PUISI UNTUK EMBUN
KEJARAN CURIGA
Bel pulang menggema panjang, berlapis, seperti gelombang yang menyapu seluruh gedung sekolah. Suaranya memantul di lorong-lorong, menabrak dinding kusam yang catnya mulai mengelupas, menyelinap ke ruang kelas yang jendelanya setengah terbuka. Anak-anak serentak bangkit dari kursi. Ada yang langsung menyambar tas dan topi, ada yang masih bercanda sambil menirukan gaya guru, ada yang menggerutu karena PR matematika belum kelar. Kursi-kursi diseret tanpa peduli suara berdecitnya. Papan tulis penuh coretan kapur belum sempat dihapus sempurna, meninggalkan jejak putih seperti kabut tipis.
Lorong berubah jadi arus manusia. Suara tawa, teriakan memanggil nama, bunyi langkah sepatu di lantai semen, aroma keringat, parfum murah, dan gorengan dari kantin bercampur jadi satu. Di luar, langit sore mulai condong ke warna jingga pucat, matahari menggantung rendah di balik pepohonan, memberi bayangan panjang di halaman sekolah.
Embun masih duduk di bangkunya.
Ia sengaja menunggu sampai kelas agak sepi. Tasnya sudah tertutup, tapi tangannya belum bergerak. Ia memandangi halaman agenda OSIS yang penuh coretan jadwal, rapat, dan catatan kecil yang ditulis terburu-buru. Matanya menatap tulisan sendiri tanpa benar-benar membaca. Pikirannya mengembara, berputar-putar di tempat yang sama sejak beberapa hari terakhir.
Sejak beberapa hari itu pula, ia sadar sedang membangun jarak dari seseorang.
Jeno.
Ia melakukannya pelan-pelan, hampir tidak kentara. Duduk sedikit lebih jauh saat istirahat. Mengurangi bercanda berlebihan. Membalas candaan dengan senyum tipis saja, bukan tawa lepas seperti biasanya. Menghindari tatapan terlalu lama. Semua itu seperti refleks, seolah tubuhnya sendiri yang mengatur jarak sebelum hatinya kebablasan.
Bukan karena Jeno berubah menyebalkan.
Justru karena Jeno terlalu nyaman.
Terlalu gampang membuatnya tertawa sampai lupa waktu. Terlalu mudah membuatnya lupa bahwa ia ketua OSIS, bahwa ia punya reputasi, bahwa ia selalu berada di bawah sorotan mata teman-teman. Terlalu sering membuat dadanya bergetar tanpa alasan logis.
Embun menghela napas panjang.
Kadang ia ingin menertawakan dirinya sendiri. Kenapa segitu lebaynya cuma gara-gara satu orang? Tapi setiap kali Jeno muncul dengan senyum seenaknya, setiap kali suara Jeno memanggil namanya, pertahanan itu seperti kertas tipis yang mudah robek.
“Gue harus waras,” gumamnya pelan.
“Kok bengong?” suara Santi menyentaknya.
Embun terlonjak kecil. Santi sudah berdiri di samping bangkunya dengan tas ransel menggantung di satu bahu.
“Hah? Oh… enggak, kok.”
“Lo nggak pulang?”
“Iya, pulang. Bentaran.”
“Kirain lo mau rapat lagi. Anak-anak OSIS udah cabut semua.”
Embun mengangguk. “Iya, iya. Hati-hati.”
Santi melambaikan tangan lalu pergi, menyisakan Embun sendirian di kelas yang kini hampir kosong. Hanya ada satu dua siswa yang masih membereskan tas di sudut ruangan.
Embun berdiri, menyampirkan tas di bahu. Ia melangkah keluar kelas dengan langkah agak ragu, seperti orang yang tidak yakin ingin bertemu siapa di luar sana.
Begitu keluar lorong, matanya langsung menangkap sosok yang membuat jantungnya refleks mengencang.
Jeno berdiri di dekat papan pengumuman, bersandar santai di tembok. Satu kakinya menekuk, tas selempangnya menggantung sembarangan. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya memerah habis aktivitas, kancing atas seragam terbuka. Di tangannya ada botol air mineral yang tinggal setengah.
Tatapan mereka bertemu.
Embun spontan menurunkan pandangan, pura-pura merapikan tali tas.
“Eh,” sapa Jeno.
“Nggak capek nunggu?” tanya Embun datar, mencoba terdengar biasa.
“Biasa aja.”
“Ngapain lo nungguin gue?”
“Nemenin pulang.”
“Gue nggak ngajak.”
“Sekarang gue yang ngajak.”
Nada Jeno ringan, tapi matanya menyimpan keseriusan yang sulit disembunyikan.
Embun mendengus kecil. “Gue mau langsung pulang.”
“Ya bareng.”
Ia melangkah melewati Jeno. Jeno otomatis ikut berjalan di sampingnya.
Lorong mulai sepi. Suara riuh tadi berangsur meredam, berganti dengan dengung kipas angin dari ruang guru dan suara burung di luar jendela.
“Lo kenapa sih sekarang dingin banget?” tanya Jeno, memecah keheningan.
“Perasaan lo aja.”
“Enggak. Biasanya lo bawel. Sekarang kayak satpam.”
Embun berhenti mendadak. Jeno hampir menabraknya.
“Lo kenapa maksa banget sih?” tanya Embun, nada suaranya mulai naik.
“Karena gue ngerasa lo ngejauh.”
“Ya terus?”
“Ya gue nggak terima.”
“Lo nggak terima apaan?”
“Lo berubah tanpa bilang apa-apa.”
Embun menghela napas panjang. “Gue lagi capek, Jen.”
“Capek apa?”
“Capek mikir.”
“Mikir apa?”
Embun terdiam.
Ia menatap lantai semen yang penuh garis bekas sapu. Di kepalanya, kalimat-kalimat berseliweran, saling berebut ingin keluar, tapi tidak ada yang berani melewati bibirnya.
“Kenapa lo nggak mau cerita ke gue?” desak Jeno.
“Karena nggak semua harus diceritain,” jawab Embun ketus.
Kalimat itu seperti tembok tipis yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Jeno menatapnya lama. “Jadi gue sekarang orang luar?”
“Jangan lebay.”
“Gue serius.”
“Ya gue juga serius.”
Mereka kembali berjalan, tapi jarak di antara mereka terasa lebih lebar meski langkah sejajar.
“Lo takut sama gue?” tanya Jeno tiba-tiba.
Embun menoleh tajam. “Apaan sih?”
“Jawab.”
Embun mengalihkan pandang. “Gue nggak takut.”
“Kalau nggak takut, kenapa lo jaga jarak?”
Karena kalau terlalu dekat, gue bisa jatuh, batin Embun. Tapi kalimat itu hanya bergema di kepalanya sendiri.
“Karena gue nggak mau jadi bahan omongan,” jawabnya akhirnya.
“Omongan siapa?”
“Semua orang.”
“Orang mah ngomong terus.”
“Lo nggak ngerti. Gue cewek. Gue ketua OSIS.”
“Terus gue apa?”
“Lo cowok. Lo aman.”
Kata itu meluncur tanpa ia saring. Begitu keluar, ia langsung menyesal.
Jeno berhenti berjalan. Wajahnya berubah.
“Jadi gue ini masalah buat lo?”
“Gue nggak bilang gitu.”
“Tapi kedengerannya gitu.”
Embun menggigit bibir. “Kenapa sih lo maksa gue ngomong sesuatu yang gue sendiri belum yakin?”
“Karena gue peduli.”
Kata itu jatuh berat di udara.
Embun menelan ludah. Ada rasa hangat dan takut bercampur di dadanya.
Mereka berjalan lagi. Suasana jadi canggung, berat, seperti ada sesuatu yang menggantung tapi tidak pernah benar-benar jatuh.
Saat sampai di tangga belakang, Embun mempercepat langkah. Ia ingin segera keluar dari situasi itu.
“Mbun,” panggil Jeno.
Ia tidak menoleh.
“Embun!”
Jeno mempercepat langkah dan refleks meraih pergelangan tangannya.
Sentuhan itu singkat tapi terasa kuat.
Embun kaget. “Lepas!”
Di saat yang sama, suara lain menyela.
“Wih…”
Joy berdiri beberapa meter dari mereka, membawa dua botol minuman. Matanya membesar, alisnya terangkat tinggi.
“Eh… sorry, gue salah waktu?” katanya sambil nyengir.
Jeno langsung melepas tangan Embun. “Bukan gitu.”
Embun menarik tangannya ke dada, wajahnya panas.
Joy melirik mereka bergantian. “Kok tegang amat? Kirain lagi adegan sinetron sore.”
“Lo kebanyakan nonton TV,” gerutu Embun.
Joy tertawa kecil. “Bisa jadi. Tapi ya… ati-ati aja. Anak-anak sini kalau udah nyium gosip, lebih galak dari wartawan.”
Kalimat itu menusuk.
Joy melambaikan tangan. “Yaudah, gue cabut. Jangan berantem di sini, ntar dikira syuting.”
Joy pergi sambil terkekeh.
Embun menatap Jeno dengan mata berkaca. “Tuh kan.”
Jeno menghela napas panjang. “Sial.”
Embun berbalik dan melangkah pergi cepat.
Dari lantai atas, seseorang memperhatikan semuanya.
Nursan berdiri di dekat pagar tangga, separuh tubuhnya tersembunyi di balik tembok. Ia melihat tangan Jeno sempat memegang pergelangan Embun. Ia melihat Joy datang dan bereaksi. Ia melihat Embun pergi dengan wajah tegang.
Potongan-potongan itu cukup menyalakan api di dadanya.
Selama ini ia memang memendam rasa pada Embun. Ia menikmati obrolan-obrolan kecil mereka, cara Embun tertawa kalau ia melontarkan candaan receh, cara Embun mendengarkan dengan serius saat ia cerita. Ia pikir ia masih punya waktu. Ia pikir kedekatan mereka istimewa.
Sekarang, ia tidak yakin lagi.
Dadanya terasa panas, bukan cuma karena cemburu, tapi juga karena merasa terlambat membaca situasi.
“Kalau gue diam aja, gue kalah,” gumamnya pelan.
Ia menuruni tangga perlahan, pikirannya mulai menyusun langkah berikutnya.
***