Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Mimpi Starla

Pluk.

Bu Gendhis tersentak.

Cangkir plastik Starla di rak kecil tiba-tiba jatuh ke lantai, menggelinding pelan lalu berhenti di dekat kakinya.

“Jangan ganggu!” serunya spontan—entah bicara pada siapa. Tangannya refleks mengibas sapu lidi dari aren yang tadi bersandar di dinding. Katanya, itu ampuh mengusir jin jahat.

“Nduk? Mau minum?” panggil Bu Gendhis cepat, nadanya dibuat setenang mungkin.

Starla tidak menjawab. Matanya terpejam, napasnya masih berat dan tidak teratur.

Bu Gendhis menunduk tergesa, menempelkan punggung tangannya ke dahi Starla. Masih panas.

“Gustii…” gumamnya lirih, lebih karena kaget panasnya belum juga turun.

Ia mengambil cangkir itu, menaruhnya kembali di meja kecil. Jarinya bergetar halus, meski ia berusaha menahannya.

'Ora. Ora mikir sing aneh-aneh,' batinnya memaksa diri.

Bukan sawan.

Anak panas memang bisa ngelantur.

Ia mengusap dadanya sendiri, menarik napas dalam, mencoba menenangkan degup yang tiba-tiba tidak karuan.

“Sing sabar, yo, Dhis Gendhis,” bisiknya, seperti menasihati diri sendiri. “Mugo-mugo mung panas biasa.”

Namun entah kenapa, kamar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Udara dingin menyergap tanpa aba-aba.

Bu Gendhis menoleh ke pintu yang terbuka. Masih siang—matahari terik di luar—tapi perasaannya justru mencekam, seperti ada sesuatu yang berdiri diam, tak terlihat.

~

Panas di dahinya naik turun. Starla merasa tubuhnya ringan sekaligus berat, seolah ia sedang tenggelam di antara tidur dan terbangun.

Ia berada di sebuah tempat yang seperti dikenalnya, tapi sunyi. Langitnya pucat. Angin berembus pelan, membawa bau kamboja. Tidak ada suara orang atau langkah kaki. Hanya halaman yang terbuka dan sepi.

Starla berdiri sendiri.

Di kejauhan, terlihat ada seseorang. Namun, wanita itu tidak mendekat. Ia berdiri dengan tenang, seakan menunggu Starla mendekatinya. Pakaiannya sederhana, berwarna lembut. Rambutnya terikat rapi. Wajahnya tidak terlihat jelas, silau karena cahaya.

Starla tidak takut.

Di dadanya seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan. Ia merasa sedih, tanpa tahu kenapa.

Wanita itu menatapnya. Tatapan yang lembut, tapi seolah menyimpan rindu yang dalam. Bibirnya bergerak, tapi suaranya nyaris tak terdengar oleh Starla.

“Aku cuma mau lihat,” katanya pelan. Tersenyum ragu-ragu.

Langkah wanita itu maju satu. Lalu berhenti.

Tangannya terulur, pelan, sampai lengannya lurus. Tapi, mendadak berhenti, seolah ada sesuatu yang menghalanginya. Ujung jarinya hampir menyentuh tubuh Starla.

"Jangan takut," tuturnya lagi, suaranya memohon.

Starla mundur satu langkah.

Bukan karena benci apalagi takut. Tapi karena Starla tiba-tiba ingat.

“Aku punya ibu,” ucapnya lirih.

Kata-kata itu meluncur lancar dari bibir mungilnya begitu saja, seperti sesuatu yang sudah lama tersimpan di dalam dadanya.

"Ibu Eliza sayang aku."

Wanita itu tersenyum. Senyumnya sedih. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis.

Starla ingin bertanya. Ingin tahu. Tapi panas di kepalanya tiba-tiba kembali muncul. Dunia di sekelilingnya bergetar pelan. Angin berhenti.

Ada suara yang memanggil Starla, awalnya terdengar jauh tapi lama-lama jelas. Itu suara nenek. Tiba-tiba Starla sangat rindu pulang.

“Nduk…”

"Nduk..."

Cahaya memudar. Tubuh Starla terasa berat lagi. Panas kian merambati dahinya, membuatnya meringis kecil. Ia terbangun dengan napas tersengal.

~

Setelah salat duhur, Bu Gendhis membangunkan Starla.

"Nduk!"

"Nduk!"

Starla terjaga perlahan. Napasnya pendek-pendek. Matanya cekung, kelopak bawahnya menghitam. Kompres instan—seperti yang sering muncul di iklan TV—menempel di dahinya. Bu Gendhis meraih tubuh kecil itu, menariknya duduk, lalu mendekapnya di pangkuan.

"Nek."

“Emam dulu,” katanya lembut tapi memaksa. “Bubur. Sedikit aja, yo.” Sendok diangkat perlahan ke depan mulut Starla.

Starla menggeleng.

“Dikit, Nduk,” bujuk Bu Gendhis lagi, suaranya direndahkan. “Biar lekas turun panasnya. Nanti ibu pulang, langsung ke dokter di klinik depan itu."

Starla tetap diam. Bibirnya mengatup. Matanya justru melirik ke arah pintu yang terbuka. Lama. Terlalu lama untuk ukuran anak seusianya.

“Nduk… Nduk…” cicit Bu Gendhis, ada getar tipis di suaranya. “Jangan nakutin toh.”

Starla akhirnya bersuara, lirih. “Starla udah doain padahal…”

Bu Gendhis terdiam sesaat. “Doain siapa, Nduk?”

“Ibu itu.” Mata Starla kembali melirik ke arah luar pintu.

“Allahu Akbar.” Bu Gendhis refleks mengibaskan sapu lidi aren yang tadi disandarkan di dinding. “Pergi sana. Balik ke alammu.”

Starla mendadak menangis. Tubuh kecil itu memeluk Bu Gendhis erat, wajahnya ditanamkan di dada.

“Tenang, tenang…” Bu Gendhis mengusap punggungnya. “Ada Nek. Ada Nek.”

Sejak dulu, kalau demam, Starla tidak pernah begini. Biasanya nurut, mau makan, mau minum, dan panasnya cepat reda. Kali ini berbeda. Terasa aneh.

Bu Gendhis kembali membujuk Starla makan, sambil melantunkan solawatan pelan. Lalu disusul surat-surat pendek yang dilagukan lirih. Suaranya bergetar, tapi ritmenya terjaga.

Perlahan, Starla mulai tenang. Tubuhnya berkeringat. Panasnya mereda sedikit demi sedikit.

“Takuuut…” gumam Starla.

“Kenapa?” tanya Bu Gendhis cepat.

“Ibu itu deketin Starla,” ucapnya terbata. “Mau megang. Aku mau lari… tapi nggak bisa.” Napasnya tersengal. “Aku bilang aku punya ibu. Nama ibuku Eliza.”

“Innalilahi…” Bu Gendhis memejamkan mata sejenak. “Kamu mimpi, nduk?”

Starla menggeleng pelan. Lalu diam. Ragu, bahkan pada dirinya sendiri—apakah itu mimpi atau bukan.

***

Di tempat lain.

Sejak Hasnawati pulang dari panti, dia langsung mengunci diri di kamar.

Dari dapur, Julia melihat Hasnawati pulang. Dia gegas menyusul mertuanya sampai ke depan kamar. Tapi, pintunya dikunci.

"Ma, kok dikunci?" Julia menaik-turunkan tuas pintu.

“Kenapa sih dengan semua orang di rumah ini!” teriak Julia dari luar. Suaranya menggema di lorong. “Aku kesepian!”

“Ma! Mama!” Julia kembali merengek di depan pintu kamar Hasnawati. “Ayo kita nyalon!”

Tidak ada jawaban. Seruan Julia masih terdengar sampai beberapa menit kemudian, tapi Hasnawati tetap bergeming.

Di dalam kamar, Hasnawati duduk di tepi ranjang, sebuah map terbuka di tangannya. Ia tidak mendengar apa-apa selain degup jantungnya sendiri.

Bibirnya bergerak pelan, mengeja satu nama berulang-ulang.

“Eliza… Eliza… Eliza…”

Matanya menyusuri baris demi baris. Lalu berhenti di satu kalimat.

Bibirnya terkatup tapi terbuka sedikit. Napasnya tertahan, saat matanya membaca satu baris di sana.

“Jadi… Eliza itu—”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!