Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Saling curiga
Hasnawati diam di ambang pintu kamar, menatap Julia yang berdiri tegak di depannya.
"Iya, sudah selesai bantu soal biayanya," ujarnya tenang. "Kamu kenapa nanyanya gitu?"
Julia diam, masih menunggu jawaban soal Starla, mata tajamnya seperti ingin menembus rahasia ibu mertuanya. Tapi Hasnawati tetap tak mengucap sepatah kata pun.
"Sebab Mama nyuekin aku kemarin. Siapa tahu kepikiran mau ambil anak itu sebagai pancingan," beber Julia, sinis.
Hasnawati tertawa. Tangannya mengibas udara. "Kamu ini ada-ada saja. Kalaupun mau adopsi ya kudu izin Saba juga lah," katanya. "Tapi, kamu mau emangnya?"
Julia melotot, kakinya menghentak di lantai. "Kan, Mama sengaja emang," serunya manja, dia masuk kamar Hasnawati dengan langkah cepat.
Hasnawati terkekeh. Lalu memilih alih topik. “Ayo, Julia, kita nyalon sebentar. Sambil siapin bingkisan, mau sedekah ke anak yatim. Rajab sebentar lagi, kan?” katanya dengan nada ringan.
Julia menegakkan dagu, tapi pikirannya melayang. Hasnawati menatapnya, sambil menepuk bahu menantunya. “Masih nyeri haid, nggak?”
Julia menggeleng, tapi hatinya mulai berkecamuk. Pikiran tentang kemungkinan hamil yang tak kunjung datang, rasa bersalah yang tersimpan, semua bercampur menjadi overthinking yang tak bisa ia tahan.
Keduanya lantas bersiap pergi.
***
Di sisi lain kota, kantor SHasy, perusahaan parfum dan kosmetik, terasa sepi di sore hari.
Saba duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan intens. Ia membuka folder lama, memeriksa kembali foto-foto yang pernah tersimpan di drive, mencari petunjuk yang mungkin tersembunyi.
Foto itu adalah satu-satunya jejak. Saba masih ingat dengan jelas wajah perempuan itu—Wulan. Dia menunduk tersenyum malu-malu tapi matanya menyimpan rindu.
Saba menatap layar, bibirnya mengerucut. “Dimana dia… sebelum hilang begitu saja?” gumamnya pelan. “Apakah ada tanda-tanda dia ninggalin pesan buatku saat masih hidup?”
Ia menghela napas panjang, menutup folder dan menatap langit-langit kantor. Ada rasa penasaran yang tak tertahankan. Dia mencari data lama nama Wulan di kantor ini, tapi nihil, seolah ada yang menghapusnya.
Dia juga pernah datang ke panti, saat baru pulang ke Indonesia pertama kali. 5 tahun lalu. Saat itu, Wulan menjadi donatur di sana, tempatnya berasal. Saba bertanya pada suster kemanakah Wulan. Tapi mereka pun tidak tahu, Wulan seakan tak pernah ada.
"Aku mencarimu. Kamu marah lalu sembunyikan dia dariku, hem?" lirih Saba, menekan dahinya.
Saba sengaja dibuat sibuk, dia bahkan tidak pulang selama belajar di USA. Dia tak bisa membantah, hidup dipungut keluarga kaya membuatnya nyaris hilang jati diri.
Saba merasa harus membalas budi baik mereka. Dia rela mengalah, tetap berkirim pesan pada Wulan tapi entah mengapa tiba-tiba gadisnya itu menghilang.
Pernikahannya dengan Julia digelar begitu saja. Tanpa cinta, tanpa izin darinya. Dan saat ayahnya tahu soal Wulan, beliau murka. Saba tak berkutik karena diungkit hutang budi.
"Numpang hidup," ujarnya. "Sekedarnya sampai dipanggil pulang," katanya.
Di luar kantor, suara kendaraan lalu-lalang, orang-orang pulang kerja, tapi di dalam ruangannya, Saba hanya duduk diam, menunggu kabar yang mungkin datang, menunggu informasi yang belum tentu tiba.
"Kangen kalian." Saba menutup folder rahasia di komputernya. Bangkit berdiri menyambar jas dan pulang.
*
Sementara itu, di rumahnya, Julia menurunkan pandangannya dari jendela, memikirkan kata-kata Hasnawati. “Dia… merencanakan apa? Anak angkat?” bisiknya sendiri.
Di pikirannya, satu nama terus bergema: Starla.
Anak itu potensial dijadikan bidak Hasnawati. Tidak ada identitas, mudah dikendalikan dan dimanfaatkan.
Pikiran Julai liar. "Apakah untuk bahan uji coba kosmetik ya?" gumamnya. "Kan nggak ada yang nyariin, biaya rendah juga," lanjutnya.
Julia tidak terlalu tahu keluarga suaminya ini mengelola bisnis apa. Dia hanya paham bahwa Saba selalu berurusan dengan model untuk iklan produknya.
Julia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Tapi bayangan wajah Starla, wajah polos yang pernah ia lihat di foto laporan, terus menempel di pikirannya.
Sementara Hasnawati, di ruang tengah sedang mengatur ART untuk menyiapkan bingkisan kecil untuk anak-anak yatim, senyumnya tipis tapi penuh tekad.
Julia menatap Hasnawati, masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Bayangan gadis kecil itu terus menghantui Julia.
Ponsel Hasnawati bergetar sekali lagi.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum mengangkatnya. Langkahnya pelan saat masuk ke kamar, lalu pintu ditutup tanpa suara. Tirai sedikit ia tarik, menyisakan cahaya senja yang tipis.
“Lapor,” ucapnya singkat.
Suara di seberang terdengar rendah. “Informasi dari desa sudah kami pastikan, Nyonya. Benar ada seorang perempuan yang sedang mengurus dokumen anak bernama Starla.”
Hasnawati duduk di tepi ranjang. Jemarinya menggenggam ponsel lebih erat. “Diasuh oleh siapa?” tanyanya.
“Namanya Eliza Dwipayana. Warga biasa. Bekerja sebagai karyawan toko retail Indoapril. Kuliah di Universitas Terbuka, jurusan komunikasi. Semua proses diurus sendiri. Tidak minta bantuan siapa pun.”
Hasnawati menutup mata sesaat. “Anaknya bagaimana?” suaranya turun.
“Sehat. Terawat. Terlihat dekat dengan pengasuhnya,” jawab suara itu. “Lingkungan menyebut Eliza pekerja keras dan mandiri. Tidak ada catatan buruk.”
Hening sejenak.
“Lanjutkan pemantauan… atau dihentikan, Nyonya?” tanya orang itu hati-hati.
Hasnawati membuka mata. Tatapannya jatuh pada foto di layar ponsel yang masih terbuka—wajah kecil dengan mata bulat dan senyum polos.
“Lanjut,” katanya pelan. “Tapi jangan membuat dia curiga.”
“Baik.”
Hasnawati mengangguk kecil, meski tahu tak terlihat.
“Orang-orang Julia?” tanyanya kemudian.
“Masih bergerak, tapi sudah kami kecohkan. Mereka pikir informasinya buntu,” jawabnya mantap. “Untuk sementara, mereka tidak tahu apa-apa.”
Hasnawati menghela napas panjang, seperti baru saja meletakkan beban berat dari dadanya. “Bagus,” katanya. “Kabar apa pun… lapor ke saya langsung.”
Telepon ditutup.
Hasnawati duduk diam cukup lama. Memandangi foto Starla lagi.
“Mirip siapa ya…” bisiknya. “Kamu dijaga dengan baik rupanya. Pantas gadis itu histeris saat kamu ditabrak Julia.”
Di tempat lain.
Eliza duduk di lantai, melipat pakaian Starla yang mulai sempit. Kaos bergambar bintang, celana pendek yang warnanya mulai pudar, kaus kaki mungil yang sering hilang sebelah.
Ponselnya berdering. Ada pesan masuk dari kawan lama.
["Eliza, apa kabar? Kita mau ada acara syukuran lusa. Kamu bisa ke sini nggak, bantu-bantu."]
Eliza membaca perlahan. Pesan berikutnya menyusul. [Acara pengajian dan bagi bingkisan.]
Eliza menoleh ke arah Starla yang sedang duduk di depan pintu, menyusun balok warna-warni. Lidahnya sedikit menjulur, wajahnya serius sekali.
“Starla.” Starla menoleh cepat, senyumnya muncul begitu saja.
Eliza tersenyum balik, ia menatap layar ponsel lagi.
“Apa, Bu?” tanya Starla, polos.
Eliza mendekat, duduk di samping Starla, mengusap rambutnya pelan. “Mau ikut gak, ke tempat lama ibu,” tanyanya jujur.
Starla mengangguk, tak benar-benar paham. “Starla boleh ikut?”
Eliza terdiam sejenak. Lalu mengangguk. “Ibu mau Starla ikut.”
Starla berseri, kembali ke balok-baloknya. Eliza menggenggam ponselnya erat. Di dadanya, ada rasa takut, apakah Starla nanti akan meminta tinggal di sana?
.
.