Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Kian menguat

Saba langsung berdiri, kembali berjalan ke depan jendela ruangannya. Tirai terbuka setengah. Cahaya pagi masuk menerpa wajahnya.

Kepalanya masih dipenuhi potongan-potongan ingatan yang belum mau menyatu.

"Eh, tapi masa iya segininya sih ya?" 

Ia teringat jelas kalimat Wulan, dulu. Saat berbicara pelan, seolah menganalogikan dirinya di tengah alam semesta.

[“Bintang itu kecil. Tapi dia punya cahaya dan porosnya sendiri. Sama kayak kita.”] 

Deg.

Saba menutup mata. Dadanya terasa ditekan dari dalam.

“Starla…” gumamnya. “Itu kan artinya Bintang.”

Ia membuka mata cepat. Napasnya sedikit tersengal. “Dan Vali Dwipa,” lanjutnya pelan. “Pulau Bali.”

Tangan Saba terulur, menyentuh kaca. Tak lama tangannya berpindah meraup wajah, lalu rambutnya. Ia mulai mondar-mandir di ruangan, langkahnya tak beraturan. Lantai marmer memantulkan bayangannya sendiri.

Ia berhenti di meja kerja, meraih ponsel, membuka catatan lama. Tanda lahir : pulau Bali.

Jarinya berhenti di layar. “Ini kebetulan… atau tanda darimu?” bisiknya.

“Pulau Bali… apa itu kenangan paling kuat di kepalamu?” Ia menghembuskan napas panjang.

Tepat saat itu, ponselnya berdering. Saba menekan tombol hijau, suara orang suruhannya terdengar.

“Bos. Kabar terbaru soal Nyonya Hasnawati.”

“Katakan.”

“Kami ke panti lagi. Ketemu Suster Nafa. Katanya Nyonya tidak datang langsung, tapi pernah menanyakan Wulan. Eliza juga Starla.”

Rahang Saba mengeras. “Lalu?”

“Kami juga memergoki beberapa orang di sekitar sekolah dan tempat kerja Eliza.”

Saba memejam sebentar. “Oke. Ada lagi?"

“Soal Julia, fotonya sedang kami kumpulkan. Dan tadi ke suster Nafa kami memberi bingkisan tapi dia menolak dan sempat bertanya ke orang kami.”

"Apa katanya? Dia curiga?" 

"Kenapa bertanya soal Eliza, Starla, apakah mau adopsi? Katanya, Bos," beber orang suruhannya. "Sepertinya sih, tapi kamj gegas memberikan amplop saja lalu pergi."

“Baik.”

Telepon terputus.

Saba meletakkan ponselnya di meja. Ia bersandar di sisi meja, meraih botol air, meneguknya sekali, lalu melonggarkan dasinya. Lehernya terasa sesak.

Ia menoleh ke luar jendela. Awan bergerak pelan, seolah tak tahu ada satu hidup yang sedang jungkir balik di bawahnya.

Ketukan pintu terdengar singkat. Albana masuk tanpa banyak basa-basi. Wajahnya berminyak, dahinya berkeringat.

Ia langsung menyodorkan beberapa foto dari tabletnya. “Kosan. Sekolah Starla. Tempat kerja.”

Albana menjatuhkan diri ke sofa, mengibas-ngibas udara dengan map. Padahal ruangan Saba pakai pendingin ruangan.

“Puanasnyoooo,” keluhnya, sambil melepas jas.

Saba duduk, mengamati foto-foto itu satu per satu. Dan ... Matanya berhenti di tas Starla yang sedang dijemur.

Tas itu. Ia ingat jelas. Bingkisan terakhir yang dibagikan ibunya. “Ini tasnya dari Mama,” gumam Saba. “Kosannya sederhana. Sekolahnya lumayan bagus.”

Ia menggeser foto lain. “Kerjaan Eliza… Indoapril yang 24 jam itu, ya?”

“Yess, Bos,” jawab Albana. “Termasuk toko rame. Pantesan si bocil langgeng kerja di situ.”

“Oh, berarti kamu tua dong,” kata Saba tanpa menoleh.

“Estewe.”

“Tua. Titik.” Saba menutup tablet Albana. “Mana setengah pria. Tau laku apa kagak.”

“Laku, Bos.”

“Iya, paling sejenis.” Saba mendengus. “Apa nggak jijik, kamu?”

Albana mendengus balik. “Amit-amit. Biar melambai begini, masih tegak bagai Monas kalau lihat yang semlohay.” Ia mengangkat gantungan kunci Betty Boop di tasnya.

“Seleramu gitu?” Saba terkekeh. “Emang mampu? Kerempeng gini?”

Albana berdiri, mengambil tabletnya lagi. “Seenggaknya kalau ada angin aku bisa melambai-lambai kayak nyiur di pantai. Lucu. Lah bos? Kayak tower BTS. Dingin. Kaku.”

“Yang penting laki.”

“Dikira aku petai?”

Saba tertawa lepas. Ia melirik Albana yang kini duduk di sofa. Tak ingat sejak kapan Albana ada di hidupnya. Tahu-tahu saja orang itu sudah duduk di ruangannya, menyatakan diri sebagai asprinya. 

Perawakannya gemulai, rapi, tapi selalu tepat waktu soal pekerjaan. 

“Gimana soal suster dan tanda lahir itu?” tanya Saba, kini lebih serius.

Albana membuka catatannya. “Suster nggak ingat bentuknya, Bos. Ada juga yang bilang nggak lihat sama sekali.”

Saba terdiam.

"Aneh buatku, Bos. Masa iya gak lihat, kan diperiksa ya? ... Apa jangan-jangan kebiasaan mereka itu cuma ingat bentuk tapi lupa rasa?" Albana tergelak oleh kalimatnya sendiri.

Saba hanya menggeleng. “Ban,” katanya kemudian. “Kamu bisa dekati ibu kosnya Eliza?”

Albana mendongak. “Kenapa saya lagi, Bos?”

Saba meliriknya sekilas. “Kamu kan fleksibel. Apalagi urusan kepo dan ghibah. Bukannya naluri kamu kuat di situ?”

Albana mendengus. “Halus banget muji sisi syaitonku.”

Saba terkekeh lagi. Ia meraih jasnya. “Aku ke rumah sakit. Jenguk Mama.”

Saba melangkah keluar ruangan. Di belakangnya, Albana menatap punggung itu sambil menghela napas.

Kali ini, ia tahu. Ini bukan sekadar penyelidikan, tapi soal masa lalu yang mulai digali lagi.

***

Di tempat lainnya, pagi yang sama.

Eliza duduk di depan meja kepala sekolah dengan map plastik bening di tangan. Kartu Keluarga itu sudah ia keluarkan, diletakkan rapi di atas meja. Tangannya sedikit lembap, meski ruangan ber-AC.

Kepala sekolah membaca berkas itu pelan, kacamata bertengger di ujung hidungnya. Ia mengangguk kecil, lalu menatap Eliza.

“Berarti… Starla ini anak asuh sementara, ya, Mbak Eliza?”

Eliza mengangguk, tersenyum tipis. “Iya, Bu.”

Tak ada penjelasan tambahan. Mereka tidak perlu tahu banyak soal ini, pikir Eliza.

Kepala sekolah menutup map itu, menyatukannya kembali dengan berkas lain. “Adopsinya lewat mana? Kalau boleh tahu.”

Eliza menarik napas pendek. Ia tak menjawab. Hanya tersenyum lagi, kali ini lebih kaku. Matanya menunduk sekilas, lalu kembali menatap lurus.

Pertanyaan berikutnya datang lebih pelan, tapi justru itulah yang membuat dada Eliza berdegup keras.

“Ada kekhawatiran nggak, Mbak… kalau adopsi, suatu saat keluarga asalnya mengungkit Starla?”

Deg.

Eliza diam. Tenggorokannya tercekat. Dalam kepalanya, nama-nama itu berkelebat Hasnawati, Saba, Kepala panti.

“Aku mohon doanya saja, Bu,” ucap Eliza dengan nada lembut. “Semoga Starla sehat… dan bisa jadi anak asuh saya sesungguhnya.”

Kepala sekolah mengangguk. Tak bertanya lagi. Mungkin ia tahu, ada jawaban-jawaban yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.

Eliza berpamitan. Berjalan ringan tapi pikirannya berat. Tasnya digenggam lebih erat dari biasanya.

Di luar gerbang sekolah, matahari sudah naik. Jalanan mulai ramai saat motornya melaju keluar dari gerbang.

Ucapan kepala sekolah itu terus terngiang. Keluarga asalnya.

Lalu ingatannya melompat ke malam beberapa waktu lalu. Ucapan Indra soal cara lain agar posisi Starla aman.

[“Ada cara lain, El. Biar status Starla kokoh.”]

Waktu itu Eliza berpura bingung. Mengira Indra bercanda. Atau setidaknya terlalu jauh berpikir dan berencana.

Sekarang, tawaran itu terasa lain. Bukan tentang cinta atau kesiapan. Tapi soal perlindungan.

Eliza berhenti sejenak di pinggir jalan, menunggu lampu merah. Tangannya refleks menyentuh dada, menenangkan detak jantungnya sendiri.

“Kokoh,” gumamnya lirih.

Ia menatap arus kendaraan yang melintas. Pikirnya, menjaga Starla hanya dengan niat baik dan kasih sayang sudah cukup, tapi nyatanya...

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!