Sang Pelindung Bumi
Pertarungan Pertama di Bumi
Dinan berlari menuju ke arah monster, bos monster yang masih mengamuk. Dia ingin mencoba kekuatannya dengan melawan langsung monster di bumi.
Dinan melewati beberapa gedung, dia melihat ke atas. Dan di sana, terlihat monster yang sangat besar dengan bentuk kadal raksasa. Tingginya mencapai ketinggian gedung-gedung yang berada di dekatnya.
Bos Monster Kadal raksasa itu masih mengamuk dan bahkan menyenggor gedung yang dilewatinya sambil mengamuk. Gedung pun dibuat runtuh, apalagi ekornya yang bergerak dengan sangat marah dan menabrak gedung-gedung. Kehancuran menimpa di semua tempat.
”Roaarr!” suara monster itu menggelegar, meraung dan membuat suara gemuruh. Jika tidak kuat mendengarnya, maka biasanya orang akan menutup telinganya karena suara raungannya yang sangat keras.
Monster itu seolah ingin menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Seorang prajurit nampak berada di depannya dan terduduk. Mungkin dia terluka. Prajurit itu masih memegang senapannya, dan bersiap dengan serangan terakhirnya. Monster Linon itu terus mengamuk, lelaki itu dan prajuritnya sudah berjuang cukup lama. Namun, bantuan belum juga datang.
Prajurit yang terduduk di tempat terbuka itu bernama Norman. Norman melindungi prajuritnya untuk lari, dia sendiri terjebak. Dia sudah pasrah, setidaknya dia bisa menyelamatkan para pasukannya. Dia merasa bahwa ini adalah akhir kehidupannya.
Mungkin kali ini, dia tidak akan selamat dari bos monster Linon. Tapi, dia bisa tersenyum dengan bangga saat kematiannya. Dia masih bisa menyelamatkan para prajuritnya. Itu menjadi kebanggaan tersendiri untuknya.
Norman sendiri merupakan Hunter yang pernah melakukan ujian di dalam menara. Dia sampai pada lantai keempat. Dia keluar dari menara ujian karena sudah tidak tahan dengan kekalahan dan terus kalah. Dia juga mengalami kematian yang cukup banyak sehingga dia menyerah.
Saat keluar dari menara, dia mendapati kekuatan Hunter pada tingkatan rank E. Dia menyesal dulu harus keluar dari pengujian menara.
Sekarang, dia berakhir menjadi seorang prajurit yang membawahi beberapa orang. Dia mengabdi menjadi seorang prajurit pemerintahan. Dia bertugas mengamankan warga sipil saat terjadi Portal Crash.
Kali ini, semua berakhir.
”Roaarr!”
Bos monster itu membuka mulutnya dan giginya yang tajam-tajam hampir menelan Norman dan semakin dekat. Langkah kaki bos monster Linon semakin dekat dan mulutnya mencapai tubuh Norman.
Angin berhembus kencang, Norman memejamkan mata. Biarlah dan mungkin memang ini akhir dariku. Pikir Norman.
Duag!
Sebelum mulut itu memakan tubuh Norman. Sebuah pukulan membuat kepala bos monster itu terdorong ke samping dan kepalanya membentur gedung. Sungguh sebuah serangan cepat dari orang yang baru datang dan langsung mengarahkan tinjunya ke kepala Linon, bos monster tersebut.
Itu adalah Dinan. Dia melompat dengan cepat dan menyelamatkan prajurit Norman. Dia menggunakan pukulannya dan menghantam kepala Linon yang merupakan kadal super besar tersebut.
[Kalahkan Linon, Monster kuat dari planet Hanon. Hadiah keberhasilan misi : Menyerap kekuatan dari kekuatan monster Linon]
Sistem memberitahu Dinan. Dia telah menjadi bagian dari sistem yang sudah ditanamkan oleh Abras kepadanya. Pemberitahuan ini menunjukkan penuntun bagi langkah Dinan untuk melengkapi kekuatannya.
Dinan merasa bahwa dirinya sedang berada di dalam menara ujian kembali. Hal itu terbukti karena sistem memberikan arahan sebagaimana ketika di dalam menara dan melakukan ujian. Jika melihat hal ini, Dinan mengambil kesimpulan bahwa, Dinan akan bisa menjadi lebih kuat dan menaikkan level di dunia nyata.
Bisa dibilang, apapun yang sudah dilakukan olehnya di dalam menara, itu semua tutorial dan membuatnya menjalani ujian kekuatan lagi di dunia nyata. Semua itu tersambung. Sehingga, jika Dinan ingin menjadi lebih kuat lagi. Dia harus mengalahkan musuh yang kuat di luar menara.
Itu satu-satunya jalan untuk bisa lebih kuat dan melawan pasukan dari Giganos. Maupun, musuh-musuh lainnya yang akan mengancam kehancuran bumi.
Dinan mulai memahami alur kinerja Sistem, seperti yang dijelaskan oleh Kasa. Sistem akan membantu Dinan untuk menjadi lebih kuat dan memilih mana yang akan membawanya menjadi sosok yang bisa melindungi bumi.
Benar! Dia sudah mendapatkan amanah dari Abras. Dia kini adalah seorang pelindung bumi, meski begitu. Dia juga manusia biasa, dia membutuhkan kehidupan normal sebagaimana kehidupan manusia lainnya.
Sang Monster Linon masih membentur gedung tinggi dan gedung itu hancur. Monster Linon terkubur dalam reruntuhan gedung tinggi tersebut. Masih ada waktu. Dinan pun mendekati prajurit yang masih terduduk. Dia sudah kelelahan dan terluka.
Dinan membantu prajurit itu untuk bangun, masih ada waktu untuk melarikan diri bagi prajurit tersebut.
Prajurit Norman bangkit dengan bantuan Dinan. Dinan membawanya lebih ke pinggir dan agar Norman bersandar pada dinding yang kokoh.
Norman yang melihat monster itu terpental dan menabrak gedung. Pastinya, sosok di depannya itu adalah seorang Hunter yang kuat. Satu pukulannya mampu merobohkan bos monster Linon.
Para prajurit dari Monster Linon kaget melihat raja mereka dihempaskan demikian kuat dan membantur gedung tinggi. Dia pasti seorang Hunter dengan rank tinggi, minimal dia adalah seorang Hunter dengan penilaian level B. Bahkan, bisa jadi pemuda itu adalah pemuda dengan rank Hunter A. Begitu pikir Norman.
”Kieeekkk! Kieeekkk!””
Suara monster yang merupakan prajurit Linon bersuara sambil membuka mulutnya lebar-lebar. Suara mereka seperti burung-burung kecil yang menunggu makanan diberikan oleh induknya. Tubuh mereka sebesar gajah dan gigi yang tajam nampak terlihat menakutkan.
Norman yang melihat Dinan dan mampu memukul dengan sangat kuat, itu pasti kekautan yang besar dari seorang Hunter dengan rank tinggi.
”Siapa anda, apakah anda seorang Hunter yang diutus?” tanya prajurit Norman. Tak diragukan lagi, lelaki itu pasti seorang Hunter dan dia sungguh kuat. Pukulan yang kuat seperti itu, hanya bisa dilakukan oleh seorang Hunte dengan klasifikasi seorang Warrior.
Dari arah gedung yang hancur karena monster Linon. Sebuah gerakan terlihat dan gedung yang hancur itu terlihat mulai membengkak. Ada sesuatu yang menyembul dan memecahkan apapun dari dalamnya.
”ROOOOAARRRR!”
Suara mengerikan kembali muncul, bersamaan dengan monster kadal Linon yang keluar dari reruntuhan. Tangan kecilnya yang memiliki kuku-kuku panjang siap menyerang kembali. Dia kembali bersuara sambil membuka mulutnya, itu adalah sebuah perintah darinya untuk para prajuritnya untuk menyerang manusia itu bersamaan dengannya.
Perintah itu langsung ditanggapi oleh semua prajuritnya yang juga berbentuk kadal besar. Ukuran sebesar Gajah dan merka menjulurkan lidahnya. Berkumpul di sekitar Linon yang keluar dari reruntuhan gedung. Mereka semua bersiap dan menggerak-gerakkan kepalanya memutar. Gigi-gigi meraka terlihat besar.
”Kita harus pergi, biarkan bala bantuan Hunter datang,” kata Norman.
”Mundurlah Prajurit! Serahkan mereka padaku,” kata Dinan. Dia teringat saat mencapai lantai menara di lantai 99. Saat melawan jutaan Uzain. Kali ini, belum seberapa.
Norman yang melihat Dinan menjadi percaya, bisa saja, pemuda itu akan mengalahkan para monster sebanyak itu sendirian. Tapi, dia juga percaya diri.
Serangan dimulai, teriakan para monster memekakkan telinga, menciptakan angin bergemuruh. Dan, Dinan melesat ke arah mereka dengan tangan yang sudah mengepal dipenuhi energi yang kuat.
Pertempuran dimulai!