Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Hasnawati shock
Mobilnya melaju cepat. Dia mengikuti rute di maps tapi perasaannya mulai tak enak. Tapi Saba tetap meneruskan perjalannya. Perlahan, jalanan menyempit dan lengang.
Saba menghentikan mobilnya saat membaca plang penunjuk arah. "Hah? Gak salah?" lirihnya sambil celingukan mencari seseorang untuk ditanya.
Sunyi.
Laju mobilnya melambat, hingga tiba di satu tempat sesuai dengan alamat yang diberikan suster kepala.
Saba menarik tuas, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi. Dia melihat lagi tulisan di kertas itu. Benar.
"Ya Allah," gumamnya, meraup wajah lalu mencengkram stir dengan kedua tangan. Kepalanya terbenam di sana. Jantungnya berdegup tak beraturan. "Benarkah ini ya Allah?" Suara Saba bergetar.
Dia mendongak, mengengadah, mengatur napas sebelum turun. Ada seseorang di pos, dia pun gegas menghampirinya.
Saba bertanya singkat. Penjaga menatapnya sebentar, lalu mengangguk. Tanpa banyak tanya, pria itu berjalan lebih dulu, menuntun Saba ke bagian belakang.
Udara siang terasa lebih dingin dari seharusnya. Sunyi. Hanya angin dan dedaunan kering yang terseret pelan di jalan setapak.
Langkah Saba pendek-pendek. Celingukan ke sana sini dan petugas itu menunjuk ke satu tempat.
Di sanalah ia berhenti. "Ini?"
Deg.
Saba mematung.
Nama itu tertera jelas di batu nisan sederhana. Huruf-hurufnya diukir rapi, seperti ingin memastikan namanya tidak salah baca.
Saba mengulanginya dalam hati.
Sekali.
Dua kali.
Seolah dengan begitu, nama itu bisa berubah jadi nama orang lain. Tapi tanggalnya, membuat dada Saba runtuh seketika.
Kakinya terasa lemas. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut perlahan.
Wulan Almaghfira.
Tangannya gemetar saat menyentuh tanah di depan nisan. Kepalanya tertunduk. Dan di sanalah, setelah bertahun-tahun, Saba benar-benar runtuh.
Air matanya jatuh. Satu. Lalu dua. Lalu pecah tanpa bisa dicegah.
“Sayang…” suaranya hancur. Bahunya bergetar hebat. Tangisnya sesenggukan, tak peduli lagi dirinya siapa.
“Maaf.”
“Maaf…”
Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Berulang. Seolah kata lain tak layak keluar dari mulutnya.
Ia menunduk lebih dalam. Tangannya mencengkeram rumput liar. "Sayang...." suaranya bergetar di sela tangis. Sekian lama menahan rindu dan dia mendapati Wulan sudah pergi.
"Rinduku dibalas seperti ini?" runtuhnya pilu.
Angin menerbangkan bunga Kamboja yang tak berdiri tak jauh dari sana. Mendarat di pusara Wulan.
“Anak kita…” suaranya serak. “Laki-laki atau perempuan?”
“Di mana dia, Sayang?” bisik Saba, masih dengan cucuran air mata.
Tak ada jawaban. Hanya angin sore yang menggeser daun kering.
Saba duduk lama di sana, tidak menabur bunga, hanya merapikan tanah di depan nisan itu dengan tangannya sendiri.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Matahari condong ke barat, bayangan nisan pun memanjang.
Menjelang sore, ia akhirnya bangkit. Langkahnya gontai saat kembali ke mobil. Ponselnya penuh panggilan tak terjawab. Ia tak peduli.
Saba duduk di balik kemudi, tapi tak menyalakan mesin. Pandangannya kembali ke arah pemakaman.
“Kamu nggak mau ditemukan karena ingin balas dendam padaku?” gumamnya lirih.
Ia memejamkan mata. “Apa kamu tahu… aku mencarimu sejak Papa memutus komunikasi kita?”
“Tapi semua usahaku selalu gagal.” Dadanya tersayat saat ia membuka mata lagi. “Dan sekarang… itu sudah tak berlaku.”
Napasnya tertahan, ada sisa senggal di dada Saba. “Kamu nggak lagi kesakitan sendirian.”
“Sayang…”
“Beri aku tanda. Kemana aku harus mencarinya?” Saba menatap pilu tempat di depannya sebelum akhirnya menyalakan mobil.
Hati Saba tertinggal di sana, di depan sebuah nisan, bersama kata maaf yang datang terlambat.
Sepanjang jalan, air matanya sesekali menetes. Dia tak menghapusnya, ingin menikmati sakitnya. Membayangkan Wulan sendirian menerima tekanan dari sana sini.
Saba tak langsung pulang, dia kembali ke rumah sakit. Banyak hal yang ingin dia pastikan ke Hasnawati.
Setibanya di parkiran, matanya menatap kosong ke depan. Semua informasi itu—kata demi kata—seperti potongan puzzle yang jatuh di tempat yang sama.
Keterangan dari Albana, hasil penelusuran orang suruhannya sama persis seperti penjelasan suster kepala panti. Selaras dengan keterangan Eliza di loket rumah sakit.
Dia menulis sesuatu di catatan ponselnya. Eliza alumni panti Sini sama Aku. Wulan meninggal 5 tahun lalu, saat Eliza menemukan Starla. Dan ibunya gelisah meminta mencari Eliza.
"Siapa sebenarnya Eliza?" lirih Saba, melihat coretannya.
“Kalau begitu…” gumam Saba pelan. Ia menarik napas dalam. Ada satu hal yang belum terjawab.
Anak Wulan. Laki-laki atau perempuan?
Saba kembali menelpon orang suruhannya. Dia meminta mereka kembali ke bidan itu. Menanyakan soal anak yang Wulan lahirkan.
Berikan apapun yang dia mau asal menceritakan kejadian malam itu dengan lengkap. Titah Saba sebelum menutup ponselnya.
***
Di tempat lain. Hasnawati duduk sendiri di brangkar. Tangannya memegang ponsel. Wajahnya kuyu dan sorot matanya gelisah.
Teleponnya berdering.
“Iya?” jawabnya singkat.
Suara orang suruhannya terdengar di seberang. “Starla tidak tercatat sebagai anak Panti Sini Sama Aku, Nyonya.”
Hasnawati menghela napas pelan, masih mendengarkan.
“Sekolah di TK Pelita Harapan,” lanjut suara itu. “Diasuh Eliza sejak 5 tahun lalu.”
Hasnawati memejamkan mata sejenak. Tangannya mengepal perlahan di atas pangkuan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Terima kasih.”
Telepon ditutup. Hasnawati menatap lurus ke depan. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sudah lama ia simpan, antara ketakutan dan keyakinan.
“Jadi kamu di luar sistem itu…” gumamnya pelan. “Pantas saja.”
Di dua tempat berbeda, ibu dan anak itu berpikir ke arah yang sama. Tentang dua orang bernama Starla dan Eliza.
Hasnawati teringat sesuatu. Dia menelpon seseorang.
“Assalamualaikum, Suster Nafa?”
“Waalaikumsalam, Nyonya,” jawab di seberang. “Ada yang bisa saya bantu?”
Hasnawati menarik napas singkat. “Saya mau bertanya sedikit. Soal Eliza. Dia keluar dari panti kapan, ya?”
“Sejak lulus SMK,” jawab Suster Nafa tanpa ragu. “saat diterima kerja di Indoapril.”
“Lalu kuliahnya?”
“Sekarang semester lima lebih,” jelas suster itu hati-hati.
Hasnawati mengangguk pelan, meski tak ada yang melihat. Jemarinya mencengkeram ponsel lebih erat.
“Boleh nanya … satu lagi?”
“Silakan.”
“Perempuan yang… meninggal itu,” suara Hasnawati sedikit melambat. “Namanya siapa?”
Di seberang sana, hening sejenak.
“Maaf,” Suster Nafa terdengar ragu. “Kok tiba-tiba menanyakan beliau?”
“Aku cuma mau tahu,” Hasnawati menjawab cepat, terlalu cepat. “Namanya saja.”
Napas Suster Nafa terdengar jelas sebelum akhirnya menjawab. “Namanya… Wulan.”
Deg.
Hasnawati membola. Bibirnya bergetar halus.
Hening kembali.
“Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut lewat telepon. Kalau Nyonya berkenan, nanti saja datang ke panti. Kita ngobrol lebih panjang.”
Hasnawati tak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak.
“Halo?” panggil Suster Nafa.
"I-iya, Sus."
Suster itu lalu menambahkan, teringat sesuatu. “Oh iya… barusan kata suster kepala, Tuan Saba juga menanyakan hal yang sama.”
Wajah Hasnawati memucat.
“Sa-ba…?” suaranya nyaris tak keluar.
Telepon itu terlepas begitu saja dari genggamannya. Jatuh ke lantai dengan bunyi keras.
Hasnawati shock. Tangannya meraba udara, tapi tak menemukan apa pun untuk berpegangan. Pandangannya kosong, napasnya pendek-pendek.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
“Mama!” teriak Julia panik sambil berlari masuk.
"Halo. Halo, Nyonya...."
.
.