SIMPANGAN RASA

Aku Tahu, Tempatmu di Angkasa

“Yang... peluk aku.” Bintang bergumam sambil menggigil. Demam tinggi tiba-tiba saja menyerangnya semalam.

Semua keluarga sudah berkumpul menatap Bintang dengan nanar. Panik dan takut membuat Rayu tanpa pikir panjang menelepon Papa, Mama, Ayah, Bunda, Ferdian berikut istri serta anaknya, Sekar adik Bintang yang datang bersama suami dan juga anaknya, dan terakhir Padi yang baru saja tiba. Padi langsung memutuskan pulang begitu mendapat kabar dari Rayu.

“Bin...” Rayu memanggil Bintang yang kini masihh dalam dekapannya. Kaki Bintang sudah sangat dingin. Lelaki itu pun tidak menjawab pertanyaan Rayu.

“Cepat Yu. Kita harus segera ke rumah sakit. Pah, Ferdi yang angkat Bintang. Papa tolong siapkan mobil.” Ferdian bergegas membopong Bintang.

Semuanya langsung tersadar dari lamunan. Lalu mereka sibuk mengikuti langkah Ferdian menuju mobil. Mama dan Bunda mengapit Rayu yang masih berdiri mematung seakan tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

“Ray, ayo kita juga harus segera ke rumah sakit.” Bunda menggamit lengan kanan Rayu sementara Mama di sebelah kirinya. Kedua perempuan paruh baya itu menuntun langkah Rayu dengan tergesa. Mobil Ferdian sudah berangkat lebih dulu membawa Bintang bersama Papa.

“Padi, kamu tolong bawa Ratu dan Sekar ya. Sekalian jaga Haikal dan adik-adiknya. Biar Bunda dan Mbak Rayu sama Ayah.” Ayah memberi perintah kepada Padi untuk membawa serta Ratu, istrinya Ferdian dan Sekar, adiknya Bintang. Tiga bocah keponakan Bintang yang menggemaskan terlihat tidak terpengaruh dengan keriuhan orang dewasa di sekitarnya.

Sampai di rumah sakit, Bintang ditangani dengan sangat cepat. Bintang langsung masuk ruang operasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dokter yang merawat Bintang sepertinya sudah bisa menebak kejadian ini akan segera tiba. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. 

Satu jam berlalu. Akhirnya ruang operasi terbuka. Mengakhiri kecemasan Rayu dan semua keluarga mereka yang menunggu di luar. Rayu berlari menghampiri dokter. Seolah lupa kalau dirinya sedang hamil.

“Gimana Dok? Suami saya baik-baik aja kan?” Tanya Rayu cemas.

“Saya minta maaf. Kami sudah berusaha maksimal semampu kami, tapi Saudara Bintang tidak bisa diselamatkan lagi.” Dokter menjelaskan dengan hati-hati. Namun ucapan pelannya seperti petir yang menghantam tubuh Rayu. Saat itu juga Rayu dan Mama pingsan. Perempuang yang melahirkan Bintang serta perempuan yang akan melahirkan anak Bintang itu sama-sama tidak siap jika harus kehilangan Bintang.

Padi dan Ayah sibuk membopong Bintang. Ferdi dan Sekar mengurus Mama. Sedangkan Ratu kini menenangkan tiga bocah yang malah ingin bermain lari-larian di lorong rumah sakit.

Bintang yang kini terbujur kaku sudah dikeluarkan dari ruang operasi. Karena keluarga masih sibuk dengan Rayu dan Mama, sementara jenazah Bintang menunggu di ruang tunggu operasi. Untunglah ruangan itu sedang sepi. Tidak ada seorang pun pasien di sana.

“Biar Papah, Sekar, dan Ayah yang mengurus Mamamu dan Rayu. Kamu urus Bintang yang Fer. Nanti kami menyusul ke sana.” Papa berusaha tenang dan meminta Ferdian mengurus jenazah Bintang.

Ayah merangkul pundak Papa. Sebagai sesama lelaki, Ayah tahu bagaimana saat ini Papa sedang terluka. Ditinggalkan oleh belahan jiwa untuk selama-lamanya itu bukan hal yang mudah. Meski sudah beberapa bulan lalu Ferdian memberitahu dan mereka menyiapkan diri untuk menerima kondisi yang terjadi hari ini, tetap saja mereka tidak siap ketika waktunya tiba.

“Iya Pah. Biar Ferdi yang menyelesaikan urusan dengan rumah sakit dan mengurus kepulangan Bintang.” Ferdian berjalan gontai. Seharusnya dia yang paling kuat karena sudah tahu lebih dulu kalau akhirnya akan seperti ini.

“Pulanglah Bin. Pulang dengan selamat dan bahagia. Kamu sudah tidak sakit lagi. Semoga kamu tenang di sana. Mas janji akan memenuhi dan memastikan semua keinginan kamu seperti obrolan kita waktu itu. Terima kasih sudah menjadi adik terbaik untuk Mas. Sudah memberikan banyak pelajaran hidup juga.” Ferdian bermonolog di hadapan jenazah Bintang. Hatinya begitu sakit dan teriris menyadari kalau adiknya itu kini sudah tidak bernafas lagi. Ferdian kembali mencium kening Bintang sebelum berlalu menuju ruang administrasi.

Jenazah Bintang dibawa ke rumah orangtuanya. Papa memutuskan Bintang dibawa ke sana karena kondisi Rayu sangat tidak memungkinkan untuk menerima tamu-tamu yang hadir.

Rayu pingsan beberapa kali. Meski sudah berusaha untuk tenang, tetap saja Rayu tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa Bintang sudah pergi untuk selama-lamanya.

Kondisi Mama sudah jauh lebih baik. Sudah tenang untuk ikut mengurus jenazah Bintang. Rencananya Bintang akan dimakamkan di pemakaman keluarga dekat rumah mereka.

“Ray, diminum dulu ya susunya.” Bunda membujuk Rayu agar mau minum susu. Bunda tahu, sejak berangkat tadi pagi perut Rayu belum terisi apapun.

“Nggak mau Bun.” Tolak Rayu.

“Ray, diminum dulu susunya supaya kamu punya energi. Kasihan anakmu loh Ray kalau kamu sampai sakit. Kamu harus kuat ya Ray.” Ratu ikut membujuk Rayu.

Akhirnya Rayu mengambil susu di tangan Bunda. Diminumnya susu itu hingga tandas. Benar kata Ratu, dia harus kuat. Karena dia harus menjaga anak Bintang yang ada di dalam perutnya.

Selepas acara pemakaman yang berjalan lancar, mereka berkumpul di ruang keluarga. Tidak membiarkan Rayu sendirian.

Atas permintaan keluarga Bintang, Ayah dan Bunda setuju untuk menginap beberapa hari di rumah besannya itu. Mereka sadar, saat ini mereka butur support. Harus saling menguatkan satu sama lain.

Rayu beranjak pergi menuju kamar Bintang. Ditelusurinya setiap sudut kamar itu. Tidak ada satu pun yang berubah dari kamar itu. Sejak menikah, mereka langsung menempati rumah yang sudah disiapkan Bintang. Otomatis kamar ini tidak sempat dirubah. Semuanya masih sama seperti terakhir kali Bintang meninggalkannya.

Rayu mencium dan menyesap aroma Bintang yang tertinggal. Berharap wangi itu akan menyatu dalam darahnya dan terasa oleh anak mereka. Air mata kembali tak terbendung kala Rayu mengingat betapa dia harus melahirkan anaknya tanpa kehadiran Bintang. Padahal, Bintang sangat menantikan kehadiran buah hati mereka.

“Kenapa kamu tidak mau bertahan lebih lama Bin?” Isak Rayu sambil memeluk foto Bintang yang tersimpan di meja kamarnya.

“Kamu memang Bintang. Tempatmu bukan di sini Bin. Sesuai namamu, Bintang Angkasa. Tempatmu di angkasa tanpa batas. Sekarang kamu sudah pulang ke tempatmu. Bahagia di sana ya Bin. Aku janji, aku akan berjuang juga untuk bahagia. Demi anak kita. Pandu jalanku ya Bin agar aku tidak salah melangkah. Sebenarnya aku marah sama kamu. Dulu saat kita berpisah, kamu sanggup mencari dan menunggu aku berpuluh tahun lamanya. Kenapa sekarang ketika kita sudah bersama, kamu menyerah hanya dalam hitungan bulan? Aku benar-benar marah Bin.” Rayu terus saja berbicara menuntaskan emosinya pada foto Bintang yang kini ditatapnya dengan penuh kerinduan.  

***

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!