Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Bantuan
Eliza bangun sebelum alarm berbunyi. Ia duduk sebentar di tepi kasur, menatap langit-langit kos yang mulai kusam. Di sudut ruangan, Starla masih terlelap, satu tangan memeluk boneka lusuhnya, napas kecilnya teratur.
Eliza bangkit pelan. Ia menyiapkan air hangat, seragam kerja, lalu membuka map cokelat yang selalu ia simpan di rak paling atas. Di dalamnya, lembar-lembar fotokopi: surat keterangan desa, pengantar RT, berkas Dukcapil yang belum lengkap.
Ia merapikannya satu per satu. “Sedikit lagi,” gumamnya.
Starla terbangun saat Eliza mengancingkan kemeja. Anak itu mengucek mata, lalu tersenyum kecil. “Ibu mau kerja?”
“Iya,” jawab Eliza sambil menunduk. “Starla sama Nek Gendhis, ya.”
Starla mengangguk. Tidak banyak tanya. Belakangan, ia lebih sering diam, tapi matanya selalu mengikuti Eliza ke mana pun pergi.
Eliza mencium keningnya lama.
Siang itu, Eliza kembali ke kantor desa.
Ia duduk di kursi plastik yang sama, map cokelat di pangkuannya. Udara panas, antrean panjang. Eliza menunggu tanpa keluh, menatap lantai, menghitung waktu. Namanya dipanggil lebih cepat dari perkiraannya.
“Ini berkasnya,” kata petugas desa sambil membuka map Eliza. Nada suaranya lebih ramah dari biasanya. “Lengkap. Tinggal pengesahan lanjutan.”
Eliza mengedip, sedikit tak percaya. “Cepat sekali, Pak…”
Petugas itu tersenyum tipis. “Kadang kalau niatnya lurus, jalannya ikut dibukakan.”
Eliza mengangguk. Ia tak bertanya lebih jauh. Di dadanya, ada rasa lega yang membuat napasnya terasa ringan.
Ia melangkah keluar kantor desa dengan langkah cepat, hampir lupa lelah.
Petang pun mulai merambat turun.
Di kamar kos sempit, Eliza duduk di lantai, membuka map cokelat di depan Starla. Anak itu mendekat, mencondongkan badan, penasaran.
“Ini apa, Bu?” tanyanya.
“Kertas penting,” jawab Eliza sambil tersenyum. “Kertas buat nama Starla.”
Starla memiringkan kepala. “Buat Starla?”
“Iya,” Eliza mengangguk. “Supaya Starla punya kertas isinya nama Starla dan ibu Eliza.”
Starla berpikir sebentar, lalu tersenyum lebar. “Berarti Starla udah jadi anak ibu beneran?”
Eliza tertawa kecil, matanya hangat. “Iya.”
Starla memeluk Eliza tanpa diminta. Tubuh kecil itu hangat, percaya penuh padanya. Eliza menutup mata.
***
Sore menjelang, laporan singkat masuk ke ponsel Hasnawati.
Di rumah besar itu, Hasnawati duduk sendirian di ruang kerja. Sebuah map tipis terbuka di meja. Di sampulnya tertulis satu nama.
STARLA
Hasnawati menatapnya lama, Perempuan itu datang sendiri. Tidak meminta bantuan. Proses berjalan lancar. Hasnawati membaca pelan, lalu menutup map itu perlahan.
“Semoga firasatku benar,” gumamnya pelan, “setidaknya aku yang menebus dosanya.”
Hasnawati berdiri di dekat jendela kamar. Tirai setengah terbuka, cahaya senja jatuh tipis di lantai.
Ponselnya lalu menempel di telinga. “Jangan pakai jalur aneh,” ucapnya tenang. “Kalau bisa dipercepat lewat prosedur yang benar.”
Suara di seberang menyahut singkat.
Hasnawati melanjutkan, nadanya lebih rendah. “Biaya apa pun… buat terlihat wajar. Jangan buat dia merasa ditolong.” Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“Perempuan itu berdiri dengan kakinya sendiri. Jangan runtuhkan itu.”
“Baik, Nyonya,” jawab suara itu. "Lagipula dia punya uang, kami hanya nambahin pelicin sedikit," imbuhnya.
"Oh, uang darimana? selidiki, apa pinjol?"
"Baik."
Telepon ditutup. Hasnawati masih berdiri di sana beberapa detik, lalu melangkah keluar kamar.
***
Pintu rumah terbuka menjelang isya.
Saba masuk dengan langkah tenang, jas kerja disampirkan di lengan.
Rumah terasa lengang. Dia masuk ke ruang kerja, meletakkan kunci di meja, lalu menoleh saat mendengar suara Hasnawati saat membuka pintu.
“Sudah pulang?” tanya Hasnawati.
“Iya, Ma.” Saba mendekat. “Mama kok belum ganti daster?” kekehnya, meraih tangan Hasnawati lalu diciumnya.
Hasnawati mengangguk kecil. “Bentar ganti ... besok mama mau bagi bingkisan ke beberapa panti. Seperti biasa.”
Saba menarik kursi, duduk di hadapannya. “Ajak Julia sekalian, Ma,” ujarnya ringan. “Biar dia ikut lihat-lihat.”
Hasnawati tidak langsung menjawab. Tatapannya berhenti di wajah Saba, terlalu lama untuk sekadar mendengar usulan.
Saba menyadarinya. “Kenapa, Ma?” tanyanya pelan.
Hasnawati menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Matanya berkaca-kaca. “Nggak apa-apa,” katanya cepat, seolah menepis. “Mama cuma keinget kamu waktu kecil.”
Saba terdiam. Ia berdiri, lalu mendekat. Tanpa banyak kata, ia memeluk Hasnawati. Namun, pelukan itu justru membuat tangis Hasnawati pecah.
“Jangan tinggalin mama, ya,” isaknya. Tangannya mencengkeram punggung Saba, erat, seperti takut kehilangan.
“Nggak, Ma,” jawab Saba cepat. “Aku kan sering bilang, aku nggak ke mana-mana.”
Hasnawati menggeleng di dadanya. “Maafin papa kamu,” katanya lirih.
Saba menarik napas panjang. “Iya,” katanya pelan. “Aku belajar memaafkan beliau.”
Ia sedikit menjauh, menatap wajah Hasnawati. “Mama kenapa?”
Hasnawati mengangkat tangan, meraba wajah Saba, seolah memastikan anak itu benar-benar ada di depannya. “Maaf,” bisiknya.
Saba kembali memeluknya, lebih erat. “Aku selalu jadi anak mama,” katanya mantap. “Mama yang memilih aku. Mama yang merawat aku.”
Hasnawati terisak, bahunya naik turun.
“Apa pun yang mama mau aku lakukan, bilang,” lanjut Saba, mengusap punggung ibunya. “Aku di sini.”
Hasnawati menggeleng, tak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Saba makin erat, tubuhnya gemetar.
Malam itu, Saba menemani Hasnawati sampai ke kamar. Ia membantu membaringkan ibunya, menarik selimut, duduk di tepi ranjang sampai napas Hasnawati teratur dan matanya terpejam.
Saba bangkit pelan, menatap wajah ibunya yang akhirnya tertidur.
“Setiap mau atau sesudah ke panti, mama selalu begini,” gumamnya lirih. “Padahal aku berusaha tegar … dan mulai mencari sendiri.”
Ia mematikan lampu kamar perlahan, menutup pintu tanpa suara.
Di rumah itu, malam berjalan pelan, keduanya menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya siap dibuka.
Lampu ruang tengah menyala setengah, bayangannya jatuh panjang di lantai marmer.
Julia muncul di ambang kamar. Rambutnya masih setengah basah, wajahnya datar tapi matanya mengikuti langkah Saba.
“Kok baru pulang?” tanyanya, nada suaranya menyelidik.
Saba melepas jam tangannya, meletakkannya di meja. “Nemenin Mama dulu. Dari tadi.”
Julia menghela napas pendek. Bibirnya mengerut. “Lagi-lagi Mama,” gumamnya. “Kamu selalu punya waktu buat Mama.”
Saba tidak menyahut. Ia melangkah ke walk in closet, membuka dasi, menggantung jas lalu menuang air minum, meneguknya sekali.
Julia menyusul, menyandarkan tubuh ke kusen pintu. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan tapi tajam, “kamu dingin banget sama aku.”
Saba menoleh sekilas. “Aku capek, Jul.”
Julia tertawa kecil, getir. “Capek?” ia melangkah mendekat. “Capek sampai sentuh aku aja nggak mau?”
Saba memalingkan wajah. Diam.
Julia bersedekap. Suaranya turun, seperti mengadu. “Aku sampai harus nunggu kamu setengah mabuk dulu, Sab. Baru kamu mau.” Ia berhenti sejenak. “Tau rasanya gimana?”
Saba menegang. Tak menjawab, hanya melirik sinis.
“Karena kalau nggak, kamu bahkan nggak mau lihat aku.” Julia mengusap perutnya pelan. “Aku lagi sakit. Haid.” Nada suaranya mengharap.
“Istirahat aja,” jawab Saba singkat.
Julia mendongak. Matanya memerah. “Kurang seksi apa aku di mata kamu?” Ia tertawa, suaranya bergetar. “Ada ya lelaki sedingin ini sama istrinya sendiri?”
Saba menghela napas panjang. “Aku capek, Julia.”
Julia mendekat satu langkah. “Mama aja kamu perhatiin. Aku?” Ia menunjuk dadanya sendiri. “Nggak pernah.” Ia tersenyum miring. “Untung aku setia.”
Saba berhenti. Perlahan ia menoleh. Tatapannya tajam menusuk. “Apa?” tanyanya datar. “Setia?”
Satu detik.
Julia terpaku. Dadanya naik turun.
"Coba bilang lagi," ucap Saba, suaranya berat.
.
.