Seni Seviyorum Aisyah
Impian Aisyah
"Hay, ada yang bisa saya bantu?"
Aqila menoleh manatap cowok yang sedang menatap dirinya dengan sangat dekat hal itu membuatnya sedikit gugup dan mundur ke belakang.
"Ihh ngagetin aja jadi orang, ngapain sih berada di kelasku?" gerutu Aqila sambil memukul-mukul Ilham dengan buku tulisnya.
Ilham mengaduh kesakitan, "Auw sudah cukup, maaf kalau sudah buat kamu kaget."
"Lain kali kalau masuk ucapkan salam dulu," ujar Aqila dengan sangat kesal sambil terus memukul cowok itu.
Sampai akhirnya Ilham pun menahan tangan Aqila untuk menghentikannya, "Stop okey!"
Aqila menghempaskan genggaman tangannya dari Ilham kemudian kembali tertunduk sambil berusaha mengerjakan tugasnya. Ilham memperhatikan Aqila yang sepertinya kesusahan.
"Sini aku bantu," ujar Ilham
Aqila menoleh menatap cowok itu, "Tidak perlu aku bisa mengerjakannya," jawabnya.
"Serius? aku sedang baik hati loh menawarkan bantuan jadi jangan sia-siakan," tukas Ilham dengan alis yang naik ke atas menunggu jawaban cewek di depannya itu.
Aqila merasa bingung namun sepertinya dia harus terima bantuan Ilham karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dia tidak mau kena masalah lagi karena tidak mengerjakan tugas
"Bagaimana? jika tidak aku akan pergi." Ilham berusaha bangkit dari duduknya ketika Aqila masih diam terpaku tanpa sepatah kata pun.
Aqila kembali menatap Ilham, "Baiklah," ujarnya dengan tersenyum.
Ilham dengan senang hati kembali duduk di depan Aqila untuk membantu mengerjakan tugasnya, hari yang begitu berbeda bagi Aqila karena pertama kalinya Ilham datang ke kelasnya dan membantunya mengerjakan tugas.
Aisyah berlari ke taman mencari Fatimah sampai akhirnya dia berhasil melihat sosok orang yang dicarinya itu.
"Fatimah!" teriaknya dengan sangat keras.
Fatimah lalu melambaikan tangannya saat melihat kehadiran Aisyah yang sudah dia tunggu-tunggu sejak tadi.
"Maaf ya Fat, gue telat padahal gue sudah bangun pagi," ujar Aisyah dengan rasa tidak enak hati kepada Fatimah.
"Sudah duduk dulu, santai aja Syah," seru Fatimah sambil memberikan air putih kepada Aisyah.
Sekolah sudah tampak ramai dan sebentar lagi bel masuk berbunyi setelah kejadian tadi dia jadi sangat gugup untuk pesentasi apalagi dia kelompok pertama yang akan maju duluan.
"Syah, lo sudah makan?" Perut Fatimah tiba-tiba merasa lapar karena sebelum pergi ke sekolah dia belum makan satu suap nasi sedikit pun.
"Belum ya sudah yuk kita ke kantin," ajak Aisyah sambil menggandeng tangan Fatimah.
"Nih bukunya simpan, lo sudah baca kan isinya?" tanya Fatimah saat mereka menuju kantin.
"Sudah kok waktu kita belajar, owh iya lo sudah dapat kabar lagi tentang Raya?"
"Belum, apakah kita harus menjenguknya setelah pulang sekolah," ujar Fatimah.
Aisyah sebelumnya mengira bahwa Raya akan masuk sekolah hari ini tapi ternyata cewek itu absen, setelah mengisi perut Aisyah dan Fatimah kembali ke kelas karena pelajaran akan dimulai
Pak Sigit masuk dalam langsung menyuruh anak muridnya untuk berpresentasi di depan anak-anak namun beliau kaget saat yang maju hanya dua orang saja.
"Ke mana teman kamu yang lainnya Aisyah, Fatimah?" tanya Pak Sigit dengan matanya yang melotot.
"Sakit Pak," sahut Fatimah.
Setelah pesentasi dimulai kelas pun menjadi sepi seketika tanpa ada keributan apapun membuat Aisyah semakin deg-degan bibirnya tidak berhenti berdoa agar dia bisa berhasil dan mendapatkan nilai yang baik.
"Pak apakah kita boleh bertanya?" tanya Rio setelah Fatimah selesai membacakan teksnya.
Pak Sigit mengangguk membolehnya, "Hanya untuk tiga orang tercepat saja yang boleh bertanya."
Seketika anak-anak pun langsung menganggkat tangannya mereka diantara lain Reyhan, Siska dan Raka. Hal itu membuat Aisyah merasa kesal dengan Raka apa yang dimaksud cowok itu apakah dia benar-benar ingin bertanya atau hanya ingin bercanda dengannya
"Wih kalian tim gercep ya!" seru anak-anak yang lain.
"Silahkan untuk Reyhan apa yang ingin ditanyakan kepada kami?" Dengan lembut Aisyah mempersilahkan Reyhan untuk berbicara.
Reyhan berdehem sebelum bersuara lalu dia melihat buku untuk memberikan pertanyaan yang memang belum dia mengerti, jujur saja pertanyaan Reyhan sebenarnya sangat mudah untuk dijawab begitu pun dengan pertanyaan Siska yang kurang masuk akal membuat Aisyah dan Fatimah menghembuskan napas karena sabar harus menghadapi teman-temannya ini.
"Sudah lanjut saja ke pertanyaan terakhir!" seru Ilham dengan sinisnya.
Aisyah tersenyum mendengar Ilham ikut bersuara namun pertanyaan terakhir yang akan disampaikan oleh Raka membuat dia jadi sedikit penasaran apakah cowok itu benar-benar akan bertanya dengan benar atau sama dengan yang lainnya.
"Okey gue akan bertanya sesuai apa yang kalian jelaskan barusan," ujarnya sambil tersenyum membuat yang lain berseru tidak sabar.
Aisyah menunduk saat Raka berbicara dia akan menyimak tanpa harus melihat cowok itu, yang ternyata pertanyaan cowok itu membuatnya bingung bukan karena tidak tahu jawabannya tapi dia harus menjelaskan dengan memberikan contohnya
"Aisyah jawab tuh! jangan lupa kasih contohnya juga."
Fatimah menyenggol lengan Aisyah agar sahabatnya itu menghadap ke depan dan menjawab pertanyaan Adam, cukup lama Aisyah berpikir akan contoh yang harus dia berikan akhirnya dia mampu juga menjawabnya dengan jelas.
Gemuruh tepuk tangan dan teriakan anak-anak membuat Aisyah merasa senang tidak sengaja dia melihat Raka yang masih tertawa saat Aisyah kembali ke tempat duduknya.
"Okey untuk presentasi hari ini saya merasa cukup puas kalian berdua sudah berhasil menjelaskan dengan benar dan sudah menguasai materi yang kalian jelaskan juga, jadi saya kasih nilai kalian 90," jelas Pak Sigit sambil bertepuk tangan yang diikuti oleh anak-anak yang lainnya.
Aisyah menoleh menghadap Fatimah yang duduk di belangkangnya, "Alhamdulillah, kita berhasil Fat," ujarnya.
Pelajaran telah selesai, Raka dan Ilham terlihat sibuk berbicara tentang permainan game yang seru yang akan dia bersama setelah pulang sekolah sedangkan Aisyah sibuk menghapal dengan diam-diam karena dia takut teman-teman kelasnya akan menganggapnya anak yang sok pintar atau bagaimana yang membuat dirinya merasa tidak enak hati.
"Syah semangat ya menghafalnya!" tukas Hawa sahabat Aisyah.
Hawa cewek yang pintar juga di kelas ini dia sering kali mendapatkan nilai bagus dan berada di rangking teratas bersama dengan Fatimah, kadang Aisyah merasa bangga bahwa dirinya mempunyai sahabat-sahabat yang pintar dan cerdas.
Aisyah tersenyum manis kepada Hawa, "Boleh tes kan surat ini?" pinta Aisyah.
Dengan senang hati Hawa mengambil al-quran dari tangan Aisyah dan mendengarkan sahabatnya itu membaca surat yang sudah dia hafalkan sebelumnya, biasanya Hawa juga akan ikut menghafal jika tidak sedang malas.
Aisyah suka menghafal bukan atas dasar impiannya juga yang ingin ke Turky namun dia telah membaca faidah dari menghafal al-quran itu apa saja dan dia juga sering mendengarkan Fatimah bercerita kisah nabi dan faidah dari menghafal hal itu menambah dirinya untuk menghafal.
"Syah, apakah orangtua lo menekan kan untuk menghafal al-quran?" tanya Hawa karena dia yakin bahwa di rumah juga Aisyah rajin menghafal.
Aisyah diam lalu tersenyum, "Tidak, hanya saja aku suka iri dengan kakak gue yang sudah hafal al-quran aku juga ingin ke Turky"
Hawa menepuk bahu Aisyah pelan, "Wahh kakak lo memang keren Syah bisa lanjut pendidikan ke luar negeri," seru Hawa yang merasa kagum juga dengan Ka Katya.
"Semoga gue juga bisa nyusul ya," ujar Aisyah yang tersenyum.
"Aamiin, eh Syah kayanya lo harus perbaiki deh cara berbicaranya." Fatimah merasa ada yang aneh saat mendengar sahabatnya berbicara.
Aisyah kaget begitu pun dengan Hawa, "Hah? apa yang salah dengan cara bicara gue?" tanya Aisyah dengan menunjuk dirinya.
"Coba deh jangan ngomong lo gue! aku pastikan ketika kita sudah terbiasa dengan panggilan itu akan susah dirubahnya sama aku juga sebenarnya dilarang sama Nyokap tapi ya susah karena faktor lingkungannya juga," jelas Fatimah panjang lebar.
Aisyah dan Hawa tersenyum menyadarinya, "Okey mulai saat ini kita sepakat ya untuk merubah panggilan lo dan gue jadi aku dan kamu," seru Hawa dengan antusias meski dirinya ragu.
"Setuju, aku setuju banget," timpal Aisyah dengan senangnya.
Sebenarnya Aisyah juga sering kena omel Ilham saat memanggil cowok itu dengan panggilan lo padahal menurutnya itu bahasa gaul yang dulunya dia pakai untuk bisa terlihat akrab dengan teman-temannya yang lain pada akhirnya dia juga harus menghilangkan panggilan itu.