Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Caper ke Eliza

Saba menatap layar ponselnya tanpa ekspresi.

Foto demi foto bergeser pelan di layar—Julia, jelas. Wajahnya tak lagi menyisakan kepura-puraan yang biasa ia lihat setiap hari.

Bukan satu pria. Tapi beberapa di lain waktu.

Saba menutup file itu, lalu menyimpannya di folder terenkripsi. Bukan untuk dipakai sekarang tapi dijadikan pegangan suatu saat nanti.

“Lain kali,” katanya dingin ke sambungan telepon, “video.”

“Baik, Bos.”

Telepon terputus.

Saba meletakkan ponselnya di meja. Tangannya mengepal sebentar, lalu dilepas. Anehnya, tak ada marah yang meledak. Yang ada justru kelelahan. Seolah satu demi satu topeng di hidupnya jatuh.

Julia bukan lagi pusat pikirannya. Saba berdiri, berjalan ke jendela. Bayangan Starla kembali muncul—tawa kecil di pagi hari, suara “dadah ibuuuu” bahkan gerakan Eliza yang menunduk mendoakan anaknya, terlukis jelas.

Apakah ia harus menemui Eliza sekarang? Saba tahu, sekali ia melangkah ke sana, hidup mereka tidak akan sama lagi.

Ia membayangkan wajah Eliza jika tiba-tiba ia berdiri di hadapannya. Tatapan curiga? Takut? Atau justru dingin?

Dan Starla?

Saba mengusap wajahnya. Ia sadar—jika ia datang sekarang, itu bukan demi kebenaran. Itu demi egonya yang ingin segera memastikan.

“Belum,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Ia mengambil ponsel lagi, mengetik pesan singkat pada orang suruhannya.

"Fokus ke tes DNA. Aku mau hasilnya bersih, tanpa jejak." Pesan terkirim.

Saba duduk kembali, menarik napas panjang. Jika nanti ia berdiri di depan Eliza, ia ingin dilihat sebagai pria yang tahu kebenarannya secara detail. Tidak ada celah bagi Eliza untuk mengelak.

***

Gudang toko satu-satunya tempat Eliza menenangkan diri.

Meski suasana gudang tak sepenuhnya sunyi, setidaknya di sini, Eliza bisa berpikir. Selalu ada dengung kipas kecil di sudut, bau kardus lembap, dan cahaya lampu neon yang sedikit berkedip. Eliza duduk di lantai, punggungnya bersandar pada rak besi, lutut ditarik ke dada.

Di tangannya, ponsel menyala menunjukkan foto Starla.

Senyum itu. Mata yang sedikit menyipit kalau tertawa. Rambut yang selalu berantakan tiap pulang sekolah. Wajah yang selalu bersinar meski sesekali meredup karena harus mengerti ketika keinginannya tertunda.

Eliza mengusap wajahnya pelan. Kepalanya berdenyut sejak pagi. Bukan karena lelah fisik—tapi karena potongan-potongan petunjuk yang akhirnya cocok. Dan justru itulah yang membuat dadanya sesak.

Eliza menunduk. Dahi menyentuh lutut. “Ya Allah…” bisiknya, nyaris tak bersuara. “Kalau ini ujian… berat juga.”

Ia menatap foto Starla lagi. “Aku percaya setiap anak itu bawa rezekinya masing-masing,” ucapnya lirih, seperti sedang bernegosiasi dengan langit.

“Aku nggak keberatan loh… dititipi Starla.” Ia tersenyum tipis, getir. “Ya ngeluh dikit wajar, kan?"

Jarinya mengusap layar. Wajah Starla membesar. “Jangan biarkan Starla lepas dariku,” pintanya pelan. “Hanya itu.”

Ponsel ia matikan. Namun pikiran lain menyusup, mematahkan perjuangannya. 

Ee… tapi mereka kaya.

Segala cara bisa dipakai. Lah aku?

Eliza tertawa kecil tanpa suara. Bahunya jatuh. “Aku cuma ibu asuh,” gumamnya. "Apa yang kupunya? Nggak ada.”

Pintu gudang tiba-tiba berderit. Eliza tak langsung menoleh. Ia tahu langkah itu. Indra berdiri di ambang pintu, masih mengenakan seragam kerja, satu tangannya memegang gelas kopi.

“Ngomel sama siapa?” suara Indra terdengar santai, tapi ada jeda kecil sebelum ia mendekat.

Eliza tetap menunduk, kepala masih menyentuh meja. “Sama Tuhan,” jawabnya lemah. “Sama diri sendiri.”

Indra memperhatikan wajah Eliza lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di sana, macam kelelahan.

Ia menaruh gelas kopi di meja.

Lalu berdiri di depannya. Ia menangkap kalimat terakhir Eliza—cukup jelas. “Opsi aku masih berlaku loh, El.”

Eliza mendongak. Matanya sembab, tapi tatapannya masih tajam. “Ekspres amat, Pak,” katanya, mencoba tersenyum.

Indra tak tersenyum balik. “Kan demi Starla dulu,” lanjutnya, lebih serius. “Aman dulu. Urusan aku sama kamu… nanti bisa kita pikirin.”

Eliza berdiri. Menyimpan ponselnya ke saku. “Ah, nggak ah,” katanya cepat. “Pernikahan bukan buat mainan.”

Indra melangkah satu langkah mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya. Jarak mereka kini lebih dekat. Matanya menatap lurus, Eliza. “Siapa juga yang mau mainan,” katanya rendah. “Aku sungguhan.”

Deg.

Eliza terpaku. Lalu menarik napas saat berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya yang berdebu.

“Pak Indra,” katanya pelan tapi tegas, “aku nggak mau nikah karena rasa takut.”

Indra ikut berdiri. “Aku juga nggak nawarin karena kasihan.”

Mereka saling diam.

Di luar gudang, suara toko kembali terdengar—kasir, pelanggan, hidup yang berjalan seperti biasa.

Eliza menatap lantai sebentar. Lalu mengangkat wajahnya. “Aku cuma mau satu hal,” katanya lirih. “Starla aman.”

Indra mengangguk pelan. “Dan aku bisa jadi pagar itu.”

Eliza tak langsung menjawab. Di dalam hatinya, ada dua rasa yang saling bertabrakan, ingin melindungi… dan takut kehilangan.

Saba sebenarnya cuma mampir, melihat suasana toko. Tapi begitu masuk ke toko itu, langkahnya melambat sendiri.

Ini tempat dia kerja, batinnya. Rapi. Bersih. Nggak besar, tapi kelihatan ramai.

Saba mengambil satu kaleng susu formula. Bolak-balik dibaca. Jujur aja, dia nggak paham.

“Eliza?” panggilnya ke arah seseorang yang baru keluar dari gudang.

Eliza menoleh. “Eh, iya?”

“Ini bagus nggak?” Saba mengangkat kaleng susu. “Buat anak.”

Eliza mendekat, lihat labelnya. “Umurnya berapa?”

“Masih kecil,” jawab Saba cepat. “Anakmu.”

Eliza refleks senyum kecil melihatnya. “Starla?” Lalu buru-buru menggeleng. “Oh, nggak usah. Susunya masih ada.”

Masih ada? pikir Saba. Padahal dia tahu hidup mereka nggak semudah itu.

“Nggak apa,” kata Saba. “Yang lain sekalian. Sabun, sampo, makanan… apa aja yang dia suka.”

Eliza diam. Kenapa orang ini perhatian banget sih? Susu dari Indra aja masih dua dus di rumah.

“Sebenernya—” Eliza ragu. “Nggak perlu maksain begini...”

Saba cuma berdiri, nunggu Eliza bicara. Tangannya masuk ke salah satu saku celananya.

Eliza jadi kikuk sendiri. Dia melirik kasir yang lumayan antri. Akhirnya Eliza menunjuk rak. Agar urusannya dengan Saba lekas selesai.

“Kalau sarapan… Starla suka sereal. Selai stroberi. Roti.”

“Yang itu ya,” kata Saba langsung menunjuk rak di pojok toko.

Eliza memperhatikan. Cara dia milih barang… tenang. Dia gegas ke meja kasir, tapi panggilan Saba menahannya lagi.

Saba nambah beras, minyak, gula. "Nona Eliza."

Eliza kaget. “Loh—itu…”

“Buat kamu,” jawab Saba santai.

“Eh, aku nggak usah. Beneran,” Eliza jadi salah tingkah. “Aku nggak enak.”

Kenapa dia baik begini?

Eliza mulai nggak nyaman. Kebaikan yang membuatnya berpikir. Apakah tulus? Atau hanya sekedar cari perhatian agar bisa dekat dengan Starla? 

Mereka lalu ngobrol sedikit. Basa-basi aja. Soal toko, soal jam kerja. Sampai akhirnya Saba antri di kasir.

Sebelum pergi, Saba berhenti. “Aku pengin ngobrol lain waktu,” katanya. “Kalau kamu nggak keberatan.” Ia menyodorkan ponselnya. “Boleh minta nomor?”

Eliza membeku.

Di saat yang sama, suara dikenal muncul di sampingnya. “Kenapa, El?”

Eliza menoleh. Jantungnya langsung berdebar. Saba juga menoleh ke arah Indra. Tatapan mereka saling bertemu.

Eliza melihat antrian di belakang Saba, dia buru-buru menyodorkan kembali ponsel Saba. “Maaf.”

Ia ambil ponselnya, dan tersenyum tipis. “Terima kasih,” katanya sambil pergi, meninggalkan kantong belanjaan di meja.

Eliza menatap pintu cukup lama.

Indra mendekat. “Dia siapa?”

“Ehm, tuan muda,” jawab Eliza pelan. “Putranya Nyonya Hasnawati.”

“Yang bayarin Starla itu?”

Eliza mengangguk.

Indra mendesah. “Hati-hati, El.”

“Hati-hati kenapa?”

“Orang kayak dia tuh ngasih nggak cuma-cuma ... Pasti ada tujuan,” ujar Indra serius. “Bisa aja dia lagi melunakkin kamu… sebelum ngambil Starla.”

Eliza menegang. Dadanya langsung sesak. “Hah?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!