Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Saba mencari Wulan
Mobil Saba masih di pelataran rumah sakit. Ponselnya bergetar. Saba mengangkatnya tanpa melihat layar. “Ya.”
“Bos,” suara orang suruhannya terdengar hati-hati. “Ada perkembangan soal panti.”
Saba menghela napas pendek. “Cepat katakan.”
“Kepala panti tidak mau memberikan data soal Wulan. Sama sekali.”
Rahang Saba mengeras.
“Kami coba akses dari jalur lain. Data internal, arsip lama,” lanjut suara itu. “Nama Wulan tidak masuk daftar. Seperti… tidak pernah tercatat.”
Mesin mobil mulai dinyalakan. “Dihapus?” tanyanya datar.
“Bukan, Bos. Sejak awal memang tidak ada. Nggak pernah menjadi bagian dari administrasi.”
Hening beberapa detik.
“Terus?” suara Saba rendah.
“Kepala panti bilang begini,” lanjut orang suruhannya. “Kalau ada pihak yang mencari Wulan… sebaiknya datang langsung menemuinya.”
Tangan Saba sedikit bergetar di atas setir. “Menemuinya?” ulangnya pelan.
“Iya, Bos. Itu kata beliau.”
Saba memejamkan mata. Dadanya sesak seperti dihimpit batu.
“Aku mengerti,” katanya akhirnya. “Cukup.”
Telepon ditutup.
Saba bersandar di kursi. Kepalanya menengadah, napasnya berat. Senyum pahit terbit di sudut bibirnya.
Mobil kembali melaju, meninggalkan rumah sakit. Menuju suatu tempat yang bisa memberikannya jawaban yang bertahun di cari.
Begitu mobil berhenti, ia tidak langsung turun. Matanya melirik bangunan panti yang tidak terlalu besar. Catnya mulai pudar, halaman depannya sederhana, tapi terawat. Sebuah papan nama tergantung miring : Panti Sini Sama Aku.
"Loh, ini kan," gumam Saba, mengingat malam saat membagikan bingkisan.
Saat akan turun, ponselnya berdering lagi. Dari orang suruhannya.
"Ya?"
"Maaf, Bos. Soal Starla dan Eliza."
"Ada kabar apa?"
"Saya kirimkan via document saja, Bos. Silakan dibaca, detailnya terlampir."
Saba membuka file. Dia membaca pelan nama yang sering muncul di kepalanya sejak beberapa hari ini.
Starla Vali Dwipa sekolah di TK Pelita Harapan. Usia lima tahun. Diasuh Eliza dan ibu kosnya yang bernama Bu Gendhis.
Saba menggenggam ponsel lebih erat.
Pernah kecelakaan, ditabrak seseorang di dekat jalan raya. Warga sekitar kos mengenal Eliza sebagai perempuan yang mengasuh bayi temuan. Bayinya ditemukan di depan kamar kosannya.
Jantung Saba berdetak lebih cepat.
Eliza Dwipayana usia 24 tahun, alumni panti Sini sama Aku. Bekerja di Indoapril. Kuliah di Universitas Terbuka, jurusan komunikasi, semester lima. Akta Starla masih dalam proses pengurusan.
Saba memejamkan mata. "Panti yang sama dengan Wulan."
Dia menghela napas panjang, lalu turun dan masuk ke panti.
Seorang suster senior menyambutnya. Perempuan itu tampak tenang, menyilakan Saba duduk.
“Selamat siang,” katanya singkat. “Saya ingin bertanya soal beberapa nama.”
Suster itu mengangguk sopan. “Silakan... siapa yang Anda cari?” katanya.
Pembicaraan berlangsung singkat. Saba langsung ke inti.
“Soal Wulan,” ucapnya. “Saya ingin tahu data lengkapnya.”
Suster senior hanya diam. Lalu dia memohon izin memanggil seseorang yang lebih berhak menjawab pertanyaan Saba.
Tak lama, keduanya masuk kembali ke ruangan. Seseorang tampak terkejut melihat kehadiran Saba.
"Loh, Tuan Saba?" ucapnya, sambil melongok ke luar, barangkali dia salah kira.
Saba bangun, menunduk sedikit. "Suster kepala," ujarnya lembut.
Suster kepala menyilakan Saba duduk di sofa, berhadapan dengannya. Diamenatap Saba masih tak percaya.
"Anda...," suster kepala ragu, suaranya terjeda, "siapanya Wulan? Maaf," tanyanya ragu-ragu.
Saba balik memandangnya. Tidak menjawabnya. Dengan suara rendah, Saba balik bertanya, "Wulan datang ke sini dengan siapa?"
Suster kepala menarik napas. “Data Wulan tidak bisa sembarang dibuka, Tuan."
"Anggap saja saya keluarganya," pungkas Saba. Duduknya menegak, tatapannya tegas.
Ruangan hening seketika. Suara kipas di atas mereka nyaring terdengar.
Suster kepala lalu menceritakan bagaimana kondisi Wulan saat datang. Dititipkan bidan dan staf desa sebagai saksi atas permintaan yang bersangkutan.
"Dia bilang tidak punya siapa-siapa lagi di dunia. Bangunan baru di samping, itu hasil renovasi dari wasiat beliau untuk panti," jelas Suster kepala.
"Wasiat?"
Beliau bercerita bahwa Wulan memberikan semua emas batangan, perhiasan juga sejumlah uang untuk panti jika berkenan merawatnya.
"Untuk anak-anak yang senasib dengannya," pungkas suster kepala.
Ruangan kembali sunyi, tangan Saba bertaut, dia memejam lalu membuang napas berat.
"Bisakah aku ketemu dengan Wulan?" tanya Saba.
Suster kepala memandangnya lama, tak berkedip. Ada gurat kesedihan di wajahnya. Dia lalu bangkit, mengambil sesuatu dari laci mejanya.
Sebuah album kecil, disodorkan ke Saba. Suster kepala meminta Saba memastikan sosok Wulan yang dicarinya. Itu bukan data administratif, tapi dokumentasi pribadi.
Saba membuka perlahan, dadanya berdebar hebat membuat jemarinya bergetar halus.
Halaman pertama, berisi kata-kata Wulan.
~
Kalau nanti kita sendirian lagi, jangan takut.
Anak panti itu memang lahir ... kesepian, tapi bukan berarti hidupnya harus sepi selamanya.
Kita boleh nggak punya rumah untuk pulang, tapi kita boleh punya mimpi untuk dituju.
Kalau dunia nggak pernah milih kita, nggak apa-apa. Kita pilih satu sama lain aja.
Suatu hari nanti, aku pengin punya keluarga kecil. Bukan yang sempurna, cukup yang saling nunggu.
Dan kalau aku capek duluan, kamu yang lanjutkan mimpiku.
Janji ya ... Anak panti boleh kehilangan segalanya, asal jangan kehilangan harapan.
~
Saba mengangguk, matanya mulai mengembun. "Benar, ini Wulan." Ini adalah kata-kata yang sering diucapkan padanya.
Halaman kedua berisi foto saat tahu dia hamil. Hasil USG trimester pertama ada di sana. Senyum Saba terbit, ibu jarinya mengusap gambar-gambar itu, seolah baru melihat sesuatu yang sangat ingin dilihatnya setelah sekian lama.
Dia menarik napas saat membuka halaman ketiga. Dahinya mengerut, butir bening itu mulai muncul tapi dia tahan. Saba menengadah.
Foto Wulan tidur sendirian, tubuhnya kurus dan tak terawat. Wajahnya lebih tirus dari yang Saba ingat. Beberapa foto dikelilingi anak panti, tersenyum. Matanya cekung, tapi senyumnya masih sama. Senyum itu, yang dia rindukan.
Saba tak melanjutkan, hatinya tak lagi sanggup. Dia menutup pelan album mini itu. Lalu menoleh ke arah suster kepala.
"Dimana Wulan? Bayinya?"
"Dia tidak di sini lagi " Suster kepala balik memandangnya. Suaranya parau, "Dia datang sendiri. Kami tidak menerima info soal bayinya," terangnya.
Deg.
"Kemana?" tanya Saba, memajukan duduknya..
"Anda yakin?" jawab Suster, dahi tuanya mengerut sedikit.
Saba mengangguk. Dia lalu meminta izin membawa album foto Wulan ini. Suster kepala awalnya melarangnya, tapi Saba bilang dirinya lebih berhak atas ini semua.
Suster kepala tak lagi membantah. Dia tahu pasti ada kisah dibalik banyak pertanyaannya yang tak dijawab Saba.
"Silakan," katanya. Lalu dia bangun mengambil catatan kecil dan menulis sesuatu.
Saba menerimanya, membaca singkat. Dia ingin bangkit tapi teringat satu pertanyaan lagi.
"Kalau Eliza?"
"Eliza sering ke sini, alumni panti juga. Anda kenal?"
Saba tak menjawab. "Starla juga?"
Suster menjelaskan singkat. "Starla bukan bagian dari panti, dia ditemukan Eliza di depan kamar kosnya tapi pernah diajak ke sini. Katanya mau diadopsi."
"Eliza tahu soal Wulan?" tanyanya saat bangkit.
Suster kepala menggeleng pelan. "Tidak. Eliza itu keluar dari panti saat dapat pekerjaan. Sudah lama sekali," pungkasnya ikut bangun dan mengantar Saba.
Saba lalu menulis cek, disodorkan ke kepala panti. "Terima kasih, sudah merawat Wulan."
Dia lalu membungkuk sedikit dan pamit dari sana. Membawa sebuah alamat.
Di mobil, Saba membaca ulang dan menyimpan album foto di dashboardnya. "Akhirnya..."
.
.