Restu untuk Raya

KITA BISA MEMILIH MASA DEPAN

Matahari belum juga menampakkan diri sepenuhnya, namun keriuhan yang menyayat hati sudah terjadi di kediaman Surya. Kabar kepergian Meylin untuk selamanya menyebar begitu cepat di Cipari, menyisakan duka yang mendalam, mengoyak pagi buta dengan tangis.

Pagi itu, waktu menunjukkan nyaris pukul empat, bahkan ayam pun belum berkokok, ketika Dewi dan Raya mendengar teriakan pilu Surya memanggil-manggil nama Meylin. Jantung Raya berdebar kencang, firasat buruk yang paling ia takuti mencengkeramnya. Ketika ia dan Dewi berhasil masuk ke kamar Surya, pemandangan itu menghantamnya telak, lebih keras dari badai apa pun: Surya memeluk Meylin, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang memilukan, wajahnya basah oleh air mata yang tak henti.

Raya mematung. Otaknya menolak memproses kebenaran di depan matanya. Tubuhnya terasa beku, mati rasa, tak mampu menggerakkan satu inci pun, seolah jiwanya ikut membeku. Dewi, di sampingnya, langsung histeris, sebuah jeritan pilu yang memekakkan telinga lolos dari bibirnya sebelum ia menghambur, memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa, mengguncang-guncang perlahan, seolah menolak takdir. Tangisan Dewi yang menusuk itu akhirnya menyentak Raya dari mati rasa yang menyelimuti.

Dengan langkah gontai, kaki Raya terasa berat, setiap pijakannya seperti membawa beban seribu ton, ia melangkah pelan menuju pembaringan. Wajah Meylin sangat tenang, pucat pasi, namun masih menyisakan gurat kecantikan yang jelas, seolah semua rasa sakit telah pergi bersamanya. Raya memegang tangan Meylin yang sudah terasa dingin dan kaku, mengelusnya perlahan sambil membayangkan tangan hangat itulah yang dulu selalu memberikan kekuatan, kehangatan, dan pelukan teraman. Air mata yang selama ini ia tahan di Jeringo, air mata penyesalan karena memilih pergi dan tidak ada di sisi ibunya di akhir hayat, kini tumpah tak terbendung, mengalir deras membasahi pipi.

Diusapnya wajah bersih Meylin, membayangkan senyum ibunya yang selalu menenangkan dan tawa renyah yang akan selalu menjadi melodi terindah baginya. Raya akhirnya ikut memeluk tubuh Meylin, membenamkan wajahnya di dada sang ibu, seperti yang sedang dilakukan Surya dan Dewi. Ketiganya menuntaskan air mata yang sedari tadi menganak sungai, membiarkan duka mengalir bebas, menyatu dalam pelukan terakhir yang terasa begitu dingin, sebuah perpisahan yang terasa sangat menyakitkan.

Hampir setengah jam mereka diam, terlarut dalam kesedihan masing-masing yang mencekik. Rumah yang tadinya sunyi kini dipenuhi isak tangis yang memilukan, bercampur dengan suara orang-orang yang mulai berdatangan. Setiap tarikan napas terasa berat, setiap hening adalah cambuk pengingat akan kehilangan yang baru terjadi, sebuah luka yang akan selamanya menganga.

“Mama kalian sudah pulang dengan tenang, Nak. Ikhlaskan kepergiannya.” Suara Surya serak, pecah, menahan isak yang membetulkan tenggorokannya, namun ia berusaha keras menguatkan diri demi kedua putrinya yang kini rapuh di pelukannya. Ia merangkul bahu Raya dan Dewi, menarik mereka dalam dekapan, memeluk erat, seolah ingin menyatukan kembali puing-puing hati mereka. “Kita harus kuat, demi Mama.”

Surya menghapus sisa air mata dengan punggung tangannya, menegaskan perannya sebagai kepala keluarga yang harus tegar di tengah badai. Tangannya bergetar saat meraih ponsel, lalu menghubungi sanak kerabat, mengabarkan berita duka yang menyebar dengan cepat di Cipari, disusul oleh gelombang pelayat yang mulai membanjiri rumah.

***

Suasana duka masih menyelimuti rumah Surya, setiap sudutnya terasa berat oleh kesedihan, saat Danu tiba. Pagi menjelang siang, para pelayat mulai berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa, namun kehadiran Danu terasa berbeda, mengusik keheningan. Raya melihat kedatangan Danu dari ambang pintu dapur, di mana ia dan Dewi sibuk menyiapkan hidangan untuk tamu, mata sembab mereka masih memerah. Hatinya tidak berdesir, apalagi sakit. Hanya ada sedikit rasa terkejut dan keheranan yang dingin. Mengapa dia datang ke sini, sekarang?

Danu melangkah masuk dengan setelan rapi, ditemani beberapa ajudannya. Ekspresinya menunjukkan simpati yang dipaksakan, sebuah topeng yang tak luput dari pengamatan Raya. Ia menyalami Surya dan Dewi dengan canggung, mengucapkan belasungkawa singkat, namun tatapan matanya dengan cepat mencari Raya, seolah tak sabar memulai agendanya.

“Ray, aku ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian Mamamu,” ucap Danu pelan, mencoba terdengar tulus, suaranya sedikit merendah saat mendekati Raya yang masih berdiri di ambang pintu dapur.

Raya hanya mengangguk, sorot matanya dingin, nyaris tanpa emosi. “Terima kasih.”

“Aku tahu, ini bukan waktu yang tepat,” Danu melanjutkan, suaranya tergesa-gesa, seolah takut kehilangannya lagi. “Tapi aku kesulitan menghubungimu selama ini. Aku… aku benar-benar berharap kita bisa seperti dulu. Mungkin kamu sudah mendengar kabar kalau aku dan Cita sudah bercerai. Aku butuh kamu, Ray. Sejak awal, cuma kamu yang layak menjadi istriku.”

Napas Raya tertahan sesaat. Kata-kata itu, yang seharusnya dulu membuatnya melayang ke langit ketujuh, kini terasa hampa, bahkan sedikit menjijikkan di tengah duka mendalamnya. Danu datang dengan ego dan ambisinya, seolah kematian ibunya hanyalah latar belakang untuk drama pribadinya.

“Maaf, aku sudah menutup semua catatan tentang kita,” jawab Raya datar, tanpa sedikit pun keraguan atau emosi yang terpancar di wajahnya. Suaranya mantap, memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan. “Perceraian kamu, sudah jelas bukan urusanku. Aku sedang berduka. Aku dan keluargaku sedang berkabung. Tolong jangan menambah beban pikiran kami.”

Danu tidak menyerah, tatapannya memohon. “Tapi kita bisa mulai membicarakan masa depan yang dulu pernah kita rencanakan.”

Raya menatap Danu lurus. Sebuah senyum sinis namun penuh pengertian terbit di bibirnya. “Masa depan yang mana? Aku sudah lupa.” Bukan karena ia benar-benar amnesia, melainkan karena masa depan yang dulu ia impikan dengan Danu kini terasa begitu picik dan dangkal di hadapan realitas hidup yang lebih besar. Pengalaman di Jeringo, tawa lepas anak-anak desa, kebersamaan tulus dari orang-orang sederhana, dan kini kehilangan ibunya, semua itu telah membentuknya menjadi Raya yang berbeda. Prioritasnya telah bergeser secara fundamental, jauh melampaui ambisi duniawi yang ditawarkan Danu.

“Ray, kita memang punya masa lalu yang buruk,” desak Danu, mencoba meraih tangan Raya. “Tapi kita bisa memilih masa depan kita. Belum terlambat, Ray.”

Raya menarik tangannya cepat, menatap Danu dengan mata yang berkilat tajam, penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Aku sepakat bahwa kita memang bisa memilih masa depan kita. Tapi masa depan yang sudah aku rancang sekarang, tidak pernah melibatkan nama kamu di dalamnya. Tidak akan pernah lagi. Masa depanku adalah tentang membangun diriku sendiri, menghargai orang-orang yang tulus mencintaiku, dan menemukan makna yang lebih dalam dari hidup ini. Semua itu tidak ada di dalam skenario bersamamu." Ia melirik ke sekeliling, di mana beberapa tetangga dan kerabat mulai menatap penasaran dengan percakapan mereka. “Sekarang, silakan kamu pergi karena masih banyak yang harus aku selesaikan.”

“Ray, aku mohon…” suara Danu memelas, mencoba sekali lagi.

“Permohonanmu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku. Semua sudah berlalu.”

“Ray, ada banyak hal yang belum kamu tahu.”

“Tolong, pergi sekarang juga. Selagi aku masih bisa bersikap sopan sama kamu. Apa kamu nggak sadar, dari tadi kita jadi tontonan warga sini. Aku tidak ingin disangkutpautkan lagi denganmu dalam bentuk apa pun,” kata-kata Raya menusuk, jelas, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.

Danu memandang sekeliling. Benar saja, di luar sana, ada puluhan mata yang sedang menatap penasaran dengan kehadirannya dan para ajudannya. Danu sadar saat ini dia harus menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin daerah. Dengan gontai, langkahnya terasa berat, dia melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan ruang tamu rumah Raya yang penuh duka, bersama dengan harapan yang telah hancur dan ego yang terluka. Raya menatap punggungnya yang menghilang, hatinya terasa lebih ringan. Ia telah menutup babak itu sepenuhnya, tanpa sisa penyesalan.

***

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!