Rayu. Pasti Rayu tidak akan kesepian.”
“Kalau begitu, biar Bi Atikah ikut kamu. Dia bisa menjaga dan mengurusi kamu di sana. Bi Atikah sangat menyayangi Bintang. Bahkan sudah menganggap Bintang sebagai anaknya sendiri. Dia pasti tidak keberatan ikut sama kamu dan menjaga calon anaknya Bintang.” Ferdian memutuskan. Bi Atikah adalah pembantu di rumah Mama Ferdian sekaligus pengasuh Bintang sejak Bintang baru berumur beberapa hari. Bi Atikah sudah ikut tinggal di rumah keluarga Bintang sejak ditinggal pergi oleh suaminya yang memilih perempuan lain. Sampai hari ini Bi Atikah tidak pernah memiliki niat untuk menikah lagi. Fokus pada kedua anaknya yang kini sudah bekerja semua.
“Jangan Mas. Nanti Mama gimana?” Cegah Rayu.
“Tidak ada penolakan. Mas yakin Mamah akan setuju. Biar Mas yang nanti bicara sama Mama dan Bi Atikah. Pokoknya kamu boleh pergi dan tinggal di Kuningan kalau Bi Atikah ikut. Kamu adalah adik Mas juga. Sudah jadi kewajiban Mas untuk menjaga kamu dan anak kamu. Tolong jangan abaikan rasa khawatir Mas. Selain itu, Mas sudah janji sama Bintang untuk melindungi kalian berdua selama hidup Mas.” Ferdian menjelaskan tanpa bisa dibantah oleh Rayu.
“Iya Ray. Kami semua sangat menyayangi kamu. Kita sama-sama kehilangan Bintang. Kamu jangan pernah berpikir kalau kamu sendirian. Kamu masih punya kami Ray. Kalau ada apa-apa, kamu bisa mengandalkan kami.” Ratu merengkuh bahu Rayu. Menyalurkan semua rasa sayangnya. Berharap Rayu akan lebih tegar.
Rayu tergugu. Dia tidak pernah menyangka akan dikelilingi orang-orang yang menyayanginya sedemikian rupa.
“Mas, untuk rumah yang sekarang kami tempati, mungkin Rayu akan menyewakannya. Kalau kosong juga sayang. Nanti malah rusak. Barang-barang pribadi kami biar Rayu simpan di rumah Bunda saja.” Rayu memaparkan rencananya.
“Mas sih setuju saja. Lumayan juga uang sewanya bisa untuk bekal kalian. Nanti biar Mas yang urus rumah itu. Mas akan tawarkan sama beberapa bawahan Mas di kantor. Sepertinya ada di antara mereka yang sedang memerlukan tempat tinggal.”
“Terima kasih banyak Mas. Maaf banget Rayu jadi banyak merepotkan Mas Ferdi.” Rayu sebenarnya segan karena terus menerus melibatkan Ferdian. Tapi dia pikir, jalan itu jauh lebih mudah dan membuatnya tidak perlu repot.
“Mas udah bilang, ini tugas Mas. Janji Mas kepada Bintang juga. Setiap bulannya akan ada uang yang masuk ke rekening kamu. Itu hak Bintang sebagai penghasilan dari usaha yang dimilikinya. Sebisa mungkin kamu jangan mengganggu deposito yang ditinggalkan Bintang atau tabungan yang kamu punya. Itu semua simpan saja untuk keperluan yang benar-benar sangat penting. Fokus kamu sekarang hanya pada dirimu dan calon anakmu agar lahir dengan lancar dan selamat. Jangan terlalu lelah dan stres. Pokoknya kamu harus berusaha membuat dirimu bahagia agar anakmu juga bisa tumbuh dengan baik.” Ferdian menasihati panjang lebar.
Rayu mengangguk tanpa mau membantah lagi. Dia tahu, semua yang Ferdian lakukan adalah untuk kebaikannya. Ferdian adalah anugerah bagi Bintang. Karena dia adalah kakak yang sangat luar biasa untuk Bintang. Begitu juga sebaliknya. Ferdian beruntung memiliki adik sehebat dan sebaik Bintang.
Setelah menghabiskan waktu hampir seharian di rumah Ferdian, Rayu pun pamit. Rencananya dia akan ke rumah orang tua Bintang. Meski Rayu sudah menduga bahwa Papa dan Mama pasti akan menghalangi kepergiannya, tapi tetap saja Rayu berpikir kalau dia harus memberi tahu dan berpamitan pada mereka.
Dan di sinilah kini Rayu berada. Ruang tengah rumah keluarga Bintang. Kebetulan Sekar dan suaminya juga sedang di sana mengunjungi Papa dan Mama.
Kedatangan Rayu disambut gempita oleh kedua orang paruh baya tersebut. Mama terus saja merangkul dan menciumi seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Sekar sempat menggoda Mama kalau Mamanya itu lebih pantas menjadi Mamanya Rayu dibandingkan menjadi Mamanya Sekar.
“Habis Mama kelihatan banget lebih sayang sama Mbak Rayu daripada sama aku. Itu meluk Mbak Rayu aja sampai nggak mau lepas gitu.” Kilah Sekar sambil tertawa.
“Kamu itu nggak perlu Mama peluk juga sudah nempel terus sama Mama. Apalagi kalau Mama sayang-sayang. Bisa-bisa kamu boyongan pindah ke sini.” Mama mengerling tajam kepada Sekar.
“Wah ide bagus itu Mah. Saran Mama boleh juga aku coba. Kayaknya enak pindah ke sini. Apa-apa sudah ada yang nyiapin. Aku bisa manja-manja lagi sama Mama. Anakku jug aada yang jagain deh.” Sekar semakin menggoda Mamanya. Lalu berlari menuju dapur ketika dilihatnya sang Mama sudah siap untuk menjewernya.
“Sudah sudah. Kalian berdua ini membuat kepala Papa sakit. Kalau dekat ribut terus. Kalau jauh juga ribut karena kangen. Sini Ray, jangan ikutan pusing melihat mereka.” Papa mengajak Rayu untuk duduk di dekatnya.
“Sebelum kamu datang, Ferdian sudah telepon Papa dan Mama. Itu anak emang selalu pengen cepat dalam semua urusan.” Sambung Papa.
“Jadi Papa sama Mama sudah tahu kalau Rayu mau pindah ke Kuningan?” Rayu bertanya dengan wajah terkejut.
“Iya sudah.” Kali ini Mama yang menjawab. “Secara garis besarnya sih Mama paham. Mama juga mengerti banget bagaimana perasaan kamu. Pasti berat harus melewati semuanya sendirian. Tapi apakah keputusanmu itu sudah bulat? Kuningan itu lumayan jauh loh. Mama tidak bisa melihatmu setiap hari.”
“Rayu memilih Kuningan karena Rayu dan Bintang menghabiskan masa kecil di sana Mah. Selain itu, di sana juga Rayu bisa tinggal di rumah peninggalan nenek Rayu. Jadi Rayu tidak harus repot-repot lagi mencari tempat tinggal.”
“Keputusan kamu sepertinya sudah sangat yakin. Papa dan Mama tidak bisa menghalangi. Tapi seperti yang Ferdian bilang, kamu boleh pergi asal membawa Bi Atikah. Biar dia yang menemani dan mengurus semua keperluan kamu di sana.” Papa akhirnya menyetujui pilihan Rayu.
Izin sudah dia dapatkan. Semua keluarga pun sudah berkali-kali meyakinkan Rayu bahwa mereka akan selalu support semua keputusan Rayu. Namun, tetap saja Rayu merasakan hampa yang tak terperi di relung hatinya.
***