Restu untuk Raya
MEMULAI HIDUP BARU
Dini hari itu, dengan koper sederhana dan hati yang berdegup kencang, Raya melangkah keluar dari apartemennya di Jakarta. Suara klakson yang familiar dan hiruk pikuk kota yang mulai menggeliat terasa begitu jauh, seolah ia sedang bergerak di dimensi yang berbeda. Ini bukan hanya perpindahan tempat, ini adalah pelarian. Pelarian dari label, dari ekspektasi, dan dari rasa sakit yang menganga. Ini juga pencarian. Pencarian akan sebuah identitas baru, yang tidak didefinisikan oleh masa lalu orang lain atau kegagalan yang menyakitkan.
Pukul 05.00 pagi, Bandara Soekarno-Hatta masih diselimuti kegelapan, namun sudah ramai dengan aktivitas. Raya menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara pagi membasuh wajahnya. Ia check-in, melewati pemeriksaan keamanan, dan akhirnya duduk di ruang tunggu, menatap landasan pacu yang perlahan diterangi lampu-lampu. Pesawat tujuan Lombok akan membawanya menjauh, menuju sebuah tempat yang hanya ia tahu dari cerita Ares, tempat yang ia harapkan bisa menjadi awal barunya.
Saat pesawat lepas landas, Jakarta menyusut di bawahnya, menjadi kumpulan titik-titik cahaya yang samar. Raya menatap ke luar jendela, membiarkan pikirannya mengembara. Ia teringat percakapan terakhir dengan Dewi, tangisan Meylin, dan raut wajah terpukul Surya. Hatinya perih, dihantam rasa bersalah karena meninggalkan mereka dalam kondisi terpuruk. Namun, ia juga tahu, ia harus melakukan ini. Untuk dirinya. Untuk bisa bernapas lagi tanpa dihantui bayang-bayang masa lalu yang begitu membebani. Raya memejamkan mata, memohon maaf dalam hati kepada keluarganya, berharap suatu hari nanti mereka akan memahami keputusannya.
Dua jam di udara terasa seperti seumur hidup. Setiap detik adalah pertarungan batin. Antara ingin kembali dan keinginan kuat untuk melangkah maju. Antara kenangan pahit dan harapan samar. Ketika roda pesawat menyentuh landasan di Bandara Internasional Lombok, Raya merasakan getaran yang aneh. Bukan hanya getaran fisik dari pendaratan, melainkan getaran dalam jiwanya. Sebuah pertanda bahwa inilah titik balik.
Setibanya di Bandara Internasional Lombok, napasnya terasa lebih ringan, udara yang ia hirup terasa lebih bersih, seolah membawa harapan baru. Ares sudah menunggunya di luar, senyumnya mengembang, namun tatapan matanya menyimpan keraguan yang tak terucap.
“Sudah siap hidup susah, Ibu Kota?” canda Ares, mencoba mencairkan suasana.
Raya tersenyum tipis. “Lebih dari siap, Res. Aku datang ke sini bukan untuk liburan.” Nada suaranya mantap, mencoba meyakinkan Ares dan terutama dirinya sendiri.
Perjalanan dari bandara menuju Desa Puncak Jeringo memakan waktu hampir tiga jam, menyusuri jalanan yang berkelok dan menanjak. Semakin jauh mereka melaju, pemandangan hijau membentang luas, kontras dengan hutan beton Jakarta. Namun, saat mereka semakin mendekati Jeringo, fasilitas umum mulai menipis. Jalanan berubah menjadi bebatuan, dan sinyal ponsel timbul tenggelam. Kontras yang mencolok ini mulai membenturkan ekspektasi Raya dengan realitas. Ini bukan perjalanan biasa, ini adalah lompatan ke dunia yang sama sekali berbeda, sebuah dunia yang akan menguji segala batasan dirinya.
Rumah kayu sederhana, jauh dari kemewahan apartemennya di Jakarta, kini akan menjadi tempat tinggal Raya. Tidak ada AC, tidak ada pemanas air, dan yang paling mencolok, listrik yang hanya menyala pada jam-jam tertentu. Malam pertama, Raya terpaksa tidur di bawah selimut tebal, dengan ditemani lilin dan suara jangkrik yang begitu nyaring. Rasa sepi dan asing merayapi, membuatnya bertanya-tanya, Bisakah aku benar-benar bertahan di sini? Akankah aku menemukan yang kucari di tempat sejauh ini?
***
Raya berdiri di depan rumah kayu yang dia tempati selama hampir setahun. Setelah berulang kali meyakinkan Ares, kini Raya bisa menatap keindahan Jeringo setiap hari. Desa Puncak Jeringo adalah sepotong surga. Berada persis di kaki Rinjani. Pada ketinggian 1.200 meter. Udara di sana begitu sejuk. Khas dataran tinggi. Dari desa ini, keindahan Selat Alas yang memisahkan Lombok dan Sumbawa tersaji di depan mata. Malam hari, kerlap-kerlip lampu kapal penyeberangan yang hilir mudik adalah pemandangan yang tak boleh dilewatkan pemuja keindahan. Dimulai menjelang matahari terbenam.
Tangan Raya sibuk menggulir foto demi foto yang berhasil dia ambil semalam selepas menghadiri sebuah acara. Dari arah Jalan Pelabuhan Kayangan, Labuhan Lombok, samar-samar kerlap-kerlip lampu mulai terlihat di Desa Puncak Jeringo. Raya langsung mengabadikan keindahan itu di ponselnya.
Pada dasarnya, Jeringo dikonsepkan sebagai calon pusat pertumbuhan baru yang dibina dan didorong oleh pemerintah, sehingga masyarakat di lokasi transmigrasi mampu mandiri sesuai dengan potensi dan daya dukung lingkungan untuk mewujudkan Jeringo menjadi desa definitif. Rangkaian kegiatan pengembangan Jeringo telah mengubah kondisi fisik yang berdampak pada kondisi lingkungan ekologis dan kondisi lingkungan sosial ekonomi disebabkan karena adanya keterkaitan antara kegiatan pembangunan dengan kondisi fisik, ekologi, dan sosial sehingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
Ada begitu banyak kesulitan yang harus dilalui oleh masyarakat di Desa Puncak Jeringo. Sumber air bersih yang kadang menjadi langka saat musim kemarau, dan juga listrik yang hanya menyala di malam hari. Belum lagi masalah hasil panen jagung yang seringkali tidak sesuai harapan. Belum ada hasil panen yang bisa mereka jual. Sementara itu, bantuan dari pemerintah pun jauh dari kata mencukupi.
Setiap hari Raya mendengarkan banyak keluh kesah yang dibalut dalam tawa renyah. Dari masyarakat Jeringo, Raya belajar untuk bisa berdamai dengan keadaan. Ketika nasi sudah menjadi bubur, tinggal bagaimana caranya membuat bubur tersebut tetap terasa lezat dan bisa dinikmati.
Sebelumnya, Raya sendiri harus berjuang keras agar kehadirannya bisa diterima oleh masyarakat Desa Puncak Jeringo. Penampilan Raya yang lebih mirip sekretaris bos dengan pakaian rapi dan kulit bersih, membuat masyarakat di sana menganggap dia hanyalah perempuan manja yang tidak bisa melakukan apa-apa. Bisik-bisik dan tatapan skeptis seringkali ia rasakan, sebuah tantangan pertama yang harus ia hadapi. Kemampuan beradaptasi Raya sedang diuji, bukan hanya terhadap lingkungan fisik, tetapi juga terhadap pandangan sosial yang mengakar.
Namun Raya tidak menyerah. Ia tidak ingin dianggap sebagai "ibu kota" yang hanya datang untuk melihat-lihat atau sekadar mencari sensasi. Ia mulai dengan hal-hal kecil: belajar memahami seluk beluk menanam jagung dari para petani, ikut kumpul bersama ibu-ibu di balai desa, mendengarkan cerita mereka, dan mencoba membantu sebisanya. Ia tak segan ikut memikul air dari sumber mata air, atau membantu menumbuk jagung. Setiap tetes keringat yang jatuh, setiap otot yang terasa pegal, adalah bukti perjuangannya. Kulitnya kini menjadi sedikit lebih gelap karena terlalu sering terpapar sinar matahari. Tubuh Raya pun lebih berotot karena melakukan banyak kegiatan fisik. Kemana-mana harus jalan kaki. Raya sangat menikmati hidupnya yang baru di Jeringo, merasakan setiap tantangan sebagai bagian dari prosesnya menjadi pribadi yang lebih kuat dan berharga, seseorang yang bukan lagi ditentukan oleh masa lalu, melainkan oleh apa yang bisa ia berikan.
Raya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tenggelam dalam berbagai aksi sosial yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam hal ini Raya mendapat dukungan penuh dari beberapa orang teman yang punya akses kepada para pemilik dana sehingga mereka bisa merealisasikan berbagai program untuk membantu masyarakat.
Saking sibuknya, Raya melupakan sepucuk surat yang diberikan Ares dua minggu lalu. Surat dari Danu. Surat itu masih tergeletak di meja kecil ruang tamunya, tak tersentuh, seolah tak lagi memiliki kekuatan untuk menarik perhatiannya dari kehidupan baru yang kini ia jalani. Kenangan tentang Danu dan penghinaan keluarga Samiadi terasa semakin kabur, digantikan oleh suara angin Rinjani dan tawa renyah masyarakat Jeringo.
***