Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!

7. PEMILIHAN ASISTEN DIREKTUR BARU

Di dalam ruangannya, di lantai dua puluh satu, Tara duduk sambil memejamkan matanya.  Mengingat saat dia menatap Arunika di aula tadi.  Tak salah aturan yang dibuatnya untuk meminta semua pegawai wanita level manajer mengenakan setelan rok.  Arunika terlihat begitu seksi dan anggun.  Kemolekan tubuhnya terpancar indah dipandang.  Terlebih bibir yang berkilat menggoda membuatnya menelan ludah, meskipun warna bibirnya tidak merah menyala melainkan warna nude yang alami.  Justru itu membuat sensasi yang berbeda.

 

“Rasanya pengen terbang untuk bisa langsung ada didekatmu, Aruni.  Dada ini sudah sesak oleh rindu”, batin Tara. 

Lamunannya terpecah saat pintu ruangannya dibuka oleh ayahnya.  Segera disambutnya sang ayah dan mereka pun duduk bersama untuk berbincang.

 

“Nah, sekali lagi ayah ucapkan selamat datang dan selamat bergabung.  Apa yang kamu sudah rencanakan, silahkan kamu lakukan.  Ayah percaya, kamu akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita”, kata pak Basuki bijak.

 

“Terima kasih, Yah.  Tara akan lakukan yang terbaik yang Tara bisa”, jawab Tara optimis.

“Mengenai beberapa tender yang sudah masuk, ada satu mega proyek diantaranya.  Saya akan langsung menanganinya, Yah.  Untuk itu saya akan memilih langsung satu karyawan sebagai asisten saya”, kata Tara lagi.

“Well, kamu atur saja dengan pak Rudi.  Dia lebih tahu siapa yang berkompeten untuk mendampingimu”, saran pak Basuki.

“Thank’s Yah, tapi selama saya disini, saya sudah mengamati dan memilih siapa yang cocok menjadi asisten saya”, jawab Tara sambil tersenyum.

“Hahahaa… ayah sampai lupa.  Oke oke.  Kamu sudah punya misi.  Jalankan saja”, kata pak Basuki sambil tertawa dan  berdiri untuk kembali ke ruangannya.

 

 

PENTING!!!

SEMUA KEPALA MANAJER, MANAJER DAN JAJARANNYA DALAM WAKTU 30 MENIT, HARAP SEGERA BERKUMPUL DI RUANG MEETING UNTUK MEETING DENGAN DIREKTUR TARA SADEWO.

 

Pesan di layar laptop Arunika muncul secara tiba-tiba.

 

“Haduuh… rapat apalagi sih.  Kerjaan masih numpuk malah disuruh rapat mulu”, batin Arunika jengkel.  Dia harus segera menyerahkan hasil presentasi marketing kepada Pak Anwar, dan pasti akan kena marah jika sampai terlambat menyerahkannya.

“Direktur baru itu sungguh menyebalkan, baru juga datang udah meeting aja kerjaannya”, sungut Arunika kesal. 

 

“Tuuuttt ttuuuuttt tttuuuutttt.” Dering telephon di ruang Arunika berbunyi.

 

“Ya, halo. Oh elo, Rum. Ada apa sih, ganggu orang kerja aja”, jawab Arunika mengetahui yang diseberang sana adalah Arum.

“Heii… cepetan naik sini.  Mau lo dipelototin lagi sama Pak Anwar?”, kata Arum sambil terkikik. 

Tadi pagi Arum sempat melihat Pak Anwar melotot ke arah Arunika ketika dilihatnya Arunika terlambat masuk aula, barisan paling belakang pula.

“Oh maigad”, teriak Arunika sambil melihat jam tangannya, “Oke Rum, gua kesana sekarang. Masih ada waktu lima menit, cukuplah untuk ke atas naik lift”, jawab Arunika tergesa-gesa.  Segera dia melesat ke lantai 20, dimana semua kepala manajer, para manajer dan jajarannya sudah duduk rapi di kursinya masing-masing.

 

Pak Anwar terlihat tak tenang, sebentar-sebentar melihat jam tangannya.  Dia baru bisa bernafas lega saat melihat Arunika memasuki ruang meeting.  Dengan bahu tegak dan mantap Arunika memasuki ruang meeting.  Hampir semua orang terpana melihat penampilannya yang berbeda dengan kesehariannya.  Tadi pagi, tak ada yang memperhatikannya karena Arunika datang paling belakang.  Namun sekarang mereka baru menyadari betapa cantik dan seksi Arunika mengenakan setelan rok dan sepatu berhak tinggi.

 

“Siang semua”, sapa Arunika sambil menuju kursinya, di sebelah Pak Anwar.

“Siang Pak. Maaf datangnya mepet, Pak. Tapi belum terlambat kan, Pak?”, tanya Arunika sok imut sambil tersenyum hormat.

“Siang. Kamu ini bisanya bikin jantung saya copot saja, Runi”, jawab Pak Anwar sambil geleng-geleng kepala.

“Ngomong-ngomong, kalau kamu berdandan terus seperti ini, pasti banyak lelaki yang akan mendekati kamu.  Pertahankan ya!”, komentar Pak Anwar sambil senyum-senyum menggoda.

“Apa sih Pak.  Besok juga saya balik pake celana panjang lagi”, kata Arunika menimpali. 

 

Obrolan mereka terputus saat Tara Sadewo memasuki ruang meeting.  Kharisma dan ketampanan yang memancar membuat semua yang hadir terkesima memandangnya. Dari sudut matanya, Tara melihat keberadaan Arunika.  Matanya sedikit terperangah, melihat kaki jenjang  Arunika yang tersingkap karena rok spannya ketarik dengan posisi duduk yang tidak nyaman.

 

“Dasar perempuan tomboy.  Sudah pake rok span masih aja duduknya sembarangan gitu”, batin Tara sambil menarik nafas panjang.

 

Meeting dimulai dengan sedikit prakata dari Pak Rudi bahwa direktur yang baru akan membeberkan beberapa progam kerja yang sudah deal dengan beberapa investor dari luar negri dan satu mega proyek yang akan dipimpin langsung oleh beliau.

 

Giliran Tara Sadewa memimpin meeting kali ini.  Setelah menjelaskan beberapa proyek penting, sampailah pada session untuk mega proyek.

 

“Jadi untuk mega proyek ini, saya akan menanganinya langsung.  Untuk membantu kinerja saya nanti, saya akan memilih satu diantara Anda semua”, katanya dengan mantap. 

 

Spontan hal tersebut disambut dengan decak kaget yang hadir.  Semua berharap untuk bisa menjadi asisten direktur yang baru ini, karena jalan karir ke atas akan lebih mudah nantinya.  Tara hanya tersenyum melihat reaksi para stafnya, hanya Arunika saja yang terlihat tidak bersemangat. 

 

“Saya tidak akan meminta laporan kinerja karyawan kepada Pak Rudi”, sambungnya yang membuat sebagian staf heran dan pesimis.

“Karena saya sudah mempelajari dan berusaha mengenali kalian semua selama dua bulan terakhir ini”, sambungnya. 

 

Semua terperanjat kaget sambil berusaha mengingat-ingat kapan pernah bertemu dengan direktur baru ini.

 

“Kalian tidak usah berusaha mengingat kapan pernah bertemu dengan saya”, sambung Tara seakan membaca pikiran sebagian stafnya.

“Yang pasti saya tahu kalau tidak semua atasan disini yang capable sebagai atasan.  Banyak laporan dan pekerjaan sukses yang ternyata dikerjakan oleh mereka yang levelnya ada dibawahnya”, kata Tara dengan tegas. 

 

Semua yang hadir terkejut dan menundukkan kepala sambil saling melirik satu sama lain.  Begitupun halnya dengan Arunika.  Tiba-tiba dia ingat seingat-ingatnya.

 

“Kalimat barusan persis seperti apa yang pernah gue katakan ke Uman dulu”, batin Arunika bingung. 

“Apa mungkin dia ini Uman? Ataukah saudara kembar Uman?”, tanya Arunika dalam hati sambil menatap dalam lelaki yang berdiri tegap di depan.  Semakin Arunika menatapnya, semakin bergemuruh dadanya menahan sesak rindu yang ingin menyeruak.  Tak tahan akan hal itu, Arunika pun menundukkan pandangannya dan berusaha meredam gemuruh di hatinya.

“Mungkin saja dia mendapatkan semua info itu dari Pak Rudi atau Pak Kris, orang kepercayaan Pak Basuki”, batin Arunika menenangkan dirinya sendiri.

“Tapi, bagaimana mungkin dia bisa menyapa gue tadi.  Hanya Uman yang manggil gue Aruni”, batin Arunika tambah gundah gulana.

“Apa jadinya kalau dia memang Uman.  Selama ini gue nggak ada hormat-hormatnya sama dia”, sesal Arunika dengan muka yang semakin ditekuk.

 

Arunika semakin tidak konsen pada apa yang disampaikan oleh Tara, sang Direktur Baru.  Pikirannya berkelana entah kemana hingga tersadar saat namanya dipanggil oleh Tara disambut tepuk tangan meriah para peseta rapat. 

 

Dengan kaget Arunika mengangkat wajahnya disambut senyum gembira Pak Anwar yang duduk di sebelahnya.

 

“Selamat ya Runi”, kata Pak Anwar sambil menepuk-nepuk pundaknya.

“Busyet dah.  Kenapa semua orang bertepuk tangan.  Aduuuh, kemana aja gue dari tadi sampe nggak denger apa yang disampaikan bos”, batin Arunika bingung namun tetap tersenyum menutupi kegugupannya.

 

“Saudari Arunika Herlambang, silakan maju ke depan”, panggil Pak Rudi. 

 

Arunika pun berdiri dan berjalan ke depan menuju Tara Sadewo berada.  Tara memandangnya dengan tatapan penuh makna, dadanya bergelora seakan Arunika sedang terbang ke arahnya.  Tara segera memalingkan pandangannya dari Arunika hingga Arunika berdiri tepat disampingnya.

 

“Semoga Saudari Arunika bisa menjadi Asisten Direktur Baru kita, Bapak Tara Sadewo sesuai yang diharapkan beliau karena Saudari Arunika ini memang salah satu manajer kita yang sangat potensial dan bisa diandalkan.  Sekali lagi, selamat ya”, kata pak Rudi sambil menutup rapat itu dengan salam dan instruksi agar semua segera kembali ke ruangannya masing-masing kecuali Arunika.

 

Setelah semua orang meninggalkan ruang rapat, sekarang hanya tinggal Arunika dan Tara berdua saja.  Arunika yang baru sadar dan mencerna setiap kalimat pak Rudi tadi masih terpaku tak percaya dengan apa yang didengarnya. 

 

Tiba-tiba Tara berjalan mendekatinya.  Ingin rasanya Arunika berlari, namun kakinya terasa lemah dan berat untuk diangkat.  Tara berdiri tepat didepannya dan membungkukkan badannya untuk berbisik di telingga  Arunika.

 

“Apa kabar, Aruni”, bisiknya lembut. 

 

Wangi segar rambut dan parfum Arunika menyusup lembut tercium oleh Tara.  Sejenak pikirannya melayang teringat kebersamaannya dengan Arunika sebagai Uman.  Sementara Arunika hanya bisa diam tak berkata apa-apa mendengar sekali lagi Tara memanggilnya Aruni.

 

“Uman?”, panggil Arunika lirih memberanikan diri. 

 

Ditatapnya mata Tara lekat-lekat untuk memastikan bahwa dia adalah Uman.  Bau badan berbaur aroma parfum khas yang diingat Arunika menyeruak saat Tara berdiri didekatnya.  Tara menjauhkan wajahnya dari Arunika sambil tersenyum tipis dan berkata, “Be my special assistant”.  Sambil mengedipkan mata, Tara berjalan meninggalkan Arunika yang masih diam terpaku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!