Seni Seviyorum Aisyah
B-day Fatimah
Perjalanan pulang yang begitu melelahkan, Fatimah harus mengantar sahabat-sahabatnya pulang ke rumah untung saja jarak mereka tidak jauh-jauh dan yang terakhir adalah Raya.
"Makasih ya Fat atas semuanya," ujar Raya sambil tersenyum lebar, dia merasa bersyukur karena selama jalan-jalan Fatimah yang memberikan uang jajan untuk oleh-oleh orangtuanya.
"Sama-sama, jangan lupa datang lebih awal ke rumahku besok ya?" Fatimah mengingatkan janji Raya dulu.
Raya mengangguk paham. "Iya aku gak akan lupa kok tenang aja besok aku akan buat kamu seperti Barbie yang cantik," katanya seraya tersenyum.
"Oke kalau gitu aku pulang dulu ya bye!" Fatimah melambaikan tangannya sebelum menancapkan gas mobilnya.
"Hati-hati Fat!!" teriak Raya dia sangat begitu menyayangi sahabat-sahabatnya itu dia tidak mau terjadi apa-apa kepada mereka.
Pagi harinya Aisyah masih tertidur dengan pulas di kasurnya, sinar mentari pagi pun tidak dapat menganggunya sebab dia sudah menutup hordeng kamarnya dan mematikan lampunya agar tidak seorang pun dapat menganggunya.
Prisly adalah Mamah Fatimah yang sudah pulang dari Singapura bersama suaminya untuk mengadakan pesta ulang tahun putri kesayangannya yang ke 19 tahun, sudah hampir 5 bulan terakhir mereka tidak mengunjungi anaknya itu.
"Thanks you Mah, Pah sudah mau pulang untukku." Fatimah memeluk ke dua orangtuanya itu dengan sayang, rasa rindu yang kerap hadir kini telah terobati.
"Kakak, apakah kakak mau menemaniku jalan-jalan?" ujar gadis kecil yang begitu cantik dia bernama Yulia merajuk kepada sang kakak.
Fatimah menunduk mengusap lembut rambut adiknya itu, "Baiklah nanti kakak akan ajak kamu jalan-jalan ya."
Perkataan Fatimah mampu membuat Yulia tersenyum senang ke dua orangtua Fatimah pun menyuruh mereka untuk pergi bermain sebab mereka ingin membuat kejutan buat Fatimah.
"Aku ajak Yulia ke rumah Aisyah ya Mah," seru Fatimah sembari membawa oleh-oleh yang dibawakan oleh ke dua orangtuanya khusus untuk Aisyah.
Fatimah selalu bercerita bahwa Aisyahlah yang selalu menemaninya bahkan di saat dia sedang dalam masalah karena itu orangtuanya membawakan oleh-oleh khusus untuk Aisyah beserta keluarganya.
Saat di jalan Fatimah menelpon sahabatnya itu dulu sebelum langsung menuju rumahnya takut jika Aisyah sedang tidak ada di rumahnya.
"Assalamualaikum Syah," seru Fatimah saat teleponnya sudah terhubung.
Aisyah yang memang baru bangun kaget melihat Fatimah menelponnya, "Waalaikumsalam, iya Fat ada apa?"
"Kamu lagi di mana? aku mau ke rumah nih." Dengan sengaja Fatimah menyembunyikan bahwa dia datang bersama dengan adiknya.
"Ya sudah buruan ke rumah aku tunggu!"
Setelah mendengar bahwa Aisyah sedang berada di rumah Fatimah pun segera menjalankan mobilnya kembali sedangkan adiknya asik bermain game di ponsel miliknya, sungguh tidak sabar Fatimah ingin melihat reaksi sahabatnya itu saat melihat adiknya yang selalu dia ceritakan.
Begitu pun Aisyah yang langsung beranjak dari kasurnya bersiap-siap takut Fatimah datang lebih cepat dari perkiraannya, rasa kantuk masih menyelimuti dirinya terasa sangat pegal-pegal di bagian kaki dan tubuhnya dia pun terus menerus menguap diiringin dengan derai air mata yang membendung di kelopak matanya.
Air dari shower terasa sangat dingin sekali membuat Aisyah tidak berani menyentuhnya sebelum menguatkan diri untuk langsung mandi dan bergegas untuk merapihkan dirinya, dirasakannya tubuhnya begitu dingin dan mengigil akhirnya Aisyah pun memutuskan untuk segera selesai.
Tok ... tok ... tok
Terdengar pintu yang diketuk dari luar sana, saat Aisyah keluar dari kamar mandi dia pun langsung membukaan pintu tersebut.
"Sayang, kamu baru selesai mandi?" ujar Adiba sembari meraih wajah putrinya itu dengan lembut.
Aisyah mengangguk mengiyakan ucapan Bundanya itu.
"Ada Fatimah di ruang tamu," kata Adiba memberitahu akan kedatangan sahabat anaknya itu.
"Hah? dia sudah datang, ya sudah Bun suruh tunggu dulu gitu aku mau merapihkan pakaianku." Aisyah pun menutup pintu setelah meminta tolong untuk menyampaikan pesannya kepada sahabatnya itu.
Hari ini Aisyah berniat untuk membaca buku siangnya dia akan menghadiri acara ulang tahun Fatimah lalu sorenya dia akan mengajar ngaji di TPA dan malamnya dia berniat untuk menemui Ameera begitu banyak sekali janjinya untuk orang-orang terdekatnya.
"Fatimahh!!" teriak Aisyah begitu melihat sahabatnya itu yang sedang duduk santai di ruang tamu.
Saat Aisyah melihat seorang anak kecil yang begitu cantik dengan warna rambut yang coklat emas keningnya mengerut alisnya sedikit terangkat pikirannya berusaha menebak-nebak anak siapa yang sahabatnya bawa itu.
"Ini anak siapa Fat?" tanya Aisyah sembari menunjuk anak kecil yang berwajah cantik itu.
Fatimah tersenyum hangat kepada Aisyah sudah dia duga bahwa Aisyah tidak mengenal adiknya kini, "Ini adikku Aisyah kau tidak mengenalnya."
"Hah seriusan ini adik kamu, siapa namanya aku lupa Fat?" ujar Aisyah yang mendadak jadi heboh dia duduk di dekat adiknya Fatimah.
"Yulia Syah, dulu kau melihatnya waktu dia masih umur 3 tahun ya? coba lihat wajahnya mirip siapa Syah?" seru Fatimah mendekatkan wajahnya dengan wajah Yulia.
Aisyah mengangkat tangannya dan memandang ke duanya dengan saksama, "Sepertinya dia lebih cantik dari pada kamu Fat, hidungnya sangat mancung dan wajahnya begitu cantik di usianya."
Mendengar ucapan Aisyah membuat Fatimah berdecak sebal dia memang menyadari akan hal itu tapi dia juga ingin seseorang mengatakan bahwa adiknya itu mirip dengannya tetapi nyatanya adiknya lebih mirip dengan Mamahnya sendiri.
"Sudahlah, nih aku datang untuk memberikan oleh-oleh dari Singapura Mamah sengaja membeli ini untuk kamu, terimalah!" Fatimah memberikan bingkisan yang berupa: Coklat merlion, bakkwa dan royal pudding original.
Dengan senang hati Aisyah menerimanya, "Ah terima kasih banyak sampaikan salamku untuk Mamah ya!"
"Jangan lupa datang ya aku akan sangat sedih bila kau tidak datang di hari bahagiaku," lirih Fatimah dengan wajahnya yang begitu nelangsa Aisyah adalah salah satu orang yang dia harapkan untuk hadir di hari bahagianya.
Jujur saja sebetulnya Aisyah ingin mengerjai sahabatnya itu namun tidak dengan cara berbohong, "Baiklah aku pasti akan hadir kok," katanya sembari tersenyum ramah.
Setelah mengobrol sebentar Fatimah memutuskan untuk pulang karena adiknya ingin pergi ke mall bahkan Aisyah sendiri pun tidak bisa mengobrol lama-lama dengan Fatimah dia harus menyiapkan kado untuk sahabat baiknya itu.
"Hati-hati ya, see you!" seru Aisyah sembari melambaikan tangannya kepada Fatimah yang hendak menjalankan mobilnya.
Sudah dua minggu Haris sangat sibuk dengan bisnis barunya jadi dia menyerahkan semuanya kepada istrinya baik urusan rumah maupun dalam hal yang bersangkutan dengan Aisyah anak perempuannya.
"Bunda apakah Bunda juga akan datang?" tanya Aisyah saat Bundanya datang ke ruang membacanya.
Adiba yang memang mau menanyakan kepergian anaknya itu pun sudah bisa ditebak, "Insya Allah Bunda akan datang menemanimu tadi Prisly juga mengundang Bunda untuk datang bersamamu itu membuat Bunda tidak enak jika tidak datang apalagi mereka baru sampai kan?"
Aisyah masih pokus dengan buku yang dia baca meski Bundanya mengajak dirinya untuk mengobrol, "Baiklah orangtua sahabat-sahabatku juga pasti akan datang."
"Ya sudah nanti kita pergi bersama Pak Ujang ya," ujar Adiba sebelum meninggalkan anaknya itu.
Bagaimana pun Aisyah harus menyelesaikan buku bacaannya ini sebagai referensi tugasnya dan dia juga sedang menulis sebuah cerita yang akan dijadikan buku sebagai kisah perjalanan hidupnya selama ini.
Rumah Fatimah pun sudah penuh dengan hiasan, begitu mewah karena rumah Fatimah pun yang begitu besar dan luas perayaan ulang tahun ini di adakan di halaman belakang rumah Fatimah yang mana terdapat kolam renangnya semuanya sudah dihias dengan begitu cantik.
"Happy birthday Fatimah," seru Raya seraya memeluk sahabatnya itu. "Wish you all the best my friend," bisiknya tepat di dekat telinga Fatimah.
Hawa pun ikut berhambur dalam pelukan Fatimah, "Happy brithday my friend semoga panjang umur sehat selalu dan semoga apa yang diimpikan segera terwujud you are my the best friend."
Begitu Aisyah datang Fatimah langsung menyambutnya dengan hangat, "Kenapa baru datang Syah, aku sungguh begitu gugup sekarang, bagaimana penampilanku?" tanyanya.
"Kamu begitu cantik Fat," seru Aisyah seraya tersenyum lebar.
Raya ikut senang mendengarnya karena hari ini dia berhasil merubah Fatimah menjadi begitu cantik dihari special nya.
Ya Aisyah tahu apa yang akan terjadi di hari ulang tahun Fatimah hingga membuat sahabatnya ini merasa begitu gugup dan sedikit cemas walaupun ini hari bahagianya.
"Happy brithday Fatimah sayang, aku hanya berharap semoga Tuhan selalu memberikanmu kesehatan, umur yang panjang dan dimudahkan dalam segala urusannya wish you all the best," ujar Aisyah dengan tersenyum bahagia. "Berbahagilah di hari yang special ini."
Air mata haru tidak bisa ditahannya sehingga dia menangis dipelukan sahabatnya itu, "Terima kasih banyak kalian sudah mau hadir di acaraku ini aku begitu senang melihat kalian."
"Its okey Fatimah, jangan bersedih ini hari bahagiamu tersenyumlah!" kata Hawa sembari meraih bibir Fatimah untuk tersenyum.
Perayaan ulang tahun yang begitu meriah, semua hadir dengan pakaian yang elegan para tamu undangan ke dua orangtua Fatimah sengaja dipisahkan dari para teman dan sahabat Fatimah sendiri.
"Yuk kesana kita ambil minum dulu," tukas Fatimah mengandeng tangan Raya dan Aisyah.
Di saat semua asik menikmati hidangan, Aisyah melihat Fatimah yang sedang sibuk menerima tamu undangannya baik dari teman sekolah, club', dan kerabat keluarganya.
"Syah!" tegur Ilham seraya menepuk bahu Aisyah.
Tentu saja membuat gadis anggun yang memakai dress muslimah berwarna cream dengan kerudung yang diikat di belakang itu terkejut dan menoleh. "Astaghfirulloh Ilham, kirain siapa," gerutunya.
"Sini gue mau ngomong sama Lo," ajak Ilham ke tempat yang jauh dari keramaian dan musik.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk mereka berdua berbicara tapi saat ini tidak ada waktu untuk Aisyah dapat bertemu dengan Ilham dilain hari, mereka sama-sama sibuk jika bukan di sekolah mereka jarak bertemu kecuali secara kebetulan.
Aqila juga hadir pada acara ini karena Fatimah juga begitu kenal dengan saudaranya Aisyah yang satu itu, sore ini Aisyah belum melihat Raka meski dia tahu cowok itu pasti akan datang.
Sudah hampir satu Minggu sejak sekolah libur Aisyah jarak bertemu dengan Raka atau bertukar kabar terakhir chattingan kemarin cuma Aisyah belum membalasnya, dia menggantungkan perasannya sendiri dan memilih untuk menjauh dari cowok itu.
#Sedikit informasi jika cerita ini masih panjang, nanti kelanjutan ada di judul 'Merhaba Aisyah' ya, jangan lupa untuk terus baca cerita kelanjutannya Raka, Aisyah dan Hawa?