Sebelum Kau Pergi Lagi

KAMU LEBIH PENTING

Kami sampai rumah. Rio memeriksa sekitar lebih dulu, memastikan tidak ada mobil asing atau orang mencurigakan. Saat ia yakin aman, barulah ia mempersilakan aku turun.

“Ayo masuk.”

Begitu pintu tertutup, Rio langsung menyalakan mode pengamanan yang tidak pernah kupikir akan kulihat: ia menutup gorden, mengunci pintu dua kali, bahkan mematikan lampu depan. Seakan media bisa muncul kapan saja.

Aku berdiri di ruang tamu, mengusap lenganku sendiri untuk meredakan gemetar.

Rio berbalik dan mendekat pelan. “Kinan.”

Aku menatapnya.

“Aku tahu kamu takut. Tapi kamu tidak sendiri.”

“…aku tahu.”

Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan layar. Puluhan notifikasi berita bermunculan. Sebagian judulnya membuat perutku mulas:

 “Identitas Istri Rio Basupati Terungkap? Warga Lampung Ungkap Nama!”

 “Rumah Sederhana Diduga Tempat Rio Sembunyikan Istri.”

 “Siapa Kinan? Wanita Lokal yang Menarik Perhatian Sutradara A-List!”

Aku merasa mual.

Rio mematikan layar cepat. “Jangan lihat yang lain.”

“Rio…” suaraku pecah. “Kenapa mereka sampai tahu rumahku?”

Ia mendekat satu langkah lagi. “Aku akan cari tahu.”

“Bagaimana kalau mereka datang kemari?”

“Mereka tidak akan masuk.”

Aku menutupi wajah dengan kedua tangan. “Ini salah. Ini semua salah—”

“Kin.”

Rio memegang lenganku.

“Lihat aku.”

Aku membuka mata perlahan. Rio mendekat sedikit, menunduk agar sejajar dengan mataku.

“Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”

Air mataku jatuh.

“Aku yang salah,” katanya lirih.

“Aku harusnya bisa melindungi kamu lebih baik.”

Aku menggeleng kuat. “Bukan salahmu.”

“Tapi kamu yang kena dampaknya.”

Aku mengusap ujung hidung. “Aku nggak apa-apa. Aku cuma takut untuk orang lain.”

Rio menatapku lama, lalu mengangguk. “Oke. Kita hadapi ini bareng-bareng.”

Kata bareng-bareng itu menghantamku lebih kuat daripada ketakutan.

Aku menarik napas. “Apa yang harus kita lakukan?”

Rio hanya berkata satu kalimat:

“Aku harus bicara dengan manajerku… dan mungkin dengan Nadine.”

Perutku menegang spontan.

Aku menahan suara agar tidak goyah. “Kenapa harus Nadine?”

Rio menatap lantai sesaat sebelum menjawab.

“Karena orang-orang pasti akan menghubungkannya dengan ini.”

Aku tidak mengerti sepenuhnya. Tapi aku tahu nada itu: nada seseorang yang ingin melindungi tapi juga menyimpan sesuatu.

Sesuatu yang mungkin belum siap ia jelaskan.

Rio menyentuh bahuku sekali, ringan. “Aku telepon dari sini saja. Biar kamu tahu semua.”

Aku mengangguk.

“Aku tidak akan sembunyikan apa pun dari kamu.”

Dadaku kembali terasa dicubit.

Rio membuka ponselnya dan memutar nomor.

Nama yang muncul di layar membuatku ingin berhenti bernapas.

Nadine – Calling…

Aku berdiri kaku. Rio menghirup napas dalam-dalam sebelum mengangkat.

“Halo, Nadine.”

Suara di ujung telepon samar, tapi cukup jelas, “Kamu serius sudah menikah?”

Darahku mendingin.

“Dan kenapa aku tahu dari media, bukan dari kamu?”

Rio menutup mata sejenak. “Ini bukan saatnya membahas itu.”

“Rio, aku butuh kamu jelasin sebelum semuanya makin buruk.”

“Stop,” Rio memotong tegas.

“Aku menikah. Dan itu bukan urusan kamu.”

Aku membeku.

Hening panjang terdengar dari ponsel.

Rio menambahkan, lebih pelan, “Dan jangan hubungi Kinan. Jangan coba-coba mendekati rumahnya. Jangan cari dia.”

“Aku tidak—Rio, kamu pikir aku apa?”

Suara Nadine terdengar marah sekaligus… terluka.

“Aku bilang jangan.”

Kemudian Rio menutup telepon, tanpa menunggu balasan.

Ia menatapku. Lama. “Sudah.”

Aku menelan napas gemetar. “Kamu menjauhkan dia?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena kamu yang penting sekarang.”

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan emosi yang menerobos tiba-tiba.

Rio mengambil satu langkah mendekat.

“Dan mulai hari ini, aku tidak akan biarkan siapa pun merusak hidupmu.”

***

 

POV Rio

 

Aku tidak terbiasa merasa tak berdaya. Biasanya, jika ada masalah dalam pekerjaanku—jadwal bentrok, rumor, fitnah, bahkan skandal—aku bisa mengatur arah narasi. Aku punya asisten, punya humas, punya tim media. Hidup publikku selama ini adalah sebuah panggung yang kutahu cara mengendalikannya.

Tapi sekarang berbeda. Karena untuk pertama kalinya yang diserang bukan aku. Melainkan Kinan. Perempuan yang bukan bagian dari dunia ini. Perempuan yang tidak punya tameng apa pun. Perempuan yang hanya ingin hidup tenang di rumah kecilnya. Dan semua ini terjadi karena aku membawa dia masuk ke hidupku.

Aku menatap Kinan yang duduk di sofa. Ia terlihat jauh lebih kecil dari biasanya. Bahunya sedikit turun, tangan di pangkuan, dan matanya takut. Bukan takut pada media. Tapi takut pada apa yang akan terjadi pada hidup kami setelah ini.

“Kinan,” panggilku pelan.

“Hm?”

“Aku mau kamu dengarkan ini baik-baik.”

Dia menatapku, jelas berusaha tegar.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu,” kataku.

“Aku akan menjaga rumah ini. Keluargamu. Semuanya.”

Kinan mengangguk pelan. Tapi ketakutannya tidak hilang.

“Boleh aku lihat ponsel kamu?” tanyaku.

Dia memberikannya tanpa protes. Aku menyalakan layar. Puluhan notifikasi masuk.

Media mencari alamat lengkap Kinan Rumana.

Foto rumah sederhana yang diduga tempat tinggal istri Rio.

Is this the mystery woman?

Netizen menemukan akun lama Kinan.

Aku mengembuskan napas berat. “Tutup semua akunmu sementara.”

“Baik.”

Aku membantu membuka pengaturan. Kinan tidak berkata apa-apa selain satu kalimat lirih saat aku menghapus akses publik akun lamanya:

“Aku takut bikin hidupmu makin sulit.”

Aku berhenti dan menatapnya.

“Kamu bukan masalah.”

Nada suaraku menurun.

“Kamu alasan aku melawan masalah.”

Kinan menunduk, wajahnya memerah pelan. Tapi ketegangan tidak benar-benar hilang. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya.

Dan hal itu membuatku semakin ingin melindunginya.

***

 

POV Kinan

 

Entah kenapa, melihat Rio begitu protektif tidak membuatku merasa tersudut. Justru membuatku takut pada sesuatu yang lebih dalam. Takut bahwa aku mulai bergantung.

Aku bukan tipe perempuan yang mudah bersandar pada orang lain. Selama hidup, aku selalu menyelesaikan masalah sendiri. Tidak suka merepotkan. Tidak suka terlihat lemah. Tapi sekarang—di tengah kekacauan terbesar yang mungkin pernah terjadi dalam hidupku—orang pertama yang terlintas di kepalaku hanya Rio.

Dan itu menakutkan. Sangat menakutkan.

“Apa kita harus pergi dari sini?” tanyaku pelan.

Rio menoleh cepat. “Tidak. Ini rumah kamu.”

“Tapi wartawan bisa datang kapan saja.”

“Aku bilang tidak.”

Nada suaranya tajam, tapi bukan marah. Lebih seperti melindungi.

Lalu ia mendekat dan berlutut sedikit, agar sejajar denganku.

“Kinan, kalau kamu pergi, kamu akan merasa dikejar. Dan aku tidak mau kamu lari dari hidupmu sendiri.”

Aku menggigit bibir. “Tapi kalau mereka datang…”

Rio menggeleng. “Aku akan ada di sini.”

“Kalau mereka cari keluargaku?”

“Aku akan bicara dengan mereka sebelum siapa pun lain melakukannya.”

Mataku panas.

Rio menyentuh tanganku. Bukan menggenggam. Hanya menyentuh. Lembut.

“Aku tahu kamu takut,” bisiknya. “Aku juga takut.”

Aku mengerjap. “Kamu takut?”

“Ya.”

Ia menatapku lama.

“Takut kehilangan kamu.”

Jantungku berhenti sejenak.

Aku harus mengalihkan pembicaraan sebelum emosiku meledak. “Rio… soal Nadine...”

“Aku tidak mau bicara soal dia.”

“Tapi dia bagian dari hidupmu.”

“Dan kamu juga,” potongnya, lebih keras dari yang ia niatkan. “Bahkan… mungkin bagian yang lebih penting.”

Dadaku berdenyut keras.

Rio menutup wajah dengan tangan, menarik napas panjang. “Maaf. Aku… terlalu banyak berkata jujur hari ini.”

Aku tidak bilang apa pun. Karena jika aku bicara, aku takut apa yang keluar dari mulutku adalah hal yang tidak bisa kutarik kembali.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!