Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!
6. PRESIDEN DIREKTUR BARU
“Waaah, cantik sekali lo, Runi!”, teriak Arum melihat Arunika keluar dari kamarnya. Hari ini calon Direktur Baru akan datang ke kantor. Kemarin sudah ada pengumuman kalau semua karyawan perempuan level Manajer harus mengenakan pakaian yang feminin. Pak Rudi, Manajer HRD telah memperingatkan Arunika untuk datang mengenakan setelan rok dan sepatu berhak. Harus. Tidak boleh mengelak, atau akan ada masalah nanti.
“Huh gegara si dirut baru itu. Aturan kok ngawur gitu”, kata Arunika jengkel. Dia merasa nggak nyaman banget mengenakan rok span dan sepatu berhak. Meski hanya lima centi meter, namun Arunika merasa lebih suka mengenakan sepatu sport kesayangannya.
“Udaah, ambil hikmahnya aja, Runi”, kata Arum sambil tersenyum.
Arum yang telah terbiasa mengenakan setelan rok dan sepatu berhak pun tersenyum melihat kedongkolan di wajah sahabatnya. Tetapi tak dipungkiri, Arunika memang cocok sekali dengan penampilannya.
Rok span motif kotak-kotak diatas lutut dipadu dengan kemeja lengan panjang polos berkancing dan sepatu berhak lima senti itu sangat sempurna melekat di tubuh Arunika. Rambutnya yang panjang diikat kebelakang dengan menyisakan sedikit poni yang disisir ke samping. Sisa-sisa rambut di dahi kiri dan kanan dibiarkan terjuntai, menjadikan wajah Arunika terlihat seksi karena kesan acak-acakan yang ditampilkannya. Dengan polesan make up tipisnya, Arunika terlihat seksi alami.
“Runi, coba sini gue kasih sedikit lipgloss, biar nggak pucet”, kata Arum sambil menarik lengan Arunika.
“Nah, gini kan cakeeep”, puji Arum, “Bibir lo kelihatan lebih seger. Sekseeehhh”, goda Arum.
“Coba Uman liat lo gini. Wuiiihhh langsung tambah klepek-klepek deh dia”, kata Arum spontan yang langsung disambut dengan cubitan Arunika di pinggangnya.
“Haahahahahaa…emsoriiii”, teriak Arum sambil berlari menghindari cubitan Arunika, “Ayook Runi. Jemputan udah di depan. Buruaaann”, teriak Arum lagi. Hari ini mereka terpaksa ke kantor dengan mobil jemputan kantor, karena Arunika nggak mungkin naik sepeda motor mengenakan rok span seperti itu.
Di kantor semua orang sibuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan calon direktur baru. Pengumuman dari HRD bahwa semua karyawan terutama level manajer dan jajarannya harus sudah siap di aula rapat pada pukul 10.00 WIB tanpa terkecuali. Namun Arunika yang terlanjur sibuk dengan tumpukan berkasnya hingga lima menit kurang dari pukul 10.00 WIB dia masih berkutat di mejanya ketika telepon kantornya bordering.
“Halo, iya pak”, jawabnya.
“Arunika, kamu kemana saja? Cepat ke aula, sudah jam berapa ini!?”, tegur pak Anwar, kepalanya. Diliriknya pergelangan tangan, jam sudah menunjukkan pukul 09.56 WIB. Segera saja dia berdiri dan berlari secepatnya ke lift untuk membawanya ke lantai 19 dimana aura rapat berada. Tetapi baru beberapa meter langkahnya terhenti ketika menyadari dia mengenakan sepatu berhak. Terpaksa dia berjalan secepat yang dia bisa.
Hufftt.. akhirnya nyampe juga. Eit, ternyata Arunika terlambat. Dilihatnya rombongan direktur baru itu sudah memasuki aula. Perlahan Arunika mengikuti dari belakang dan menyusupkan dirinya diantara karyawan lain.
Semua pandangan karyawan dan staf tertuju ke arah direktur baru itu, tak terkecuali Arunika. Direktur baru itu masih muda. Ganteng, berbadan bagus dan kelihatan seperti orang pintar yang terpelajar. Dia berjalan ke depan saat dipanggil oleh pak Rudi untuk memperkenalkan diri.
“Selamat pagi semuanya”, sapanya yang dijawab serentak oleh semua karyawan.
“Perkenalkan, saya Tara Sadewo, putra dari Bapak Basuki Sadewo pemilik BASUKI OCTO Grup. Mulai hari ini saya akan bekerja di perusahaan ini. Beberapa peraturan akan direvisi untuk kebaikan dan kepentingan bersama. Saya harap dukungan dan bantuan dari semua karyawan tanpa terkecuali demi kemajuan perusahaan”, kata Tara dalam sambutannya.
Matanya menyapu semua karyawan tanpa kecuali dan tatapannya berhenti saat matanya menatap Arunika. Dadanya berdesir melihat Arunika yang selama ini dirindukannya. Namun Tara bisa mengendalikan dirinya. Tepukan tangan meriah mengakhiri perkenalannya dan para karyawan dipersilahkan kembali ke ruangannya masing-masing.
“Sepertinya gue nggak asing sama dirut baru ini”, batin Arunika sambil mengingat-ingat. “Apa gue pernah ketemu sebelumnya ya?”, batinnya penasaran.
Dilihatnya direktur baru itu sedang bercakap-cakap dengan Presiden Direktur Utama. Dari kejauhan diperhatikannya baik-baik dan dengan seksama. Direktur itu berwajah tampan, bersih mulus, rambut cepak rapi, badan atletis dibalut setelan jas dan celana panjang keluaran butik ternama.
Sekilas Arunika teringat dengan Uman. Diperhatikan lebih seksama, wajahnya mirip dengan Uman. Hanya saja Uman berambut gondrong dan berkulit sedikit kecoklatan serta lebih banyak menebar senyum. Sedangkan si bos baru ini sepertinya tidak terlalu suka tersenyum.
“Ahh ngelantur gue. Masak Uman disamain sama bos. Udah halu gue ini”, batin Arunika sambil melangkah menuju lift ke ruangannya.
Arunika masuk ke lift, sendirian saja karena semua karyawan sudah dari tadi ngacir ke ruangannya masing-masing. Segera ditekannya tombol pintu tertutup, namun tiba-tiba ada tangan yang menahannya.
Ternyata direktur baru itu yang menahan pintu lift. Tergagap Arunika menganggukan kepalanya pertanda hormat. Mereka hanya berdua saja. Tara memperhatikan Arunika yang berdiri di sampingnya.
“Betapa cantik dan seksinya kamu hari ini”, batin Tara.
Merasa diperhatikan, Arunika pun menoleh. Tara segera membuang wajahnya ke sisi lain. Tiba-tiba Arunika mencium aroma yang sangat dikenalnya. Ya, aroma parfum Uman melekat di tubuh Tara. Diputarnya badannya menghadap Tara bersamaan dengan Tara memalingkan wajahnya menghadap Arunika.
“Loo… Uman?!”, pekik Arunika kaget bukan main.
Tara tersenyum tipis sambil menjawab “Hola Aruni, apa kabar?”.
Belum sempat Arunika pulih dari kekagetannya, pintu lift terbuka dan Tara pun keluar. Sampai pintu lift tertutup, Arunika masih ternganga tak percaya.
“Gue ini halu atau enggak ya. Beneran tadi gue denger si bos nyapa? Beneran dia itu Uman?”, tanya Arunika dalam hati.
“Aahh, mana mungkin. Uman yang tukang serabutan itu ternyata anak bos besar?”, batin Arunika sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Tanpa disadari pintu lift terbuka dan dia melangkah keluar. Dengan tatapan nanarnya Arunika berjalan menuju ruangan. Sementara itu karyawan lain mulai bergunjing tentang bos yang baru, banyak yang tertarik dan optimis tetapi ada pula yang pesimis dan naif.
“Coba gue cari tahu siapa sih Tara Sadewo itu”, kata Arunika dalam hati sambil mengetik nama Tara di mesin pencarian. Beberapa artikel dan gambar pun mulai muncul. Satu per satu dibaca dengan seksama oleh Arunika. Diperhatikannya foto-foto yang terpampang. Semua memang seperti orang yang tadi berbicara sebagai direktur baru. Tak ada yang berpenampilan seperti Uman, meskipun kesamaannya hampir seratus persen.
“Hanya penampilan saja yang beda. Eh tapi sikap dan gayanya juga beda”, batin Arunika.
“Uman pasti sudah menyapa dan bercanda begitu dia ketemu gue”, batinnya lagi.
“Auk ah, bikin pusing aja. Liat ntar aja, berkas-berkas ini masih lebih penting dipikirin”, kata Arunika kepada dirinya sendiri sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.