Seni Seviyorum Aisyah
Haruskah Aku Menjauh?
"Wahh bagus banget ya," seru Hawa dengan mencoba memakai baju pantai yang berlengan panjang.
Begitu pun dengan Aisyah yang langsung mencobanya dia takut akan kekecilan jika tidak dicoba terlebih dahulu, "Pas kan ya buat aku?"
"Pas kok ya sudah langsung bungkus saja gitu setelah ini kita berfoto di pantai ya ada sunset loh!" kata Fatimah yang ingin selalu berfoto dengan sunset apalagi sekarang sedang berada di pantai.
"Sebentar aku mau beli sesuatu dulu." Hawa pergi menuju tempat gantungan dan gelang tangan.
Melihat kepergian Hawa, Fatimah dan yang lain pun menyibukan diri dengan baju yang akan mereka beli setelah melakukan negosiasi dengan si penjual akhirnya mereka bisa membawanya pulang dan menyusul Hawa yang masih berada di tempat yang sama.
"Kamu mau beli apa Hawa?" tanya Raya dengan menepuk bahu sahabatnya itu pelan.
Hawa masih sibuk memilih gelang yang akan dia beli, "Aku mau beli gelang, kalau kalian mau ambil saja tapi bayar sendiri ya hehe," sahut Hawa dengan terkekeh puas.
Fatimah memutarkan bola matanya jengah, "Pasti buat si Raka ya kan?" celetuknya.
Mendengar itu Hawa langsung terkekeh, "Maaf ya gays aku mau beliin dia gelang biar couple gitu loh."
"Kasihan banget sih kamu Haw gimana kalau Raka tidak menyukai kamu tahu sendiri kan kamu Raka itu cowok yang pemilih dalam menjalin hubungan meskipun banyak cewek yang didekati tapi gak pernah tuh dengar ada yang sampai jadian," cibir Raya yang merasa prihatin melihat sahabatnya itu.
Seketika tangan Raya langsung dipegang oleh Aisyah ditariknya pun tubuh sahabatnya itu, "Syutt gak boleh ngomong gitu itu artinya sama saja kamu telah mematangkan perjuangan Hawa sudah biarkan saja."
Raya menarik dirinya kembali, "Tapi kan Syah aku hanya merasa kasihan saja melihatnya."
Fatimah berdecak pinggang sembari melihat gelang yang bermacam-macam jenis itu, dulu dia memang suka memakai gelang tapi sekarang rasanya berbeda jika dia memakainya di tangan.
"Kau mau beli gelang Fat?" tanya Aisyah memandang Fatimah yang pokus memperhatikan gelang itu.
"Hemm kaga aku gak beli aku cuma lihat-lihat saja," sahut Fatimah yang kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Biasanya suka banget ngoleksi gelang wkwk," ujar Raya dia pernah melihat di kamarnya Fatimah banyak sekali gelang dengan berbagai model kadang juga Fatimah suka memberinya jika sedang bosan memakai gelang.
"Itu dulu sekarang gue berubah, dahlah ayo foto-foto lagi!" seru Fatimah berjalan lebih dulu meninggalkan yang lain.
Setelah melakukan transaksi mereka pun pergi kembali mancari makanan karena perut mereka sudah terasa lapar lagi.
"Kayanya beli batagor aja deh sudah sore loh nanti mau pulang jam berapa?" ujar Aisyah yang masih merasa kenyang.
Fatimah pun mengangguk, " Ya sudah yuk ke sana!"
Udara pantai terasa sangat menyejukan, beberapa kali hijab yang Aisyah gunakan berterbangan dan berbentuk acak-acakan.
Raya asik menikmati pemandangan pantai yang begitu indah, Hawa masih sibuk bermain ponsel sedangkan Aisyah beberapa kali berbicara atau bermain dengan kura-kura peliharan barunya itu.
Saat senja sudah terlihat Fatimah bergegas mengambil foto dirinya bersama sahabat-sahabatnya itu, Hawa pun mengajak untuk membuat tik-tok bersama sahabatnya itu.
Tiba-tiba ponsel Aisyah berdering menampilakn panggilan dari Fahri tanpa nunggu lama Aisyah pun menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Ada apa Ri kanapa menelpoku tiba-tiba?" tanya Aisyah dengan kening yang mengkerut.
"Syah aku ingin mengajakmu pergi bisa?"
'Deg kenapa lagi ini padahal dia ingin menghindar dari semua laki-laki yang mencoba mendekatinya rasanya tuh takut aja, dia takut membuat Fahri merasa bahwa sikapnya itu memberikan peluang untuknya bisa masuk ke hatinya'
"Kapan?"
"Terserah kamu bisanya kapan nanti aku tinggal jemput." Dengan entengnya Fahri berkata seperti itu.
Bagaimana pun Aisyah selalu merasa tidak enak hati dengan Fahri apalagi dia anak dari Guru pengajiannya, Fatimah memandang Aisyah setelah menutup teleponnya.
"Fahri?" tebak Fatimah melihat dari raut wajah Aisyah dan percakapan singkat sahabatnya itu tadi di via telepon.
Aisyah mengangguk pelan lalu kembali menatap kura-kura miliknya itu seperti apapun Aisyah menyembunyikan perasaannya Fatimah akan tahu dan bisa membaca itu semua.
Didekatilah sahabatnya itu, "Ada apa? kok murung gitu mukanya."
"Aku rasa ini adalah hari terakhir aku bisa berkumpul dengan kalian, aku lelah menahan semuanya sendiri bukan maksudku untuk melupakan kalian namun aku hanya ingin menyendiri saja ada banyak wawancara dan persiapan untuk bisa kuliah di Turky tinggal satu minggu lagi." Aisyah tersenyum mengingatnya. "Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku," serunya sembari memandang Fatimah dengan tersenyum hangat ke arahnya.
Dipeluknya tubuh mungil Aisyah oleh Fatimah, derai air mata jatuh membasahi pipinya bagaimana mungkin dia bisa ditinggalkan begitu saja oleh Aisyah dia tahu waktu Aisyah untuk terus bersama tinggal sedikit tapi bukan berarti Aisyah bisa menjauh darinya begitu saja bukan?
Fatimah berbisik tepat di dekat telinga Aisyah, "Jangan tinggalin aku Syah, kamu tahu sendiri kan di sini, aku cuma punya kamu seorang jadi jangan coba-coba menjauh dari aku."
"Aku tidak akan menjauh darimu kok aku hanya ingin menjauh dari dia dan mereka yang sudah membuatku selalu terluka," terang Aisyah sembari tersenyum.
Sudah tiga pesan dari Raka yang Aisyah abaikan begitu saja dia tidak ingin berkaitan dengan cowok itu yang hanya akan menghancurkan persahabatannya saja 'Raka memang cowok yang baik dia pantas mendapatkan Hawa, mereka sama-sama pintar dalam hal akademik' gumam Aisyah menyadarkan dirinya yang tidak pantas untuk Raka.
Setelah beberapa kali mengambil foto dengan sunset di tengah-tengah pantai akhirnya Fatimah pun mengajak sahabatnya untuk pulang, kini yang membawa mobil bergantian karena tentu saja Fatimah akan merasa kelelahan jadi bergantian dengan Hawa.
Raya memilih untuk mendengarkan musik sedangkan Aisyah masih mendengarkan lantunan ayat suci dari ponselnya, Fatimah sendiri sibuk dengan ponselnya membalaskan pesan dari seseorang.
"Haw, kamu tidak lelah?" tanya Aisyah membuka percakapan sudah satu bulan mereka jarang mengobrol berdua.
Sampai saat ini Hawa masih belum tahu tentang perasaan Aisyah tapi dia tahu bagaimana perasaan Raka kepada Aisyah hal itulah yang membuatnya kesal jika melihat Aisyah dekat dengan Raka bahkan jika memang mereka sampai berpacaran tentu saja Hawa akan membenci Aisyah tapi untung saja sahabatnya itu yang patuh dengan agama dan memegang penuh pendiriannya untuk tidak berpacaran membuatnya bisa bernapas lega.
"Aku sudah biasa naik mobil Syah, kamu tidak tidur?" tanya Hawa dengan pandangan yang masih pokus menatap jalanan.
"Belum mengantuk, apakah ada sesuatu yang kau katakan tentang diriku Haw?" Aisyah sengaja memancing sahabatnya itu untuk berterus terang kepadanya.
'Apakah Aisyah ingin aku mengatakan bahwa Raka juga menyukainya? hah yang benar saja kau Aisyah, aku tidak akan membiarkan dia dimiliki olehmu yang berstatus sahabatku sendiri itu sunggu menyakitkan' pekik Hawa.
Seketika Hawa menggelengkan kepalanya, "Memangnya ada sesuatu yang harus aku katakan kepadamu?"
"Tak tahu aku hanya bertanya saja tidak baik bukan saling menyimpan rahasia dengan sahabat tapi jika kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pun tidak masalah itu privasi kamu," tukas Aisyah sembari tersenyum simpul wajahnya nampak nanar.
Bagaimana pun Aisyah berharap Hawa mau jujur kepadanya akan perasaannya dan hubungannya dengan Raka tapi nyatanya sahabatnya itu memilih untuk bungkam dan membiarkan dirinya pergi.
Karena tidak ada yang mau Aisyah katakan lagi cewek itu pun memilih untuk memejamkan matanya sembari mendengarkan lantunan ayat suci al-quran yang terdengar dari handset miliknya, sebelum itu Aisyah menoleh ke bangku belakang yang ternyata Raya dan Fatimah pun sudah terpejam lebih dulu.
'Mungkin aku harus menjauh juga darimu Hawa aku ingin kau menyadari akan perbuatanmu ini kepadaku, jika aku egois aku akan membencimu tapi nyatanya aku menyimpan luka ini dengan diam.'