Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Ancaman Saba

Hasnawati masih terduduk di ranjang ketika Julia mengguncang bahunya. Wajah perempuan itu pucat, matanya kosong, napasnya pendek-pendek seperti tertahan di dada.

“Mama… Mama tarik napas,” suara Julia meninggi, panik sambil menekan tombol darurat. “Tolong, Ma. Jangan gini.”

Hasnawati tidak menjawab. Pandangannya lurus, tapi seperti tidak melihat apa pun.

Julia menoleh ke pintu, hampir berteriak. “Dokter! Suster!”

Tak lama, pintu terbuka. Saba masuk bersamaan dengan dokter jaga dan dua perawat. Saba tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di dekat pintu, memperhatikan setiap gerak ibunya.

Dokter mendekat, memeriksa nadi, tekanan darah, lalu menatap Hasnawati dengan sorot tenang.

“Nyonya Hasnawati,” panggilnya pelan. “Tarik napas pelan, ya. Ikuti saya.”

Hasnawati masih diam. Tubuhnya kaku.

Dokter menoleh ke perawat. “Siapkan penenang ringan.”

Julia menggenggam tangan Hasnawati lebih erat. “Ma, ini aku, Julia…”

Saba melangkah mendekat satu langkah. “Dok.”

Dokter menoleh. “Beliau mengalami stres berat,” katanya pelan. “Secara medis, ini bisa disebut acute stress reaction. Tekanan psikis yang menumpuk, lalu meledak tiba-tiba.”

Saba mengangguk kecil. Tidak bertanya lagi.

“Untuk sementara, beliau perlu istirahat. Lingkungan harus tenang. Jangan membuatnya tertekan,” lanjut dokter.

Dokter memberikan obat ke Hasnawati setelah dia merespon ucapan dokter. 

Saba menatap Julia. Tatapannya datar. “Kamu pulang.”

Julia menoleh cepat. “Apa? Nggak. Aku di sini sama Mama.”

“Pulang,” ulang Saba, nadanya rendah tapi tegas.

Julia mendengus. “Kamu nggak bisa ngusir istr—

“Jangan sampe aku ngomong dua kali,” potong Saba.

Julia mendekat satu langkah. “Aku peduli sama Mama.”

Saba menunduk sedikit, sejajar dengan wajah Julia. Suaranya pelan, nyaris berbisik, “Kamu mau Mama tahu kelakuanmu waktu meracau mabuk?” katanya. 

Julia membeku. “Apa sih maksudmu?”

Saba mencondongkan kepalanya ke Julia. “Kamu ngebantah aku, mau buka aib sendiri apa gimana, huh?”

Julia tertawa kecil, berusaha santai. “Kamu cuma gertak. Dari dulu juga gitu.”

Saba tersenyum sinis. “Aku punya koleksimu, mau aku spill yang mana dulu?” bisiknya lagi.

Glek.

Julia menelan ludah. Tapi masih mencoba bertahan. “Aku nggak ngerasa—”

“Pergi.”

Saba menegakkan tubuh. Tatapannya dingin. 

Julia terdiam. Dadanya naik turun. Ia menatap Saba lama, dia tidak pernah begini. Dingin, iya. Cuek, iya. Tapi tatapan itu… membuat lutut Julia melemah.

Ia akhirnya mundur. Mengambil tasnya dengan gerakan kasar. “Awas kau Saba,” gumamnya sebelum keluar.

Pintu menutup.

Hasnawati mulai terlelap sejak obat penenang bekerja. Napasnya kini teratur, wajahnya lebih tenang.

Saba berdiri beberapa detik, memastikan ibunya benar-benar tidur. Lalu ia merebahkan diri di sofa. Satu lengannya menutup mata, jemarinya memijat pelipis perlahan.

Ia menoleh ke arah ranjang. “Ma,” gumamnya lirih. “Mama tahu sesuatu yang belum diketahui, ya?”

Tak ada jawaban.

“Mama ngerasa bersalah sama aku,” lanjutnya pelan, nyaris seperti bertanya pada diri sendiri. “Makanya sampai setertekan ini?” 

Saba memejamkan mata di sofa. Nafasnya berat api pikirannya masih semrawut. Potongan demi potongan informasi tersusun di kepalanya—Wulan, panti, Eliza, Starla, Mama. Semua saling bertaut, tapi belum membentuk satu jawaban utuh.

Ketukan pelan di pintu membuatnya membuka mata. Seorang suster masuk membawa kertas resep. “Ini resep obat Ibu, Pak. Bisa langsung ditebus di farmasi.”

Saba mengangguk. “Baik.”

Ia bangkit. Jasnya dilepas, disampirkan di sandaran sofa. Dada terasa sesak, ia butuh udara segar. Di luar kamar, Pak Sarip duduk setia di kursi lorong.

“Pak,” kata Saba singkat. “Tolong jaga Mama sebentar.”

“Baik, Tuan,” jawab Sarip cepat.

Saba melangkah pergi. Di lorong, ia membuka kancing atas kemejanya, lalu menggulung lengan sampai siku. Langkahnya panjang, tegap. Wajahnya nggak tampan amat, tapi kerapian, ketenangan sorot mata, dan caranya membawa diri menciptakan kharisma sendiri.

Ia meletakkan resep di loket farmasi, lalu duduk di bangku tunggu. Ponselnya terbuka. Belum ada laporan masuk dari orang suruhannya. Saba menghela napas pendek.

Dari belakang, suara percakapan anak kecil dan seseorang terdengar. Tapi Saba tidak langsung menoleh. Ia masih membaca pesan Albana.

Ia mendongak saat kursi roda seseorang berhenti tak jauh darinya.

Di depan loket, seorang anak kecil duduk di kursi roda, didorong seorang perempuan paruh baya.

“Aku mau bayar,” kata Eliza pelan pada suster loket.

“Baik, ditunggu sebentar,” jawab suster itu.

Eliza tidak duduk. Ia justru mendekat ke Starla, menarik kursi roda itu sedikit ke samping, merapikan selimut di kaki anak itu.

Lalu suara suster terdengar lagi, sedikit lebih keras, memanggil seseorang.

“Nyonya Hasnawati.”

Saba mendongak. “Ya,” jawabnya sambil berdiri.

Tatapan Saba dan Starla bertemu. Saba melihat jelas wajah anak itu kali ini. Mata bulatnya, pipi yang masih pucat, senyum kecil yang ragu tapi manis.

Eliza ikut menoleh. Hasnawati?

Jantungnya berdetak lebih cepat. Wanita itu—yang membayar biaya rumah sakit Starla waktu kecelakaan dulu. Sekarang… pria ini berdiri menyahuti namanya. Siapa dia? Anaknya kah?

“Eliza,” suster memanggil lagi. “Tagihan Starla sudah lunas.”

Eliza membola. “Lunas?” suaranya tercekat. “Siapa yang bayar?”

Suster terdiam. Saba di loket sebelah yang akan menandatangani resep obat ibunya pun tak menoleh.

“Aku duluan,” katanya singkat, melirik Eliza.

Sebelum pergi, Saba berhenti sejenak. Ia berjongkok sedikit di depan Starla, mengusap rambut anak itu sekilas. “Lekas sehat,” katanya pelan.

Starla tersenyum manis. Senyum polos yang membuat dada Saba menghangat.

Saba berdiri. Melangkah pergi. Di belakangnya, Eliza masih terpaku. Menatap punggung pria itu menjauh, dengan satu pertanyaan yang mengusik, siapa dia sebenarnya?

Indra datang terburu-buru dari arah koridor. Langkahnya cepat, napasnya sedikit terengah.

“Starlaaa,” panggilnya ceria begitu melihat kursi roda di depan loket. “Pulang, yaaa, hari ini.”

Starla menoleh. Wajahnya langsung semringah. “Ooommm…” jawabnya panjang, imut, sambil mengangkat sedikit tangannya.

Suara itu.

Saba, yang sudah melangkah beberapa meter spontan berhenti. Ia menoleh ke belakang.

Anak kecil itu.

Saba menarik napas perlahan lalu memalingkan wajah. Melangkah lagi, kali ini lebih cepat, meski suara tawa kecil Starla membuatnya ingin menoleh lagi.

Eliza berdiri di samping kursi roda, masih memegang map tipis berisi berkas. Wajahnya terlihat bingung.

“Pak,” katanya pelan pada Indra, “ini… sudah lunas.”

Indra mengerutkan kening. “Lunas?” Ia menoleh ke loket. “Siapa yang bayarin?”

Eliza terdiam.

Matanya melirik sekilas ke arah suster. Lalu turun ke lantai. Bibirnya terkatup rapat.

Di sisi lain, Saba masih berdiri. Pandangannya tak lepas dari Starla. Anak itu sedang memainkan ujung selimut kecilnya, kakinya mengayun pelan, sama sekali tak sadar ada sepasang mata dewasa yang menatapnya terlalu lama.

“El.” Indra menunggu. “Siapa?”

Eliza menggeleng kecil. “Saya… nggak tahu, Pak.”

.

.

Clue nih ya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!