Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Gundah
Lampu kamar masih redup. Julia berdiri kaku di dekat meja rias. Saba belum bergerak dari tempatnya berdiri.
“Setia?” ulang Saba pelan. Ia menatap sinis. “Yakin?”
Julia terdiam.
Biasanya, Saba tidak seperti ini. Biasanya ia diam saja. Bahkan saat mabuk—justru Julia yang harus menariknya lebih dulu. Saba hanya mengikuti, tanpa gairah berlebih. Tidak seperti lelaki mabuk kebanyakan yang mudah horny.
Itu sebabnya Julia selalu merasa unggul.
“Iyalah,” katanya akhirnya, mengangkat dagu. “Kalau nggak setia dan cinta, mana kuat aku ngadepin kamu.”
Saba tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih mirip garis datar di bibir. “Cinta?” tanyanya. “Harta maksudmu?”
Julia membeku.
“Kamu tahu siapa aku sebenarnya,” lanjut Saba, suaranya tetap rendah. “Tahu dari mana asalku. Masih yakin itu cinta?”
Julia menarik napas, lalu tersenyum percaya diri, seolah sudah menyiapkan jawaban sejak lama.
“Kamu nggak sadar ya,” katanya, mendekat setengah langkah. “Kamu tampan. Tegap. Idaman banyak wanita.”
Saba mengangguk kecil. “Karena aku punya harta,” katanya. “Idaman wanita sepertimu.”
Julia tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras.
“Kau pikir aku nggak tahu?” Saba melanjutkan. Tatapannya lurus, tak bergetar. “Tenang saja. Meski begitu, aku tetap siapkan bekal buatmu.”
Julia menelan ludah.
“Bilang ke piaraanmu,” kata Saba dingin, “uang itu—buat beli obat kuat sepuluh tahun pun masih sisa banyak.”
Julia terkejut.
Glek.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus membalas apa.
Di hadapannya, Saba berdiri tenang. Tidak marah, ucapannya tidak bernada meninggi. Justru itulah yang membuat kata-katanya terasa lebih tajam. Dan Julia sadar—lelaki ini tidak sebodoh yang selama ini ia kira.
Saba menatapnya tanpa ekspresi. “Kamu kira aku cuek karena aku nggak tahu apa-apa,” katanya pelan. “Padahal aku tahu.”
Julia tercekat. “Tahu apa?”
Saba mendekat setengah langkah. Tidak mengancam, tapi cukup membuat Julia menahan napas. “Aku bersyukur,” ucapnya datar, “sampai sekarang kamu belum hamil.”
Julia membelalak. “Apa maksud kamu?”
“Aku bakal ragu,” lanjut Saba, tanpa menaikkan suara, “itu anakku atau bukan.”
Julia seperti tersiram air panas, matanya menyalak. “Itu anakmu lah,” bantahnya cepat. “Kita tanpa pengaman.”
Saba tersenyum tipis. Lagi-lagi senyum yang tak sampai ke mata. “Who knows,” katanya. “Teknologi makin canggih, Julia.” Ia menatap Julia lurus. “Kamu punya modal. Dan kuasa.”
Julia mundur selangkah. Wajahnya memerah. “Jadi kamu bilang aku murah?”
Saba menggeleng pelan. “Bukan,” jawabnya tenang. “Aku cuma ngingetin aja—siapa kamu, dan siapa aku.”
Hening jatuh berat di antara mereka.
Julia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Untuk pertama kalinya, ia merasa… kalah, ditelanjangi Saba.
Saba lantas melangkah keluar ke taman belakang.
Udara malam sedikit dingin, rumput masih basah oleh embun. Ia duduk di bangku kayu, menengadah. Langit bersih. Bintang-bintang kecil bertaburan.
“Kamu pernah bilang,” gumamnya pelan,
“bintang itu kecil… tapi masing-masing punya porosnya sendiri.”
Ia tersenyum tipis, pahit. “Kecil, tapi hidup.”
Saba menarik napas panjang. “Kayak kita,” katanya lirih. “Kecil. Nggak penting di mata banyak orang.”
Ia menatap satu bintang yang paling redup.
“Dia ... kamu namai siapa, Wulan?”
Jeda.
“Apa bintang?" kekehnya getir. "Cocok denganmu ... kalian, Bulan dan Bintang.”
Angin menghembus pelan. Tidak ada jawaban. Hanya langit yang tetap diam.
Saba menunduk. Tangannya mengepal di pangkuan. Menahan rindu dan sakit yang datang bersamaan.
***
Di tempat lain.
Eliza duduk di bangku kayu depan kos, menyesap es teh beli di jalan. Lampu-lampu gang menyala temaram. Suara motor mulai jarang lewat.
Ia menengadah. Langit kota tidak ramah pada bintang, tapi masih ada satu dua yang bertahan.
“Kok hidupku gini amat,” gumamnya lirih.
Berat. Kecil. Nyaris tak kelihatan—seperti bintang yang kalah oleh lampu jalan.
Ia melirik ke dalam kamar. Dari jendela, Starla tertidur pulas, memeluk bonekanya, wajahnya damai.
Eliza menarik napas, lalu tersenyum tipis. “Tapi bintangnya aku,” katanya pelan. “Harus kelihatan.”
Ia menatap langit sekali lagi. “Buat kamu, ibu bakal berjuang,” bisiknya. “Starla.”
Malam makin larut.
Bu Gendhis menghampiri dan duduk di sampingnya, kipas kecil di tangan, sesekali mengibas nyamuk. Gelas stainless bercorak loreng, berisi teh panas diletakkan di ujung bangku.
“Bu…” Eliza membuka suara pelan.
Bu Gendhis menoleh. “Napa, Mbak El?”
“Aku kepikiran soal panti itu,” katanya jujur. “Kalau Starla nanti betah di sana… gimana?”
Bu Gendhis terkekeh kecil. “Lho, terus kenapa nek betah?”
“Takut aja,” Eliza menghela napas. “Takut dia ngerasa lebih enak di sana. Takut dia mikir… ibunya kekurangan ini itu.”
Bu Gendhis mendecak pelan, lalu meneguk tehnya. “Ngono kuwi, Mbak El,” katanya santai. “Anak kuwi betah nang endi wae sing ana sing sayang.”
Ia menoleh ke Eliza, matanya melirik. “Lha emang kenapa tinggal panti? Buktine sampeyan iki keren ngene.”
Eliza terkekeh. “Keren apanya, Bu.”
“Yo keren toh,” Bu Gendhis mengangkat alis. “Kerja, kuliah, ngopeni bocah. Wong akeh loh sing uripe luwih enak tapi ora iso ngono.”
Ia menunjuk gelas teh di tangan Eliza. “Kaya es teh iki.”
Eliza melirik. “Lho?”
“Es teh pinggir jalan karo es teh kafe, rasane yo podo,” kata Bu Gendhis mantap. “Tehne podo. Gulahe podo. Bedane mung lungguhane.”
Eliza tertawa kecil.
“Sampeyan kuwi yo ngono,” lanjut Bu Gendhis. “Manusiane setara. Sing mbedakno mung ati lan taqwane. Di situlah Mbak El menang.”
Eliza menggeleng sambil tersenyum. “Bu Gendhis kok mendadak filosofis.”
Bu Gendhis nyengir. “Yo iki wejangan pengajian kemarin. Mlebu kuping tengen, metu kuping kiwa… sing nempel mung sethithik.”
Eliza tertawa sampai matanya menyipit. “Kukira salah makan apa keracunan, mendadak sholehah.”
Bu Gendhis tertawa, menunjuk pohon di depan kos tetangga. “Oh, iki,” katanya santai. “Habis ngunyah kembang kenanga kae.”
Eliza terbahak melihat wajah bu Gendhis yang malah serius. “Pantes jadi solehah mendadak,” timpal Eliza.
“Niki soleheh, Mbak El. Yang dimakan kembang soale,” ucap Bu Gendhis.
Keduanya tertawa renyah, suara mereka menyatu. Beberapa detik kemudian, Bu Gendhis mendadak diam. Tatapannya menatap jalan gang yang sepi.
“Ibu kuwi…” katanya pelan, “iso sayang sepuluh anak.”
Eliza menoleh.
“Tapi anak,” lanjutnya lirih, “durung tentu iso sayang siji ibu.”
Eliza terdiam.
Bu Gendhis tersenyum tipis. “Starla, muga-muga sayang sampeyan yo, Mbak El. Nganti sampeyan tuwa.”
Ia menoleh, matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Nggak lali karo aku sekalian.”
Eliza terkekeh. “Iya, Bu. Tak bisikin terus biar inget Bu Gendhis yang semanis gula jawa.”
Bu Gendhis mendesah kecil. “Aku matine piye yo nanti, Mbak El. Anakku pulang ora?”
Eliza tanpa ragu menjawab jenaka, agar beliau tidak sedih. “Matinya budek dan merem, Bu.”
Bu Gendhis melongo. “Lah iya, mati kan gitu. Emange ada yang model lain?”
“Rikues khusus bisa dibicarakan,” Eliza tersenyum tipis. “Bibir senyum apa mlongo. Tinggal pilih.”
Bu Gendhis tertawa sampai bahunya berguncang. “Gendeng kowe.”
Malam terus berjalan. Dua perempuan itu duduk berdampingan, menatap gelap yang tenang—dengan tawa kecil, dan rasa sayang yang tidak pernah perlu disebutkan lantang.
.
.