Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Status Starla - 3

 “Ke… kenapa ya dengan Starla?” suara Eliza bergetar, matanya tak lepas dari putrinya yang baru saja terlelap di kasur tipis kos itu.

Pria yang duduk di kursi kayu itu menatap ramah, meski wajahnya tampak letih. “Saya Seno, Mbak. Petugas sensus dari kelurahan.” Ia mengangkat papan kecil penuh kertas, lalu menambahkan, “Saya ditugaskan mendata warga, termasuk soal administrasi anak.”

Eliza tertegun. Hatinya mendadak berdebar tak karuan.

“Begini,” lanjut Seno hati-hati, “Starla sudah masuk TK. Tapi… belum ada akta kelahiran. Itu akan jadi masalah saat ia daftar SD nanti. Juga soal adopsinya, masih belum resmi.”

Kata adopsi terasa seperti batu yang menghantam dada Eliza. Nafasnya tercekat.

“Saya… saya sudah pernah ngajuin ke pengadilan agama,” suaranya lirih. “Tentang asal usul anak. Tapi sampai sekarang belum ada kelanjutan…”

Seno mengangguk pelan. “Dari situ nanti lanjut ke Capil. Minimal, Starla bisa dimasukkan ke KK Mbak Eliza sebagai tanggungan sementara.” Ia menatap Eliza, ragu sejenak sebelum menambahkan, “Masalahnya… usia Mbak Eliza baru 24. Permohonan adopsi agar tercatat resmi, minimal usia 30 tahun. Tapi akta lahir bisa tetap dibuat, meski nanti statusnya tertulis anak temuan dalam pengasuhan, bukan adopsi sah.”

Eliza menunduk, jemarinya meremas ujung rok lusuh. Perih sekali rasanya. Hidupnya saja kerap dipertanyakan, kini masa depan anak kecil itu juga ikut ditimbang-timbang.

“Harus… gimana, Pak?” tanyanya, hampir berbisik.

Seno membuka map. “Mbak sudah punya surat penemuan bayi dari dinsos, kan? Itu nanti buat ke pengadilan. Lalu Capil yang akan keluarkan akta lahir. Tapi ya… ada biaya yang nggak sedikit apalagi sewa jasa pengacara kalau nggak mau ribet.”

 

Di sampingnya, Bu Gendhis mendengus panjang. “Itu pasti, tho? Wong ngurus apa-apa saiki kudu duwit.”

Eliza menelan ludah. Perutnya serasa diremas. Ia membayangkan gajinya sebagai kasir selalu pas-pasan, kadang habis sebelum akhir bulan. Belum lagi susu, popok, iuran TK. Menyisipkan biaya untuk sewa pengacara? Rasanya mustahil.

Seno menatapnya dengan empati. “Saya ngerti ini berat, Mbak. Tapi kalau nggak diurus, nanti Starla sendiri yang kesulitan. Saya cuma menyampaikan kewajiban.”

Eliza hanya mengangguk berat, suaranya tercekat di tenggorokan.

 

Setelah Seno pamit, kamar kos kembali hening. Eliza dan Bu Gendhis hanya saling tatap. Seolah menunggu siapa yang lebih dulu bicara.

“Apa aku kuat, Bu?” suara Eliza lirih, nyaris tenggelam, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku aja kadang makan nasi sama garam. Gimana mau ngurus pengadilan dan biaya macam-macam itu?”

Bu Gendhis menepuk bahunya. “Kuat, Mbak El. Wong sampe saiki awakmu iso uripke Starla. Gusti Allah mboten kulem.”

Eliza hanya mengangguk, meski hatinya penuh pergulatan. Dia melirik ke arah Starla, anak itu tidur pulas sekali, membuatnya tak tega.

 

"Maafin ibu, ya." Eliza mencium pelan pipi gembul Starla, titik bening di ujung netra nyaris jatuh, tapi dia menahannya.

Hari-hari berikutnya jadi semakin berat. TK Starla mengirim surat kecil, diselipkan di tas anak itu. Isinya permintaan segera menyerahkan akta lahir. Ada tenggat waktu. Kepala sekolah menegaskan, tanpa itu, administrasi tak bisa lengkap.

Eliza merasa dunia kian menghimpit. Ia sempat berpikir soal pinjaman online. Tapi cicilan bulanannya bisa membuat kuliahnya terhenti. S1 yang diimpikan akan makin tertunda.

"Kayaknya nggak bisa, harus cepet lulus S1 biar bisa dapat kerjaan lebih baik," gumamnya.

Sore itu ia lembur di Indoapril, menghitung stok roti. Tangannya bergerak cepat, matanya terus melirik jam dinding.

Dia baru sadar, hari ini Starla pulang lebih awal. Panik, ia menelepon Bu Gendhis untuk menjemput. Tapi teleponnya tak diangkat, Bu Gendhis tertidur pulas di kursi reyotnya.

 

Starla yang polos menunggu sebentar di gerbang TK. Tapi hujan gerimis mulai turun. Bocah mungil itu akhirnya nekat berjalan pulang sendiri, menapaki pinggir jalan yang ramai kendaraan.

Tiba-tiba, teriakan pecah di antara warga.

“Ya Allah! Anak kecil ketabrak!”

Suara rem mobil berdecit keras. Sebuah mobil hitam mewah berhenti mendadak. Dua perempuan keluar, satu muda bergaun mahal, satunya lagi lebih tua dengan wibawa yang dingin.

“Ya Allah, Starla!” teriak seorang guru dari arah lain, nyaris bersamaan dengan Eliza yang berlari tergopoh dari motor yang diparkir asal di ujung jalan, napasnya tersengal.

 

Tubuh mungil itu tergeletak, menangis pelan. Luka lecet memerah di kaki kecilnya, darah mengalir tipis di pelipis.

Eliza mengangkat Starla, suaranya pecah. “Tolong! Rumah sakit! Cepat!”

Tapi alih-alih panik, wanita muda itu justru mendengus. “Ih, cuma nyerempet aja. Jangan lebay.”

Warga yang berkumpul mendesis geram. “Seenaknya! Itu anak kecil, tanggung jawab!”

Wanita muda mendengus, menatap sinis. “Uang ganti rugi yang kalian mau, kan? Beres.”

Wanita tua mengangkat tangan, mencoba meredam. “Jangan ribut di jalan. Kita bisa bicarakan baik-baik.”

Wanita muda merengek tak setuju. Warga kembali kesal. Namun kembali tenang saat wanita tua mengatakan akan ikut Eliza ke rumah sakit, dan menantunya menunggu bersama warga.

“Cukup!” Eliza berteriak dengan suara serak. Air matanya deras. “Aku nggak butuh uang kalian! Aku cuma mau anakku selamat!”

Ia berlari membopong Starla menuju motornya. Seorang guru sigap membantu. Warga pun ikut mengatur lalu lintas, memberi jalan bagi Eliza.

Di IGD rumah sakit, suasana tegang. Eliza duduk di kursi besi, menggenggam jemari mungil Starla erat. Dadanya naik turun cepat, keringat campur sisa air mata masih menempeli wajahnya.

 

Dokter memeriksa luka, membuka baju kecil itu, mengusap dengan kapas untuk membersihkan darah. Saat itu, tanda lahir di perut Starla tampak jelas, sebuah lekukan cokelat berbentuk mirip pulau Bali.

Wanita tua yang ikut masuk terdiam kaku. Matanya membesar, menatap tanda itu dengan sorot terkejut. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya bergetar tanpa suara.

Eliza menoleh bingung. “Ada apa, Bu?”

Wanita itu mundur selangkah, menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. “Tidak mungkin," bisiknya lirih, hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

Eliza mematung, tak mengerti. Binar mata wanita itu bukan sekadar terkejut, tapi seperti sedang berhadapan dengan hantu masa lalu. Masih menatap beliau, keningnya ikut berkerut, Eliza berkata, “Apa maksudnya?”

Namun wanita itu menggeleng cepat, sorot matanya penuh kegelisahan. Dia langsung terdiam, shock tapi berusaha menyembunyikan sesuatu.

 

Ia keluar ruangan tergesa, menatap layar ponsel lalu menggulirnya. Jemarinya bergetar ketika membuka satu file foto lama.

“Ya Tuhan…” suaranya pecah, hampir tak terdengar. Jemari berhias cincin berlian itu menutup mulut. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Di ruangan itu, Eliza semakin erat menggenggam putrinya. Entah mengapa, Eliza merasa ada yang janggal dengan wanita tua itu.

"Ibu," rintih Starla, membuyarkan lamunan Eliza. Dia menjulurkan tangan, meminta Eliza menepuk-nepuk pahanya lagi.

"Di sini, Sayang," balas Eliza meraih jari mungil itu dan mengecupnya. "Tahan sebentar ya, ibu tau ini sakit, tapi Starla kuat," imbuhnya lembut menenangkan.

 

Tatapan sendu Starla membuat hati Eliza berdenyut. 'Maafin ibu, nasibmu jadi begini.'

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!