Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Satu langkah lagi
Saba menginap di apartemennya sendiri.
Tempat itu sunyi, jarang dia tempati kecuali jika pikirannya semrawut dan tak ingin Hasnawati tahu.
Ia menyalakan lampu ruang tamu, lalu menjatuhkan diri ke sofa tanpa melepas jasnya. Map cokelat itu kembali dibuka, ditutup, lalu dibuka lagi. Seolah kalimat di dalamnya bisa berubah jika dibaca berulang kali.
Ia menyandarkan kepala ke sofa. Napasnya berat.
Potongan demi potongan kejadian berputar di kepalanya. Wulan. Tangis yang tak sempat ia dengar. Pemakaman yang gak pernah dia hadiri. Dan kini—Starla.
Senyum kecil itu muncul lagi di ingatannya. Semua ini, terlalu familiar.
Saba mengusap wajahnya. Dadanya nyeri padahal tak luka. Air mata jatuh begitu saja ketika pandangannya tertumbuk pada foto Wulan di ponsel—foto lama, dengan senyum yang sama seperti Starla.
“Tunggu satu lagi, ya,” gumamnya lirih.
Ia menyeka wajahnya lalu menghubungi Albana.
Tak lama kemudian, mereka bertemu. Albana bercerita sambil melepas jaketnya, suaranya terdengar jengah.
“Bu Gendhis itu susah didekati, Bos. Baru juga nanya-nanya sambil lirik posisi kamar, dia langsung curiga," keluh Albana sembari duduk di sofa.
Saba mengangguk pelan. Ia bisa membayangkan sikap perempuan tua itu—waspada karena hidupnya tak cuma menyangkut diri sendiri. Ada cemas juga ketakutan yang sengaja ditekan agar Starla merasa tenang dan aman.
“Nggak apa,” kata Saba singkat. “Kita cari jalur lain.”
Ia mengajak Albana keluar naik motor. Saba ingin melihat tempat itu, membayangkan kejadian malam 5 tahun lalu.
Mesin menyala, mereka kembali menyusuri kota.
Motor berhenti di depan sebuah minimarket.
Lampunya terang. Rak-raknya tertata rapi. Beberapa pelanggan keluar masuk silih berganti. Saba berdiri di seberang jalan, mengamati papan nama toko itu. Tempat Eliza bekerja.
“Masuk pagi,” kata pegawai kasir ketika Albana bertanya. “Udah pulang.”
Saba mengangguk. Tokonya bersih, dan strategis. Pantas jika ramai. Mereka melanjutkan perjalanan.
Gang menuju kosan Eliza sempit. Motor harus dipelankan. Dinding-dinding kusam, jemuran tergantung rendah, dan suara televisi samar dari kamar lain. Papan kecil bertuliskan Kosan Gulajawa nyaris tak terbaca.
Tempat itu sudah sepi.
Saba turun dari motor. Berdiri di depan pagar kosan. Di depannya tampak kamar Eliza yang tertutup rapat. Catnya kusam, gagang pintunya sederhana. Tidak ada tanda kemewahan, tapi Saba menilai tempat ini masih layak ditinggali.
Halamannya luas dan lumayan asri karena pohon mangga juga beberapa pot bunga berjajar rapi di teras-teras kamar, bersih. Juga ada garasi motor di dekat rumah pemiliknya.
Saba berdiri cukup lama. Membayangkan seorang perempuan pulang kerja, membuka pintu itu, lalu disambut seorang anak kecil dengan senyum ceria.
“Bos?” panggil Albana pelan.
Saba mengangguk, lebih pada dirinya sendiri.
“Pulang,” katanya singkat sambil menepuk bahu Albana.
Dalam perjalanan kembali, Saba merenung meski semua jawaban belum jelas, tapi satu kebenaran sedang dirangkainya.
Saba tidak tahu, apakah nanti ia akan disambut baik atau ditolak oleh kebenaran itu sendiri.
*
Keesokan harinya, Saba keluar dari apartemen lebih pagi dari biasanya.
Langit masih sedikit gelap. Jalanan belum sepenuhnya ramai. Ia menyetir tanpa musik, hanya suara mesin dan pikirannya sendiri yang bersahutan.
Mobilnya berhenti tak jauh dari gerbang sekolah Starla. Ia memilih parkir di pinggir jalan, membeli bubur ayam di warung kecil dekat situ. Uap hangat mengepul dari mangkuk bergambar ayam jago, menguarkan aroma gurih.
Saba tak benar-benar lapar. Matanya terus mengarah ke gerbang sekolah.
Tak lama, sebuah motor Beat karbu hitam melintas pelan di depannya. Saba langsung mengenalinya.
Eliza.
Starla duduk di depan, ransel kecil menempel di punggungnya. Suara bocah itu terdengar samar, tapi jelas di telinganya. “Ayo cepat, Ibu.”
Saba tersenyum tipis tanpa sadar. Motor Eliza berhenti di parkiran. Gerbang sekolah masih terbuka lebar. Saba memperhatikan dari kejauhan, menjaga jarak seperti orang-orang suruhannya ketika mengintai.
Eliza turun lebih dulu. Ia membantu Starla turun, membenarkan tali tasnya. Lalu adegan kecil itu terjadi—entah kenapa menghantam dada Saba lebih keras dari apa pun.
Starla pamit, menyalimi Eliza. Cium pipi kanan dan kiri. Eliza mengusap dada Starla pelan, lalu Starla meraup wajahnya sendiri.
"Oh… lagi didoain," Saba bergumam masih memegangi mangkok buburnya.
Ia melihat senyum Starla. Lambaian tangan kecil itu. Dan suara ceria yang tak dibuat-buat.
“Dadah ibuuuu!”
Saba memejamkan mata sejenak. "Sayang…” bisiknya hampir tak terdengar, sambil membuka foto Wulan di ponselnya. “Dia ceria sekali.”
Eliza melintas kembali di depannya. Motor itu berjalan menjauh, membaur dengan jalanan yang mulai padat. Saba mengikuti dengan pandangan sampai sosok itu benar-benar hilang.
Setelah itu ia menghela napas panjang.
Ia menghubungi salah satu orang kepercayaannya.
“Ya, Bos.”
“Aku mau tes DNA,” kata Saba tanpa bertele-tele. “Usahakan jangan ada yang curiga.”
“Baik, Bos.”
“Datangi sekolah Starla… atau apa pun caranya,” lanjut Saba, suaranya menegang. “Tapi satu hal—jangan sampai melukai Starla. Jangan buat dia takut.”
“Siap.”
Telepon terputus.
Saba meneguk minumannya. Bubur di hadapannya sudah dingin, tak tersentuh. Dia benar-benar kehilangan selera makannya.
Namun, setidaknya sekarang ia tahu jika Starla ada dekat dengannya. Meski semua masih ada jarak yang harus dia jaga sementara ini.
Saba bergumam ketika kembali masuk ke mobilnya. "Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu, Eliza."
*
Saba bersandar di kursi kerjanya. Berkas di layar laptop tak satu pun benar-benar dia baca. Nama Starla terus muncul di kepalanya, bergantian dengan senyum kecilnya. Semalam ia nyaris tak tidur.
Pagi ini, dalam perjalanan ke kantor, Saba menelpon Pak Sarip.
“Mama gimana?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Murung, Den,” jawab Pak Sarip jujur. “Duduk di teras belakang lama. Tapi masih mau makan.”
Saba menghela napas. Setidaknya ibunya tidak sendirian.
“Tolong jagain Mama dulu, Pak,” ucapnya pelan. “Jangan biarin beliau banyak pikiran.”
“Iya, Den.”
Telepon ditutup. Saba menatap kosong ke luar jendela. Kota bergerak seperti biasa, sementara hidupnya saat ini, seperti berhenti di satu titik yang sama.
Ponselnya bergetar lagi. Nama orang suruhannya muncul di layar.
Saba langsung mengangkat. “Katakan,” katanya singkat. “Dapat apa saja?”
Ada jeda sejenak di seberang sana, seolah si penelepon sedang memilih kata.
“Ny—Julia, Bos,” jawabnya akhirnya. “Sejak semalam keluar. Dia ketemu seseorang.”
Saba menegakkan punggungnya. Rahangnya mengeras. “Siapa?”
“Seorang pria. Kami telusuri, dia mantan wartawan hiburan… sekarang freelance.”
Jari Saba mengencang di ponsel. “Ngapain mereka?”
Hening beberapa detik. Suara di seberang ragu-ragu, suaranya pelan ketika bertanya, "Anda yakin, Bos?"
Saba menarik napas, melonggarkan dasinya. "Bilang saja."
"Mereka...."
.
.