Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Kepiluan Wanita baik
“Oh, lalu?”
Sambil berjalan pelan ke arah kantor, dia bertanya lagi, “…donasinya didampingi pengacara sebelum meninggal?”
“Tidak. Wasiatnya berupa tulisan tangan beliau, dan beberapa emas batangan, perhiasan juga uang tunai.”
“Loh? Kayak sudah tahu mau meninggal,” kata Hasnawati. Bibirnya menegang tipis. “Kapan kejadiannya?”
“Sekitar lima tahun lalu.”
Deg.
Jantung Hasnawati berdegup keras. Tangannya refleks mengencang memegang tas, jari-jarinya menekan kulit sintetis itu tanpa sadar. Angin siang berembus pelan, hangat menyapu halaman panti, tapi tubuhnya justru merinding, dingin menjalar sampai tengkuk.
Pikirannya berputar cepat. Lima tahun. Tahun yang sama. Terlalu mirip untuk sekadar kebetulan.
Langkahnya terhenti. Hasnawati membeku di tempat, seolah tanah di bawah kakinya tiba-tiba ada lem, lengket, sulit sekedar bergeser.
“Nyonya, kenapa?” suara Suster Nafa terdengar cemas. Wajahnya berubah saat melihat Hasnawati memucat.
Hasnawati terkesiap kecil, seakan baru ditarik kembali ke tubuhnya sendiri. Ia memaksakan senyum tipis—canggung.
“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Kita masuk saja.”
Ia melangkah lebih dulu, cepat, seolah kursi di dalam adalah satu-satunya penyangga agar ia tidak runtuh.
Di ruang tamu kantor, Hasnawati duduk dengan punggung tegak. Jari-jarinya gelisah di pangkuan sebelum akhirnya meraih ponsel, menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.
“Pak Sarip,” katanya saat sambungan terangkat. “Tolong ke sini.”
Tak lama, seorang pria masuk, membungkuk sedikit, hormat pada majikannya dan petugas panti.
Hasnawati langsung bicara, suaranya terdengar datar, “Tolong dicatat. Laptop seperti apa yang dibutuhkan di sini. Lalu tulis jumlah selimut dan meja lipat tambahan untuk anak-anak belajar.”
Suster Nafa mengangguk. Ia mempersilakan Pak Sarip memotret laptop di atas meja. Beberapa foto diambil. Semua dicatat.
Setelah catatan tersimpan rapi di saku Pak Sarip, Hasnawati berdiri. “Saya pamit dulu.”
Suster Nafa mengantarnya sampai depan. Membungkuk berterima kasih.
Matahari masih tinggi. Suara anak-anak kembali memenuhi halaman panti, riuh dan hidup—kontras dengan dada Hasnawati yang terasa kosong.
Saat Hasnawati hendak masuk ke mobil, suara motor terdengar mendekat.
Tatapan mereka sempat bersinggungan. Sepersekian detik saja. Hasnawati langsung memalingkan wajah, seolah refleks, lalu masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.
Seorang wanita berhenti tepat di depan halaman. Mesin motor dimatikan. Helm dilepas, digantung di spion. Ia turun cepat, hampir bersamaan dengan standar motor menyentuh tanah.
“Suster!” serunya.
Suster Nafa menoleh. “El!”
Pak Sarip menutup pintu mobil dan segera memutar kunci. Mobil melaju pelan meninggalkan halaman panti.
Hasnawati bersandar di kursi. Matanya menatap lurus ke depan, tapi tak benar-benar melihat jalan.
Mobil bergerak. Dari balik kaca, barulah ia menyadari—melihat Eliza berjalan masuk ke gedung panti.
Loh… gadis itu?
Ngapain ke sini?
Berbagai potongan peristiwa berkelebat, saling bertabrakan di kepalanya. Napas Hasnawati terasa pendek. Ia menghela pelan dan menyandarkan punggung. Tangannya masih menggenggam tas, tak juga mengendur. Matanya terpejam sebentar.
Lima tahun lalu, seorang wanita datang ke tempat ini.
Lima tahun lalu, seorang bayi lahir.
Lima tahun lalu, seorang gadis menghilang tanpa jejak.
Lima tahun lalu, Eliza menemukan bayi.
Hasnawati membuka mata. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. “Ini bukan kebetulan,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Mobil terus melaju, menjauh dari panti. Tapi pikirannya ingin segera sampai rumah. Ada sesuatu yang harus ia pastikan.
*
Eliza tersenyum saat menyalami Suster Nafa. Senyum yang tulus, tanpa tahu apa pun yang baru saja terjadi di halaman tadi.
“Suster, aku mau nanya sesuatu,” katanya, suaranya serius.
“Ayo,” Suster Nafa mengajaknya masuk.
Eliza duduk berhadapan di ruang kecil yang tenang. Bau teh hangat samar tercium. Udara siang terasa teduh. Padahal pertanyaannya sama sekali tidak menenangkan.
Ia menautkan kedua tangan di pangkuan, jemarinya saling mengunci lebih erat dari yang ia sadari. Napasnya ditarik pelan.
“Suster,” katanya lirih, “aku mau nanya soal seorang ibu.”
Suster Nafa menoleh, menunggu tanpa menyela.
“Ibu yang… pernah tinggal di sini. Sekitar lima tahunan lalu.” Eliza berhenti sejenak, suaranya tertahan. “Yang meninggal setelah melahirkan.”
Ruangan mendadak sunyi. Tatapan mereka saling mengunci. Sejenak, tak ada yang bernapas dengan leluasa.
Suster Nafa melirik sekitar, lalu menghela napas pendek. “Kenapa tiba-tiba nanya begini, El?”
Eliza menggeleng. “Nggak. Cuma… kepikiran aja.”
“Kepikiran apanya?”
Eliza menunduk. Ada perasaan aneh—antara berhak tahu dan takut mendengar. “Kalau dia meninggal setelah melahirkan… bayinya ke mana, Suster? Diadopsi?”
Suster Nafa terdiam lama. Matanya turun ke meja, seolah mencari jawaban yang tak tertulis di sana.
Jari Eliza meremas kain celananya di pangkuan. Cemas.
Wajah suster Nafa meredup. “Untuk soal bayinya… aku nggak punya informasi, El,” kata Suster Nafa pelan, nadanya mengandung penyesalan.
Eliza tetap diam, membiarkan jeda itu ada.
Suster Nafa menarik napas dalam. Tatapannya menerawang ke luar jendela. “Tapi… ada satu hal yang selalu aku ingat.”
Ia mengusap sudut matanya. “Beberapa hari sebelum meninggal, tiga hari tepatnya, beliau demam tinggi. Sering mengigau.”
Eliza menegakkan tubuh, seolah takut kehilangan satu kata pun.
“Malam itu suaranya berubah. Serak. Seperti menahan tangis.” Suster Nafa terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara bergetar.
“Tangannya menggapai-gapai udara. Beliau menangis dalam tidurnya.”
Matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Eliza.
“Katanya… ‘Jahat. Jahat. Kalian memutus nasab. Jangan ... kepala beliau menggeleng cepat ke kanan kiri. Dadanya naik turun. Lalu beliau histeris. Berteriak. Kami menenangkannya.”
Suster Nafa menunduk. Air matanya jatuh satu. Jarinya saling meremas erat. Bahunya bergetar halus. Eliza bergeser mendekat, menggenggam tangannya.
Dengan napas pendek, Suster Nafa melanjutkan, “Setelah sadar, beliau memeluk dirinya sendiri sambil menangis.”
Ia menatap Eliza. “Bilang… ‘Di mana kamu? Hidup atau tidak? Aku rindu…’ Air matanya deras sampai bantalnya basah.”
Eliza menunduk. Dadanya mengeras, napasnya tertahan—rasa itu terasa sangat familiar.
“Kalau kami tanya soal anaknya, beliau selalu diam. Cuma menangis.”
Suster Nafa menarik napas panjang. “Tapi beliau sering berdoa. Selalu.”
“Semoga Allah menjaganya. Aku yakin ada Allah, Sang Penyelamat. Di mana pun dia berada, nggak akan terlantar.”
Eliza menelan ludah. Jari-jarinya gemetar pelan. Doa itu… sama.
“Beliau bilang,” lanjut Suster Nafa, menyeka air mata, “anak itu dititipkan padaku sebentar. Setelah itu akan ditemukan, diasuh, dididik, disayangi orang baik. Lebih dari aku menyayanginya.”
Isakan Suster Nafa terdengar lagi.
“Tapi… ada juga saat-saat beliau marah. Pernah berteriak, ‘Aku nggak akan memaafkan kalian.’”
Hening.
“Suster…” bisik Eliza.
“Kalau kamu tahu sosoknya, El… kamu pasti iba.”
Eliza mengangguk pelan. “Pasti.” Ia ragu sejenak, menata suaranya yang hampir pecah.
“Ehm… kemarin Starla lihat sesuatu di pemakaman.”
Suster Nafa mengerutkan kening. “Lihat apa?”
Eliza menarik napas. “Ehm… Starla…”
.
.