Sebelum Kau Pergi Lagi
KAMU AMAN
POV: Rio
Pagi dimulai dengan udara yang jernih, tapi suasana hatiku—dan mungkin juga Kinan—tidak sesederhana itu. Ada sesuatu yang berubah sejak percakapan kemarin. Bukan perubahan besar, bukan ledakan emosi, tapi seperti tarikan halus yang menuntun kami bergerak sedikit lebih dekat daripada sebelumnya.
Aku menemukan Kinan di dapur, menyiapkan sarapan dengan gerakan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Rambutnya diikat rendah, wajahnya tanpa riasan, dan ia memakai hoodie yang kemarin kuberikan kembali padanya, yang kini entah kenapa terlihat seperti tanda kecil bahwa kami berada di halaman yang sama.
“Pagi,” kataku.
Kinan menoleh sambil menyendok nasi panas. “Pagi.”
“Kamu tidur nyenyak?”
Dia mengangguk. “Kamu juga?”
Aku tersenyum kecil. “Lumayan. Sofa kamu keras.”
Kinan tertawa kecil. “Makanya pindah ke kamar tamu, bukan tidur di sofa.”
“Kalau kamu nyaman aku di sofa, aku tetap di sofa.”
Kinan menatapku sebentar. “Aku nyaman kamu di rumah ini.”
Dan aku tidak bisa menahan senyum yang lebih lebar dari seharusnya. Kalimat kecil, tapi artinya terlalu besar.
Kami makan dalam hening yang mudah, hening yang tidak lagi dipenuhi kekhawatiran, melainkan kehadiran yang diterima.
Namun, ketenangan itu tidak lama bertahan. Ponselku bergetar di meja. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi berkali-kali. Aku mengerling ke layar, dan napasku turun.
Tiga panggilan tak terjawab dari Nadine. Tujuh notifikasi pesan dari media entertainment. Dua pesan dari manajerku.
Kinan memperhatikan perubahan rautku. “Ada apa?”
Aku mengunci ponsel. “Tidak ada apa-apa.”
“Kamu yakin?”
“Ya.”
Aku berdiri. “Aku mandi sebentar.”
Tapi sebenarnya aku ingin menjauh untuk meredakan denyut keras di dada.
Media.
Nadine.
Tekanan dari dunia luar.
Semuanya datang di hari yang salah.
***
POV: Kinan
Rio kembali setelah mandi dengan rambut yang masih basah dan T-shirt yang baru. Tapi wajahnya masih menyimpan kegelisahan samar, berbeda dengan Rio yang kutemui sejak pagi.
“Kita jadi ke lokasi riset?” tanyaku.
“Jadi,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.
“Ada masalah?” pancingku halus.
Rio diam sejenak, lalu mengambil jaketnya. “Bukan masalah. Cuma gangguan.”
Gangguan.
Dari siapa?
Tapi aku memilih tidak memaksa. Kami keluar rumah dan masuk mobil. Namun sepanjang perjalanan, Rio beberapa kali melirik ponselnya, walau ia tidak membukanya.
“Ada yang penting?”
Tidak ada jawaban.
Lalu akhirnya—dengan suara berat yang jarang ku dengar—dia berkata,
“Nadine mencoba menghubungiku lagi.”
Aku mengangguk pelan. Biasa saja. Seharusnya biasa saja. Tapi ada sesuatu yang menyengat di dada.
“Kamu mau telepon balik?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Ia melirikku singkat. “Karena aku tidak ingin dia mengganggu kita.”
Kata ‘kita’ membuat tenggorokanku menegang. Tapi aku tidak mengomentarinya. Aku hanya menatap jendela, berusaha mengatur napas yang tiba-tiba tidak beraturan.
Rio melanjutkan, lebih pelan, “Dia bukan masalah kalau aku tidak memberi ruang.”
Aku menoleh. “Dan kamu tidak mau memberi ruang?”
“Kamu masih tanya?” Ia mendengus pelan. “Kinan, aku bahkan tidak ingin membuka pesannya.”
Aku tidak punya jawaban yang cukup baik untuk itu. Aku cuma mengangguk.
Kami tiba di lokasi perkebunan lain yang menjadi bagian dari riset Rio. Kali ini, tempatnya lebih luas, lebih teratur, dan lebih ramai oleh pekerja. Rio menjadi Rio yang profesional, banyak bertanya, banyak mencatat, tapi ia tetap memperhatikan keberadaanku.
Terlalu sering, menurutku.
Setiap kali aku berdiri terlalu jauh, dia menoleh. Setiap kali aku terpeleset sedikit, dia langsung memegang lenganku. Setiap kali ada anjing penjaga lewat, dia berdiri sedikit lebih dekat. Dan itu tidak membuatku merasa tidak nyaman.
Justru membuatku merasa dilindungi. Dan itu bukannya membuatku lebih aman. Justru lebih takut.
Saat kami sedang berdiri di dekat area pemilahan biji kopi, seorang pekerja menghampiri kami sambil memegang wadah biji kering.
“Mas Rio, ini mau difoto?”
Rio mengangguk. “Iya, sebentar.”
Aku mengambil jarak, membiarkan ia bekerja.
Namun saat Rio sedang memotret, seorang pria paruh baya—entah dari mana datangnya—tiba-tiba berdiri di sampingku.
“Kinan?”
Aku menoleh. Tidak mengenal wajah itu.
“Iya?”
“Wah, kamu muncul juga akhirnya. Pantesan berita jadi panas.”
Aku menegang. “Berita?”
Pria itu mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan layar.
Saat mataku fokus, seluruh tubuhku membeku.
Di layar tertulis: “RIO BASUPATI MENIKAH DI LAMPUNG?” ada lagi “WANITA MISTERI DI IDENTIFIKASI WARGA SETEMPAT.”
Ada foto rumahku. Ada foto aku dan Rio keluar dari mobil tempo hari. Ada foto kabur Rio di depan kafe Dejavu. Darahku turun dari kepala.
Pria itu tersenyum lebar. “Wah, kamu nih yang jadi istri diam-diamnya Rio? Hebat, hebat…”
Aku membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
Rio yang sejak tadi sibuk tiba-tiba menoleh ke arahku. Ia melihat pria itu. Ia melihat wajahku. Dan dia langsung berlari menghampiri.
“Ada apa?” suaranya tegas.
Pria itu cepat menyimpan ponselnya. “Nggak apa-apa, Mas. Cuma ngomong soal berita. Lagi ramai tuh, Rio Basupati nikah sama orang Lampung. Viral!”
Rio memucat. “Apa tadi?”
Pria itu tertawa. “Wah, Mas Rio belum lihat ya? Media lagi ramai banget bahas...”
“Kinan,” potong Rio, suaranya berubah tajam tapi ditahan. “Kita pergi.”
Aku hanya bisa mengangguk. Rio meraih tanganku—bukan menggenggam erat, tapi cukup untuk memastikan aku tidak jatuh—dan menarikku menjauh.
Begitu kami jauh dari kerumunan, ia berkata, “Kinan, jangan lihat ponselmu dulu.”
Aku berhenti. “Rio, apa yang terjadi?”
Rio menarik napas panjang sebelum menjawab. Suara itu pelan. Tertahan. “Media sudah tahu kita menikah.”
Aku merasa seolah tanah di bawahku ambruk.
Rio memegang bahuku. “Aku akan urus. Aku janji.”
Aku ingin percaya.
Tapi hatiku berdegup seperti ingin pecah.
“Bagaimana mereka bisa tahu rumahku?”
Suaraku bergetar.
Rio terdiam. Rahangnya mengencang.
“Kinan…” Ia menatapku dengan mata yang jauh lebih gelap dari biasanya. “Aku janji tidak akan biarkan mereka sentuh kamu.”
Tapi aku bukan takut pada media.
Aku takut pada apa yang akan terjadi pada kami setelah ini.
Pada bagaimana dunia Rio yang besar dan keras akan bertabrakan dengan hidupku yang kecil.
Dan terutama aku takut pada satu hal. Bahwa setelah ini, kami mungkin tidak akan bisa kembali ke hari-hari tenang yang baru saja kami temukan.
Kami sampai di mobil dalam diam yang berat. Rio membuka pintu untukku, tapi aku ragu sejenak sebelum masuk. Entah kenapa, rasanya seluruh dunia berubah sejak pria tadi menunjukkan berita itu.
Rumahku. Fotoku. Foto Rio. Semuanya terekspos begitu saja.
Rio masuk ke kursi pengemudi dan segera menyalakan mobil, tetapi tidak langsung pergi. Ia menatap setir beberapa detik, seolah sedang menghitung napas.
“Kinan,” katanya pelan, “jangan panik dulu.”
Aku tidak menjawab.
“Dengar aku sebentar.”
Aku tetap diam.
“Kinan, tolong… lihat aku."
Aku akhirnya menoleh. Rio menatapku dengan mata yang jauh lebih cemas daripada yang pernah kulihat darinya.
“Aku akan urus ini,” katanya mantap. “Aku janji.”
Suaranya kuat. Tapi aku bisa melihat bahwa ia sendiri tidak yakin bagaimana harus mengurusnya.
Aku menelan ludah. “Bagaimana media bisa tahu?”
“Entah.” Rahangnya mengencang. “Tapi aku curiga seseorang membocorkannya.”
“Nadine?”
Rio menoleh cepat. “Tidak. Dia... dia bukan orang seperti itu.”
Aku mengangguk pelan. Mungkin benar. Atau mungkin Rio hanya ingin percaya sesuatu.
“Tapi seseorang pasti membocorkannya,” tambahnya.
“Kenapa?” Tanyaku lirih.
“Karena aku selebritas, Kin. Dan semua hal tentang hidupku selalu… punya nilai jual.”
Hatiku menegang.
Rio melanjutkan, lebih pelan, “Dan sekarang… kamu ikut terseret.”
Aku memalingkan wajah ke jendela. “Aku tidak pernah minta menjadi bagian dari dunia itu.”
“Aku tahu.”
Nada suaranya turun.
“Sebab itu aku harus jaga kamu.”
Ucapan itu membuatku menahan napas.
Rio menyalakan mobil, dan kami pergi dari kebun itu sebelum lebih banyak orang memperhatikan. Aku memandang keluar jendela, berusaha menenangkan dada yang terasa sempit. Jalanan desa berliku-liku, tapi pikiranku jauh lebih berputar.
Rio membuka suara ketika kami memasuki jalan raya.
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Kamu takut?”
Aku memejam mata. “…ya.”
Ia mengangguk, seolah sudah menduga jawabannya. “Kamu aman sama aku.”
Kata itu begitu sederhana. Tapi menyentuh terlalu dalam.
****