Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Ketakutan Hasnawati

Kamar rawat Hasnawati dipenuhi aroma bunga segar. Tirai jendela terbuka setengah, cahaya siang masuk lembut, jatuh di seprai putih dan meja kecil di samping ranjang.

Hasnawati sudah rapi. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya dipulas tipis. Hari ini dia akan pulang.

Ketika pintu diketuk dan dibuka, matanya langsung berbinar.

“Saba.”

Saba melangkah masuk, jasnya masih rapi, tapi wajahnya menyimpan lelah yang tak sempat disembunyikan. Ia mendekat, berdiri di sisi ranjang.

“Gimana kabarnya hari ini, Ma?” tanyanya sambil mengecup pelan pipi ibunya.

Hasnawati tersenyum. Mengusap wajah tampan putranya.

“Lebih baik,” jawabnya pelan. “Dokter bilang mama sudah boleh pulang."

Saba mengangguk. Ia menarik kursi dan duduk. Tangannya bertaut di depan dada.

“Kayaknya Mama kelihatan senang hari ini,” katanya kemudian. “Ada kabar yang aku nggak tahu?”

Hasnawati menatapnya lama. Seolah sedang menimbang—antara menjawab jujur atau kembali menahan kebenaran yang sudah dia ketahui.

“Ada banyak hal yang harus kita obrolkan,” katanya akhirnya. “Berdua.”

Alis Saba sedikit terangkat. “Tentang apa?”

Ia menyandarkan punggung, nada suaranya berubah lebih dingin.

Hasnawati tersenyum tipis menatapnya, lalu berujar pelan, "Kita."

“Oh ... Aku kira tentang orang-orang suruhan Mama yang sibuk mencari tahu seseorang?”

Senyum Hasnawati runtuh. "Kamu... tahu?” matanya membesar sesaat.

Saba menatap lurus. Tidak menghindar. “Aku bukan anak kecil lagi, Ma.”

Hening mengisi kamar. Cairan infus berdetak pelan, seperti pengingat bahwa waktu terus berjalan.

Hasnawati menarik napas panjang. Tangannya mencengkeram selimut. “Kalau Mama bicara sekarang,” suaranya sedikit bergetar, “kamu mau dengarkan?”

Saba tak langsung menjawab.

Hasnawati menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia memaksa suaranya tetap stabil. “Apa kamu akan meninggalkan Mama… setelah ini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat, rapuh.

Saba menghela napas. Ia berdiri, berjalan satu langkah ke arah jendela, lalu kembali menatap ibunya. “Mama takut apa?” tanyanya pelan. “Kehilangan aku… atau ketauan menyembunyikan sesuatu dariku?”

Hasnawati terdiam. Air mata akhirnya jatuh, satu, membentuk garis tipis di pipinya.

“Kamu pikir semua ini mudah buat Mama?” suaranya pecah. “Kamu pikir Mama nggak kehilangan apa-apa?”

Saba mendekat. Berdiri di samping ranjang, menunduk agar sejajar dengan wajah ibunya. “Kalau begitu,” katanya rendah, “ceritakan semuanya. Sekarang.”

Hasnawati memejamkan mata. Dadanya naik turun. Seperti seseorang yang akhirnya sampai di ujung kebohongan yang terlalu lama dipelihara.

“Wulan…” bisiknya.

Nama itu membuat tubuh Saba menegang.

“Dan seorang anak,” lanjut Hasnawati lirih. “Seorang bayi perempuan.”

Deg.

Saba berdiri kaku. “Sejauh mana Mama tahu?”

Hasnawati membuka mata, menatap putranya dengan sorot yang campur aduk—bersalah, takut, dan berharap.

“Anak yang seharusnya… tahu asal usulnya.”

Hening kembali jatuh.

Saba sadar kebenaran yang sedang dibuka ibunya mungkin akan mengubah segalanya. Dadanya bergetar pelan.

Hasnawati menatap Saba lama, sampai senyumnya memudar. “Saba…” suaranya turun, nyaris bergetar. “Mama minta maaf.”

Saba tidak duduk. Ia berdiri di sisi ranjang, tangan diselipkan ke saku celana, rahangnya mengeras.

“Maaf yang mana, Ma?” tanyanya datar.

Hasnawati menghela napas panjang. “Tentang semuanya.”

Ia menunduk. “Papa kamu… semua ini Mama lakukan demi kamu. Demi kebaikanmu waktu itu.”

Saba tertawa kaku. Tidak ada humor di sana. “Kebaikan versi siapa?”

“Papa kamu nggak mau kamu menghancurkan perusahaan hanya demi seorang perempuan,” lanjut Hasnawati, cepat, seolah takut disela. “Sejak awal, Papa nggak mau kenal Wulan. Dia anggap Wulan ancaman.”

Saba mencondongkan tubuh, matanya memerah. “Tapi Papa jahat, Ma.” Suaranya bergetar. “Dia misahin aku dan Wulan. Dan lebih jahat lagi—misahin Wulan dari bayinya.”

Hasnawati memejamkan mata. Dadanya naik turun. “Dengerin dulu, Saba…”

Saba diam. Tapi dadanya berdenyut hebat.

Hasnawati membuka mata. Kali ini air mata langsung jatuh berderai.

“Papa kamu keras. Dunia yang dia bangun nggak kenal kompromi. Mama—”

“Mama dukung dia,” potong Saba tajam. “Sekongkol.”

Kata itu seperti tamparan. Hasnawati menggeleng cepat. Air matanya kian deras. “Tidak… tidak seperti itu,” ucapnya parau sambil terisak.

“Kalau tidak sekongkol,” suara Saba meninggi, “kenapa Mama diam dan biarin semuanya terjadi?”

Hasnawati tersedu. Tangannya mencengkeram seprai. “Mama tahu, Saba,” ucapnya akhirnya, lirih tapi jelas. “Mama tahu ini salah. Tapi Mama gak ada jalan keluar saat itu.”

Deg.

Tubuh Saba menegang. “Apa?”

Hasnawati menunduk. Tangannya gemetar, mengingat ancaman malam itu. Bibirnya berucap pelan, bercampur isakan.

“Kalau kamu bantu Saba,” suara papamu masih jelas di telinga, “aku pastikan anak itu hancur pelan-pelan.”

"Kamu adalah titik lemah Mama. Dan Papa tahu itu."

“Dan Mama…” lanjut papamu, ringan tapi kejam, “akan dikembalikan ke tempat asal.”

Hasnawati memejamkan mata. Saba mulai luluh. Dia menggenggam tangan ibunya.

"Tempat asal." Hasnawati menelan ludah.

"Lokalisasi. Lorong sempit. Bau keringat dan asap. Malam yang tak pernah benar-benar istirahat. Tempat di mana namaku hanyalah sebuah panggilan."

Ia menggigil. "Aku sudah keluar dari sana. Sudah bersih. Sudah menjadi istri orang terpandang, nggak mau kembali."

Hasnawati kian terisak. "Ancaman itu seperti jerat. Kalau melawan, Saba yang disiksa. Jika bertahan, Aku sendiri yang terkubur."

Hasnawati menyeka air matanya, dia melihat Saba. Tatapannya sendu. "Setiap malam Mama bertanya pada dirinya sendiri, kalau bicara, apa kamu masih hidup besok, Saba?" Ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.

Hasnawati lantas bercerita bahwa dia dihantui rasa bersalah bertahun-tahun.

"Maafkan Mama," bisiknya. "Bukan karena tega. Tapi karena Mama terlalu takut kehilangan kamu… dan kehilangan diri Mama sendiri."

Hasnawati memejamkan mata. Trauma itu masih tinggal. Dan ia baru sadar—diamnya telah melukai anak yang paling ia sayangi.

Saba diam. Dia baru tahu soal ini, masa lalu ibunya. Pantas saja, Hasnawati sangat menyayanginya.

Hening. Hanya suara isakan Hasnawati mendominasi ruangan.

“Mama tahu… ke mana papamu membawa bayi itu.”

Wajah Saba memucat. Matanya membola. “Kemana…?”

“Mama sempat menyelamatkannya,” kata Hasnawati dengan suara pecah. “Tapi Papa tahu. Mama diseret pulang. Dikurung. Semua akses Mama diputus.”

Saba mendongak. Kakinya terasa lemas.

“Terus bayinya…?” suaranya hampir tak keluar.

Hasnawati menggeleng pelan. “Setelah itu… Mama nggak tahu. Entah ke mana Papa membuangnya.”

Saba terduduk lemas di kursi. Tangannya menutup wajah. Napasnya terengah. Selama ini ia pikir drama itu sudah selesai. Wulan pergi. Bayi hilang.

“Tapi akhir-akhir ini,” lanjut Hasnawati pelan, “Mama seperti ditarik. Tanpa sengaja. Kejadian demi kejadian. Nama demi nama. Semuanya membawa Mama ke satu arah.”

Ia menatap Saba. “Kebenaran.”

“Saba…” ia menangis. “Maafin Mama.”

Saba tetap diam. Ibunya tahu. Tapi tidak menyelamatkan. Tidak mencari. Tidak melawan.

Hasnawati menangis makin keras. “Mama takut,” katanya tersengal. “Mama takut diceraikan. Takut kehilangan segalanya. Takut kehilangan kamu.”

“Maafin Mama, Saba… karena nggak nyariin sejak lama.”

Saba berdiri. Wajahnya dingin, tapi matanya penuh kecewa pada ibunya.

Ia berbalik, melangkah menuju pintu. “Saba—!”

Hasnawati turun dari ranjang dengan panik. Infus masih terpasang, alarm alat medis berbunyi pelan. Ia nyaris jatuh saat memaksa mengejar.

Ia meraih lengan Saba. “Mama tebus semuanya,” katanya terengah. “Mama tahu… di mana bayi itu.”

Deg.

Saba berhenti. Pelan-pelan, ia menoleh. “Apa?”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!