Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!
4. KERINDUAN
“Aruni, kamu kan dapat mobil kantor, kenapa nggak kamu bawa pulang?”, tanya Uman saat mereka duduk-duduk santai sore itu di teras rumah kos.
“Fasilitas kantor kan untuk kerja. Ya gue pakenya kalo pas lagi kerja lah. Kalo urusan pribadi kayak mo ngemall yaa gue ogah. Takut hukumnya, apa coba jawaban gue di akherat nanti kalo ditanya malaikat?”, jawab Arunika enteng.
Uman tak menyangka jawaban Arunika senaif itu. Dengan posisi yang disandangnya, berbagai fasilitas kantor sebenarnya bisa dia dapatkan. Namun Arunika tidak mau mengambil semuanya itu. Dia bertekad untuk mendapatkan semua fasilitas hidup dengan uang yang dimilikinya. Mobil kantor pun hanya dia pakai selama jam kantor dan untuk kepentingan pekerjaan saja. Rumah dinas dia tolak, lebih nyaman kos katanya. Uman salut dengan prinsip ini.
“Ya moga-moga kamu cepat naik gaji, jadi bisa beli semua sendiri”, kata Uman memberi semangat.
“Atauuu….”, kata Uman menggantung sambil menatap Arunika.
“Atau apa?”, tanya Arunika penasaran.
“Atau kamu dapat suami kaya yang bisa memberikan semua yang kamu butuhkan”, jawab Uman sambil nyengir.
“Aamiin… tapi zoonnkkk”, timpal Arunika sambil melempar bantalan kursi ke Uman yang terkekeh melihat ekspresi jengkel Arunika.
Begitulah, sudah lebih dari dua minggu Bumantara Sadewa menjadi tenaga serabutan di perusahaan ayahnya sendiri. Selama itu pula Uman dan Arunika menjadi lebih dekat. Arunika bisa lebih nyaman ngobrol dan bertukar pikiran dengan Uman. Padahal selama ini Arunika tidak pernah bisa seenjoy itu berteman dengan lawan jenisnya. Kemana-mana sendiri atau ditemani Arum.
Beberapa hari ini Uman mendapat tugas lapangan dari perusahaan yang mengharuskan dia menginap di luar kota, tetapi sangat terasa bagi Arunika yang telah terbiasa ngobrol dengan Uman, sejak Arum lebih sibuk dengan proyek barunya.
Ddrrrttt… ddrrrttt…dddrrrrtttttt getar ponsel Arunika malam itu.
“Holaa… lagi ngapain?”, pesan wa dari Uman. Arunika tersenyum lebar melihat pesan wa yang diterimanya.
“Lagi nyantai aja. Elo apa kabar? Gimana kerjaan disana?”, balas Arunika.
“Kerjaan lancar aja. Kalo kabar setengah baik”, balas Uman lagi.
“Maksud lo?”, tanya Arunika.
“Karena setengah hatiku disana, masih disimpen di frezer”, balas Uman lagi.
“Lo tu ya. Jangan suka bikin baper orang”, balas Arunika sambil senyum-senyum sendiri. Dia suka dengan candaan ringan Uman yang bikin hatinya menghangat.
“Udah sana balik kerja, ntar dimarah sama bosnya”, tegur Arunika karena tahu kalau kerjaan Uman itu tak mengenal waktu.
Disisi lain, Uman sedang bersantai di sebuah apartemen mewah miliknya. Milik Tara Sadewo. Alasan dinas luar kota yang diambilnya hanyalah upaya agar dia bisa memeriksa apartemennya yang sedang direnovasi. Sudah sembilan puluh persen renovasi berjalan lancar. Sekitar sepuluh hari lagi Uman bisa pindah dan menempatinya.
“Ujian yang sebenarnya akan dimulai sepuluh hari lagi”, gumam Uman sambil tersenyum penuh misteri.
Seminggu sudah berlalu, namun Uman masih belum juga kembali dari tugasnya. Ada yang hilang dari hati Arunika. Setiap malam dia menantikan ponselnya bordering. Namun yang dinanti tak kunjung memberinya kabar. Kegelisahannya diperhatikan oleh Arum.
“Ngapain lo Runi. Gelisah amat lo akhir-akhir ini kalo malam gini”, tanya Arum penuh selidik.
“Nggak, nggak ada apa-apa. Perasaan lo aja kali”, kata Arunika ngeles.
“Woii, gue nih kenal lo nggak baru kemaren. Mana bisa lo bohong sama gue. Ayo, jujur aja lo, Run”, kata Arum lagi.
“Lo kangen ya sama si Uman”, tanya Arum sambil tersenyum menggoda.
“Iiiih, apaan sih lo, Rum. Kangen apanya. Ada-ada aja lo kalo ngomong”, jawab Arunika sambil mencibirkan bibirnya.
“Halaah… percuma lo bohong ma gue. Tambah lo ngeles, tambah yakin gue kalo lo naksir sama tuh anak. Yaa kaaannn?”, kata Arum sambil melirik sekilas saat ponsel Arunika bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Dari Uman.
“Hola…. Lagi ngapain?”, tanya Uman.
“Lagi ngobrol sama Arum. Lo apa kabar? Sibuk banget sampe gak pernah kasih kabar, lo”, jawab Arunika.
“Tuuuhh, muka lo udah berubah sekarang, Run. Hahahaa… beneran jatuh hati sohibku ini”, kata Arum pelan saat melihat tingkah pipi sahabatnya itu memerah sambil berjingkat pergi meninggalkan Arunika agar bisa bebas berbicara dengan Uman.
“Iya, sorry. Banyak banget yang musti dikerjain disini”, kata Uman.
“Trus kapan lo balik? Ngerjain apa sih, kok sampe segitunya pak Rudi ngasih tugas ke kamu”, tanya Arunika lagi.
“Kalo kamu bilang kangen sekarang, besok aku bisa nyampe sana deh”, jawab Uman sambil tertawa kecil.
“Ngaco”, jawab Arunika. Tiba-tiba dia punya ide untuk ngerjain Uman.
“Mau gue lo langsung kesini sekarang, kalo gue bilang kangen. Hahahaaa”, kata Arunika sambil tertawa. “Biar nyahok dia. Mo nggodain gue, gue tantangin aja sekalian”, batin Arunika senang.
“Siapa takut? Tapi kamu nggak ada bilang kangen tuh. Coba bilang dulu. Pasti aku bisa langsung kesana. Hahahaa”, tantang Uman sambil tertawa lepas.
“Bener?”, tanya Arunika sambil tertawa juga. Dia masih berpikir kalau Uman hanya bercanda. “Aku kangen”, katanya. Tiba-tiba rasa hangat menjalar di dadanya. “Ah, apa gue beneran kangen sama Uman, ya”, tanya Arunika dalam hati.
“Apaa? Nggak dengar tuh. Coba ulangi lagi”, kata Uman sambil tersenyum di seberang sana.
“AKU KANGEN”, kata Arunika lagi. Seakan separo beban nafasnya hilang saat dia mengatakan hal itu. Dan tuuuuutttt….tuuuutttt…. tuuuutttt tiba-tiba telepon terputus.
“Haloo… halooo….”, teriak Arunika,”Hhhh… putus. Gimana sih Uman ini. Kok tiba-tiba putus dan gak bisa dihubungi lagi”, kata Arunika dalam hati sambil setengah dongkol. Akhirnya dia masuk ke kamarnya dan rebahan untuk menghilangkan hatinya yang dongkol.
Tok tok tok tok suara ketukan pintu kamar Arunika terdengar.
“Mbak Runi, ada yang nyari”, terdengar suara Anifa, salah satu anak kos bu Rahma, memanggil Aruni.
“Iya. Tunggu sebentar”, jawab Arunika dari dalam kamarnya. Dengan langkah malas dia keluar kamar. Hatinya masih dongkol dengan putusnya telepon Uman tadi, sekarang ada tamu yang nyariin dirinya. Sebenarnya males sekali dia keluar. Udah pengen bobok cantik aja biar bisa mimpi ketemu sama Uman. Upss!!
“Iya, siapa yang nyari saya, ya?”, tanya Aruni sambil berjalan memasuki ruang tamu. Ternyata tamunya masih ada di luar. Dia pun segera berjalan keluar. Dan alangkah terkejutnya Arunika saat melihat orang yang mencarinya.
“Hola Aruni. Aku datang, kan?”, sapa Uman sambil tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan oleh Arunika selama lebih dari seminggu ini. Seketika hatinya berbunga dan jantungnya berdegub lebih kencang.
“Eh, lo kok bisa ada disini?”, tanya Arunika bingung.
“Kan ada yang bilang kangen, tadi”, jawab Uman sambil memberikan sekresek bakpia patok sebagai oleh-oleh dari Yogya, tempat Uman berdinas.
“Ah, yang bener lo. Lo ngerjain gue ya?”, tanya Arunika pura-pura marah sambil membuka kotak bakpia.
“Iya… tapi kamu suka kan?”, jawab Uman lirih di telingga Arunika. Harum semerbak rambut Arunika tercium oleh Uman. Arunika pun merasa geli dengan bisikan Uman. Spontan dia menolehkan wajahnya dan mereka berdua pun bertatapan sangat dekat.
Wajah Uman semakin mendekat. Nafasnya yang menderu terasa oleh Arunika. Arunika pun memejamkan matanya. Dadanya berdegup sangat kencang. Badannya membeku. Uman tersenyum melihat Arunika yang memejamkan matanya. Kepolosan seorang gadis yang belum pernah tersentuh oleh laki-laki sangat disukai oleh Uman.
Tiba-tiba Arunika merasakan kecupan di dahinya. Dia pun membuka matanya dan merasa sangat malu menyadari kegugupannya. Sedangkan Uman tersenyum saja seolah-olah tak terjadi apa-apa diantara mereka.