Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!

5. UMAN MENGHILANG

Siang ini Arunika tak melihat Uman di kantor.  Biasanya mereka sering berpapasan atau bertemu di salah satu ruangan di kantor.  Tapi seharian ini Arunika tidak bertemu sekalipun dengan Uman.

“Jangan-jangan gegara kegugupanku kemaren saat dia mencium dahiku. Trus dia marah, ya”, batin Arunika sambil menyapukan pandangannya di sekeliling lobi kantor.  Dilihatnya Arum sedang berbicara dengan resepsionis kantor, dan melambaikan tangan memanggil Arunika.

“Runi, lo udah denger berita hari ini belum?,” tanya Arum.

“Berita apa?,” tanya Arunika tak acuh sambil matanya tetap menyelidik mencari sosok yang dirindukannya.

“Masak lo nggak denger sih?,” tanya Arum heran.

“Denger berita apa? Lo aja nggak bilang beritanya. Mana gue tau sih, Rum”, sergah Arunika sambil mengangkat bahunya.

“Barusan gue dapet gossip dari ruang HRD, katanya Uman mengundurkan diri”, kata Arum.

“Maksud lo? Uman keluar gitu dari sini?”, tanya Arunika kaget.

“Makanya gue nanya ke elo.  Lo kan yang kemaren sempet ngobrol sama dia.  Kali aja dia cerita apa gitu ke elo, Runi”, kata Arum lagi.

“Heii… Runi… lo denger gue nggak sih?” tanya Arum kesal karena Arunika hanya diam terpaku mendengar berita itu. 

Arunika tentu saja sangat kaget.  Uman nggak pernah bilang kalau mau resign dari kerjaan.  Semalam dia malah bercerita dengan semangat tentang proyek kerjaannya di Yogya yang sudah hampir seratus persen selesai.

“Eh enggak, eeh iya, gue dengerin elo kok Rum”, jawab Arunika gelagapan, “Kenapa dia mengundurkan diri?”, tanya Arunika lagi.

“Gak jelas juga.  Gosip yang gue denger sih katanya mo pulkam, ada yang bilang kalo kerjaannya gak beres, ada yang bilang dipecat.  Ah gak ada yang bener kayaknya. 

Hingga sore itu mereka pun tiba di kos sepulang kerja.  Arunika dan Arum melihat bu Rahma di depan kamar Uman saat mereka sampai.

“Sore, bu”, sapa mereka.

“Sore Mbak Runi, Mbak Arum”, jawab bu Rahma dengan ramah. Mereka segera turun dari sepeda motor dan menghampiri bu Rahma.

“Uman belum pulang, Bu?”, tanya Arum.

“Uman udah pamit.  Dia udah nggak disini lagi, Mbak”, jawab bu Rahma yang tentu saja mengagetkan mereka berdua.  Arum dan Arunika berpandangan heran.

“Kok aneh gini sih.  Tadi di kantor juga Uman tiba-tiba mengundurkan diri.  Giliran kita mau nanya ke dia, eh dianya juga pergi dari sini”, kata Arum yang diiyakan oleh Arunika.

“Emangnya apa kata Uman tadi, Bu?  Dia pamit mau kemana?”, tanya Arunika lagi. 

“Nggak jelas juga.  Cuma bilang terima kasih sudah boleh tinggal disini.  Ada yang harus dia kerjakan di tempat lain. Gitu aja sih Mbak bilangnya”, jawab bu Rahma sambil berpamitan masuk ke dalam rumah.

“Wah, gue jadi curiga.  Ada masalah apa sebenarnya ini.  Di kantor dan di sini, serba mencurigakan.  Elo nggak ada masalah kan sama Uman, Run?”, tanya Arum penuh selidik.

“Helooooww… gue aja malah tau beritanya dari elo. Gue juga nggak ngobrol yang aneh-aneh semalem.  Dia malah semangat cerita kerjaannya yang di Yogya.  Mana tahu gue kalo bakal begini ceritanya”, jawab Arunika sambil geleng-geleng kepala. 

Tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.  Tiba-tiba saja separuh jiwanya seakan melayang.  Sesuatu yang menyesak didadanya menyeruak saat menyadari kepergian Uman yang tiba-tiba ini.

Hampir sebulan sejak kepergian Uman , namun Arunika tak mendapat kabar apapun.  Ponselnya tidak aktif, baik wa maupun panggilan telepon tidak bisa dilakukan.  Arunika pun pasrah dan berusaha tidak memikirkannya lagi.  Dia kembali menjadi pribadi yang lebih tertutup dan mandiri, meski keramahan masih tetap menempel pada dirinya.

Sementara itu di apartemennya yang super mewah, Tara Sadewo, sibuk dengan laptopnya.  Beberapa meeting penting dengan klien di luar negri telah berhasil dilakukannya.  Tender besar pun mulai masuk dalam daftar proses Basuki Octo Grup.  Keputusan mendadak yang diambilnya untuk segera keluar dari pekerjaannya sebagai tenaga serabutan memang sengaja dilakukannya.  Pun dia telah berpesan kepada Bu Rahma untuk tetap menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya kepada semua penghuni kos-kosan terutama Arunika dan Arum. 

Sebulan lebih dia belajar mengenali suasana kerja dan karyawan di perusahaan membuatnya bisa menilai cara kerja dan prilaku mereka.  Ada yang rajin, tertib, selalu bersemangat, ada pula yang malas, sering terlambat ataupun pesimis dengan pekerjaannya.  Semua itu terekam dengan baik di memori Tara.  Beberapa karyawan senior ada yang suka menindas yuniornya. 

Beberapa kepala divisi ada yang tidak becus bekerja, hanya mengandalkan bawahannya yang lebih menguasai materi hingga tentang karyawan yang ambisius dalam meraih posisi.  Semua terekam, tanpa terkecuali.  Karena itu dari beberapa tender besar yang diperolehnya, Tara akan sangat selektif memilih siapa saja yang akan bertanggung jawab nanti.  Perubahan besar akan dilakukannya saat dia mulai melangkahkan kakinya lagi ke perusahaan.

Dddrrrttt…ddrrrtttt… ponsel Arunika bergetar tanda ada pesan wa yang masuk sesaat setelah meeting selesai.

“Lo udah denger gossip baru?”, pesan wa Arum. 

“Awas, lama-lama lo bisa jadi wartawan gossip”, jawab Arunika.

“Maksi di kantin bareng.  Ntar gue kasih info”, info Arum lagi.

“Oke. Otw kantin”, jawab Arunika sambil melangkahkan kakinya ke kantin perusahaan. 

Dilihatnya Arum sudah duduk manis dengan seporsi soto lengkap dengan sate telur puyuh dan sate usus di piring kecil.  Arunika pun memesan menu yang sama dan langsung menghampiri Arum yang kepedasan sambel.

“Awas, sakit perut lo entar.  Jangan terlalu pedas, Rum.  Inget, lo kan punya sakit maag”, kata Arunika mengingatkan.

“Kalo nggak pedas tuh nggak asyik, Runi”, jawab Arum sambil menyeruput es jeruk manisnya.

“Lo makan dulu aja deh.  Habis makan baru ntar gue ceritanya, ya”, kata Arum sambil memberikan isyarat makan yang diiyakan oleh Arunika.

Setelah selesai makan, Arum pun mulai bergosip.

“Runi, elo tau kan Sari, resepsionis di kantor HRD?”, tanya Arum.  Arunika menganggukkan kepalanya.  Siapa yang tak tau Sari.  Resepsionis HRD yang sok bersih dan suka merendahkan orang tanpa mengetahui siapa orang yang direndahkannya.

“Dia bilang kalo anak pak Basuki akan datang.  Dia akan menjadi Presdir yang baru nantinya”, cerita Arum.

“Trus kenapa emang?”, tanya Arunika heran. “Dimana-mana anak bos ya akan menggantikan bapaknya lah”, katanya lagi.

“Iya sih. Bener juga kata lo”, kata Arum sambil menyadari kebodohannya.

“Eh tapi, katanya lagi, si presdir baru ini nanti akan merevisi regulasi yang selama ini sudah berjalan”, sambung Arum.

“Yaa mudah-mudahan regulasi yang baru nanti lebih berpihak kepada kita, karyawan kecil.  Gaji bisa nambah, cuti juga bisa panjang. Trusss apalagi ya?”, kata Arunika sambil berpikir.

“Hahahahaaa.. Elo tuh ya. Mikirnya gaji naik aja. Gue aminin deh, moga-moga gaji lo naik. Berarti gaji gue naik juga kan?”, tanya Arum sambil terkekeh.

“Kita liat aja. Mo presdir baru atau lama, gak ada hubungannya juga kali sama gue.  Udah ah, gue balik dulu. Banyak laporan yang musti gue cek,” kata Arunika sambil berdiri.

“Yah elo Runi, kan masih seperempat jam lagi baru kelar.  Mulai deh lo jadi workaholic”, kata Arum kesal.

”Coba ada Uman, tarohan lo pasti masih duduk manis disini sambil tersenyum sampe jatah istirahat habis”, omel Arum. 

Sesaat Arunika terhenti langkahnya.  Ditolehnya Arum dan menyilangkan kedua telunjuknya dibibirnya untuk menyuruh Arum berhenti bicara tentang Uman.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!