Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Terancam Terpisah

“Saya Hasnawati,” ucap wanita tua itu akhirnya, tepat sebelum pamit malam itu. Suaranya tenang, namun matanya masih menyimpan gejolak. “Biaya rumah sakit biar saya tanggung.”

Eliza tertegun. Lidahnya kelu. Meski bingung dengan maksud kebaikan itu, ia tetap menunduk. “Matur nuwun, Bu…”

Begitu Hasnawati pergi, Eliza segera menelpon. “Bu Gendhis, bisa ke rumah sakit? Temani Starla sebentar. Aku harus balik kerja.”

Tak lama, Bu Gendhis datang dengan sandal jepit basah. Begitu melihat kepala Starla diperban, tangisnya pecah. “Aduh, Nduk… aku ketiduran, maaf, maaf.”

Eliza menggenggam tangannya. “Sudah, Bu. Namanya juga orang tua. Jangan nyalahin diri sendiri.”

Bu Gendhis terkekeh di sela tangis. “Kowe iki, Mbak El… selalu sabar.” Senyumnya tipis, namun tulus.

Esoknya, Hasnawati muncul lagi. Tak masuk ke dalam, ia berdiri lama di pintu ruang perawatan. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah mungil Starla. Ada semacam kilatan ingatan lama yang bangkit, tapi hanya ia yang tahu.

Suatu sore, ia memberanikan diri mendekat. “Eliza,” suaranya hati-hati, “boleh saya tahu… asal-usul anak ini?”

Eliza langsung menegang. Napasnya tertahan. “Dia anak saya,” jawabnya cepat, hampir seperti pertahanan.

Hasnawati menatapnya lama, seakan bisa membaca kebohongan dari kerlip mata Eliza. Namun ia tak mendesak. Hanya anggukan kecil, lalu pergi.

Julia, menantu Hasnawati, mulai gelisah. Ia memperhatikan mertuanya sering datang, sering membawakan buah atau sekadar duduk di bangku panjang.

“Mama kenapa sih?” Julia bertanya pada suaminya. “Belain anak orang. Aku sendiri belum dikasih anak, tapi mama malah sibuk ngurus bocah itu!”

Suaminya hanya mendesah, enggan memperpanjang. Namun Julia menaruh curiga, sorot matanya kerap penuh amarah.

***

Sementara itu, Eliza makin terjepit. Kepala toko menegurnya di depan kasir lain.

“Kamu sering terlambat, Eliza. Alasannya selalu anakmu. Ingat, ini kerja, bukan tempat curhat!”

Eliza merunduk, wajahnya panas. Surat peringatan SP1 disodorkan ke tangannya. Kertas itu terasa lebih berat dari sekadar lembaran tipis.

Di sisi lain, Bu Gendhis yang biasanya menjaga Starla juga tak bisa lagi membantu. Cucunya yang pulang dari luar kota ribut dengan Starla. Ketika Bu Gendhis membela bocah mungil itu, menantunya naik pitam.

“Aku nggak terima, Bu! Wong cucu kandung malah dikalahin anak orang. Mulai sekarang jangan ikut campur. Jangan urus anak itu lagi!”

Bentakan itu menampar harga diri Bu Gendhis. Ia pulang dengan mata sembab. “Mbak El, aku dilarang jaga Starla lagi…” suaranya parau.

Eliza lemas. Lututnya gemetar. Semua jalur seolah tertutup. Ia hanya duduk lama di lantai kamar kos, menatap kosong pada setumpuk cucian baju kecil Starla.

Starla ikut diam. Anak itu duduk di tikar, menunduk, jemarinya memainkan boneka lusuh yang sudah hampir copot sebelah tangannya.

“Ibu…” suara kecil itu lirih.

Eliza menoleh.

“Aku… dititip ke panti aja.”

Dhuar. Kata-kata itu bagai petir menyambar. Eliza terjatuh, berlutut menghadap putrinya. “Apa yang kamu bilang, Nak?”

Starla mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. “Biar Ibu nggak capek. Biar Ibu bisa kerja. Aku… bisa kok di panti.”

“Tidak!” Eliza meraih bahu mungil itu, air matanya pecah. “Kamu booster ibu, Nak. Kalau di panti, nanti kita pisah. Kamu mau?”

Kepala kecil itu menggeleng pelan. Tangis akhirnya pecah di antara mereka.

Eliza memeluk Starla erat, seakan dunia hendak merenggut gadis mungil itu dari pelukannya.

Malam itu, kamar kos yang sempit dipenuhi isak. Dua hati yang sama-sama terluka, saling berpegangan karena satu-satunya kekuatan mereka hanyalah… kebersamaan.

Hujan turun pelan, menetes di atap seng kos Eliza. Lampu kamar temaram. Eliza duduk bersandar di dinding, Starla tertidur di pangkuannya, napas kecilnya teratur, seolah dunia di luar tak pernah berniat jahat padanya.

Eliza mengelus rambut halus itu berulang-ulang. Tak ada doa yang keluar dari bibirnya, hanya gumaman yang tak jelas, seperti orang yang takut berharap.

Di tempat lain, Hasnawati duduk sendiri di ruang kerja rumahnya yang luas. Lampu meja menyala terang, memantulkan bayang wajahnya di kaca pigura. Di hadapannya, sebuah map tipis terbuka.

“Tidak ada, Bu,” suara laki-laki di seberang telepon terdengar ragu. “Tidak tercatat di Capil. Tidak ada akta. Tidak ada laporan kelahiran. Nama orang tua biologis kosong.”

Hasnawati memejamkan mata sesaat. Jemarinya mencengkeram ujung meja.

“Surat penemuan bayi?” tanyanya kemudian.

“Ada, tapi minim. Lokasi, waktu, saksi seadanya. Selebihnya… nihil.”

Hening.

“Artinya?” Hasnawati membuka mata, sorotnya tajam namun lelah.

“Secara administrasi,” jawab laki-laki itu hati-hati, “anak itu seperti… tidak pernah ada.”

Telepon terputus. Hasnawati tak langsung bergerak. Ia hanya duduk diam, menatap map kosong itu lama sekali. Pikirannya semrawut sebab tidak menemukan apa pun.

Anak itu bukan anak kandung Eliza—itu hampir pasti. Tapi setelah itu? Gelap. Seperti jejak yang sengaja dihapus rapi oleh waktu, atau oleh tangan manusia.

Hasnawati bangkit perlahan, melangkah ke jendela. Di luar, taman basah oleh hujan. Kilatan tanda lahir itu kembali muncul di benaknya, jelas, menyakitkan.

“Kalau bukan anaknya…” gumamnya lirih, “mungkinkah?” Tak ada jawaban. Hanya perasaan tak tenang yang semakin menguat.

***

Keesokan paginya, Eliza dipanggil ke kantor kelurahan. Ruangannya sempit, berbau lembab. Seorang staf perempuan berbicara dengan nada datar, nyaris tanpa empati.

“Data anak ini belum lengkap, Mbak. Kami sudah beri waktu.”

Eliza mengangguk cepat. “Saya sedang urus, Bu. Saya mohon… beri saya waktu lagi.”

Staf itu menghela napas. “Kami hanya menjalankan prosedur. Kalau status wali tidak jelas, nanti bisa direkomendasikan ke dinas terkait.”

“Kaitan… apa, Bu?” suara Eliza nyaris tak keluar.

“Perlindungan anak,” jawabnya singkat.

Kata-kata itu menancap lebih dalam daripada bentakan mana pun. Eliza keluar dengan langkah goyah. Tangannya dingin, keringat membasahi telapak. Dalam kepalanya, satu kalimat berputar-putar tanpa henti: direkomendasikan.

Sepanjang jalan pulang, ia menunduk, merasa semua mata mengawasinya, seolah Starla sudah diberi tanda, dan siapa pun bisa datang mengambilnya begitu saja.

Setibanya di kos, Eliza mengunci pintu dua kali. Tirai ditarik rapat. Ia mengangkat Starla yang sedang menggambar di lantai, mendekapnya erat sampai anak itu mengerang pelan.

“Ibu?” Starla menepuk-nepuk bahu Eliza. “Sakit.”

Eliza tersadar, melonggarkan pelukan. “Maaf… maaf, Nak.” Ia tersenyum paksa, mengusap pipi kecil itu. “Kita di rumah aja hari ini, ya.”

Starla mengangguk, polos. “Kayak main petak umpet?”

Eliza menelan ludah. “Iya.”

*

Menjelang malam, Hasnawati berdiri di seberang gang sempit. Melihat plang usang di luar pagar depan kosan sederhana dengan tembok kusam dan jemuran bergantungan.

Ia menatap satu pintu bercat hijau pudar.

Itu alamat yang ia dapatkan. Satu-satunya.

Lampu kamar menyala temaram dari balik tirai yang tertutup rapat. Tak ada suara. Tak ada aktivitas. Seperti tak berpenghuni.

Hasnawati tak mendekat. Cukup lama berdiri untuk memastikan dirinya benar-benar melihat tempat seorang perempuan muda, menyembunyikan hidupnya bersama seorang anak yang bahkan belum diakui negara.

Ada kehangatan aneh menyusup ke dadanya. Anak itu rapuh secara hukum. Dan itu bisa menjadi pintu keselamatan… atau malapetaka.

Ponsel di tangannya bergetar. Nama Julia menyala di layar. Hasnawati mematikannya tanpa membaca. Ia pun berbalik pergi.

Di balik pintu bercat hijau itu, Eliza tak tahu ada seseorang yang baru saja berdiri cukup dekat untuk merenggut segalanya—atau menyelamatkannya.

Eliza hanya tahu, dunia di luar sana terasa semakin berbahaya. Dia menyimpan ketakutan soal ... Kebenaran.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!