PUISI UNTUK EMBUN
YANG TERSEMBUNYI 2
Perasaan kagum itu semakin menguat ketika beberapa hari kemudian Embun mengalami sedikit masalah dengan nilai ulangan fisika yang turun drastis, sesuatu yang jarang terjadi padanya dan cukup membuatnya panik karena ia selalu menjaga prestasi akademiknya. Embun sempat menutup diri, mencoba menyembunyikan kekecewaannya di balik senyum tipis, tapi Jeno menangkap perubahan itu dengan cepat, bukan dengan pertanyaan beruntun yang memojokkan, melainkan dengan ajakan sederhana untuk duduk bersama di taman sekolah sepulang jam pelajaran.
Di sana, dengan suasana yang lebih tenang, Jeno mendengarkan cerita Embun tentang rasa takutnya mengecewakan orang tua dan kekhawatirannya kehilangan kepercayaan diri, dan yang mengejutkan, Jeno tidak langsung memberi nasihat panjang lebar, melainkan hanya mengakui bahwa ia juga sering merasa gagal dan bingung menentukan langkah, lalu menawarkan untuk belajar bersama tanpa membuat Embun merasa lebih lemah atau lebih rendah darinya.
Sikap Jeno yang tidak menggurui, tidak meremehkan, dan tidak sok tahu itu membuat Embun merasa dihargai sebagai pribadi yang setara, bukan sekadar pacar yang harus selalu tampak kuat atau sempurna. Mereka akhirnya benar-benar menghabiskan beberapa sore belajar bersama di perpustakaan kecil dekat rumah Embun, dengan Jeno yang ternyata cukup telaten mengulang materi pelajaran meskipun ia sendiri bukan siswa paling menonjol di kelas, dan Embun melihat betapa seriusnya Jeno ketika ia berjanji akan menemani dan membantu, sesuatu yang kembali mematahkan stereotip tentang dirinya sebagai anak yang asal-asalan dan tidak konsisten.
Namun di balik rasa kagum yang semakin tumbuh itu, Embun mulai merasakan getaran lain yang lebih halus tapi mengganggu, semacam ketakutan kecil yang muncul karena ia sadar perasaannya terhadap Jeno semakin dalam dan nyata. Ia mulai membayangkan kemungkinan kehilangan, kemungkinan terluka, kemungkinan perubahan yang tidak bisa ia kendalikan, dan pikiran-pikiran itu datang justru saat ia merasa paling bahagia dan paling aman, seolah hatinya sedang mengingatkan bahwa tidak ada kebahagiaan yang benar-benar bebas dari risiko. Di beberapa malam, Embun menulis panjang di buku catatan biru tentang rasa syukur sekaligus kecemasan yang bercampur, tentang bagaimana ia ingin menikmati momen ini tanpa terlalu banyak memikirkan masa depan, tapi juga takut kalau suatu hari semua ini hanya akan menjadi kenangan yang menyisakan perih.
Sementara itu, Jeno sendiri tidak sepenuhnya menyadari gejolak batin Embun, namun ia merasakan perubahan kecil dalam sikap Embun yang terkadang menjadi lebih pendiam atau lebih mudah melamun, dan alih-alih menekan atau menuntut penjelasan, ia memilih menjaga jarak yang sehat, memberi ruang tanpa menjauh, sebuah keseimbangan yang tidak semua orang mampu lakukan dengan matang di usia mereka yang masih belia. Ia tetap hadir dengan cara yang sama: menunggu Embun pulang, mengingatkan makan, mendengarkan cerita-cerita kecil yang kadang tidak penting, dan mengajak tertawa ketika suasana mulai terasa berat, tanpa sadar bahwa justru konsistensi itulah yang membuat Embun semakin yakin bahwa di balik penampilan urakan, Jeno menyimpan kedewasaan emosional yang jarang terlihat.
Embun mulai memahami bahwa cinta tidak selalu datang dalam bentuk kejutan besar atau drama yang menggebu-gebu, melainkan sering hadir melalui perhatian yang tenang, kesetiaan dalam hal-hal kecil, dan keberanian untuk bertanggung jawab tanpa harus diakui, dan pemahaman itu membuatnya perlahan mengubah cara ia memandang hubungan, bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan dan penuh risiko semata, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama yang membutuhkan kepercayaan, kesabaran, dan kerendahan hati.
***
Sore itu langit tampak lebih cerah dari biasanya, meskipun angin masih membawa sisa lembap hujan semalam. Embun dan Jeno berjalan berdua menyusuri jalan kecil di belakang sekolah, jalur yang jarang dilewati siswa karena sedikit memutar, tapi justru menjadi favorit mereka sejak beberapa minggu terakhir karena suasananya lebih tenang dan tidak terlalu banyak tatapan usil. Embun mengayun-ayunkan tas kecilnya sambil sesekali menendang kerikil di pinggir jalan, sementara Jeno berjalan di sampingnya dengan tangan di saku, ekspresinya santai, namun matanya sesekali melirik Embun seolah memastikan gadis itu baik-baik saja.
“Jen,” Embun membuka suara setelah cukup lama mereka berjalan dalam diam, “lo capek nggak sih pacaran sama gue yang ribet?”
Jeno menoleh dengan alis terangkat. “Lah, kok tiba-tiba?”
Embun tersenyum kecil, tapi ada raut ragu di wajahnya. “Gue suka mikir kebanyakan. Kadang suka takut sendiri. Kadang juga baper nggak jelas.”
Jeno tertawa pendek. “Kalau lo ribet, gue apaan? Gue berantakan.”
“Lo nggak berantakan,” bantah Embun pelan.
“Kelihatannya aja rapi sekarang karena ada lo,” balas Jeno sambil tersenyum miring.
Embun berhenti melangkah dan menatap Jeno. “Serius?”
“Iya. Gue jadi kepikiran banyak hal yang dulu gue cuekin.”
Embun melanjutkan langkahnya, tapi kali ini dengan perasaan hangat yang mengalir pelan di dadanya. Ia mulai menyadari bahwa hubungan mereka bukan hanya soal rasa suka, tetapi juga tentang bagaimana kehadiran seseorang bisa mempengaruhi cara kita memandang diri sendiri dan dunia di sekitar.
Mereka berhenti di sebuah warung kecil yang menjual es sirup dan gorengan, tempat yang sering mereka singgahi sepulang sekolah. Jeno memesan dua es sirup tanpa banyak tanya, langsung menyebut rasa favorit Embun seolah itu sudah menjadi hafalan otomatis.
“Lo inget aja,” kata Embun sambil tersenyum.
“Ya masa lupa. Lo selalu pesen itu.”
Mereka duduk di bangku panjang kayu, menghadap jalan yang mulai ramai oleh motor dan angkot pulang kerja. Angin sore membawa suara klakson samar dan aroma gorengan panas.
“Jen,” Embun kembali membuka percakapan sambil mengaduk esnya pelan, “boleh gue nanya sesuatu yang agak serius?”
Jeno mengangguk. “Tanya aja.”
“Lo nggak pernah cerita banyak soal diri lo. Tentang apa yang lo pengen, atau yang lo takutin.”
Jeno terdiam sejenak, menatap es sirupnya yang mulai mencair. “Bukan nggak mau cerita. Kadang gue sendiri belum yakin jawabannya.”
“Contohnya?”
“Gue pengen jadi orang yang nggak nyusahin orang lain. Kedengeran simpel, tapi susah.”
Embun menatapnya penuh perhatian. “Itu aja?”
“Iya. Gue takut jadi orang yang bikin kecewa. Bokap nyokap, lo, diri gue sendiri.”
Kalimat itu keluar dengan nada datar, tapi terasa berat.
Embun mengangguk pelan. “Gue nggak pernah kepikiran kalau lo mikir sejauh itu.”
Jeno tersenyum tipis. “Makanya jangan liat gue dari luar doang.”
Mereka tertawa kecil, tapi ada kehangatan yang tertinggal di antara mereka.
Saat mereka melanjutkan perjalanan pulang, Embun melihat seorang anak kecil di pinggir jalan sedang kesulitan menuntun sepeda yang bannya kempes. Tanpa ragu, Jeno menghampiri anak itu.
“Kenapa, Dek?” tanya Jeno.
“Bannya bocor,” jawab si anak dengan wajah cemberut.
“Rumahnya jauh?”
“Nggak, di gang situ.”
Jeno mengangkat sepeda itu dengan ringan. “Yaudah, gue anterin.”
Embun mengikuti dari belakang, memperhatikan bagaimana Jeno berbicara lembut kepada anak itu, menanyakan namanya, menenangkan agar tidak takut dimarahi orang tua. Setelah sampai di rumah si anak dan menyerahkan sepeda kepada ibunya, Jeno hanya tersenyum dan menolak ketika sang ibu menawarkan uang terima kasih.
“Ngapain nolak?” tanya Embun saat mereka kembali berjalan.
“Bantu orang nggak harus dibayar.”
Embun menatap Jeno lama, lalu tersenyum. “Lo emang nggak kelihatan, tapi baik.”
Jeno terkekeh. “Jangan bilang ke siapa-siapa.”
Mereka tertawa bersama. Namun di tengah suasana ringan itu, Embun tiba-tiba teringat sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak beberapa hari terakhir.
“Jen,” katanya pelan, “kalau suatu hari gue berubah… lo masih mau sama gue?”
***