PUISI UNTUK EMBUN
RUMAH YANG TIDAK RAMAI LAGI 2
Setelah tangis Yeni sedikit mereda, ruangan kembali diisi suara kecil: dengusan napas, gesekan kain baju, dan bunyi kipas angin yang berputar malas. Lampu ruang tengah memancarkan cahaya kuning yang bikin bayangan mereka jatuh panjang di dinding.
Yeni menyeka matanya dengan ujung lengan.
“Gue jadi inget rumah gue dulu,” katanya pelan, seperti bicara ke dirinya sendiri.
Embun mengendurkan pelukan tapi masih duduk dekat.
“Dulu tuh, tiap malem Minggu, bokap nyokap selalu maksa makan bareng. Walaupun capek, walaupun kerjaan numpuk.” Yeni tersenyum samar. “Nyokap masak sayur asem, bokap goreng ikan asin. Terus kita makan sambil nonton acara lawak di TVRI.”
Jeno tersenyum kecil. “Yang lawaknya suka pake kostum aneh-aneh itu?”
“Iya,” Yeni terkekeh. “Gue selalu rebutan remote sama bokap. Mau nonton kartun Jepang, dia mau nonton berita.”
Embun membayangkan pemandangan itu: rumah kecil yang ramai, suara sendok beradu piring, tawa yang sederhana, dunia yang terasa utuh.
“Sekarang?” tanya Embun pelan.
Yeni menghela napas. “Sekarang meja makan itu kayak benda pajangan. Kadang dipake, kadang nggak. Kalau dipake pun, masing-masing diem. Nggak ada yang mau mulai ngobrol, takut nyenggol topik sensitif.”
Jeno bersandar ke sofa. “Kayak suasana rapat OSIS yang tegang.”
“Mirip,” sahut Yeni. “Bedanya ini rapat hidup gue.”
Mereka tertawa kecil, getir.
Yeni melanjutkan, “Awalnya gue kira cuma fase. Semua orang tua juga berantem sesekali. Tapi lama-lama intens. Nada suara naik. Kata-kata makin pedes. Kadang gue denger bokap banting pintu, nyokap nangis di dapur.”
Ia terdiam sebentar, menelan ludah.
“Gue pernah nutup telinga pake bantal sambil dengerin kaset Walkman,” lanjutnya. “Setel lagu kenceng-kenceng, biar nggak denger apa-apa.”
“Apa lagunya?” tanya Jeno refleks.
“Slank,” jawab Yeni cepat. “Yang teriak-teriak itu.”
Jeno tertawa kecil. “Pantes.”
“Kadang juga Sheila on 7,” tambah Yeni. “Kalau lagi pengen pura-pura mellow.”
Embun tersenyum samar. Musik jadi semacam pelarian generasi mereka.
“Gue duduk di kasur, liatin poster band di tembok, ngebayangin hidup gue bukan di situ,” kata Yeni. “Kayak pengen lompat ke dunia lain.”
Embun mengangguk pelan. Ia paham keinginan kabur itu.
“Terus gue mulai sering sakit,” lanjut Yeni. “Awalnya pusing. Terus maag. Terus demam. Dokter bilang stres.”
Jeno bersiul kecil. “Stres bisa bikin badan ambruk juga, ya.”
“Badan gue kayak protes,” kata Yeni. “Kayak bilang: ‘Hei, lo nggak bisa pura-pura kuat terus.’”
Kalimat itu bikin Embun terdiam. Ia merasa seperti sedang bercermin.
Hening sebentar menyelimuti mereka.
Di luar, langit sudah gelap. Lampu tetangga menyala satu per satu. Suara motor lewat sesekali memecah sunyi.
“Lo takut orang tau?” tanya Embun.
Yeni mengangguk. “Takut banget. Anak sekolah tuh kejam kalau udah ngomongin orang.”
“Apalagi kalau soal keluarga,” tambah Jeno.
“Iya,” sahut Yeni. “Gue nggak mau jadi ‘anak broken home’ versi gosip.”
Jeno nyengir miris. “Label tuh emang nyebelin.”
“Gue cuma pengen hidup normal,” kata Yeni. “Sekolah, ketawa, ribut nggak jelas. Bukan mikirin siapa yang bakal gue ikutin nanti.”
Embun menggenggam tangan Yeni. “Lo berhak dapet hidup normal.”
Yeni mengangguk, meski matanya masih berkabut.
Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal kecil, sebagai jeda dari beratnya cerita.
Tentang jajanan favorit di kantin.
Tentang majalah remaja yang sering mereka tuker-tukeran.
Tentang surat cinta anonim yang pernah masuk ke loker Embun.
“Lo inget nggak waktu kita rame-rame nyewa VCD bajakan buat nonton bareng?” kata Jeno.
“Yang gambarnya burem setengah layar?” sahut Yeni sambil tertawa.
“Iya. Tapi tetep ditonton juga.”
“Namanya juga hiburan murah meriah,” tambah Embun.
Tawa mereka kali ini lebih hidup.
Sejenak, rumah itu kembali terasa seperti rumah lama: ramai, hangat, berisik.
Namun bayangan tetap ada. Seperti noda yang tidak sepenuhnya bisa dihapus.
Yeni tiba-tiba menatap Embun lebih lama.
“Mbun,” katanya pelan.
“Kenapa?”
“Lo pernah takut kehilangan sesuatu?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk.
Embun terdiam sejenak. Ia memikirkan banyak hal: posisinya di sekolah, impian masa depan, kendali atas hidupnya sendiri.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Takut kehilangan diri sendiri.”
Yeni mengangguk. “Gue takut kehilangan rumah.”
Jeno menyela pelan, “Kadang kehilangan itu datang tanpa izin. Gue malah takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum gue miliki.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Suara langkah terdengar dari kamar orang tua. Pintu terbuka sedikit, lalu tertutup lagi. Tidak ada percakapan. Tidak ada pertengkaran. Keheningan itu justru lebih menegangkan.
Yeni menegang sebentar, lalu menghela napas ketika semuanya kembali sunyi.
“Lo masih takut kalau mereka ribut lagi?” tanya Embun.
Yeni mengangguk.
“Kalau lo mau, lo bisa ke rumah gue kapan aja,” tawar Embun. “Nyokap gue nggak keberatan. Rumah gue rame, tapi aman.”
Jeno menambahkan, “Atau ke rumah gue. Walau bokap nyokap gue cerewet, tapi nggak pake teriak-teriak.”
Yeni tersenyum tulus. “Makasih. Rumah elo bukan pilihan buat gue, Jen. Masih bagus gue ke rumah Embun.”
Waktu berjalan tanpa terasa. Jam dinding berdentang pelan menunjukkan pukul sembilan malam.
“Kayaknya kita mesti cabut,” kata Embun. “Ntar nyokap gue nyari.”
“Gue juga,” sahut Jeno.
“Nyokap lo nyariin elo?” tanya Yeni kepada Jeno.
“Gue bawa mobil. Bahaya kalau pulang tengah malem. Pengennya sih gue nggak pulang, tapi jalan sama Embun. Masalahnya, tuan putri di sebelah gue ini pasti nggak mau.”
Yeni berdiri mengantar mereka sampai pintu sambil tertawa melihat sebuah pukulan mendarat sempurna di punggung Jeno.
Di ambang pintu, udara malam terasa dingin.
“Makasih udah dengerin gue,” kata Yeni. “Gue ngerasa agak enteng.”
Embun memeluknya sebentar. “Jangan dipendem sendiri lagi.”
Jeno mengangguk. “Kalau lo kenapa-kenapa, telepon. Kita standby.”
Yeni tersenyum. Kali ini senyum itu lebih hidup.
Di jalan pulang, Embun dan Jeno sibuk dengan pikiran masing-masing.
Lampu jalan kuning membentuk bayangan panjang di aspal.
“Kadang orang dewasa lupa anaknya juga manusia,” kata Jeno pelan.
Embun mengangguk. “Dan kadang kita dipaksa dewasa terlalu cepat.”
“Lo kepikiran sesuatu?” tanya Jeno.
Embun mengangguk kecil. “Iya. Hidup ternyata nggak bisa kita atur semua.”
Jeno tersenyum tipis. “Makanya jangan sok kuat terus.”
Embun menatapnya sekilas, lalu tersenyum kecil.
“Siapa yang sok kuat?”
“Monyet tetangga gue.”
“Makasih ya, elo udah nganterin gue. Lo juga udah mau dengerin Yeni curhat. Pasti lo bosen ya?”
“Nggak. Gue lebih ke salut sama Yeni. Nggak gampang ngadepin orang tua yang mau cerai. Dia harus bertahan di rumah yang bikin dia nggak nyaman. Padahal, rumah bukan cuma dinding dan atap. Tapi suara, tawa, dan rasa aman. Ketika itu hilang, kita belajar berdiri di atas retak.”
“Bijak banget lo.”
“Jadi pacar gue, Mbun. Lo bakal tahu sekeren apa gue.”
“Kenapa harus gue? Kan masih banyak cewek lain yang bisa lo gombalin.”
“Gue nggak niat gombalin cewek. Kenapa harus elo? Ya karena gue yakin aja kalau elo orangnya.”
***