Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Sawan

Eliza ragu. Ia tidak langsung bicara. Pandangannya jatuh ke meja di antara mereka, mengikuti uap tipis dari cangkir teh yang mulai mendingin. Jemarinya saling mengusap pelan, seperti menimbang—perlu atau tidak membuka ini.

Suster Nafa menangkap keraguan itu. Tubuhnya sedikit condong ke depan.

“Starla kenapa?” ulangnya, kali ini lebih tegas, tak sabar.

Eliza menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik, lalu turun pelan.

“Starla…” suaranya nyaris berbisik. “Katanya lihat sosok wanita di pemakaman.”

Suster Nafa tidak menyela. Ruangan terasa lebih sunyi.

“Berdiri di dekat makam itu,” lanjut Eliza, matanya tak lepas dari suster Nafa. “Sebelah pohon kamboja.”

Ia menelan ludah. “Mukanya sedih. Dan… dia antar Starla pas kita pulang.” Eliza menggeleng kecil, hampir tak terlihat. “Padahal aku nggak lihat apa-apa.”

Suster Nafa terdiam sejenak. Ingatannya terbang ke waktu jelang Maghrib di pemakaman.

“Pas doa dimulai,” katanya pelan, “Starla emang sih... mendekap kamu terus.”

Ia menatap Eliza, matanya menyelidik. “Oh… jangan-jangan dia ketakutan, El?”

Eliza mengedikkan bahu, ragu. Bahunya terangkat sebentar lalu jatuh lagi. “Entah.”

Suster Nafa menarik napas pendek. “Terus?”

Eliza mengusap lengan sendiri, gerakan refleks. Entah kenapa buku kuduknya mendadak meremang.

“Kata Starla, wanita itu nganter sampai parkiran pemakaman.” Eliza berhenti sebentar, meneguk saliva di tenggorokannya. “dia melambai tangan… tapi mukanya sedih.”

“Sedih?” Suster Nafa mengulang, alisnya mengernyit.

“Iya.” Eliza menunduk, suaranya kian lirih. “Starla bilang… wanita itu bilang dia juga ibu.”

“Ibu?” Suster Nafa spontan menegakkan tubuh. Wajahnya berubah. “El… apa mungkin Starla bisa lihat… begituan?”

Eliza cepat-cepat menggeleng. “Nggak. Baru kemarin,” bantahnya yakin.

Namun, beberapa detik kemudian, dia ragu sepersekian detik. “Dan—”

“Dan?” potong Suster Nafa. Nadanya menegang.

“Malamnya Starla gambar wanita itu.” Suara Eliza turun, setengah berbisik. “Katanya mau doain ibu baik.”

Hening.

Suster Nafa tidak langsung bereaksi. Matanya menatap kosong ke satu titik, seperti menyusun potongan ingatan yang masih samar. 

“Mana gambarnya?” tanyanya akhirnya. “Aku boleh lihat, El?”

Eliza membuka tas mengaduk-aduk isinya, dan wajahnya berubah. “Aku lupa bawa buku gambarnya.”

Ia buru-buru meraih ponsel, jarinya menyusuri layar. “Nggak ada juga…” gumamnya. “Loh… kirain udah kufoto sebelum Starla berangkat sekolah tadi…”

Suster Nafa menepuk pahanya pelan, menenangkan, mencoba meredam ketegangan yang menggantung. 

“Gak apa-apa. Lain kali aja.” Ia bangkit perlahan. “Kamu mau lihat foto wanita itu?”

Eliza mengangguk, tanpa suara. Mereka sama-sama berdiri. Tapi sebelum melangkah, ponsel Eliza bergetar.

Eliza berhenti. Suster Nafa ikut berhenti, menunggu.

“Ya, halo?” jawab Eliza sedikit berdiri menjauh. “…eh, iya… iya, iya…”

Suster Nafa menunggu, memperhatikan wajah Eliza yang perlahan berubah. Alisnya mengernyit tipis. “Kenapa, El?”

Eliza menutup telepon perlahan. Tangannya turun, tapi jemarinya masih kaku menggenggam ponsel.

“Bu Gendhis ngabarin,” tuturnya. “Starla sakit. Demam. Gurunya menyarankan pulang cepat.”

Suster Nafa refleks berdiri lebih tegak. “Kamu di mana katanya?”

“Iya ... beliau juga nanya aku di kampus atau udah di kerjaan.” Eliza menarik napas pendek. “Aku bilang di panti. Baru mau berangkat kerja.”

Eliza menunduk sebentar, terngiang ucapan Bu Gendhis tadi di telepon. Beliau bilang gak apa-apa. Starla itu sudah jadi bagian dari kewajibannya. 

Eliza mengangkat wajahnya lagi. Matanya berkaca-kaca. Kalimat Bu Gendhis mengendap di hatinya. Dia terdiam sejenak. Dadanya terasa penuh. Bu Gendhis terlalu baik—terlalu tulus—untuk sekadar disebut ibu kos. Dalam hidup Eliza yang tak pernah benar-benar tahu siapa orang tuanya, perempuan itu hadir seperti rumah kedua.

Suster Nafa mendekat. “Jadi kamu mau pulang?”

Eliza bingung, menggeleng sekaligus mengangguk pelan. “Aku mau balik bentar. Lihat Starla sebelum ke kerjaan.”

Suster Nafa mengangguk, memahami. “Ya sudah. Foto itu… lain kali saja.”

Eliza pamit, langkahnya cepat. Tapi begitu keluar gerbang panti, matanya melirik jam. Sudah mepet waktu masuk kerja. Ia berhenti sejenak, ragu, lalu menghela napas panjang.

Akhirnya, ia melajukan motornya langsung ke toko.

Di toko, Eliza tak setenang biasanya. Tangannya beberapa kali salah menata barang. Pikirannya melayang ke Starla—panas badannya, napasnya. Bisa tidur atau gelisah, dan segala kekuatiran ibu pada umumnya.

Indra yang hendak kembali ke gudang sentral sempat memperhatikan Eliza. Ia mendekat.

“Kenapa, El?” tanyanya. “Ada barang hilang?”

Eliza tersentak kecil. “Eh, nggak ada, Pak.”

“Terus itu kenapa?” Indra menunjuk wajahnya. “Murung amat.”

Eliza ragu sepersekian detik. “Starla demam pas aku mau berangkat.”

“Di kos sama siapa?” desak Indra, dahinya sempet mengerut. 

“Bu Gendhis. Kayak biasanya.”

Indra mengangguk pelan. Lalu, setelah jeda singkat, ia berkata, “Aku ke sana boleh nggak, El?”

Eliza menoleh cepat. “Ngapain, Pak?”

“Jenguk Starla. Bawain buah kek. Dia suka apa?”

“Nggak usah,” jawab Eliza cepat, sambil bergeser ke rak disebelah. “Jangan.”

Indra terdiam. Ia menatap Eliza sejenak, lalu memilih tidak memaksa. Eliza sudah lebih dulu melengos pergi, berpura-pura sibuk.

*

Di kosan, suasana jauh berbeda.

Starla terbaring gelisah. Dahinya panas. Napasnya tidak teratur, bibir mungil itu mulai pecah-pecah. Selimut tipis naik turun mengikuti dadanya.

“Ibu…” gumamnya. “Ibu…”

Bu Gendhis duduk di sisi kasur. Tangannya setia mengompres dahi Starla, gerakannya pelan.

“Ibu kerja, nduk,” katanya lembut. “Ibu kerja.”

Tapi Starla mengerang pelan. Kepalanya bergeser ke samping. Matanya masih terpejam, tapi alisnya berkerut seperti menahan sesuatu.

“Ibu… itu… ibu itu…”

Tangan kecilnya terangkat. Jari telunjuknya menunjuk ke atas. Bukan ke pintu atau jendela, tapi ke langit-langit di atas mereka.

Bu Gendhis membeku.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Bulu kuduknya meremang tanpa aba-aba. Tangannya yang memegang handuk berhenti di udara.

“Nduk…” panggilnya pelan, mencoba tetap tenang. “Ibu yang mana, nduk?”

Starla tidak menjawab. Hanya mengulang, suaranya lirih, terputus-putus, seolah bicara pada seseorang yang tak terlihat. "Ibu… ibu itu…”

Bu Gendhis menelan ludah. Pandangannya refleks menyapu langit-langit kamar. Tidak ada apa-apa. Hanya lampu, dinding kusam, dan bayangan kipas yang berputar pelan.

Astaghfirullah… batinnya.

Tangannya kembali mengompres, tapi kini sedikit gemetar. Pikirannya langsung melompat ke satu kemungkinan yang tak ingin ia sebut keras-keras.

Sawan?

Atau…

Ia cepat-cepat menggeleng kecil, mengusir pikirannya sendiri.

“Sing tenang, nduk,” bisiknya sambil mengusap rambut Starla. “Istighfar… istighfar, yo.”

Starla meringkuk, suaranya mengecil. Tapi jarinya masih terangkat beberapa detik, sebelum akhirnya jatuh lemas di atas selimut.

Bu Gendhis duduk lebih dekat. Ia memeluk tubuh kecil itu, merapatkannya ke dada. Skin to skin agar panasnya lekas turun.

Namun matanya tetap menatap kosong ke arah atas. Rasa takut kian merambati Bu Gendhis. 

Tiba-tiba. Pluk.

"Heh!" 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!