SIMPANGAN RASA

Bertahanlah

Sudah dua hari tubuh Bintang demam. Selama itu pula Rayu tak henti memaksa agar suaminya itu mau ke rumah sakit. Namun bukan Bintan namanya jika langsung luluh begitu. Bintang tetap tidak mau ke rumah sakit dan meminta Rayu untuk memeluknya.

“Aku cuma demam biasa kok Yang. Nanti juga sembuh.” Jawab Bintang setiap kali Rayu mengajaknya ke rumah sakit untuk periksa.

“Tapi kan sudah dua hari Bin. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”

“Husss jangan begitu ah. Aku nggak apa-apa. Bener deh. Aku hanya butuh kamu peluk aja.” Bintang menggoda Rayu. Padahal Bintang sangat tahu kondisi tubuhnya kini sedang tidak baik-baik saja. Bahkan Bintang berpikir mungkin inilah waktunya dia harus menyerah. Tapi Bintang sama sekali belum ingin memberitahu Rayu. 

Rayu yang kehabisan akal merayu Bintang akhirnya menghubungi Ferdian dan kedua orang tua mereka ketika dilihatnya Bintang sedang tidur. Rayu pikir, jika mereka yang memaksa, mungkin Bintang tidak akan menolak lagi untuk ke rumah sakit.

“Bagaimana kondisinya?” Papa dan Mama menjadi orang yang pertama kali datang ke rumah Bintang. Raut cemas tampak jelas di wajah mereka. Bahkan Mama terus saja menangis dengan isak yang tertahan lirih.

“Ada di kamar Pah. Tadi sedang tidur. Mungkin pengaruh obat jadinya dia tidur lumayan pulas.” Jawab Rayu.

“Nah selagi Bintang tidur, baiknya Papa langsung bawa saja ke rumah sakit. Yu, kamu siapkan mobil ya. Biar Papa yang gendong Bintang.” Papa memutuskan. Lalu masuk ke kamar Bintang. Secepat kilat, Papa menggendong Bintang menuju mobil. Mama mengawasi sambil sesekali membantu. Perempuan paruh baya itu tak mampu berkata-kata. Mama takut salah ngomong di depan Rayu.

Bintang sudah didudukkan di kursi mobil. Matanya terbuka dan bingung melihat Papa yang sedang membungkuk di depannya memasangkan seatbelt.

“Kamu nggak usah protes. Sekarang Papa antar kamu ke rumah sakit. Sudah kamu diam saja.” Perintah Papa yang tentu saja tidak bisa dibantah oleh Bintang.

Papa beralih ke dalam menemui Rayu. “Yu, kamu siapkan saja dulu semua perlengkapan Bintang. Nanti kamu menyusul ke rumah sakit sama Ferdian atau orang tuamu. Papa sama Mama berangkat sekarang.”

“Tapi Pah, Rayu mau ikut sekarang.” Rayu memohon.

“Tidak bisa. Tidak ada yang menyiapkan keperluan Bintang. Kamu sedang hamil juga. Jangan terburu-buru menyiapkannya. Bintang tadi sudah bangun. Papa juga sudah hafal bagaimana harus bertindak di rumah sakit. Ayo Mah, kita berangkat sekarang. Biar segera ditangani. 

Rayu menurut. Lalu dia sibuk menyiapkan pakaian dan segala sesuatu yang sekiranya diperlukan Bintang. Tak lama setelah Papa dan Mama berangkat membawa Bintang, Ayah dan Bunda datang. Hampir bersamaan dengan mobil Ferdian yang menyusul di belakang mobil Ayah.

“Bintang di mana Yu? Loh kamu ngapain sudah siap bawa koper segala?” Bunda tampak bingung melihat Rayu yang sudah membawa koper dari kamarnya.

“Bintang sudah dibawa ke rumah sakit sama Papa. Kita langsung ke rumah sakit saja. Mas Ferdi, langsung ke rumah sakit aja. Bintang sudah di sana. Tadi Papa yang bawa Bintang soalnya Rayu harus menyiapkan keperluan Bintang dulu. Nanti Rayu ikut Ayah aja Mas.”

Tanpa banyak bicara lagi mereka langsung menuju mobil masing-masing dan berangkat ke rumah sakit.

“Bintang sudah ditangani dokter. Sekarang dia tidur.” Mama menjelaskan ketika mereka sampai di rumah sakit.

Dengan isyarat mata, Papa memberikan kode kepada Ferdian dan Ayah untuk mengikutinya keluar. Rayu tidak curiga saat ketiga lelaki itu keluar. Rayu hanya berpikir kalau ketiganya ingin mencari udara segar.

“Jadi bagaimana Pah?” Tanya Ferdian penasaran.

“Papah pikir sudah waktunya untuk memberi tahu Rayu, Fer. Dokter tadi bilang, Bintang benar-benar tinggal menunggu waktu saja. Tubuhnya sudah tidak mampu bertahan lagi. Jika sekarang dia terlihat baik-baik saja, itu karena secara psikis dia punya semangat untuk sembuh yang sangat luar biasa sehingga bisa mengalahkan rasa sakit yang sedang dia rasakan.”

“Apakah tidak ada upaya lain?” Suara Ayah jelas berharap kalau menantunya itu masih bisa sembuh seperti sedia kala.

“Dokter menyarankan Bintang mau ke Singapura. Tapi Bintang menolak. Dia memilih tetap menjalani perawatan di sini agar bisa lebih leluasa berkumpul dengan keluarga katanya.” Papa memberikan jawaban Bintang.

“Dia sudah tahu dan sadar dengan kondisinya Pah, Yah. Beberapa minggu lalu Bintang ke kantor Ferdi. Dia minta Ferdi untuk mengurus semua asetnya dan memindahkan atas nama Rayu serta calon anak mereka. Bintang sudah memikirkan semua kemungkinan terburuk. Ferdi sudah meminta pengacara untuk mengurus semuanya. Tinggal menunggu Bintang karena masih ada beberapa dokumen yang harus dia tanda tangan.”

Ketiganya lalu dia. Merenung dalam kenangan masing-masing. Tapi gurat kesedihan sangat terlihat jelas di mata mereka. Bagaimanapun, bukan hal mudah untuk mempersiapkan sebuah kehilangan.

***

Sementara di kamar Bintang, Rayu kini tengah menangis dan terus memeluk Bintang. Entah mengapa, dia seperti memiliki firasat buruk tentang kondisi Bintang kali ini. Meski Bintang selalu terlihat baik-baik saja, Rayu tahu kalau sebenarnya Bintang sering kesakitan. Mereka berdua tidak pernah sama sekali membahas tentang kondisi Bintang.

“Aku hanya ingin merasakan dan membicarakan hal-hal yang membuat kita bahagia saja. Jangan ngomongin yang sedih-sedih.” Kilah Bintang saat Rayu ingin tahu bagaimana kondisi suaminya itu.

Maka hari-hari yang mereka jalani hanya diisi dengan tawa. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, mereka selalu menjalani aktivitas berdua. Bahkan Bintang setiap hari menuliskan momen yang mereka lalui. Kalau sedang malas, Bintang akan menyuruh Rayu yang menulisnya. Jadilah mereka memiliki catatan harian berdua.

“Bin, jangan pergi. Aku mohon kamu harus segera sembuh.” Isak Rayu sambil terus memeluk tubuh Bintang yang tertidur pulas. Dokter memang memberikan obat tidur agar Bintang bisa istirahat dengan cukup.

Bintang bicara terbuka kepada dokter kalau selama ini dia mengurangi jam tidurnya. Bintang berusaha memberikan waktunya lebih banyak bersama Rayu. Seandainya bisa, mungkin Bintang tidak akan tidur sama sekali agar dia puas memandang Rayu sambil berkhayal tentang rupa anak mereka yang saat ini ada dalam Rahim istrinya itu.

“Ray, jangan begitu. Bintang akan baik-baik aja. Lebih baik sekarang kita berdoa supaya Bintang segara pulih. Kamu makan dulu ya. kasihan loh anak kamu kalau kamunya sedih terus begini.” Bunda merangkul pundak Rayu. Padahal kesedihan yang sama sedang Bunda rasakan. Sangat menyakitkan ketika membayangkan anak dan calon cucunya akan dinggalkan selamanya oleh Bintang.

“Iya Yu. Bunda benar. Kamu harus kuat. Kalau Bintang bangun dan kamu belum makan, dia bisa marah. Nanti kami berdua yang jadi sasaran Bintang. Yuk, makan dulu sini Mamah temanin.”

Rayu beranjak lalu menghampiri Mama. Benar yang dikatakan Bunda dan Mama. Dia harus kuat menjaga calon anak mereka.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!