PUISI UNTUK EMBUN
YANG TERSEMBUNYI 3
Jeno berhenti berjalan dan menatapnya serius. “Berubah gimana?”
“Entah. Bisa aja gue jadi lebih sibuk, lebih cerewet, lebih capek.”
Jeno berpikir sejenak sebelum menjawab. “Semua orang berubah. Yang penting kita masih mau ngobrol.”
Embun mengangguk.
“Lo kenapa nanya gitu?” tanya Jeno balik.
Embun menarik napas. “Karena gue mulai sayang.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa rencana.
Jeno terdiam beberapa detik.Matanya membesar sedikit, lalu tersenyum lebar. “Baru sekarang ngomong?”
Embun tertawa gugup. “Iya.”
Jeno menggaruk tengkuk. “Gue juga.”
Ada jeda yang hangat. Mereka berdiri saling berhadapan, sedikit kikuk, sedikit bahagia.
“Jangan bosen ya sama gue,” kata Embun.
“Lo juga jangan nyerah sama gue.”
Mereka saling tersenyum.
Langit sore mulai berubah jingga, seolah ikut menyaksikan momen kecil itu.
Embun merasa dadanya penuh oleh rasa yang tidak berisik, tapi dalam, dan ia mulai mengerti bahwa kejutan terbesar bukanlah sikap heroik atau romantis berlebihan, melainkan konsistensi sederhana yang ditunjukkan Jeno setiap hari, membuatnya merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri tanpa topeng.
***
Ujian kecil itu datang tanpa aba-aba, seperti kebanyakan masalah yang memang tidak pernah memberi waktu untuk bersiap. Semuanya bermula dari sebuah kesalahpahaman sepele yang membesar karena bisik-bisik dan asumsi, sesuatu yang sangat mudah terjadi di lingkungan sekolah di mana cerita sering kali berjalan lebih cepat daripada klarifikasi.
Siang itu, Embun sedang rapat OSIS yang molor lebih lama dari perkiraan karena pembahasan acara perpisahan kelas akhir yang penuh debat. Ketika rapat selesai, halaman sekolah sudah mulai sepi, sebagian besar siswa pulang lebih awal karena cuaca mendung yang mengancam hujan. Embun keluar ruangan sambil merapikan map, sedikit lelah dan lapar, lalu berhenti mendadak ketika melihat Jeno berdiri tidak jauh dari gerbang bersama seorang siswi kelas sebelah yang cukup dikenal karena gaya bicaranya yang centil dan ramai.
Mereka tidak terlihat melakukan sesuatu yang mencurigakan, hanya berdiri dan berbincang, tetapi jarak mereka cukup dekat dan ekspresi siswi itu tampak terlalu antusias, sesekali tertawa sambil menyentuh lengan Jeno. Entah kenapa, dada Embun terasa mengencang, bukan karena marah yang meledak-ledak, melainkan rasa tidak nyaman yang datang tiba-tiba dan sulit dijelaskan. Ia berdiri beberapa detik tanpa bergerak, lalu memilih berbalik arah dan berjalan menjauh, berpura-pura tidak melihat apa pun meskipun pikirannya mulai dipenuhi dugaan-dugaan yang tidak sepenuhnya rasional.
Di perjalanan pulang, Embun lebih banyak diam. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dicurigai, bahwa Jeno bukan tipe yang main-main, bahwa kedekatan itu bisa saja sekadar obrolan biasa, namun semakin ia berusaha menenangkan diri, semakin pikirannya justru memutar ulang adegan singkat tadi dengan versi-versi yang lebih buruk. Ia sadar rasa cemburu itu baru pertama kali benar-benar ia rasakan, dan itu membuatnya tidak nyaman karena ia tidak suka kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
Sore itu Jeno mengirim pesan lewat pager sekolah, mengajak Embun bertemu sebentar di taman kecil dekat rumah Embun seperti biasa. Embun membaca pesan itu, menatapnya cukup lama, lalu membalas singkat bahwa ia sedang capek dan ingin langsung pulang. Jeno sempat mengirim balasan lagi menanyakan apakah ada sesuatu yang salah, tapi Embun memilih tidak menjawab, bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena ia belum siap berbicara tanpa emosi yang bercampur.
Malamnya, Embun gelisah. Ia membuka buku catatan biru dan menulis panjang tentang rasa cemburu yang membuatnya merasa kekanak-kanakan, tentang ketakutan kehilangan yang muncul terlalu cepat, tentang kekhawatiran bahwa perasaannya mungkin tumbuh lebih dalam daripada yang ia kira. Ia menutup buku itu dengan perasaan lelah, berharap tidur bisa meredakan keruwetan di kepalanya, namun justru mimpi-mimpinya dipenuhi potongan adegan sore tadi yang berulang.
Keesokan paginya, Jeno menunggu Embun di depan kelas seperti biasa, namun kali ini wajahnya tampak sedikit tegang, seolah ia merasakan jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan. Embun menyapanya singkat, tersenyum tipis, tapi tidak berhenti untuk mengobrol lebih lama, dan sikap itu membuat Jeno semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.
“Mbun,” panggil Jeno saat jam istirahat, menghampirinya di koridor yang agak sepi, “lo kenapa? Dari kemarin kayak menjauh.”
Embun menatap lantai sejenak sebelum menjawab. “Nggak apa-apa. Gue cuma capek.”
Jeno mengernyit. “Capek doang sampai nggak bales pesan?”
Embun terdiam, lalu menghela napas. “Gue nggak pengen ribut.”
“Kalau nggak dibahas, malah jadi ribut di kepala,” balas Jeno dengan nada lebih lembut daripada menuduh.
Embun akhirnya mengangkat pandangan. “Kemarin gue liat lo sama cewek di gerbang.”
Jeno tampak terkejut. “Oh, itu?”
“Iya.”
“Dia minta tolong nanyain soal tugas matematika. Gue cuma jelasin sebentar.”
Embun menggigit bibir. “Tapi dia… deket banget.”
Jeno tersenyum kecil, bukan mengejek, tapi mencoba menenangkan. “Mbun, lo pacar gue. Kalau ada apa-apa, lo tanya gue langsung.”
Nada Jeno tidak defensif, tidak meninggi, justru tenang dan jujur, sesuatu yang membuat Embun merasa sedikit malu pada dirinya sendiri karena sudah membiarkan prasangka tumbuh tanpa konfirmasi.
“Gue nggak marah,” lanjut Jeno. “Gue cuma nggak pengen lo nyimpen sendiri terus jadi kepikiran.”
Embun menunduk. “Maaf. Gue cemburu.”
Jeno tertawa kecil. “Itu wajar.”
“Tapi gue nggak suka perasaan itu.”
“Gue juga nggak suka bikin lo kepikiran. Makanya ngomong aja.”
Percakapan itu tidak panjang, tapi cukup untuk meluruhkan ketegangan yang sejak kemarin mengendap di dada Embun. Ia merasa lega karena Jeno tidak membalas kecemburuannya dengan sikap defensif atau meremehkan, melainkan dengan keterbukaan dan kesabaran yang membuat masalah terasa lebih ringan dan mudah diurai.
Sore itu mereka berjalan pulang bersama seperti biasa, namun suasananya terasa lebih dekat daripada sebelumnya, seolah satu lapisan kepercayaan baru saja terbentuk di antara mereka.
“Jen,” kata Embun sambil berjalan pelan, “makasih ya nggak marah.”
“Ngapain marah. Kita kan lagi belajar bareng.”
Embun tersenyum. “Belajar apa?”
“Belajar jadi dewasa.”
Embun tertawa kecil.
Dalam hati, ia mengakui bahwa kejadian kecil itu justru semakin meyakinkannya bahwa Jeno bukan hanya sosok yang perhatian dalam hal-hal manis, tetapi juga matang dalam menghadapi konflik, mampu menahan ego, dan memilih komunikasi daripada drama, sesuatu yang jarang ia temui pada banyak orang di usia mereka.
Ia merasa aman bukan karena tidak ada masalah, tetapi karena ia tahu masalah bisa dibicarakan tanpa saling melukai.
Dan itu, bagi Embun, adalah bentuk cinta yang paling nyata.
Beberapa hari setelah kesalahpahaman kecil itu mereda, hubungan Embun dan Jeno terasa memasuki fase yang lebih tenang, bukan karena tidak ada lagi rasa waswas atau keraguan sama sekali, tetapi karena keduanya mulai terbiasa berbagi isi kepala tanpa perlu menunggu masalah membesar. Embun mulai menyadari bahwa rasa nyaman yang ia rasakan bersama Jeno bukanlah hasil dari romantisme berlebihan atau janji-janji manis, melainkan dari kebiasaan kecil yang terus berulang: mendengar tanpa menghakimi, hadir tanpa menuntut, dan menjaga tanpa merasa memiliki secara berlebihan.
***